GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 37~


__ADS_3

~RENCANA GALANG.


###


"Perceraian Anda? Bukannya Anda belum resmi bercerai? Lalu, bagaimana bisa Anda menikahi saya kalau status Anda saja masih belum jelas." Amara melontarkan apa yang dia ketahui. Dia tidak mau tergesa melakukan semuanya. Mengingat, sidang perceraian Galang belum dilaksanakan.


Pernikahan bukan masalah yang sepele. Meski Galang berulang kali mengatakan jika dirinya sudah bercerai dari Vanila. Namun, lelaki itu belum melakukan sidang keputusan. Amara hanya takut jika dia menikah dengan Galang saat ini juga, akan berakhir tidak baik. Ujung-ujungnya dia menikah dengan pria yang masih berstatus sebagai suami orang.


"Itu masalah gampang. Sekarang juga saya bisa mempercepat proses perceraian saya," kata Galang menanggapi. Dia tersenyum melihat Amara yang mempunyai pikiran sejauh itu. Perkataan gadis ini ada benarnya juga.


Amara menggeleng. "Enggak usah terburu-buru, Pak. Anda juga masih sakit. Bapak bisa fokus sama penyembuhan Bapak dulu," tolaknya halus lantaran Amara tidak mau Galang menjadi terbebani karenanya.


Mengusak puncak kepala Amara lantas berkata, "Kenapa? Kenapa enggak boleh buru-buru? Bukannya lebih cepat lebih baik, hem?" Dia Menaik turunkan alisnya seraya mencubit gemas dagu Amara.


Desiran aneh kembali merayap di hati Amara kala kata-kata frontal dan tatapan menggoda dari Galang diluncurkan. Dalam hitungan jam atasannya ini berubah menjadi genit. Demi menjaga hatinya agar tidak tergoda, Amara memilih mengalihkan pembicaraan ini saja.


"Saya mau ijin pulang sebentar, Pak. Saya mau mandi dan ganti baju." Amara berdiri dan segera mengambil tas yang dia letakkan di atas nakas.


"Enggak usah. Pinjam ponsel kamu." Galang mencegah seraya menengadahkan tangan di depan Amara.


"Buat apa, Pak?" Amara menautkan alisnya.


"Udah pinjem dulu." Galang sedikit memaksa.


Menghela panjang lantas mengambil ponselnya dari dalam tas. "Ini." Menyerahkan ponselnya ke tangan Galang.


Dengan cepat Galang mengambilnya. "Kodenya?"


"Satu sampai enam."


Galang berdecak. "Kenapa PINnya simpel banget?" Dia mulai mengetik nomor Kevin di sana.


"Biar gampang diingat," sahut Amara tanpa ingin menjelaskan panjang lebar, dia agak kesal.

__ADS_1


"Duduklah dulu. Sini." Dengan sesukanya, Galang menarik pelan tangan Amara dan menuntunnya duduk di bed.


Mau tidak mau Amara menurut, meski bola matanya merotasi ke atas. "Bapak telepon siapa?" tanyanya sebab kini Galang seperti sedang menghubungi seseorang.


Galang hanya menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri, seolah menyuruh Amara untuk diam. Dia pun langsung menyapa Kevin yang mengangkat panggilannya.


'Iya, halo Pak?'


"Kalau urusannya sudah selesai, kamu tolong carikan baju size ..." Galang memindai sebentar bentuk tubuh Amara yang kecil. "Size M. Baju perempuan, sama perlengkapan mandi. Terus kamu bisa antar ke rumah sakit. Jangan lupa ambilkan ponsel saya yang tertinggal di kamar," ujarnya lagi memerintah Kevin.


'Baik, Pak. Sekitar satu jam lagi saya sampai di sana.'


"Terima kasih." Setelahnya Galang memutus sambungan telepon itu. "Ini hape kamu. Terima kasih," ucapnya seraya mengembalikan ponsel Amara.


Amara menerimanya sambil menyipitkan mata. "Kenapa Anda menyuruh Kevin buat beliin baju? Itu untuk siapa?" tanyanya yang belum mengetahui niat Galang yang sebenarnya.


"Buat kamu. Memang buat siapa lagi?" Galang menyahut santai, lantas memegang tangan Amara. "Kamu di sini aja enggak usah pulang. Mandi di sini. Oke? Kalau kamu bolak-balik nanti yang ada kamu capek di jalan." Mengusap pipi Amara dengan seulas senyum yang semakin menambah debaran di hati gadis itu.


Menelan ludah dengan senyuman kikuk, Amara berkata, "Kenapa harus ngerepotin Kevin? Sa-saya 'kan bisa beli baju di toko terdekat kalo Anda mau." Lidah dan bibir Amara terasa kaku hanya dengan sikap Galang yang demikian.


"I-itu?"


