
~AMARA YANG DEWASA.
###
Usai acara lamar melamar itu, Galang dan Amara menyantap menu hidangan yang sejak tadi tersaji di meja. Keduanya makan dengan tenang dan dengan perasaan senang tentunya. Galang tak henti menatap Amara sejak tadi, rasanya dia belum memercayai semua ini. Akan menikahi gadis cantik dan berhati baik seperti Amara.
Diperhatikan sedemikian rupa, pastinya membuat Amara sedikit merasa tidak nyaman. Apa yang dilakukan tak luput dari perhatian lelaki di depannya ini. Amara benar-benar tidak bisa leluasa untuk bergerak bila Galang terus saja menatapnya.
Lantaran tak tahan, Amara pun sengaja berdeham cukup keras supaya Galang menyadari apa yang dilakukan sangat membuatnya tidak nyaman.
"Pak, apa Anda enggak bosen dari tadi liatin saya? Itu enggak kasian sama makanan yang ada di piring?" Amara berucap sekaligus menyindir atasannya ini. Bola matanya merotasi malas sambil meminum jus lemon yang isinya masih penuh.
"Saya enggak selera makan, Ra. Liatin kamu makan rasanya udah kenyang." Galang menyahut dengan kekehan penuh arti. Memandangi Amara menjadi hobi barunya.
Apa yang ada pada gadis itu sangatlah sayang untuk dilewatkan. Jarang-jarang dia bisa makan romantis berdua seperti ini bersama Amara. Gadis ini begitu sederhana dengan pakaian yang sopan dan make up yang tidak terlalu tebal.
Amara menggeleng heran lantas mencibir Galang. "Kalo liatin saya makan udah kenyang, kenapa Anda pesan begitu banyak makanan. Kan sayang, mubazir jatohnya."
__ADS_1
"Jadi kamu lagi marahin saya, nih, ceritanya?" ledek Galang.
"Enggak marah, sih. Saya cuma lagi ingetin Anda kalo kita enggak boleh buang-buang makanan. Anda juga lagi masa penyembuhan jadi harus makan dengan teratur jangan sampai telat. Saya jadi heran, kenapa Pak Aldo membolehkan Anda pulang lebih cepat dari rumah sakit? Padahal kondisi Anda masih kelihatan lemah." Amara menyipitkan mata ke arah Galang yang malah senyum-senyum tidak jelas.
Melihat Amara mengomel, Galang merasa lucu tetapi juga bahagia. Amara mengingatkan ini dan itu seperti seorang istri yang sedang mengingatkan suaminya. Ah, dia jadi tidak sabar ingin langsung menikah.
"Kamu belum nikah aja udah cerewet, ya? Apalagi kalo udah jadi istri saya," celetuk Galang yang sukses membuat Amara menelan ludah. Mencondongkan badannya ke depan lantas mengelap sudut bibir Amara dengan serbet miliknya. "Keasyikan ngomel makannya jadi berantakan."
Amara mematung, kelopak matanya mengerjap lambat, bola matanya melirik tangan Galang yang sedang mengelap sudut bibirnya. Mendadak dia jadi malu juga salah tingkah.
"Sudah."
"Kamu jangan berpikiran kalo saya melarang kamu untuk mengomel dan memperingatkan saya. Saya justru senang diperhatikan sama kamu. Dulu, saat saya masih menikah, Vanila jarang sekali memerhatikan saya. Kami bahkan jarang ketemu. Dia terlalu sibuk dengan karirnya, saya juga sibuk dengan urusan saya."
Kepala Amara menoleh perlahan, dia menyimak penuturan Galang. Amara bisa melihat bila ada rasa kecewa dan sedih dari sorot mata lelaki itu. Galang tidak pernah sekali pun membahas masalah rumah tangganya kepada Amara.
"Dulu, mungkin saya yang salah. Saya kurang tegas kepada Vanila. Dia sangat sulit diatur dan semaunya. Karena itu dia menyalahgunakan kepercayaan dan kebaikan saya dengan berselingkuh. Saat tau dia berselingkuh saya benar-benar hancur dan sakit. Tapi, saya enggak mau menangisi nasib pernikahan saya yang malang. Lalu saya bertekad untuk membalaskan rasa sakit hati saya dengan menyebar luaskan foto-fotonya bersama manager sialan itu. Saya merasa puas melihat karirnya hancur dalam sekejap. Dan saya memutuskan untuk menceraikan dia."
