GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 47~


__ADS_3

~PERSETUJUAN AMARA.


###


Menimbang-nimbang, berpikir dan merenungkan semua yang terjadi, Galang dengan mantap berkata,


"Baiklah, saya akan meminta maaf dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi," putusnya kemudian, hingga membuat Amara dan Kevin menghela lega dan tersenyum bersamaan.


Namun, sedetik kemudian senyuman Kevin dan Amara pudar dalam sekejap kala Galang berkata lagi. "Tapi ada satu syaratnya." Galang memandang bergantian kedua orang yang sedang berdiri dengan saling pandang.


Alis Amara terangkat seraya menatap penuh tanya pada Kevin, sementara pemuda itu hanya mengangkat bahu sembari melipat bibirnya.


Menghela panjang lantaran rasa penasarannya tidak mendapat jawaban dari Kevin, Amara memutuskan untuk bertanya kepada Galang yang menyilangkan tangan ke dada. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, yang dapat Amara lihat jika ada sesuatu yang tidak beres. Tatapan mata Galang begitu tajam dan kosong.


"Mas, kamu mikirin apa?" Amara memberanikan diri untuk mendekati calon suaminya itu. Dia lantas menarik kursi, lalu mendaratkan bokongnya di sana.


Terhenyak dengan suara Amara yang terdengar begitu dekat, Galang memandang Amara dengan serius. Lamat-lamat dia memindai wajah sembab Amara. Bayangan kejadian beberapa saat yang lalu berkelebat di ingatan. Tuduhan-tuduhan keji yang disematkan kepada calon istrinya ini serupa duri yang menusuk relung hati sebagai seorang laki-laki. Bagaimana bisa orang-orang begitu mudah menilai seorang perempuan hanya berdasarkan pemikiran dari satu pihak dan apa yang dia lihat.


Tak sekali ini Amara terseret dalam masalahnya. Bahkan tak segan para media sialan itu men-cap buruk Amara yang sama sekali tidak bersalah. Mungkin ini memang sudah saatnya dia membungkam mulut orang-orang bersumbu pendek tersebut. Tak ingin Amara kembali tersakiti dan tersudutkan. Satu-satunya cara yaitu dengan menikahi Amara secepat mungkin, agar besok dia bisa mengumumkan bahwa perempuan yang mereka hina ini adalah istrinya. Istrinya yang sah.

__ADS_1


Dia juga bebas membela Amara kapan pun dia mau tanpa memikirkan omongan orang lagi.


Lantaran tak kunjung bicara, Amara yang mulai gemas lantas memanggil sekali lagi.


"Mas, kamu kenapa? Kamu kayak lagi mikirin sesuatu? Kamu juga tadi mau bilang apa?" Amara menyondongkan badan agar bisa memindai raut wajah Galang yang sangat sulit terbaca. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang hendak dikatakan oleh pria bermanik cokelat itu.


Berdeham sebentar, lalu menyondongkan badan ke depan. Amara dan Galang kini saling berhadapan. Sedangkan Kevin betah berdiri di belakang kursi yang diduduki Amara. Sebetulnya dia agak risih dengan pemandangan yang agak sedikit menggangu matanya, namun dia tidak memiliki kuasa untuk melayangkan protes. Diam dan menjadi pendengar mungkin itu akan lebih baik—pikirnya.


"Saya pikir jika kita sudah tidak bisa menundanya lagi, Ra. Menurut saya lebih cepat akan lebih baik jika kita menikah saat ini juga."


"Tapi, Mas—" Amara jelas terkejut dengan penuturan Galang barusan. Namun, belum sempat dia melayangkan protes, Galang buru-buru menyela.


Pandangan Amara menunduk, hatinya merasa gusar dan bimbang. Haruskah dia mengiyakan saja?Atau... menolak keinginan Galang. Untuk sesaat dia memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sambil berpikir keras.


