GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 65~


__ADS_3

~NAFKAH LAHIR.


###


Hari ini Galang akan mengajak Amara ke tempat tinggal baru. Apartemen yang baru saja dia beli telah siap untuk ditempati. Pukul tiga sore Galang dan Amara berangkat menuju ke sana. Tanpa menjelaskan apa pun, suami Amara itu langsung mengajaknya pergi begitu saja. Alhasil, Amara memberengut, kesal karena Galang hanya menjawab ingin memberikan kejutan.


Jarak antara kantor dan Apartemen hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja. Tak hanya itu, lokasinya juga dekat dengan Mall dan sangat strategis.


Namun, sepertinya Galang hendak mengajak istrinya berbelanja terlebih dahulu. Membeli keperluan yang belum tersedia. Oleh karena itu, Galang membelokkan mobilnya di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Dia ingin Amara membeli apa saja kebutuhannya, dan kebutuhan untuk Apartemen.


Raut muka yang awalnya cemberut berubah menjadi bertanya-tanya saat mobil Galang berhenti di tempat yang sangat dipadati beberapa mobil yang berjejer rapi. Amara memindai dari kaca, kemudian sedikit membukanya.


Kepalanya melongok keluar, lalu setelah itu menoleh ke suaminya yang sedang membuka sabuk pengaman. "Loh, Mas, kita mau ngapain ke sini?" tanyanya yang langsung disambut kekehan.


"Ya mau belanjalah, Sayang. Masa mau periksa? Kamu ini, ada-ada aja." Galang terkekeh sambil mencubit hidung Amara. Lantas dibalas dengan gerutuan oleh perempuan itu.


"Ish! Kan aku nanya, Mas!" Amara melengos, menghadap ke arah jendela lagi seraya bersedekap dada. Nampaknya dia masih merasa kesal karena Galang yang tak memberi tahunya akan pergi ke mana, tetapi ternyata pergi ke sini.


"Hei, jangan ngambek, Sayang. Nanti cantiknya ilang." Dengan jahil Galang justru mencuri kecupan di pipi Amara, lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. "Ini buat kamu, Sayang. Pakailah sesuka kamu. Buat kebutuhan pribadi dan lainnya. Ini no limited, jadi bisa kamu pakek buat apa aja." Sebuah black card disodorkan ke depan wajah Amara.


Seketika itu juga Amara menoleh, keningnya mengernyit seraya menatap kartu yang dipegang suaminya.


"Ini buat aku?" tanyanya dengan alis menaut satu sama lain. Amara belum faham maksud Galang. Dia tidak mengerti soal kartu atau sejenisnya.


Galang tersenyum disertai anggukan kepala. "Iya, Istriku yang paling cantik... Ini buat kamu. Emang ada orang lain, ya, selain kita di mobil ini?" Lagi-lagi lantaran gemas, Galang mencuri ciuman di bibir istrinya yang mencebik.


"Mas! Kalo ada yang lihat, gimana coba?" Amara mendelik, seraya menoleh ke sekitar parkiran yang cukup ramai itu. Walaupun dia di dalam mobil, pasti akan ada yang melihatnya dari luar.

__ADS_1


Galang justru tertawa, " Enggak akan. Kaca mobil ini gelap kalo dari luar, jadi enggak akan ada yang lihat kita. Kamu tenang aja. Atau kamu mau lagi, hm?" ucapnya sambil menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.


Astaga... suamiku...!


Amara hanya menggelengkan kepala seraya memutar bola matanya ke atas.


"Jadi, sebenernya Mas mau ngajak aku belanja?" Amara bertanya lagi.


"Bukan." Galang menggeleng. "Kalo belanja ini adalah kebutuhan yang nantinya akan kita perlukan. Jadi Mas mau kamu pilih apa saja yang sekiranya cocok untuk kebutuhan rumah. Kamu faham 'kan, maksud Mas?"


Amara mengangguk. "Faham."


"Sebenarnya Mas mau kasih ini semalem, tapi Mas malah ketiduran karena kecapekan. Ini gara-gara kamu yang bikin Mas enggak bisa tidur." Galang berseloroh menggoda, senyuman nakal terbit di bibirnya.


"Enak aja. Mas itu yang bikin aku enggak bisa tidur." Amara menyela tak terima sebab disalahkan atas kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat. Yang ada justru Galanglah yang mengerjainya habis-habisan. Setelah bercinta di kamar, suaminya itu melanjutkan aktivitas intim itu di sofa dan kamar mandi. Lalu, berlanjut dengan serangan fajar.


