GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 56~


__ADS_3

~PAGI YANG PANAS.


###


Setelah cukup lama berkeliling Mall, Amara yang merasa kelelahan lantas segera meminta pulang kepada Galang. Kakinya benar-benar pegal terutama di area pangkal pahanya yang terasa sangat nyeri. Mungkinkah itu efek percintaan yang semalaman dia lakukan bersama suaminya ini? ckckck...


Mendengar istrinya merengek terus-terusan, Galang pada akhirnya pun mengalah, meski dia masih ingin membelikan Amara banyak barang, tetapi dia juga tidak tega melihat Amara yang nampak sangat kelelahan.


"Sini biar saya yang bawa. Kamu masuk aja, Ra. Ini saya taruh di bagasi mobil aja." Galang mengambil alih tiga tas belanjaan yang di bawa Amara setelah membukakan pintu mobil.


"Makasih, Mas." Amara lantas masuk ke mobil dan duduk dengan nyaman. Badannya benar-benar pegal dan remuk. "Hfuuh... ngantuk." Mulut Amara tak henti menguap sejak tadi. Matanya terasa sangat berat, rasa kantuk perlahan membuainya.


Sementara Galang menutup bagasi mobil setelah menaruh belanjaan yang sengaja dia belikan untuk Amara. Membuka pintu mobil, lalu bergegas menyusul masuk.


"Kita langsung pulang ke rumah, ya, Ra. Soalnya besok saya harus berangkat pagi-pagi sekali," ucap Galang, tanpa menoleh ke Amara.


Lalu, karena sibuk memasang sabuk pengaman, Galang sampai tak memerhatikan istrinya yang ternyata sudah tertidur. "Astaga, dia sampe ketiduran." Galang tersenyum memandangi sejenak wajah Amara yang nampak nyenyak. "Maafin saya, ya...." Mengecup dalam-dalam kening Amara.


Tak menunggu lama lagi mobil sedan miliknya segera dia bawa melesat meninggalkan parkiran Mall. Galang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik Amara yang tak terganggu sedikit pun. Awan mulai menggelap, pantas saja Amara kelelahan, rupanya hampir empat jam mereka berada di Mall.


Untuk hari ini cukup, Galang merasa puas karena seharian ini bisa mengajak Amara jalan-jalan dan berkencan. Dia juga sengaja membelikan Amara beberapa perlengkapan wanita dan keperluan lainnya. Ada baju, make up, sepatu, tas. Semuanya dia belikan untuk Amara sebagai hadiah.


"Udah saatnya kamu bahagia, Ra. Selama ini kamu sudah mengorbankan masa muda kamu demi Kasih, sekarang giliran saya yang menebus hari-harimu yang telah berlalu. Saya janji akan membahagiakan dan memberikan apa pun yang saya punya. I love you, Amara...." Sembari menyetir, Galang mengecupi punggung tangan Amara berulang-ulang.


_


_


Sekitar satu jam, Galang akhirnya tiba di rumah. Dia memutuskan untuk pulang lantaran besok dia sudah mulai bekerja. Pekerjaannya menumpuk, jadwal sidang dalam satu Minggu ke depan tengah menantinya. Memarkir mobil di halaman rumah, lalu Galang segera turun dari mobil dan mencari Pak Krisna sopir pribadinya untuk membantunya membawakan barang-barang yang ada di bagasi.


Kemudian Galang kembali ke mobil, berniat membantu sang istri yang masih terlelap. Jelas Galang tidak tega membangunkannya, lantas dia pun memutuskan untuk menggendong Amara saja.

__ADS_1


"Pak, nanti barang-barangnya taruh di kamar Nyonya Amara yang di bawah aja," kata Galang memerintah Pak Krisna, setelahnya dia masuk ke rumah dengan Amara yang ada di gendongannya.


Bi Ratna yang mendengar suara mobil sang majikan buru-buru membukakan pintu utama.


"Den...." sapa bi Ratna di depan pintu, lantas mengekor di belakang Galang yang menapaki anak tangga satu persatu.


"Bi, tolong bukain pintu kamar saya, ya. Habis itu ambilin bajunya Amara di kamar bawah," titahnya yang segera diangguki bi Ratna. Perempuan paruh baya itu naik terlebih dahulu, menuju kamar Galang dan membuka lebar-lebar pintu tersebut.


"Makasih, ya, Bi." Galang masuk ke kamar melewati bi Ratna. Membawa Amara menuju ranjang, kemudian perlahan-lahan merebahkan tubuh mungil istrinya lantaran takut mengusik Amara.


Bi Ratna keluar dari sana, dan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh sang majikan.


