
~IDE MAMI.
###
Malamnya, di saat Amara sedang tertidur di sofa yang berada di kamar rawat Galang. Lelaki itu menghubungi mami untuk membagi kabar gembira ini. Namun, bukannya pujian yang didapat, mami justru mengomeli anak laki-lakinya itu lantaran merasa tidak setuju dengan rencananya kali ini.
Mami marah bukan karena beliau tidak menyetujui pernikahan kedua putra satu-satunya ini. Melainkan, beliau merasa bahwa pernikahan ini sangatlah terlalu sederhana bagi Amara yang baru pertama kali mengalaminya. Berbeda dengan Galang yang sudah pernah menikah. Bagi seorang perempuan bukankah akan lebih indah jika momen sakral ini diadakan dengan meriah dan besar-besaran.
"Galang, kamu ini 'kan laki-laki, jangan mentang-mentang kamu udah pernah nikah terus pernikahan kamu yang sekarang diadakan dengan sederhana dan itu enggak masalah. Inget, ini yang pertama buat Amara, Nak. Gadis itu pasti punya impian pernikahannya sendiri. Jadi, kamu jangan egois. Jangan memaksakan kehendak kamu gitu aja. Tanya sama dia, mau konsep pernikahan seperti apa, di gedung mana, gaun pengantin model apa. Kan harusnya begitu? Bener enggak mami ngomong?"
Perkataan panjang lebar mami membuka pikiran Galang seketika. Harusnya memang seperti itu. Dia sebagai laki-laki yang sudah berpengalaman tentu tahu, apa yang diimpikan para gadis di pernikahannya. Tak pelak batinnya pun merutuki kebodohannya lantaran hanya memikirkan keinginannya dan tidak memedulikan keinginan Amara.
"Heuh ...." Menghela panjang seraya memandang Amara yang tertidur dengan nyenyak di sofa. "Mami ada benernya juga. Galang harusnya mikirin itu," sahutnya setelah beberapa saat tenggelam merenungi kesalahannya. Galang beranjak dari bed lantas menghampiri tempat Amara berada.
"Nah, kan. Untung kamu ngasih tahu mami. Kalo enggak, gimana coba? Kan kasihan si Amara. Masa tahu-tahu kamu ajak nikah. Nikahnya di rumah sakit lagi! Ck! Kayak enggak ada tempat lain aja! Apa kamu udah enggak ada duit? Sampe buat sewa hotel pun enggak bisa?"
Galang terkekeh mendengar sindiran mami. "Ya, enggaklah, Mom. Masa mikirnya gitu banget. Doain anaknya miskin." Dia menampik sindiran mami sambil membenahi selimut untuk Amara. "Calon mantu Mami yang sekarang polos banget, Mom. Beneran." Galang berjongkok di samping sofa, lantas membenahi rambut Amara yang menutupi wajah perempuan itu.
"Berarti itu rejeki kamu, Nak. Abis dapet istri arogan sekarang dapet yang kalem. Mami suka sama Amara. Kayaknya dia penurut dan enggak neko-neko. Enggak kayak mantan istrimu itu." Mami mulai membanding-bandingkan mantan dan calon menantunya.
Sembari memandangi wajah Amara yang sangat cantik saat sedang tidur, Galang menanggapi perkataan mami. "Udah, Mom. Enggak usah ungkit lagi mantan menantu Mami. Sekarang Mami doain Galang aja, supaya pernikahan kali ini langgeng dan Mami bisa cepet dapet cucu," katanya yang langsung diamini mami.
__ADS_1
"Kalo itu, sih, pasti, Nak. Mami akan berdoa terus buat kebahagiaan kamu. Tapi maaf mami sama papi mungkin enggak bisa pulang. Enggak apa-apa 'kan?" Terdengar sekali jika mami merasa kecewa lantaran tak dapat menghadiri pernikahan Galang kali ini.
Galang berdiri setelah puas memandangi wajah Amara. Dia berjalan menuju ranjang Rumah Sakit lalu duduk di sana. "Enggak masalah, Mom. Yang terpenting itu doa. Cukup doain aja dari sana. Kita 'kan masih bisa video call besok waktu Galang nikah. Mami enggak perlu cemas. Kasih juga pasti seneng liat ibunya nikah." Menyebut nama Kasih, dia jadi rindu anak itu.
Kemudian, Galang pun bertanya perihal pemeriksaan Kasih. Kata mami, mereka tinggal menunggu hasil tes kecocokan sumsum keluar. Mengingat, kondisi Maya yang masih belum sepenuhnya pulih juga kondisi Kasih yang harus mendapatkan penanganan ekstra. Mami dan papi memutuskan untuk tinggal di Rumah Sakit yang kebetulan menyediakan tempat bagi para pasien dan keluarganya.
