
~RIVAL GALANG.
###
"Ini hadiah buat kamu karena sudah membantu saya memberikan informasi tentang Galang." Pria itu menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat berisikan sejumlah uang kepada seorang lelaki yang ada di sampingnya.
Lelaki itu menyeringai lebar lantas menerima amplop tersebut. "Wah ... terima kasih banyak, Pak." Dia membuka amplop itu lalu mengecek isinya. "Jumlahnya banyak sekali ini, Pak," ucapnya setelah selesai mengira-ngira lembaran ratusan ribu itu berjumlah dari yang semestinya.
Pria yang usianya seumuran dengan Galang itu hanya melirik sekilas, lalu tersenyum miring. "Anggap saja itu bonus karena kamu sudah tepat waktu memberikan informasi tentang keberadaan Galang di sini. Terima kasih. Lain kali saya akan menghubungimu lagi." Dengan gayanya dia merapikan jas dan dasi bergaris hitam yang menjuntai di lehernya.
Lelaki yang berada di sampingnya tertawa jumawa. "Tentu saja, Pak. Senang bisa bekerja sama dengan Anda. Kalo begitu saya permisi dulu." Memasukkan amplop cokelat itu ke dalam saku jaketnya, lalu membuka pintu mobil. Menoleh sesaat, lalu berkata lagi, "Saya tinggal dulu, Pak. Semoga hari Anda menyenangkan." Kemudian lelaki bertopi hitam dan bermasker itu keluar dari mobil sedan mewah tersebut setelah pemiliknya mengangguk.
"Huh! Rupanya kamu punya banyak musuh, Galang. Kita lihat apakah setelah ini nama baik dan imej-mu akan tetap terjaga? Setelah kamu memukuli awak media di depan umum. Ck!" Pria berjas abu-abu gelap itu mengeluarkan satu lembar foto dari balik saku jasnya. Memandangi foto seorang perempuan yang ada di tangannya dengan tatapan lembut. "Hai, Amara aku kembali. Semoga kamu masih mengingatku. Ah, sepertinya tidak. Karena kamu akan menikahi pecundang itu. Kenapa dia yang kamu pilih? Setelah bertahun-tahun aku menunggumu." Bibirnya melengkungkan satu garis senyuman kala dia menatap wajah cantik Amara. Sorot matanya memancarkan kerinduan dan banyak sekali cinta untuk calon istri Galang itu.
Sang sopir yang sedari tadi hanya mendengarkan dan menunggu, menoleh ke belakang. "Kita jalan sekarang, Pak?" tanyanya kepada pria yang mempekerjakannya.
"Ayo. Kita kembali ke apartemen saja." Dia menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Amara.
"Baik, Pak." Sang sopir mengangguk, membenarkan posisinya ke semula lantas mulai menginjak pedal gas perlahan-lahan, membawa mobilnya keluar dari pelataran parkir Butik.
"Untung aku bertemu dengan Erik di waktu yang tepat. Kalau tidak aku pasti akan kehilangan dirimu lagi, Amara." Pria itu memasukkan kembali foto Amara ke dalam jas. Mengarahkan pandangannya pada kaca mobil.
__ADS_1
Hampir sepuluh tahun dia tidak menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta lantaran harus mengurus pekerjaannya yang ada di luar negeri. Dan, dua tahun terakhir ini dia baru saja kembali dari Amerika setelah menyelesaikan urusannya di sana. Hal itulah yang menyebabkan dia tidak bisa menemui sang pujaan hati lagi. Seorang perempuan cantik dan baik hati bernama Cinta Amara.
Dia dan Amara tak sengaja dipertemukan kala itu. Saat dirinya menjadi seorang tamu untuk menghadiri acara amal yang diadakan sekolah Amara. Waktu itu Amara masih bersekolah kelas tiga SMA dan dia dilibatkan dalam acara tersebut bersama pria ini. Pertemuan singkat itu pun pada akhirnya meninggalkan kesan tersendiri bagi pria ini dan memutuskan akan menemui Amara lagi setelah kepulangannya dari luar negeri.
Namun, dua tahun belakangan dia begitu sulit mencari kabar tentang Amara. Alamat rumah Amara yang baru dia tidak bisa mendapatkan itu. Lantas, dia pun memutuskan untuk mencari-cari informasi selama ini dan tak sengaja bertemu dengan Erik di pengadilan negeri yang sedang menghadiri sidang perceraiannya.
Profesi pria ini juga adalah seorang pengacara dan sangat kebetulan sekali dia mengenal Galang. Dia dan Galang pernah menjadi lawan dalam persidangan pada sebuah kasus perebutan hak asuh anak. Galang berhasil mengalahkannya dalam kasus tersebut dan sejak saat itu dirinya menganggap Galang sebagai rival yang cukup menantang.
