
~AKHIRNYA, SAH!
###
BERITA TERKINI: Viral!!! SIANG TADI DI SALAH SATU BUTIK TERNAMA DI IBU KOTA SEORANG PENGACARA TERKENAL MEMUKULI SEORANG WARTAWAN HANYA KARENA MASALAH SEPELE.
~GALANG ADITYA PRATAMA TERLIBAT CEKCOK DENGAN AWAK MEDIA HINGGA MEMUKULI SALAH SATU WARTAWAN PRIA YANG MENYINGGUNG SOAL PERSELINGKUHANNYA.
~IMEJ PENGACARA TERKENAL SEBURUK ITU RUPANYA. PUBLIK KECEWA SEORANG PENGACARA HARUSNYA MELINDUNGI BUKAN MENGHAKIMI!
~PENGACARA GALANG ADITYA PRATAMA HARUS DIBERI SANKSI YANG BERAT KARENA TELAH MEMUKUL PERS TANPA ALASAN!
~GALANG PENGACARA TERNAMA TERNYATA TUKANG SELINGKUH DAN AROGAN!
~MEMBELA SELINGKUHANNYA SAMPAI RELA MENGHANCURKAN NAMA BAIKNYA SENDIRI! TIDAK BERETIKA!
~KARENA SEORANG SELINGKUHAN GALANG RELA MEMUKULI PERS YANG TIDAK BERSALAH. DASAR TUKANG SELINGKUH AROGAN!
Video pemukulan Galang kepada salah satu wartawan sudah menyebar luas di seluruh jagad maya dan laman media sosial ternama. Mereka semua mencoba memperburuk keadaan dengan mengedit sebagian video tersebut agar terlihat di dalam video Galanglah yang bersalah. Seringkali para oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal semacam ini hanya untuk menjatuhkan nama baik seseorang. Mencekoki publik dengan berita-berita yang tidak sesuai, sengaja mengundang asumsi yang akan semakin menaikkan popularitas laman tersebut.
Kehebohan yang terjadi bahkan sudah terdengar di telinga mami dan papi yang berada di Singapura. Kekuatan internet memang sungguh luar biasa dalam sekejap Galang menjadi viral karena berita tersebut. Hujatan demi hujatan tak sedikit yang dilayangkan kepada pengacara yang terkenal akan kebaikannya itu. Mereka kini telah beralih dan memilih percaya dengan berita yang dijejali ke hadapan mereka.
Mami Papi syok sekaligus terkejut. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi kepada putra bungsunya yang dikenal ramah dan jarang marah. Orang tua mana yang percaya dengan berita bohong semacam itu sebab mereka tahu sifat asli dari Galang. Kemarahannya tidak akan mungkin tersulut jika tidak ada orang yang sengaja memancingnya.
Mami Sarah langsung menghubungi putranya yang kini tengah mempersiapkan pernikahan dadakannya dengan Amara. Beliau sedih akan berita ini dan berdoa agar masalah ini cepat terselesaikan secara baik-baik. Harapannya sebagai orang tua, agar nama baik anaknya bisa kembali lagi seperti dulu. Mami pun tidak marah kepada Galang lantaran beliau paham dengan situasi yang mungkin memojokkan dan menyudutkan. Sehingga emosi Galang tersulut lalu memukuli wartawan itu.
Keputusan mendadak ini pun mendapat dukungan penuh dari beliau sebagai orang tua. Desakan yang diterima malah justru menjadi berkah—pikir mami. Tak apa jika Galang harus menikahi Amara dengan cara seperti ini. Toh, masalah pesta bisa dipikirkan nanti. Yang jelas saat ini Galang dan Amara harus resmi terlebih dahulu supaya keadaan bisa dikendalikan. Agar orang-orang bersumbu pendek itu bisa segera menutup mulutnya.
Persiapan hampir mencapai 90persen. Amara kini sedang bersiap-siap dengan kebaya seadanya. Kebaya pengantin berwarna putih dengan model sederhana persis seperti yang dia mau. Kevin membelinya dengan kilat di Veronica Boutique. Sementara Galang juga sudah siap dengan jas pengantin pria berwarna senada. Dia tengah berbincang dengan mami dan papi melalui panggilan video. Para saksi pun juga sudah hadir dan penghulu yang dibawakan oleh Aldo pun baru saja tiba di Firma Hukum milik Galang.
__ADS_1
Kevin yang diberikan tugas selain membeli gaun juga harus menjemput Bi Mina dan kini mereka pun juga baru tiba, sementara bi Ratna dan Pak Krisna sopir pribadi Galang sudah sedari tadi berada di sana. Bi Ratna dan Bi Mina membantu Amara yang sedang bersiap di ruangan Kevin. Berkat Aldo pula Amara bisa di make-up oleh MUA terbaik.
"Om, Ibu di mana? Kok, di sana rame banget? Kata Nenek, Ibu sama Om mau nikah, ya?" Kasih bertanya dengan semringah begitu tahu jika sang ibu hendak menikah hari ini.
"Doain aja, ya, Kasih." Galang tersenyum, raut tegang amat kentara sekali di wajahnya yang tampan.
