
Sejak keluar dari ruangan dokter Obgyn sampai sekarang, mami tak pernah berhenti tersenyum dan berbicara. Perempuan paruh baya itu teramat senang lantaran dugaannya sangat tepat. Kabar kehamilan Amara sedikit memberi warna dan angin segar di tengah permasalahan yang tengah melanda.
Pun dengan Amara yang sedari tadi tak henti mengulum senyum sambil mengusap perutnya yang masih rata. Antara percaya dan tidak, bila dirinya kini benar-benar tengah berbadan dua. Ah, pantas saja kondisi tubuhnya beberapa hari ini sangat berbeda. Mood-nya terkadang juga berubah-ubah, dan parahnya dia tidak menyadari apapun. Padahal, tanda-tandanya sudah terlihat dengan jelas.
Apa mungkin karena dia terlalu sibuk mengurus Kasih, sampai-sampai tidak terlalu memikirkan tamu bulanan?
'Mas Galang pasti seneng denger kabar ini. Aku jadi gak sabar nunggu dia dateng.' Amara membatin, membayangkan respon dan reaksi sang suami nantinya. Akhirnya, dia dan Galang akan menjadi orang tua.
"Bu," panggilan Kasih, membuat Amara sontak menoleh.
"Ya?" Amara tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Kasih. "Kenapa, Nak?"
"Selamat, ya, Bu. Ibu mau punya dedek bayi." Kasih berujar dengan tulus. Dialah orang pertama yang paling bahagia saat mendengar Amara hamil. "Kasih bentar lagi mau punya adik."
"Makasih, Sayang." Amara membungkuk, mengecup kening Kasih. "Makanya, Kasih harus semangat berobat. Biar cepet sembuh terus nanti bisa main sama adik," ujarnya memberi semangat pada Kasih.
"Iya, Bu. Kasih pengen cepet-cepet sembuh biar bisa main sama adik bayi."
Amara mengangguk. "Tentu, Sayang. Kasih pasti sembuh, kok. Percaya sama ibu."
"Iya, Kasih. Nenek, kakek, terus berdoa biar Kasih cepet sembuh. Jadi kita nanti bisa jalan-jalan bareng," timpal mami, memberi tambahan semangat untuk sang cucu.
"Iya, Nek."
"Pinter...." Mami mengusap puncak kepala Kasih. Harapan beliau pastinya semakin besar pada kesembuhan Kasih. Sebisa mungkin mami membuang jauh-jauh pikiran negatif yang hanya akan membuatnya sedih.
Sebagai nenek yang baru saja merasakan kebersamaan dengan sang cucu, tentu mami memiliki keinginan, supaya Tuhan masih memberinya waktu, menghabiskan sisa umurnya bersama cucu-cucunya.
"Galang jadi ke sini, Ra?" tanya papi pada Amara.
"Jadi, Pi. Mungkin maleman," jawab Amara. "Memang kenapa, Pi?" Kening Amara mengernyit, melihat perubahan raut papi yang mendadak khawatir. Padahal, baru saja pria paruh baya itu terlihat bahagia.
"Enggak apa-apa. Papi cuma tanya aja." Papi menjawab dengan gelengan kepala disertai senyuman kaku. "Mi, papi ke ruangannya Maya dulu. Hari ini jadwalnya terapi."
"Iya, Pi. Nanti Mami nyusul ke sana," sahut mami.
Papi pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan segera menuju ke ruangan sang puteri yang hari ini sedang ada jadwal terapi.
__ADS_1
"Mi, Papi kenapa?" tanya Amara setelah papi keluar dari sana. "Amara perhatiin muka Papi kaya cemas gitu." Kecemasan papi sepertinya menular ke Amara. Hati perempuan itu terlalu peka terhadap orang-orang sekitar.
