GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Antusias Mami.


__ADS_3

Pagi ini Amara menyuapi Kasih makan, rutinitas yang selalu dia lakukan semenjak berada di rumah sakit. Hampir tiga Minggu dia menjaga Kasih dan merawatnya dengan sepenuh hati. Setiap hari Amara selalu menghabiskan waktu bersama puterinya itu. Sesuai dengan apa yang dia inginkan, yakni bisa berada di sisi Kasih, menemaninya menjalani pengobatan.


Sementara itu, Amara pun harus mengorbankan waktunya untuk sang suami. Dia dan Galang hanya bertemu dua kali dalam seminggu. Di sela kesibukan, suaminya itu menyempatkan diri pergi ke Singapura. Selain tak bisa berlama-lama berada jauh dari sang istri, Galang juga tak betah bila harus menahan sesuatu yang sangat mendesak. Kebutuhannya sebagai laki-laki normal tentu harus disalurkan, bukan?


"Udah, Bu. Kasih udah kenyang," rengek Kasih seraya mendorong pelan tangan Amara yang hendak menyuapinya lagi. Gadis itu menggeleng, memasang raut memelas.


Menghela pasrah, Amara pun mengalah. Dia menarik tangannya, lalu meletakkan sendok ke wadah makan Kasih yang masih tersisa sedikit. "Ya udah. Kalo Kasih udah kenyang enggak usah dilanjut," ucapnya sambil meletakkan wadah makan tersebut ke atas nakas.


"... minum dulu, Nak," imbuh Amara, membantu Kasih minum dengan pelan-pelan. Mengembalikan gelas tersebut ke atas nakas, Amara bertanya, "Kasih masih pusing, ga?"


"Enggak, Bu. Kasih udah gak pusing," jawab Kasih. "Om Galang ke sini lagi kapan, Bu?"


"Om Galang ke sini entar malem. Memangnya kenapa?" Amara membenarkan letak bantal yang digunakan Kasih sebagai sandaran agar semakin nyaman.


"Emm... Kasih, kok, pengen makan sate, ya, Bu. Boleh, gak, kira-kira?" Manik gadis itu menatap Amara dengan memelas. Lama tinggal di Singapura, membuatnya rindu makanan Indonesia.


Amara nampak berpikir sejenak. "Em, pengen banget, ya?" tanyanya, mengusap pipi Kasih yang pucat dan tirus. Bukan tidak mengizinkan, hanya saja Amara takut kenapa-napa jika menuruti Kasih makan sate.


Kasih mengangguk, melipat bibir sambil mempertahankan raut memelas.


Tidak tega melihat Kasih yang terlihat memohon seperti itu, akhirnya Amara pun mengiyakan. "Ya udah nanti ibu tanyain sama dokter dulu, ya. Kasih boleh apa enggak makan sate. Nanti kalo boleh, ibu minta Om kamu buat bawain. Ya?" Amara menepuk-nepuk punggung tangan Kasih.

__ADS_1


"Makasih, Bu." Kasih menghambur ke pelukan sang ibu, seulas senyum tersemat di bibirnya yang pucat.


"Sama-sama, Sayang. Tapi kalo misalnya gak boleh sama dokter, Kasih gak marah 'kan?" Amara mengurai pelukan, memegang lengan Kasih, menatapnya penuh kelembutan. Dia tidak mau jika Kasih merasa sedih karena tidak diizinkan oleh dokter makan sate.


Kasih menggeleng. "Ya... gak, dong, Bu. Masa Kasih marah? Kan Kasih udah besar, gak boleh manja," sahutnya seperti biasa. "Umur Kasih udah 8 tahun 'kan?" Tangannya yang bebas dari infus terjulur, mengusap pipi Amara yang menatapnya sendu.


Jawaban Kasih membuat dada Amara sesak, puterinya itu kenapa masih bisa tersenyum dengan kondisinya yang sekarang? Amara lantas meraih tangan Kasih yang masih menempel di pipinya. Mengecup telapak tangannya berulang-ulang sambil berkata, "Kasih memang anak ibu yang paling baik dan pinter. Ibu sayang sama Kasih."


"Kasih juga sayang sama Ibu," balas Kasih yang kemudian beringsut maju agar bisa mengecup pipi Amara.


