
~MULAI MEMIKIRKAN GALANG.
###
Pagi ini rencananya Amara ingin membuatkan sarapan spesial untuk sang suami. Sandwich isi tuna menjadi menu pilihan— selain mudah juga simpel cara membuatnya. Sudah tiga hari tinggal di sini, dia merasa betah meski di tempat baru. Selain nyaman, di unitnya juga difasilitasi perlengkapan yang bagus dan komplit. Tinggal berdua saja dengan Galang, membuatnya ingin melayani lelaki itu dengan segenap hati dan jiwanya.
Senyuman tak pernah surut dari bibirnya, sambil meracik bahan-bahan yang tersedia di depan mata, Amara terus membayangkan kenakalan suaminya itu. Yah, sejak menikah dia mulai mengenal lebih jauh lagi sifat dan pribadi Galang yang tak hanya tegas, tetapi juga sangat mesum. Namun, meski begitu entah mengapa dia justru sangat menyukainya. Galang suka sekali berbicara manis, bersikap penuh perhatian, bertindak di luar dugaan.
Berkat suaminya juga, Amara jadi lebih menghargai hubungan dadakan ini. Hubungan sakral berlandaskan keputusan sesaat, tetapi penuh dengan kehangatan yang tak pernah bosan Galang curahkan. Ungkapan cinta yang tak pernah lupa diucapkan setiap kali ada kesempatan, bangun tidur, mau tidur, sebelum bercinta, mau pun seusai bercinta.
Galang juga memperkenalkannya dengan hal-hal baru. Hal-hal yang sebelumnya tak sedikit pun terlintas di benak maupun pikirannya. Katakanlah, dia masih sangat awam dengan dunia baru yang dia jalani ini. Belum genap satu Minggu, tetapi suaminya itu telah mengajarkannya berbagai banyak hal.
Ah, jika Amara mengingat itu, pipinya selalu bersemu merah dan hatinya selalu berdebar kencang. Refleks dia menyentuh pipi seraya tersenyum sendiri. Lantaran asyik tengelam dalam pemikirannya, Amara sampai tidak sadar jika sosok yang mulai mengusik hatinya sedang memperhatikannya dari belakang.
Galang berada di balik punggung istrinya sejak beberapa menit yang lalu, bersedekap dada seraya menatap lurus ke depan. Memindai Amara yang ada di depan kompor sambil senyum-senyum sendiri tidak jelas. Amara tampil apa adanya layaknya ibu-ibu rumah tangga biasanya. Daster rumahan, rambut diikat asal, memasak di pagi hari.
Kegiatan yang tidak pernah dia lihat saat menikah dengan Vanila. Jangankan memasak, Vanila saja jarang sekali masuk ke dapur. Untuk urusan yang satu itu mantan istrinya sangat anti. Selama ini pembantu yang sering mengurus urusan perutnya.
Namun, saat dia menikah dengan Amara, pemandangan ini sudah dia lihat sejak tinggal bersama selama tiga hari ini. Meski Amara masih sibuk bekerja di kantor, perempuan itu tak sekalipun melupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Sayangnya, hingga detik ini Galang belum sekali pun mendengar ungkapan cinta dari bibir Amara.
Ide jahil pun muncul di otaknya sambil bejalan mengendap-endap, Galang menghampiri Amara.
"Ekhm! Lagi mikirin apa, sih? Sampe senyum-senyum sendiri begitu?" tanyanya.
Amara tersentak begitu pinggang rampingnya dibelit oleh lengan kokoh suaminya.
"Ma-mas!" Dia menengok ke belakang dan seketika itu juga disambut sebuah kecupan yang mendarat di pipi.
"Asyik banget. Mikirin apa, hm?" Galang mengulang pertanyaannya lagi, kali ini menopangkan dagunya di pundak Amara.
Amara seakan tak berkutik dengan pertanyaan itu. Bagaimana mungkin dia mengatakan jika sejak tadi otaknya tak berhenti memikirkan suaminya.
"Hem ... enggak. Aku enggak ada mikirin apa-apa, kok, Mas," sahutnya berbohong sambil bergerak gelisah, fokus Amara terbagi—antara mengolesi roti dengan mayonaise seraya menahan reaksi yang ditimbulkan saat bibir Galang mengendusi lehernya.
__ADS_1
Meremang dan berdesir.
"Enggak mikirin apa-apa, kok, sampe senyum-senyum sendiri." Galang masih menggoda istrinya.
"Beneran, Mas. Aku enggak ada mikirin apa-apa." Amara masih berkilah, lantas menggeliatkan tubuhnya. "Aku udah selesai, Mas. Ayo kita sarapan. Keburu siang."
Amara berhasil lepas dari dekapan sang suami, kemudian berlalu menuju meja makan dengan sandwich yang telah siap di piring. Sementara Galang mengikutinya dari belakang, menarik kursi, lantas mendudukkan diri.
Seraya memindai Amara, Galang hanya memandangi istrinya itu yang kini sibuk menata sandwich di piring.
"Cobain, Mas. Terus habis itu kasih review-nya," ucap Amara antusias. "ini aku baru nyoba buat soalnya."
"Kayaknya enak, Sayang. Mas cobain, ya?" Galang mengambil satu potong sandwich tuna, lalu menggigitnya, sementara Amara tak lepas menatapnya dengan raut harap-harap cemas. Dia takut jika rasanya tidak sesuai dengan lidah suaminya itu.