__ADS_1
Amara masih setia mendengarkan uneg-uneg Galang. Jadi, begitu cerita yang sebenarnya. Selama ini Amara merasa tidak berminat sama sekali untuk mencari tahu soal keretakan rumah tangga atasannya ini. Baginya itu bukan hal yang pantas. Ya...meski namanya sempat ikut terseret dan dituduh sebagai orang ketiga.
Galang menegakkan punggung lantas meraih tangan Amara yang berada di atas meja. Karena melamun, Amara jadi sedikit terkejut dengan sentuhan tersebut. Pandangan mereka seketika bertemu.
"Apa kamu masih berpikir jika saya cuma menganggap kamu sebagai pelarian?" tanya Galang dengan raut muka serius dan sorot mata yang sudah berubah.
Amara menggeleng pelan. "Enggak. Saya memang sempat ada pikiran semacam itu. Wajar kalo saya berpikir demikian. Tetapi, dengan apa yang saya dengar saat ini, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti dan memahami Anda. Bapak orang baik dan menurut saya apa yang Bapak alami sangatlah tidak adil. Mungkin memang benar, perceraian bukanlah satu-satunya jalan yang harus diambil dan saya sempat menyayangkan hal itu. Tapi lagi-lagi saya jadi lebih berpikiran positif dengan tindakan Bapak. Di saat orang yang kita percaya dan kita cintai sudah berbuat curang kepada kita, lalu untuk apa kita mempertahankan orang itu. Bertahan pun rasanya sangat enggak mungkin. Yang ada justru hati kita akan semakin sakit karena penghianatan yang dilakukan sama pasangan kita."
Menjeda sejenak, Amara mengulas senyum lalu berkata lagi, "...Bapak meminta saya untuk menjadi obat 'kan? Jawaban saya adalah baik. Saya mau jadi obat atas luka di hati Bapak. Saya akan berusaha menyembuhkan luka itu dengan cara yang saya bisa. Walaupun detik ini rasa cinta itu belum tumbuh di hati saya, tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya kita bersama, lambat laun perasaan itu pasti akan muncul dengan sendirinya. Tentunya Bapak juga harus berusaha lebih keras lagi untuk itu. Bagaimana?"
Untaian kata yang terucap dari bibir merah Amara begitu menenangkan dan menjadi arti sendiri di hati Galang. Tak khayal perasaannya terhadap Amara pun kian bertambah besar kala gadis ini bersedia menghabiskan hidupnya bersama pria tak sempurna seperti dirinya ini. Amara begitu dewasa dan mempunyai pikiran yang positif. Dia berpikir dengan apa yang dia lihat dan rasakan.
Galang tersenyum lalu mengangguk. "Tentu. Saya akan berusaha lebih keras lagi. Seperti usaha saya membuat kamu menerima lamaran ini," ucapnya. "kamu gadis baik dan sangat dewasa, Ra. Mungkin sebagai laki-laki saya masih banyak kekurangan dan saya mau kamu mengisi kekurangan itu. Kamu memang bukan yang pertama tapi saya janji kamu akan jadi yang terakhir. Ini adalah pernikahan kedua saya, tapi saya akan buat pernikahan ini jadi pernikahan pertama dan satu-satunya buat kamu. Saya mau mewujudkan impian pernikahan kamu dan menjadikan momen ini momen terindah dalam hidup kamu."
Wajah Amara bersemu merah saat Galang mengucap semua itu. Impian pernikahan? Tentu dia punya impiannya sendiri. Menikah dengan laki-laki yang baik dan mencintainya apa adanya adalah salah satu keinginannya selama ini.
"Saya pernah punya impian menikah dengan pria baik dan yang mencintai saya apa adanya. Mencintai kekurangan saya dan enggak melihat dari kelebihan yang saya punya. Tapi, semenjak Kasih muncul, saya berpikir dua kali untuk menikah. Saya takut, jika calon suami saya nantinya enggak mau nerima Kasih. Saya enggak mau egois dengan mementingkan keinginan saya lalu mengorbankan kebahagiaan putri saya. Karena itu selama ini saya selalu menutup diri dan enggan menjalin hubungan dengan laki-laki. Fokus saya, saya curahkan untuk Kasih, merawatnya dan memberikan dia yang terbaik semampu saya. Jadi jika Anda bertanya bagaimana pernikahan impian saya, saya enggak punya jawabannya. Selama ini saya hanya memikirkan soal kesembuhan dan pengobatan Kasih. Pikiran semacam itu udah enggak ada dalam hidup saya."
__ADS_1
###
bersambung...