Di sela percakapan hangat tersebut, tiba-tiba saja Amara merasa mual. Dia pun gegas berlari menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan isi perutnya yang hanya mengeluarkan cairan bening. Sebab, dia belum makan apa pun. Bersamaan dengan itu, mami dan papi masuk ke ruangan Kasih. Merasa khawatir dengan kondisi menantunya, mami pun menyusul Amara ke kamar mandi. Dan, beliau melihat sang menantu tengah kepayahan di wastafel.


"Ra? Kamu kenapa?" tanya mami yang sudah berdiri di samping Amara. Maniknya menelisik dengan intens, lalu berinisiatif memijat tengkuk Amara.


Mendengar penjelasan Amara, kenapa firasat mami merasakan sesuatu. Sepertinya akan ada kabar baik dari sang menantu. "Kamu udah telat bulanan belum?" tanya beliau menebak, karena apa yang dialami Amara seperti tanda-tanda orang yang sedang hamil.


Sepasang alis Amara menaut, menggeleng sekali lalu menjawab, "Amara belum dapet, Mi. Kira-kira udah telat sekitar dua mingguan. Ini, sih, udah biasa, Mi. Paling Amara cuma kecapekan."


Amara yang belum faham arah pembicaraan mami hanya memberikan alasan yang menurutnya sudah biasa dia alami. Pasalnya, dia selalu telat datang bulan apabila kelelahan dan banyak pikiran. Amara pun tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan bersikap biasa.


"Telat dua minggu?" Mami memastikan lagi.

__ADS_1


"Iya. Tapi... seingat Amara terakhir kali Amara dapet itu sebelum nikah sama Mas Galang. Terus sampai sekarang belum dapet lagi," sahut Amara dengan raut polosnya, sementara mami mengulum senyum. Perempuan paruh baya itu yakin, jika menantunya itu pasti sedang hamil.


"Ya udah. Ayo mami temenin periksa." Mami meraih tangan Amara, lalu menuntunnya keluar dari kamar mandi.


"Eh, Mi, gak usah. Gak perlu diperiksa. Amara baik-baik aja, kok." Amara jelas kebingungan, karena menurutnya ibu mertuanya ini terlalu berlebihan. Hanya perkara masuk angin, kenapa harus diperiksa dokter segala.


Langkah mami berhenti setelah tiba di depan ranjang Kasih, otomatis suami dan cucunya itu menatapnya dengan raut kebingungan.


"Loh, Mi, mau ke mana?" tanya papi, maniknya tertuju pada pergelangan tangan Amara yang digandeng sang istri.


"Ibu mau ke mana?" Giliran Kasih yang bertanya.


"Ib—" Belum sempat Amara menjawab, mami terlebih dulu menyela.


"Ibumu mau nenek bawa periksa sebentar. Kasih di sini sama kakek dulu, ya?" ucap mami kemudian menatap papi. "Pi, titip Kasih bentar. Mami mau nganter Amara periksa dulu."


"Ibu sakit, ya? Itu mukanya pucet?" Kasih nampak khawatir, karena baru saja dia dan sang ibu berbincang. Namun, tidak melihat tanda-tanda jika Amara sedang sakit. Tetapi, tiba-tiba ibunya terlihat memucat setelah keluar dari kamar mandi.


"Ibumu gak kenapa-napa, Kasih. Kasih tenang aja. Sebentar lagi ada kabar gembira buat Kasih." Masih mami yang menyahut dengan antusias, dan sontak tatapan ketiga orang tersebut menatapnya penuh tanya.


Di ruangan itu hanya mami yang terlihat sumringah, sementara yang lain melongo tak berkedip.

__ADS_1


"Mi, ada apa, sih? Jangan bikin kami penasaran," tanya papi yang belum faham dengan jalan pikiran istrinya.


Mami tersenyum, lalu mengibaskan tangan. "Udah... papi jangan banyak tanya. Nanti juga tahu. Ya udah, mami buru-buru, nih." Tanpa ingin membuang waktu, mami segera keluar dari ruangan tersebut. Menggandeng Amara dengan erat dan mengajaknya pada dokter Obgyn.


__ADS_2