"Gimana, Mas? Enak, enggak?" Amara bertanya sembari menarik kursi tepat di sisi Galang yang tengah mengunyah hasil masakannya dengan khidmat.
Lelaki yang sudah berpenampilan rapi itu lantas mengulas senyum, setelah mencicipi sarapan pagi yang dibuat khusus oleh wanita pujaannya. Enak dan selalu nagih.
"Enak banget, Sayang." Galang menjawab, yang kemudian mengigit sandwich isi tuna itu lagi.
"Beneran. Ini enak banget, Sayang." Setelah menghabiskan sandwich yang ada di tangan, Galang mengambil setengahnya lagi. "Aku mau bawa ini ke kantor. Masih 'kan?" Dengan semringah Amara mengangguk cepat, tak menyangka jika suaminya menyukai hasil masakannya.
"Kalo Mas mau aku buatin lagi," ucap Amara, sembari menuangkan teh hijau yang sudah dicampur madu ke hadapan Galang. "Mulai sekarang, Mas kurangin kopi di pagi hari. Sebagai gantinya aku buatin teh hijau madu yang lebih sehat."
"Mas, sih, nurut aja. Kalo kamu yang nyuruh. Perkataan istri pasti itu yang terbaik." Galang mengambil cangkir teh tersebut, lalu menyesapnya. "Enak. Aku juga baru nyobain ini. Teh hijau dicampur madu," pujinya apa adanya. Rasa teh hijau yang segar berpadu dengan manisnya madu. Sungguh, kombinasi yang pas.
Amara lagi-lagi tersenyum puas. Merasa dihargai oleh pujian yang terlontar dari mulut suaminya. Tak sia-sia dia belajar selama beberapa hari ini. Baginya, kesehatan Galang adalah yang terpenting untuk saat ini. Sengaja menghentikan konsumsi kopi, demi menjaga tingkat keasaman lambung Galang yang memang mempunyai masalah.
"Aku siap-siap dulu, ya, Mas." Amara memundurkan kursi, lalu beranjak.
"Loh, kamu enggak sarapan dulu?" Galang mengernyitkan dahi, memandang sang istri yang sudah berjalan menuju kamar mereka. Merasa heran, kenapa Amara tidak ikut sarapan.
"Aku nanti aja, Mas," sahut Amara dari kejauhan, dia sudah masuk ke kamar.
__ADS_1
Galang hanya menghela pendek, lantas melanjutkan menyantap sisa sandwich yang ada di piring. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Melirik sekilas, layar ponsel yang menyala dan bergetar tersebut, lalu Galang mengangkat panggilan itu
"Iya, halo? Kenapa, Kev?"
"..."
"Oh, udah dapet? Terus kamu suruh dia berangkat hari ini juga 'kan?"
"..."
"Oke. Bagus. Sebentar lagi saya berangkat. Makasih, Kev."
"..."
Panggilan pun diputus oleh Galang. Lelaki berkulit sawo matang itu memasukkan ponselnya ke saku jas. Meraih tisu dari wadahnya, lalu menyeka mulut.
"Sayang, udah belum?" panggilnya seraya memundurkan kursi, dan beranjak dari tempatnya. Mengarahkan pandangannya pada pintu kamar yang terbuka lebar, bersamaan dengan itu Amara keluar dari sana. Kedua sudut bibirnya seketika tertarik ke samping, terkesima dengan penampilan Amara yang selalu terlihat cantik.
Arah pandangannya tak lepas memindai istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Blouse berwarna peach dipadupadankan dengan celana kain berwarna putih tulang sangat cocok untuk Amara. Rambut hitam panjang sebahu dibiarkan tergerai, menambah kesan tersendiri bagi lelaki berusia 35 tahun itu. Di matanya, Amara terlihat sangat seksi dan menggoda. Apa pun yang melekat di tubuhnya selalu mengundang decak kagum.
"Cantiknya istriku ini." Galang berucap sembari mendekat, menyambut Amara dengan pelukan hangat. "Boleh, enggak, sih, kita tunda berangkat ke kantornya bentar?" Dia berbisik di telinga Amara, yang segera disambut dengan kekehan.
"Ya enggak bisa dong, Mas. Ini udah siang. Bakalan makan waktu lama kalo aku harus mandi lagi." Amara menyahut seraya mencubit gemas hidung mancung Galang yang tanpa permisi mengendus lekukan lehernya. Dia sudah paham betul ke mana arah pembicaraan suaminya.
Decakan meluncur dari bibir Galang, menarik wajahnya dari leher Amara, kemudian berkata, " Kamu, sih. Kenapa juga harus cantik begini. Mas 'kan bawaannya jadi pengen ngajakin main terus." Tangannya membelai kepala Amara, lalu mengecup kening itu.
"Ya ampun, Mas... Entar malem juga bisa 'kan? Masih banyak waktu. Ayo berangkat." Amara menggeleng tak habis pikir dengan suaminya ini. Bisa-bisanya mempunyai ide gila semacam itu.
"Ck! Ayo." Meski sedikit kecewa sebab fantasinya tak terealisasikan, Galang tetap menuruti perkataan Amara. Menggandengnya, lalu berjalan bersisian menuju pintu. Mereka berdua segera berangkat ke kantor lantaran waktu yang terus berjalan.
###
bersambung...
__ADS_1
Hola!🤣 Aduuh...maaf ya liburnya kelamaan 🙈 author habis mantu soalnya, wkwkwkwk 😆 ada yang kangen sama daku?? Eh, maksudnya sama Galang & Amara? hihii..