"Hfuuh..." Menghela panjang, seraya membuka kancing lengan kemejanya. Menggendong Amara dari bawah sampai ke sini cukup melelahkan rupanya. "Tidurmu nyenyak banget, Ra," gumamnya sambil menyelimuti tubuh Amara.


Beberapa saat kemudian bi Ratna kembali masuk dengan membawa baju ganti Amara dan nampan berisi dua gelas air putih dingin untuk Galang. Meletakkan semua itu di nakas, bi Ratna buru-buru keluar dan menutup pintu kamar.


***


"Hah? Aku di mana?" Amara terkesiap sesaat, dia merasa asing di ruangan ini. "Mas Galang?" Dia menoleh ke samping, Galang masih bergelung dengan selimutnya. "Kenapa aku ada di sini? Ini 'kan kamarnya Mas Galang?" Belum penuh nyawanya terkumpul, Amara dipaksa untuk berpikir keras.


Ternyata, dia sama sekali tidak ingat jika kemarin malam dia ketiduran di mobil.


"Astaga..." Menepuk jidat saat dia sudah mengingatnya. "Itu berarti Mas Galang gendong aku dari bawah sampe ke sini?" Amara memandangi Galang yang tak terusik sedikit pun. Menatapnya sebentar, lalu beranjak dari ranjang tidur.


Ini adalah hari kedua dia menjadi seorang istri, dia tidak mau melakukan kesalahan lagi. Hal pertama yang akan Amara lakukan adalah mandi, kemudian selesai membersihkan diri, dia turun ke bawah menuju dapur.


"Bi," sapa Amara yang melihat bi Ratna yang telah berada di dapur terlebih dahulu. Beliau sedang mencuci beras.


Pagi ini Amara hendak membuatkan sarapan untuk suaminya. Menu simpel dan tidak ribet menjadi pilihannya. Waktunya juga tidak banyak, Amara juga harus bersiap-siap bekerja setelah ini.


Bi Ratna yang memerhatikan Amara sedang membuka kulkas langsung bertanya, "Cari apa, Non?"

__ADS_1


"Bi, ada susu enggak, ya?"


"Ada, Non."


"Ah, iya. Ada, Bi." Setelah mendapatkan apa yang dia cari Amara mengambilnya, lalu mengambil stok daging yang ada di freezer.


Semua bahan sudah tertata di meja, ada susu cair, roti kupas, selada, tomat, mayonaise dan daging filed. Amara memulainya dari daging ayam, sementara bi Ratna membantu mencuci sayuran.


Tak membutuhkan waktu yang lama, sarapan pun sudah terhidang di meja makan. Bertepatan dengan Galang yang sudah turun dengan penampilan rapi. Sesaat Amara terkagum dengan paras rupawan suaminya. Tubuhnya yang tegap, dadanya yang lebar dan bidang, rahangnya yang tegas, tatapan mata yang tajam dan sedikit sayu, bibirnya yang seksi.


Hingga tak sadar, dia menelan ludahnya, otaknya berkelana ke mana-mana. Pesona Galang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.


"Mas." Amara tersentak saat benda kenyal menempel di pipinya seiring tangan kokoh yang melingkar di pinggang rampingnya. "Malu, Mas. Ada Bibi." Bergerak tak nyaman sebab takut bi Ratna memergoki mereka yang sedang bermesraan. Padahal bi Ratna sejak tadi sudah meninggalkan ruangan itu.


"Biarin aja. Bibi pasti bisa maklum, kan kita pengantin baru." Bukannya melepaskan Amara, Galang justru semakin nakal bermain-main di lekuk leher jenjang sang istri yang nampak menggiurkan. Menggesekkan hidungnya di kulit mulus itu naik turun, seraya tangan kokohnya meraba perut datar Amara yang terlapisi kain daster rumahan.


"Aku suka wangi kamu, Ra," bisiknya sensual, hingga menimbulkan gelenyar-gelenyar hangat pada sang empunya.


"Mas." Lutut kaki Amara terasa lemas ketika sentuhan-sentuhan jemari nakal suaminya merayap di area tulang selangka. Debaran jantung Amara mulai menggila. Napasnya beradu dengan napas Galang, Amara yang perlahan terbuai memejamkan mata menikmati sensasi yang seakan menjadi candu.


Mendadak ruangan makan itu terasa panas, jangan sampai Galang lagi-lagi membuatnya hilang akal.


####


bersambung...


Heleh... Semoga kalian enggak bosen 🤣🙈


eh, mampir yuk ke novelku! Baru aja menetas, wkwkwkwk 😆


__ADS_1


__ADS_2