Amara lantas mengerjap bingung. Apa yang dia butuhkan? Dia merasa sudah cukup dengan yang dimiliki sekarang ini. Rumah ada, baju ada, bahkan baru dua hari yang lalu Galang membelikannya. Gaji? Dia juga masih ada gaji dan tabungan.


"Mas, ini enggak berlebihan? Kayaknya aku enggak butuh, deh. Kamu bisa kasih aku secukupnya untuk satu bulan. Nanti kalo abis aku 'kan bisa minta lagi. Aku enggak mau pakek ini." Amara menolak dengan alasan yang cukup menggelikan.


Di saat perempuan lain menyukai sesuatu yang berbau uang, istrinya ini malah menolak untuk diberikan uang berlebih. Galang terkekeh geli, lantas mengusap pipi Amara.


"Sayang ... dengerin, ya. Ini bukan masalah kepakek atau enggaknya. Mas ini mau nyenengin kamu, memang apa salahnya? Ini adalah kewajiban Mas sebagai suami. Kamu sekarang istri Mas. Istri dari seorang Galang Aditya Pratama. Kamu enggak usah mikirin ini berlebihan atau enggak. Mas ikhlas, karena memang Mas berniat bahagiain kamu. Enggak cuma sekadar nafkah batin yang terpenuhi, nafkah lahir juga penting. Mas mau kamu hidup layak, enggak kekurangan suatu apa pun. Ngerti?"


Penuturan panjang lebar dari suaminya, jelas membuat Amara terharu. Dimiliki oleh lelaki ini saja tidak pernah terbesit dalam pikirannya. Sekarang, dia justru dihujani dengan penuh cinta, dicukupi kebutuhannya, sandang pangannya. Amara semakin yakin bahwa dia tidaklah salah dalam memilih. Galang memang pria terbaik yang pernah dia temui seumur hidupnya. Rasa tanggung jawabnya juga begitu besar. Teguh dan sangat penyayang.


Jemarinya menempel di pipi Galang, mengusapnya lembut sambil berkata, "Makasih, ya, Mas. Aku akan gunain ini seperlunya aja. Karena Mas juga yang maksa, jadinya aku pegang kartu ini." Amara menaruhnya ke dalam dompet yang biasa dipakainya.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Itu namanya istri penurut." Galang mengecup kening Amara dengan sangat lama dan dalam. "Ya udah. Kita turun sekarang. Kamu bisa pilih apa aja. Nanti kamu belanja kebutuhan dapur juga, ya, Sayang. Aku pengen dimasakin kamu."


"Mas mau makan apa? Nanti biar aku beli bahannya."


"Mas lagi pengen makan nasi bakar isi ayam kemangi. Sama balado telur puyuh yang waktu itu kamu masakin di rumah kamu, Ra."


"Oh, siap, Bos!" Amara meletakkan telapak tangannya di kepala seolah memberi hormat kepada suaminya itu.


Galang tertawa, kemudian merapikan rambut Amara yang sedikit berantakan. "Kamu ini. Sini aku benerin dulu rambutnya." Dia menyelipkan helaian rambut Amara ke belakang telinga sambil nyeletuk, "sayang enggak ada masker."


"Masker?" Kening Amara mengernyit. "Buat apa?"


"Buat nutupin wajah kamu yang cantik. Mas enggak rela, muka kamu jadi pusat perhatian para laki-laki di luar sana," sahut Galang seraya mengecup berulang-ulang punggung tangan istrinya yang menurutnya sangat cantik ini. Ada rasa ketidakrelaan yang terselip di hatinya kala melihat Amara di tatap oleh laki-laki lain.


Giliran Amara yang terkekeh, suaminya ini sangat berlebihan. "Ada-ada aja kamu, Mas. Ya udah yuk, turun!" Amara lekas memotong pembicaraan ini, dia hanya tidak mau Galang semakin berbicara ngawur.


"Mas serius, Amara..."


"Aku juga serius, Mas...."


"Heuhh... ya udah ayo!" Galang menghela pendek. Lantas, turun dari mobil terlebih dahulu, meski perasaannya masih merasa belum tenang, sementara Amara hanya menggelengkan kepala.


"Lucu kamu, Mas." Dia terkikik sendiri, mengingat raut muka Galang yang cepat sekali berubah.


###


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2