Perasaannya campur aduk, antara gelisah juga cemas. Berita yang beredar cukup membuat kepalanya pusing. Tak tenang itu pasti. Sebagai orang yang baru pertama kali menuai kontroversi, Galang terus dilanda gelisah. Pikirannya benar-benar bercabang saat ini. Dia terus kepikiran dengan kondisi wartawan itu. Terakhir kali dia mendapatkan informasi jika wartawan itu sedang berada di Rumah Sakit. Rencananya, setelah ijab qobul ini selesai, Galang akan pergi untuk melihat keadaannya.
Lantaran terus melamun, suara pak penghulu yang ada di hadapannya sedikit menyentak lamunannya.
"Pak Galang, apa bisa kita mulai sekarang?" tanya pria paruh baya itu. Di sisi kirinya ada Aldo dan pak Krisna yang berdiri di belakang kursi.
Tergagap dengan raut muka seperti orang linglung, Galang menyahuti, "Su-sudah, Pak." Ponsel yang dia pegang dia berikan kepada Kevin yang berdiri di belakang kursinya.
"Baik. Mbak Amaranya nunggu di ruangan lain dulu, ya, Pak?" Pak penghulu mencoba mencairkan suasana yang nampaknya sedikit tegang, bisa beliau lihat dari raut sang mempelai pria di depannya ini.
Galang hanya mengangguk sambil berusaha menutupi kegugupan dan ketegangannya. Telapak tangannya terasa sangat dingin. Sementara mami, papi, dan Kasih menontonnya dari layar ponsel yang sudah diambil alih Kevin.
"Iya, Pak." Galang mengangguk sekali lagi, kali ini dadanya berdebar sangat kencang hingga rasanya mau loncat dari tempatnya. "Fyuuh...." Menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Rileks, ya, Pak. Saya mau mulai ijabnya." Pak penghulu mengulurkan tangannya ke atas meja, lalu Galang segera menyambutnya.
"Biss**millahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya kawinkan Anda, Galang Aditya Pratama dengan Cinta Amara dengan mas kawin berupa uang tunai senilai dua puluh tujuh juta rupiah dan emas seberat seratus gram dibayar tunai!"
"Bissmillahirrahmanirrahim ... saya terima nikah dan kawinnya Cinta Amara binti Himawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Galang mengucap dengan satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
__ADS_1
"Alhamdulillah...!"
Semua orang yang berada di ruangan mengucap syukur secara bersamaan. Pun, dengan mami, papi dari seberang sana. Perasaan haru seketika menyelimuti orang-orang yang menyaksikan pernikahan dadakan itu. Pak penghulu mendoakan mereka yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri.
"Sekarang, bisa panggilkan pengantin wanitanya," kata pak penghulu lagi setelah selesai berdoa.
Aldo beranjak dari tempatnya, kemudian menuju ruangan Kevin untuk memanggil Amara. Sedangkan Galang duduk dengan gelisah menanti perempuan yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
"Selamat, ya, Nak." Mami dan papi berucap serentak dari seberang sana. Mata tua mereka tak bisa menutupi keharuan yang sempat hadir saat prosesi ijab qobul berlangsung. Jarak yang terbentang tidak bisa mencegah doa yang mereka panjatkan untuk putra bungsunya ini.
"Makasih, Mom, Pi. Kasih." Galang tersenyum menampilkan raut yang telah berubah berseri.
"Selamat, Om! Ibu mana? Kok, belum kelihatan?" Kasih mencari-cari keberadaan ibunya yang belum menampakkan diri.
Suara derit pintu yang didorong dari luar sontak mengalihkan pandangan semua orang yang ada di ruangan tersebut. Aldo membukakan pintu untuk pengantin wanita yang kini diapit oleh bi Mina dan bi Ratna, di belakangnya menyusul MUA yang mendandani Amara.
"Ibu! Ibu cantik banget, Nek! Ibu cantik banget!" Dari layar ponsel terlihat Kasih yang teramat senang melihat sang ibu yang berjalan menghampiri Galang dengan balutan kebaya pengantin berwarna putih.
Lelaki itu tak bisa berkata-kata lagi. Kecantikan Amara seperti menghipnotis dirinya. Kebaya pengantin yang dikenakan nampak sangat serasi dan menyatu dengan aura yang terpancar dari wajah Amara. Makeup yang simpel tetapi mampu membuat semua orang pangling.
Dengan dibantu bi Ratna dan bi Mina, Amara duduk tepat di samping Galang yang tak lepas memindai sejak tadi.
"Cantik banget kamu, Amara. Saya jadi pangling." Galang berbisik di telinga Amara hingga rasa gugup semakin melanda perempuan 27 itu. Sesuai dengan berat emas yang dijadikan sebagai emas kawin, Galang sudah membelinya beberapa hari yang lalu.
"Sekarang, pengantin laki-laki bisa menyematkan cincin kawin di jari istrinya, dan sebaliknya, ya." Pak penghulu menginterupsi pasangan yang baru saja resmi itu dengan senyuman penuh arti.
Kemudian, keduanya saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing, lalu setelah itu Amara mencium punggung tangan Galang dan dibalas sebuah ciuman mesra di kening istrinya.
###
__ADS_1
bersambung....