GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 45~


__ADS_3

~EMOSI GALANG.


###


Setelah berbincang dan berdiskusi kepada pemilik Butik, Galang dan Amara akhirnya keluar dari gedung tersebut. Sesuai kesepakatan, Veronica selaku desainer yang akan merancang gaun pengantin Amara, memutuskan untuk mendesain gaun yang simpel dan sederhana sesuai permintaan sang calon mempelai wanita. Pribadi Amara yang sederhana tidak menginginkan model gaun yang ribet dan terlalu wah.


Sepanjang menuju mobil yang berada di parkiran Galang terus menceramahi Amara. Menurutnya, Amara seharusnya memesan gaun pengantin dengan model yang lebih dari itu. Dia merasa agak kurang setuju dengan konsep gaun pengantin yang diminta Amara kepada sang desainer.


"Gaun yang kamu pesan terlalu sederhana, Ra. Kamu enggak ada keinginan pakai gaun pengantin kayak model yang dipajang di sana." Galang menunjuk patung manekin yang ada di balik kaca.


Amara mengikuti arah telunjuk Galang lantas menggeleng cepat. "Enggak. Itu terlalu ribet, Mas," sahutnya yang mulai menyebut Galang dengan sebutan Mas. Dia tidak merasa canggung lagi.


"Heuh ..." Galang menghela panjang seraya menggelengkan kepala, merasa heran dengan Amara. Di saat perempuan lain menginginkan sesuatu yang wah di hari pernikahannya, perempuan ini justru menginginkan pernikahan yang sederhana.


"...kamu memang sangat sederhana, Ra. Sebenarnya saya punya ekspektasi lebih dari pernikahan kita ini. Tapi, kalo kamu maunya seperti itu, ya ... saya enggak bisa melarang kamu." Tangan Galang terasa gatal melihat rambut Amara yang beterbangan menutupi wajahnya. Dia pun menyingkirkan itu, lalu menyelipkannya ke telinga Amara.


Sudut hati Amara berdesir hangat dengan perhatian kecil yang tak pernah dilewatkan oleh Galang. Betapa Amara merasa begitu dihargai sebagai seorang pasangan yang masih belum jelas statusnya. Lalu saat keduanya tengah larut dalam suasana itu, tiba-tiba terdengar suara-suara yang entah dari mana munculnya mulai mencecar mereka dengan banyak pertanyaan.


Galang dan Amara terhenyak sesaat, kemudian menoleh ke sumber suara yang tenryata berasal dari para wartawan yang sudah mengerumuni. Ada sekitar belasan pemburu berita berdiri di hadapan mereka sambil memasang kamera.


"Mas." Amara berpandang sekilas dengan Galang, perlahan dia mundur beberapa langkah, lalu menyembunyikan diri di balik punggung Galang. Amara merasa malu dan ketakutan hingga tak sadar menggenggam tangan Galang dengan sangat erat.


Sementara Galang menoleh, memastikan Amara dalam keadaan baik-baik saja. Dia sendiri juga bingung, kenapa tiba-tiba ada banyak wartawan datang menemuinya.


"Tenang, Ra. Ada saya di sini," ujar Galang setengah berbisik kepada Amara yang berdiri di balik punggungnya. Dia mengeratkan genggaman tangannya pada jari-jari Amara yang terasa dingin.


Pelataran parkir Veronica Boutique mendadak dipenuhi orang-orang yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Dalam sekejap Amara dan Galang menjadi pusat perhatian.


"Pak Galang apa benar Anda sudah bercerai dengan Nona Vanila istri Anda?"


"Pak, kenapa Anda datang kemari? Apa yang Anda lakukan dengan sekretaris Anda di sini?"

__ADS_1


"Benarkah kalian akan segera menikah?"


"Jadi benar, selama ini Anda dan sekretaris Anda punya hubungan spesial? Dan akan segera melangsungkan pernikahan? Apa Anda sudah resmi bercerai dengan istri Anda?"


"Dengar-dengar Anda belum resmi bercerai dari istri Anda. Itu artinya Anda akan menikahi sekretaris Anda dengan masih berstatus suami Nona Vanila?"


"Tolong jawab pertanyaan kami, Pak! Agar kami tidak memberi spekulasi buruk dengan apa yang kami lihat sekarang. Anda datang ke sebuah Butik ternama bersama sekretaris Anda."


Para pemburu berita itu nampak tak sabar menunggu Galang memberikan jawaban. Mereka memberondong begitu banyak pertanyaan yang membuat Galang menjadi geram. Dengan seenaknya mengambil spekulasi sendiri dan menyudutkan orang tanpa rasa malu.


Mereka semua tidak memikirkan perasaan seseorang yang saat ini berdiri di belakang punggung Galang. Amara tengah menangis terisak-isak, dadanya terasa sesak dengan apa yang dia dengar barusan. Amara tak membayangkan jika sekali lagi dia harus terseret dalam masalah ini. Satu yang menjadi pertanyaannya, kenapa mereka semua bisa tahu keberadaannya dan Galang.


'Dari mana mereka tahu kalo aku dan Mas Galang mau menikah dan ada di sini?' Amara membatin sembari menyeka air matanya yang berjatuhan semakin deras. Pikiran kalut dengan situasi ini. Telinga dan hatinya terasa sakit dengan tuduhan dari orang-orang itu.


Sedangkan Galang yang sudah muak dengan semua ini, akhirnya angkat bicara.