Amara, terima aja. Bukannya Pak Galang udah baik selama ini sama kamu? Demi membela kamu, dia enggak ragu untuk menjatuhkan imejnya. Bukankah kamu juga mulai menyukainya? Iyakan saja, Amara. Iyakan. Dia laki-laki baik. Sangat mencintai kamu. Niatnya baik hanya ingin melindungi kamu dari pandangan orang-orang di luar sana. Ingatlah ini, Amara. Kamu enggak akan pernah bisa mendapatkan pria sebaik dia. Enggak masalah kalo dia duda. Dia juga masih ganteng dan gagah, kok! Ayo, terima Amara. Terima!


Haisshhh... Kenapa Amara seperti mendengar suara-suara aneh. Apakah itu suara isi hatinya? Atau ...


Kevin yang semula diam dan mendengarkan, tiba-tiba saja memutuskan untuk angkat bicara.

__ADS_1


"Maaf, kalau saya ikut campur, Mbak, Pak. Menurut saya Pak Galang benar. Kejadian itu dipicu karena Pak Galang tidak suka ada yang menjelek-jelekkan Mbak Amara. Satu-satunya cara membungkam mulut orang-orang, ya, cuma itu. Anda menikah dengan Pak Galang saat ini juga. Jadi, besok kita bisa melakukan klarifikasi sekaligus. Asumsi publik sama Mbak Amara kemungkinan besar akan berubah seiring berjalannya waktu. Saat mereka tahu kalau Mbak Amara adalah istrinya Pak Galang, maka enggak akan ada yang mempertanyakan atas dasar apa Pak Galang membela Anda bahkan sampai memukuli wartawan. Jika ternyata kalian memang memiliki hubungan yang sah di mata hukum dan agama, enggak ada salahnya, bukan? Kalau seorang suami membela istrinya. Itu juga bisa dijadikan sebuah alasan saat Pak Galang ditanya oleh pihak yang berwajib."


Amara sontak mengangkat pandangannya, menatap Galang sekilas lantas memandang Kevin yang mengangguk.


"A-apa mungkin itu bisa dijadikan alasan? Ma-maksudnya, kalau alasan Mas Galang memukuli wartawan karena ingin membela saya yang berstatus istrinya, maka pihak berwajib enggak akan memberikan hukuman buat Mas Galang?" Amara bertanya dengan raut muka khawatir. Hukuman? Itu artinya Galang bisa saja dihukum berat atas kasus pemukulan ini.


'Enggak! Enggak boleh! Mas Galang enggak boleh dipenjara.' Amara membatin sembari menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya kepada Galang.


Lalu, tanpa berpikir panjang lagi dan tanpa menunggu lama, dia pun akhirnya menyetujui usulan itu. Menatap Galang, kemudian berkata,


"Kalo gitu aku mau, Mas. Aku mau nikah sama kamu sekarang juga. Aku mau bantu kamu. Aku enggak mau kamu dihukum karena membelaku yang jelas-jelas bukan siapa-siapa kamu. Tapi, dengan kita menikah maka siapa pun enggak akan bisa menyalahkan kamu yang udah memukul wartawan. Itu bisa dikatakan kalau kamu pada saat kejadian cuma mau melindungi dan membelaku yang berstatus istri kamu. Bukankah begitu?" Amara memandang bergantian Galang dan Kevin.


"Iya, Mbak." Kevin mengangguk, lalu tersenyum. "Mbak tenang aja, semuanya juga udah siap. Buku nikah kalian kemungkinan akan langsung diproses hari ini juga. Pak Galang juga udah resmi bercerai. Jadi, pernikahan ini bisa dilakukan hari ini juga."


Jangan ditanya bagaimana perasaan Galang saat ini. Senang bercampur bahagia kini mendominasi hati lelaki itu. Meski awal tujuannya menikahi Amara secepat ini bukanlah itu, tetapi tak apa. Rupanya Amara mempunyai pemikirannya sendiri yang tak jauh-jauh untuk melindungi dirinya. Amara ingin melindungi Galang dari jeratan hukum atau sanksi yang akan diterima atas kejadian ini.


"Makasih, Amara. Makasih." Galang menciumi punggung tangan Amara tanpa melihat situasi. Kevin tak dia anggap keberadaannya. Pemuda itu nyaris ingin menghilang saja dari ruangan bosnya saat ini juga. ck!


###

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2