GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 77~


__ADS_3

~MEMBAHAGIAKAN DENGAN CARANYA SENDIRI.


###


"Euhhh...."


Lenguhan dan de-sahan yang meluncur dari bibir Amara adalah hal yang paling disukai Galang selama beberapa hari ini. Suara itu selalu berhasil membangkitkan gairahnya menjadi berkali-kali lipat, pada saat dia menghujam milik Amara keluar masuk seperti sekarang.


Obrolan keduanya pada saat di balkon kini berakhir di atas ranjang berukuran king size itu. Ranjang empuk yang selama hampir seminggu menjadi saksi percintaan panas mereka. Kamar luas itu pun menjadi berisik kala suara-suara erotis menggema di setiap sudut ruangan dengan lampu temaram.


Amara semakin larut dalam permainan yang diciptakan suaminya. Tak mampu mengelak apalagi menghindar buaian kenikmatan yang tak pernah henti disuguhkan Galang untuknya. Tubuhnya seakan sudah kecanduan oleh setiap sentuhan lelaki ini. Ditambah dengan kalimat-kalimat sakti yang membuat dirinya semakin merasa dicintai dan dipuja.


"Kamu cantik, Ra... Sangat. Aku suka menatapmu dari atas sini. Terlihat sangat seksi."


Lontaran kalimat yang tak pernah lupa Galang ucapkan disela percintaan mereka. Tangannya yang kokoh tak pernah tinggal diam, meremas dan membelai setiap lekukan tubuh Amara yang menggoda. Niatnya, yang ingin membatasi aktifitas panas tersebut nyatanya hanya sebuah rencana. Galang selalu lupa diri bila sudah bersentuhan dengan istri barunya itu.


"Ra...." Gerakan pinggul Galang semakin dipercepat, gelombang kenikmatan itu sebentar lagi akan dia capai. Dan, di saat yang bersamaan pula, Amara hendak mencapai puncaknya untuk yang kedua kali.


"Mas...."


Keduanya belingsatan, seiring saling membalas pagutan bibir masing-masing. Dan, tubuh mereka pada akhirnya menggelinjang bersamaan saat pelepasan yang selalu terasa nikmat itu menggulung tanpa ampun. Erangan lolos dari bibir Amara dan Galang dengan napas memburu dan peluh membasahi seluruh tubuh polos mereka.


Badan besar Galang berguling di sisi tubuh Amara setelah melepas miliknya di bawah sana. Memiringkan tubuhnya sedikit untuk merengkuh tubuh kecil sang istri ke pelukan. Kecupan-kecupan singkat diberikan pada seluruh wajah cantik Amara yang masih berpeluh.


"Makasih, Sayang...." Ucapan terima kasih yang tidak pernah lupa Galang persembahkan ketika selesai bercinta seperti sekarang ini. Baginya, bercinta itu akan terasa lebih hangat bila salah satu dari kita mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


Tak hanya kenikmatan semata yang direngkuh bersama, tetapi ikatan batin antara suami dan istri akan lebih terjalin. Dan menurutnya, hal itu juga dapat membuat pasangan kita lebih dihargai.


"Aku ngantuk, Mas. Mau tidur lagi." Amara memejamkan mata yang sudah terasa sangat berat. Posisi seperti ini membuatnya sangat nyaman dan tidak ingin berpindah-pindah. Dada bidang Galang lebih nyaman dibandingkan bantal.


"Tidurlah," ucap Galang, menarik selimut berwarna merah yang berada di bawah kaki untuk menutupi tubuh polosnya dan Amara.


"Mas tidur. Jangan pergi lagi." Meski pun matanya sudah terpejam, tetapi Amara masih sempat mengomel kepada Galang. Dia tidak mau suaminya itu meninggalkannya sendirian di tempat tidur.


Omelan itu justru terdengar seperti rengekan bagi Galang, hingga tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.


"Iya. Mas bakal tidur. Ini juga udah tengah malem," kekeh Galang sambil mengeratkan dekapannya pada Amara yang sepertinya sudah terlelap.


Walau tak dipungkiri, kegusaran itu masih memenuhi isi kepalanya, Galang tetap berusaha untuk memejamkan mata. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera menyambut hari esok. Dengan begitu, dia bisa segera meminta Kevin untuk mencari tahu siapa yang telah berani mengirimkan bunga tersebut kepada istrinya.


