GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 50~


__ADS_3

~OTW MALAM PERTAMA.


####


Sementara Amara sibuk mandi dan mempersiapkan diri untuk malam pengantinnya bersama Galang. Suaminya itu kini sudah berada di dalam lift sedang menuju kamar mereka. Rona bahagia terpancar dari wajah tampannya, Galang melirik jam tangan yang menunjukkan pukul sembilan malam. Dalam hati dia sudah tidak sabar bertemu istrinya yang pasti sudah menunggunya lama.


Paper bag di tangannya tak luput dari perhatian Galang hingga membuat lelaki itu seketika tersenyum dengan pikiran menerawang. Sengaja dia membeli ini untuk Amara, hal yang biasa dia lakukan dulu ketika masih bersama Vanila. Mungkin bisa dibilang ini sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Apabila hendak menghabiskan malam panas, Galang pasti membelikan Vanila baju tidur seksi dan kini dia tak pernah menyangka akan membelikannya untuk wanita lain.


"Takdir memang enggak bisa ditebak. Aku dan Vanila pada akhirnya berpisah dan berakhir dengan perceraian. Kupikir aku akan terpuruk dan berkubang dalam kesedihan karena perceraian ini. Tapi ternyata, aku salah. Aku kira aku enggak akan jatuh cinta dengan secepat ini dan bisa membuka hati lagi untuk wanita lain. Amara hadir dengan tak diduga dan dengan mudah masuk mengisi ruangan lain yang ada di hatiku." Galang bermonolog sendiri sambil tak henti membayangkan wajah Amara.


Pertemuan pertama mereka tiga bulan yang lalu, dan segala drama yang ada merupakan jalan Tuhan untuknya. Amara hadir dan kebetulan juga sudah merawat keponakannya yang menghilang selama bertahun-tahun. Galang tidak tahu persis kapan perasaannya itu tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Kepribadian Amara dan segala kesederhanaan perempuan itu bak magnet yang menarik dirinya sehingga rasa ingin memiliki itu pun tiba-tiba mendesaknya.


Lucu, aneh dan tidak masuk akal. Galang tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala. "Amara..."


Pintu lift yang berdenting dan terbuka membuyarkan lamunan Galang. Lelaki itu bergegas keluar dari benda besi tersebut, dan segera menuju kamarnya. Begitu tiba di depan pintu yang terdapat tulisan Suite room honeymoon Galang mengambil kartu akses dari saku jasnya, lantas menempelkannya pada monitor yang secara otomatis membuka kunci pintu kamar.


Harum semerbak wewangian yang berasal dari lilin aroma terapi menguar memenuhi indera penciuman Galang yang sudah berada di dalam kamar. Tatapannya terfokus pada ranjang besar di depan sana, hingga Galang tak kuasa untuk tersenyum.


Namun, perempuan cantik yang sejak tadi memenuhi isi kepalanya tak nampak batang hidungnya. Pandangan Galang kini berpendar menyusuri seluruh ruangan kamar itu dengan hati bertanya-tanya.

__ADS_1


'Amara ke mana?'


Galang meletakkan paper bag di atas meja rias, lalu berjalan menuju balkon kamar yang terbuka, berharap sosok itu ada di sana.


"Amara?" panggil Galang seraya memindai balkon yang ternyata tak ada siapa pun. "Enggak ada." Dia lantas kembali masuk dan memutuskan untuk mengeceknya di kamar mandi. Dan benar saja, saat Galang hendak membuka pintu kamar mandi, terlebih dulu pintu tersebut dibuka dari dalam.


"M-Mas?" Amara jelas terkejut dengan kemunculan Galang yang tiba-tiba di hadapannya. Refleks tangannya menggenggam jubah mandi yang dipakainya. Amara meremat kain penutup berwarna putih itu dengan sangat erat. "K-kapan kamu datang?" Bibirnya kaku dan tergagap, antara malu sekaligus gugup menjadi satu. Ini kali pertama dia berada di dalam satu ruangan bersama Galang dalam keadaan selesai mandi.