Dari Eriklah dia tahu soal masalah rumah tangga Galang dan sempat mendengar beritanya di sosial media beberapa bulan yang lalu. Kesempatan ini tentu tak akan disia-siakan olehnya. Yang membuatnya kesal adalah mengapa perempuan yang dia cari selama ini dekat dengan Galang dan akan segera melangsungkan pernikahan. Dia tidak bisa terima dan akan berusaha keras untuk merebut Amara bagaimana pun caranya.
"Aku pasti akan merebutmu, Amara. Itu pasti. Kamu hanya milikku bukan milik pecundang itu." Pria itu bergumam dengan keyakinan penuh di dalam hatinya. Semua yang terjadi di Butik adalah rencananya dan Erik yang banyak mengenal media.
***
Sementara itu, beberapa saat setelah kejadian, Galang dan Amara langsung pergi meninggalkan Butik. Namun, di pertengahan jalan Kevin tiba-tiba menghubungi dan memintanya untuk pergi kantor. Galang pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana lantaran Kevin mengatakan ada hal sangat penting menyangkut kejadian pemukulan yang baru saja dia lakukan.
Dan, setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di kantor. Kevin langsung menyambut kedatangan atasannya itu dan segera menyampaikan informasi yang baru saja dia terima.
"Pak, berita Anda sudah tersebar luas di media sosial. Banyak kecaman dari pihak media yang menuntut Anda untuk segera ditindaklanjuti karena telah menganiaya pers dengan sengaja." Kevin menjabarkan seluruh detail masalah yang sedang ramai di laman media.
Video pemukulan Galang terhadap pers langsung jadi topik perbincangan hangat dan seketika mengundang pro kontra. Ada yang mengatakan jika Galang telah bertindak anarkis dan tidak mempunyai etika dalam menyambut para pembawa berita yang meminta keterangannya.
__ADS_1
"Sudah tersebar luas rupanya?" Galang mengaktifkan ponselnya, lalu membuka salah satu aplikasi berita online yang menayangkan video tersebut.
Amara tak berani berkata-kata, dia memilih diam dan mendengar saja. Dia sangat yakin jika semua ini pasti akan berbuntut panjang. Mengingat, pada saat kejadian ada banyak mata yang menyaksikannya.
"Pak, jika Anda mau Anda bisa mengadakan konferensi pers untuk meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan. Mengingat jika yang Anda pukuli adalah seorang wartawan yang jelas-jelas mempunyai perlindungan penuh dari pemerintah." Kevin yang tidak merasa ikut campur justru ikut merasa pusing dan panik. Selama dia bekerja dengan Galang tak pernah sekali pun atasannya ini mempunyai masalah yang cukup besar.
Saran dan ide yang dia berikan hanya bermaksud untuk mempermudah semuanya. Tak ingin masalah ini menjadi semakin runyam dan parahnya lagi jika sampai ke pengadilan. Galang bisa diberikan sanksi yang berat juga hukuman yang tidak main-main. Profesinya sebagai seorang pengacara akan dipertaruhkan hanya karena masalah ini.
Sebagai asisten dari pengacara, Kevin tentu paham tentang urusan hukum. Mengenai UU yang melindungi pers dia pun mempelajari itu. Apa yang dilakukan Galang jelas sudah melanggar hukum sebab dengan sengaja menganiaya pers atau awak media.
Semua yang dikatakan Kevin cukup membuat Amara tercengang. Pasalnya dia sendiri yang menyaksikan bagaimana Galang dengan brutal memukuli wartawan itu. Letak kesalahan ada pada Galang yang tidak bisa mengontrol emosinya saat itu.
Amara berdiri, lalu menghampiri Galang yang duduk di kursinya. "Mas, apa yang dibilang Kevin sepertinya ada benarnya. Demi menghindari masalah yang malah akan berbuntut panjang, baiknya kamu meminta maaf sama wartawan itu. Di sini meski kita yang jadi korban, tapi semua orang pasti akan berpikir kalo kamu yang bersalah. Maaf, Mas. Bukannya aku bermaksud menggurui kamu, tapi ada baiknya kita mengalah."
Galang menghela panjang seraya meraup wajahnya berulang-ulang. Dia sendiri pun tidak paham dengan dirinya yang belakangan ini sering mudah marah. Dia tahu jika tindakannya itu sangat tidak patut, dan Galang menyesali itu.
"Baiklah, saya akan meminta maaf dan menjelaskan semua kesalahan pahaman yang terjadi," putusnya pada akhirnya yang membuat Amara dan Kevin menghela lega.
###
bersambung...
__ADS_1