"Itu semua bukan urusan kalian! Saya tegaskan sekali lagi, jika ini bukan urusan kalian! Jadi, silakan kalian pergi dari sini! Saya bisa menuntut kalian semua karena sudah menggangu privasi orang dan menyebarkan berita bohong. Mengerti!" Galang berkata tegas seraya menunjuk satu persatu wartawan yang berdiri di hadapannya. Dia menyorot satu persatu para pemburu berita itu dengan tajam. Rahangnya mengeras dengan gigi-giginya yang bergemeletuk di dalam sana.


Kemudian salah satu dari mereka angkat bicara lagi.


Galang tersenyum kecut mendengar semua itu. Bisa-bisanya mereka kekeh menanyakan hal-hal yang sama sekali bukan urusannya.


"Tidak ada yang perlu saya jelaskan. Di sini kalian yang mendesak. Jadi, sebelum kesabaran saya habis lebih baik kalian pergi." Kesal lantaran orang-orang di hadapannya ini begitu bebal, Galang menoleh pada Amara yang makin tersedu-sedu. "Tenanglah, Amara. Tenang." Dia mengelus rambut Amara supaya merasa tenang.


"Mas, ayo kita pergi dari sini. A-aku udah enggak bisa nahan semua ini. A-aku sesak, Mas." Amara berucap dengan suaranya yang terdengar serak. Dia tidak mempunyai keberanian untuk menatap semua orang yang saat ini tengah menatapnya penuh tanya.


Seolah-olah dirinya seorang pelaku kejahatan. Padahal dia tidak merasa berbuat hal yang merugikan siapa pun. Apa begini resiko yang harus Amara tanggung jika menjadi seorang istri dari Galang?


Menghela panjang, Galang lantas berbalik badan.


"Baiklah. Ayo kita pergi." Mungkin ini keputusan yang terbaik. Galang membawa pergi Amara dan segera menuju ke mobil, tetapi ketika hendak melangkah dari sana tiba-tiba salah seorang wartawan wanita berkata lagi.

__ADS_1


"Pak, apa jangan-jangan kalian sebenarnya memang sudah berhubungan sebelum Anda bercerai dengan Nona Vanila? Apakah itu hal yang patut bagi seorang pengacara terkenal seperti Anda? Bukankah selama ini Anda suka membela orang-orang yang tidak bersalah? Anda juga sering memberi keadilan pada para klien Anda. Tapi, sepertinya itu cuma kedok untuk menutupi sifat asli Anda yang ternyata suka berselingkuh. Apa kami salah?"


"Ya! Benar! Anda tidak pantas menyandang gelar sebagai pengacara! Jika kelakuan Anda sama sekali tidak mencerminkan kepribadian yang dikatakan orang-orang selama ini! Anda dan sekretaris Anda berselingkuh di belakang Nona Vanila."


Semua para wartawan tersebut serentak memojokkan Galang dan Amara. Mereka menyorot jijik Amara yang terus menundukkan kepala. Tangisan Amara kian menjadi sementara Galang masih berusaha untuk meredam emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


Menatap Amara sekilas, Galang lantas menatap para wartawan itu. "Terserah! Terserah kalian mau bicara apa! Saya tidak peduli!"


"Anda tidak peduli jika sekertaris Anda akan dicap sebagai pelakor dan Anda akan dicap sebagai lelaki tukang selingkuh?"


Galang benar-benar murka mendengar omong kosong dari mulut orang-orang berotak sempit itu. Karena kesabarannya yang menipis, dia pun memukul wartawan pria yang sedari tadi memojokkan dirinya dan Amara.


"Brengsek! Sialan! Jaga mulutmu itu!" Galang memukuli wartawan itu tanpa ampun hingga membuatnya terkapar di tanah. Dia tidak peduli jika aksinya ini akan terekam oleh kamera sialan yang tak henti melewatkan pertunjukan ini. Keadaan semakin ricuh dan emosinya tak terkontrol lagi.


"Mas! Stop, Mas! Aku mohon! Mas!" Amara berusaha menghentikan Galang yang memukuli wartawan itu dengan membabi buta. "Pak! Tolong bantu saya, Pak!" Amara memanggil beberapa sekuriti yang berada di sana.


Tiga orang sekuriti berlarian mendekat, dan menerobos di kerumunan. Ketiganya berusaha menahan tubuh dan tangan Galang yang tidak mau berhenti. Mereka kewalahan sebab ukuran badan yang tak seimbang. Tubuh Galang tinggi dan besar, tenaganya pun cukup kuat. Namun, usaha keras mereka pun membuahkan hasil. Galang akhirnya mau menghentikan tindakannya.


"Lepas!" Galang menghempaskan tangan dua sekuriti yang membekuk tangannya. Dia masih menyorot tajam wartawan pria yang sudah babak belur sedang dibantu berdiri oleh para rekannya.


"Mas, udah Mas. Aku mohon. Mereka sengaja memancing kemarahan kamu." Amara memegang lengan Galang, lalu sedikit menekannya agar lelaki itu segera menyadari tindakannya yang hanya akan memperburuk keadaan.


Galang memandang Amara sendu. "Maafkan saya, Amara. Maaf," ucap Galang, membalas sentuhan Amara. Pikirannya benar-benar kacau dan merasa tidak terima jika ada seseorang yang menjelek-jelekkan gadis ini.


Dari kejauhan terlihat seorang pria berpenampilan rapi duduk di dalam mobil. Dia sejak tadi menonton pertunjukan itu dengan tatapan benci. Di bibirnya tercetak jelas senyum penuh kemenangan lantaran rencananya telah berhasil.


"Ini baru awalnya, Galang. Kehancuranmu sudah berada di depan mata. Tidak sia-sia aku mencari informasi selama ini."


###


bersambung...

__ADS_1


Agak panjang ya genk's 🤭


Jangan lupa like dan komentarnya ya...🤗


__ADS_2