***


"Apa! Kamu mau nikah di sini? Di rumah sakit ini?" Aldo memekik kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.


Pria yang masih terlihat pucat itu barusan meminta Aldo untuk menjadi saksi di pernikahannya besok. Dan, menyuruh mencarikan beberapa saksi lainnya. Supaya pernikahannya dengan Amara bisa dianggap sah di mata hukum dan agama.


Sementara Kevin ditugaskan untuk segera memproses persidangan perceraian lelaki itu. Dan, diperintah untuk mencarikan penghulu dan mengurus beberapa dokumen seperti buku nikah. Kevin yang tak mau banyak bertanya hanya mengiyakan saja perintah atasannya yang sepertinya sudah tidak sabar menikahi Amara.


Ngomong-ngomong soal Amara, calon pengantin perempuan itu sedang berada di luar. Galang menyuruhnya ke kantin Rumah Sakit untuk membeli makanan atau camilan. Ck! Sebenarnya itu hanya akal-akalan Galang saja.


Aldo menatap Kevin sambil berkata, "Bos kamu kayaknya udah ngebet pengen kawin lagi. Takut kalo laharnya keburu expired. Ck!" Melirik Galang yang sekarang ini menatapnya horor.

__ADS_1


Kevin sontak melipat bibirnya kuat-kuat, sebisa mungkin dia menahan tawanya. Celetukan Aldo memang ada benarnya. Alasan Galang menikahi Amara secepat mungkin, salah satunya dia ingin segera mempunyai anak. Lalu, alasan lainnya adalah Galang sudah sangat tergila-gila pada sekretaris barunya itu.


Tak terima diejek seperti itu, Galang lantas menyahuti. "Inget umur, Al. Di umuran kita ini harus bergerak cepat dari pada nanti keburu keduluan orang. Kayak ...." Bibirnya tersenyum mengejek seraya melirik Aldo yang memasang raut masam.


"Kayak aku maksud kamu? Ck!" Aldo menimpali lantaran sadar diri jika Galang tengah menyindirnya.


Alis dan bahu Galang terangkat bersamaan. "Tahu! Siapa, sih?" celetuknya.


Kevin memilih jadi pendengar saja, dia tidak mau ikut-ikutan terkena sindiran bosnya.


"Besok jangan lupa kamu jemput Bi Mina di rumah Amara," kata Galang lagi menambah sederet pekerjaan Kevin.


"Siap, Pak." Kevin mengangguk patuh. "Saya juga sudah mengatur ulang semua jadwal Anda. Persidangan yang harusnya dilaksanakan lusa saya undur jadi lima hari lagi. Dan, masalah Nyonya Vanila, semuanya sudah beres. Nyonya marah besar, Pak. Awalnya dia tidak mau tanda tangan, tetapi pada saat saya menawarkan jumlah harta gono-gini yang Anda berikan, beliau langsung luluh."


"Dari dulu dia memang enggak berubah." Galang hanya tersenyum miring mendengarnya. Selesai sudah urusannya dengan Vanila. Meski dia harus merelakan rumah yang ditinggali selama beberapa tahun belakangan ini. Namun, itu semua tidak masalah.


Untuk apa dia mempertahankan rumah yang di dalamnya hanya ada kenangan bersama Vanila. Itu sama saja dia harus tergerus oleh masa lalunya yang pahit. Vanila dan semua kenangannya, tak ada yang tersisa di hati Galang saat ini. Menikah dengan Amara, itu merupakan jalan satu-satunya bagi Galang mengobati luka di hatinya. Membuka lembaran baru bersama gadis itu dan mulai menata kehidupannya yang selama ini sangat berantakan.


Keheningan yang tercipta tak bertahan lama setelah Aldo kembali membuka suara.


"Memangnya yang kamu mau nikahin udah setuju untuk nikah?" tanyanya, menatap Galang dengan tatapan penuh tanya.


Kevin sontak melirik Galang yang hanya menampilkan senyum penuh arti. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu.


"Tenang aja. Dia pasti enggak akan nolak. Saya bisa jamin itu," ujar Galang penuh percaya diri.


Aldo berdecak nyaring lantas menyilangkan tangan ke dada. "Semoga aja dia enggak syok sama kejutan dari kamu. Dan, semoga ini pernikahan kamu yang terakhir dan untuk selamanya," katanya sembari menepuk pundak Galang yang langsung mengamini doanya barusan.


Aldo lantas beralih kepada Kevin. "Vin, cariin saya jodoh, dong?"


"Hah?" Kevin melongo sementara Galang justru tertawa paling nyaring.


***

__ADS_1


Ya ampun... kesian amat kamu Aldo. hihii 😂


Yang dukung Amara nikah sama Galang jangan lupa sumbangannya ya ..🤭🤣cukup kasih hadiah atau vote😅


__ADS_2