_


"Cantik." Galang menatap wajah tenang Amara sambil melontarkan kalimat pujian yang sering dia ucapkan. Melangkah ke ranjang dan duduk di tepi sisi Amara yang masih terlelap.


"Sayang...." Telapak tangannya membelai pipi Amara dengan lembut.


Merasa ada yang menyentuh pipinya, Amara sontak membuka mata, lalu mendapati sang suami tengah duduk sambil tersenyum tipis. Tampan. Galang sangat tampan pagi ini.


"Mas." Amara mengerjap sesaat, lalu bangkit dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Aku kesiangan, ya?" Dia berpikir demikian, sebab melihat Galang yang sudah terlebih dulu bangun dan mandi. Biasanya, dialah yang bangun lebih dulu.


"Enggak. Ini masih pagi. Masih jam setengah tujuh. Maaf, kalo Mas udah ganggu kamu tidur." Galang menyanggah, sejurus kemudian beringsut maju supaya bisa mendaratkan kecupan di kening Amara. "Hari ini kamu enggak usah ikut ke kantor. Kamu istirahat aja di sini. Nanti sore kamu berangkat ke Singapura 'kan?" Jari-jarinya merapikan rambut Amara yang sedikit berantakan.

__ADS_1


"Kamu?" Amara memandang wajah Galang yang sudah bersih dari bulu-bulu halus. Sepertinya , suaminya ini baru saja bercukur.


"Aku berangkat ke kantor. Nanti aku usahakan pulang cepet terus nganter kamu ke bandara." Kini tangan Galang beralih memegang tangan Amara lalu menciumnya. "Nanti setelah urusan aku selesai, aku janji bakal nyusul secepatnya."


"Beneran?"


Galang mengangguk. "Kamu fokus sama Kasih dulu aja. Saat ini dia yang lebih membutuhkan kamu daripada aku. Kamu ibunya, Kasih pasti merasa gugup karena mau menjalani operasi besar."


"Iya, Mas. Aku juga dari kemaren kepikiran dia," timpal Amara yang kemudian merangsek ke pelukan Galang. "Semoga operasinya lancar. Aku takut, Mas." Entah mengapa, hati Amara sedikit gelisah sejak kemarin. Operasi besar yang akan dijalani Kasih benar-benar membuatnya terus kepikiran.


Seakan faham dengan yang dirasakan Amara, Galang mengelus punggung istrinya sambil mengatakan hal-hal yang positif. Dia tidak mau bila sampai Amara bersedih lagi dan membuat kondisinya malah drop.


"Semoga semuanya baik-baik aja, Ra. Kalo kamu kepikiran begini, yang ada malah bakal bikin Kasih ikut sedih. Mas yakin, kamu pasti bisa nyemangatin Kasih. Bukankah, ini keinginan kamu liat Kasih sembuh, hmm?"


Kepala Amara mengangguk sekali tanpa melepaskan diri dari pelukan Galang. Bukan hanya sebuah keinginan, tetapi juga sebuah harapan yang sangat besar. Kebahagiaan yang Amara tunggu-tunggu setelah sekian lama.


"Makasih, Mas. Kamu selalu ada dan mendukung kami. Berkat kamu juga, akhirnya Kasih bisa melakukan operasi yang biayanya itu sangat mahal. Entah apa jadinya, kalo kami enggak ketemu sama kamu. Mungkin, sampe sekarang aku belum bisa mewujudkan hal itu."


Bertemu dengan Galang merupakan takdir yang mungkin sudah digariskan oleh Tuhan. Dan, tak disangka pula, ternyata Kasih adalah bagian dari keluarga terpandang itu.


"Kamu ngomong apa, Ra? Kasih itu keponakan aku, dan udah seharusnya aku sebagai om-nya memberikan yang terbaik," sanggah Galang yang sedikit meluruskan pemikiran Amara. "Pertemuan kita dan hubungan ini adalah jalan dari Tuhan. Kamu dan Kasih sekarang udah jadi tanggung jawab aku. Kalian orang-orang yang sangat aku cintai dan sayangi. Buatku, kehadiranmu dan Kasih adalah kado terindah."


Karena Tuhan memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan luka seseorang. Di saat Galang terluka atas penghianatan yang dilakukan istrinya. Amara dan Kasih hadir sebagai obat penyembuh luka itu. Dan kini, di detik ini, Galang berjanji akan selalu membuat kedua perempuan tersebut bahagia dengan caranya.


###

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2