Tersenyum sembari memindai wajah cantik Amara yang masih menempel jejak-jejak basah bekas mandi. Rambut panjang istrinya menjadi daya tarik tersendiri bagi Galang saat ini. Amara terlihat semakin cantik dalam balutan jubah mandi.


"Saya baru aja datang, terus nyariin kamu. Ternyata kamu baru selesai mandi," sahut Galang setelah puas menatap Amara yang tidak berani bergerak di tempatnya. Dengan sengaja dia menggoda istrinya itu. "Hem ... kayanya ada yang udah siap, nih?" Galang tersenyum penuh arti hingga Amara menunduk lantaran malu.


"Hem ... Mas. A-aku enggak ada baju. B-bajuku tadi jatuh terus basah." Amara berkata lirih dengan posisi kepala masih menunduk.


"Gitu aja, Ra. Enggak usah malu. Toh, saya udah jadi suami kamu," sahut Galang dengan santainya.


Amara sontak mendongak. "Eng ... aku malu, Mas. Masa aku tidur enggak pakai baju," cicitnya dengan raut muka polos.


Menggeleng cepat lalu berkata, "Enggak apa-apa, ngapain malu. Ya udah, ayo sini. Mau sampai kapan kamu berdiri di situ." Galang lantas menuntun Amara menuju ranjang. "Duduklah di sini. Tunggu saya. Saya mau mandi dulu sebentar. Udah enggak usah tegang." Sebelum masuk ke kamar mandi, Galang mengecup kening Amara terlebih dahulu.

__ADS_1


Menghela panjang seraya mengelus dadanya sendiri. "Hfuuhh ...." Amara menatap punggung Galang yang menghilang di balik pintu kamar mandi. "Jantungku, please ...." Telapak tangan Amara terasa dingin, bertatapan muka seperti tadi sungguh membuatnya gugup.


Lantas, Amara tak sengaja melihat paper bag yang berada di atas meja rias karena merasa penasaran, dia pun beranjak, lalu mendekat.


"Ini apa?" Amara membuka bungkusan tersebut, kemudian mengambil isinya. "I--ini?" Matanya membelalak, wajahnya tiba-tiba terasa memanas setelah dia mengetahui isinya. Tiga potong lingerie seksi dengan warna berbeda-beda dan model yang berbeda. "Mas Galang beli ini?" Lalu ucapan Anggi lagi-lagi terngiang di telinganya.


Susah payah Amara meneguk ludah. Apakah yang dimaksud Anggi dengan baju seksi itu adalah lingerie ini? Oh, astaga! Rupanya suaminya itu telah lebih dulu mempersiapkannya.


"Wajar kalo Mas Galang mempunyai pikiran semacam ini. Dia laki-laki dewasa dan matang. Dia juga sudah berpengalaman. Pastinya dia memiliki fantasi seksu*l yang tinggi. Mengingat, mantan istrinya dulu sangat cantik." Untuk ukuran perempuan lajang seperti Amara, dia sedikit paham dengan semua ini. Memaklumi keinginan suaminya yang ternyata diam-diam membelikan lingerie.


Memutuskan untuk menyenangkan hati suaminya, Amara lantas memilih salah satunya dari lingerie seksi tersebut. Dan pilihannya jatuh pada lingerie berwarna maroon. Modelnya yang tidak terlalu terbuka dan masih manusiawi menjadi alasannya memilih lingerie itu.


Kemudian selesai memakai lingerie, Amara memakai lotion dan wewangian di titik sensitifnya; belakang telinga dan pergelangan tangan. Rambutnya yang masih basah sengaja dia biarkan tergerai, lalu mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Amara memutuskan mengoleskan lip balm ke bibirnya supaya tidak terlalu pucat.


"Selesai." Amara berdiri dan memindai penampilannya malam ini. Lingerie seksi itu seketika menyulapnya menjadi sosok yang berbeda. Dia sampai tidak mengenali dirinya sendiri. Tangannya meraba setiap hamparan kain satin itu, warna maroon begitu menyatu dengan kulitnya. Lekukan tubuhnya pun terpampang sangat jelas, Amara bahkan bisa melihat belahan dadanya yang menyembul di balik kain berenda tipis.


###


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2