"Kalo hasilnya enggak cocok, rumah sakit bersedia mencari pendonor sumsum tulang belakang. Tapi mungkin agak lama prosesnya. Dokter harus melakukan beberapa tes lain sama calon pendonor, mengingat calon pendonor bukan dari pihak keluarga. Yang ditakutkan itu semisal si calon punya kelainan penyakit atau semacamnya. Pihak rumah sakit enggak bisa gitu aja melanjutkan proses operasi. Kasih masih kecil dan kondisinya sangat sensitif. Dia rentan terserang penyakit lain, makanya mami bener-bener berharap sumsum kakak kamu itu cocok sama Kasih."
Mami memaparkan semuanya kepada Galang. Batinnya sedih, sebagai seorang nenek, beliau sangat berharap cucu perempuannya segera sembuh dan sehat seperti sedia kala. Namun, apa yang dikehendaki tak lepas dari campur tangan Tuhan yang Maha Segalanya. Mami berusaha tegar diusianya yang tak lagi muda. Waktu yang diberikan akan beliau gunakan sebaik mungkin untuk merawat Kasih. Meski dia harus mengeluarkan biaya yang sangatlah mahal. Apa pun akan dia berikan demi penyembuhan Kasih.
Sebagai om dari Kasih, tentu Galang juga turut merasakan kesedihan mami. Apa yang diceritakan mami membuat dirinya merasa sedikit khawatir dan cemas. Namun, meski dia bersedih, Galang tak ingin memperlihatkannya kepada mami, terutama pada Amara. Perempuan yang berhak tahu segalanya tentang Kasih. Mungkin besok, pelan-pelan dia akan menceritakan semuanya kepada Amara.
"Kita berdoa aja, Mom. Semoga hasil tesnya memuaskan. Dan, Kasih bisa segera ditangani. Tapi dia enggak rewel 'kan, Mom?"
Galang mendengar suara mami yang mulai terisak. Dia yakin, saat ini pasti sang ibu sedang menangis.
Tak sadar sudut matanya berair, tenggorokannya tercekat, membayangkan gadis sekecil itu harus menjalani rangkaian pemeriksaan yang amat sangat menyakitkan tentu tidak mudah. Galang beruntung, Amara mendidik Kasih dengan baik selama ini. Gadis kecil itu penurut dan mau mendengarkan omongan orang yang lebih tua.
Galang menyeka cairan hangat yang menetes dengan punggung tangan. Sambil menatap nanar Amara yang meringkuk di sofa, dia berkata, "Besok pagi-pagi Galang video call Mami. Biar Kasih bisa liat muka ibunya."
Mami mengiyakan di ujung sana. Lantas, kembali memberikan saran supaya Galang melamar Amara dengan benar. "Kamu lamar Amara dengan benar. Kalo bisa besok di hadapannya Kasih. Biar dia ikutan seneng liat ibunya mau menikah sama om-nya. Gimana?"
__ADS_1
"Wah, itu ide bagus, Mom. Galang besok coba lamar dia pas video call dengan gitu Amara enggak akan mungkin nolak. Iya enggak, Mom?" Lelaki itu menyeringai lebar membayangkan rencananya. Kenapa dia tidak terpikirkan soal itu? Ck!
"Haish! Kamu malah ambil kesempatan dalam kesempitan. Ya udah, terserah! Asal kamu lamar dia dengan baik-baik. Jangan lupa beli cincin biar lebih afdol." Mami terkikik usai berkata demikian. Rasanya sungguh menyenangkan punya menantu baru—pikirnya.
Refleks Galang menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Cincin? Dari mana dia bisa mendapatkan cincin dalam waktu singkat. Dia melirik jam yang menempel di dinding.
"Jam satu? Emang ada toko emas yang masih buka jam segini?" Dia membatin gusar. Kepanikan melandanya tiba-tiba.
"Galang! Denger 'kan omongan mami?"
Galang tergagap menyahuti mami. "I-iya, Mom. Denger, kok! Galang denger. Ya udah, Mom. Teleponnya udah dulu. Besok dilanjut lagi. Oke? Bay, Mom."
"Bay ...."
Helaan panjang berembus kencang setelah mengakhiri panggilan, Galang lantas menaruh ponselnya di atas nakas, kemudian meraup kasar wajahnya. Dia sedang berpikir keras bagaimana bisa mendapatkan cincin dalam sekejap.
"Ayo mikir Galang! Mikir!" gumamnya seraya menggigit bibirnya sendiri. Bola matanya terus bergerak ke sana kemari mencari ide yang entah kenapa belum muncul juga. "Argh!" Mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
###
bersambung,,,
__ADS_1
Bantuin Galang mikir genk's! 😆🤣