Mami menarik kursi yang ada di bawah ranjang Kasih, lalu mendaratkan bokongnya di sana. "Biasa... Papi kalo Maya mau terapi suka gitu," jawabnya dengan santai seolah-olah hal tersebut memang sudah tidak mengejutkan.
Semenjak Maya menjalani terapi, papi selalu mendampingi. Namun, beliau tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah itu. Papi terus terngiang-ngiang ucapan Maya.
Penuturan mami tentu membuat Amara semakin penasaran. Sedikit banyak dia memang mengetahui soal perkembangan kejiwaan Maya yang mengalami perubahan. Akan tetapi, dia juga belum sempat bertemu dengan psikolog yang membantu Maya selama ini.
"Kasih...." Amara menatap Kasih yang sedari tadi menyimak obrolannya.
"Ya, Bu."
"Kasih bobok dulu, ya. Nanti sore Kasih 'kan juga ada jadwal kemo," bujuk Amara, dia hanya tidak mau Kasih mendengar perihal Maya dan segala terapinya itu. Sebisa mungkin Amara menutupinya dari Kasih, agar pikiran anak itu tidak terlalu tertekan.
Kasih mengangguk dan menuruti perintah Amara. Kedua maniknya lantas terpejam karena memang dia pun sudah mengantuk. Efek dari obat yang dia minum.
Melihat Kasih sudah tertidur, Amara pun turun dari ranjang. Berjalan mengitari bed tersebut menghampiri mami. "Mi, Amara mau tanya, boleh?"
"Boleh...." Mami memiringkan badan menghadap Amara seraya menarik kursi yang masih belum terpakai. "Kamu duduk sini," titahnya karena tidak mau melihat Amara berdiri.
_
"Mas, gimana kerjaan kamu? Anggi udah mulai kerja 'kan?" tanya Amara sembari mengusap puncak kepala Galang yang ada di pangkuan. Sementara lelaki itu sibuk mengecupi punggung tangan sang istri.
"Udah. Udah dari kemarin malah." Galang berpindah membelai rambut Amara yang sengaja digerai bebas. Sesekali dia menghidunya.
Ya, atas bujukan Amara, akhirnya Anggi mau kembali bekerja di kantor. Demi Kasih pula, sahabatnya itu pun mengalah.
"Syukur, deh. Jadi Mas udah gak kerepotan lagi."
"Ya... makanya aku ajuin jadwal dateng ke sini. Soalnya udah kangen sama istriku," ujar Galang menjawil hidung Amara.
Senyuman terbit di bibir Amara. Niat yang sejak tadi siang sudah ada di kepalanya pun segera dia utarakan.
"Mas... Mas masih pengen punya anak 'kan?" Amara bertanya, menatap cemas wajah sang suami yang mengerutkan kening. Menunggu respon dari lelaki itu.
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" Galang malah balik bertanya, bangkit dari pangkuan Amara, lalu menegakkan punggung. Tubuhnya sedikit bergeser, agar bisa menatap Amara tanpa jarak.
__ADS_1
"Ya... Mas tinggal jawab aja 'kan? Kenapa mesti balik nanya?" Bibir bawah Amara mencebik, mendadak moodnya berubah.
Jelas Galang semakin kebingungan. Tidak biasanya Amara terlihat merajuk seperti ini. Meraih tangan Amara, lalu menggenggamnya. "Tentu aku masih mau, Ra. Malah aku berharap—"
"Aku hamil, Mas." Amara langsung memotong perkataan Galang.
Sepasang alis Galang terangkat, jantungnya tiba-tiba berdegup sangat cepat. Ditambah dengan anggukan samar dari Amara semakin membuatnya hampir termangu untuk sesaat. Hingga di detik berikutnya, Galang yang mulai bisa mengontrol perasaan yang mungkin saja hampir meledak itu lalu bertanya, "Serius? Kamu seriusan hamil, Sayang?"
"Iya, Mas. Aku hamil. Ini." Amara memberikan hasil pemeriksaannya siang tadi kepada Galang.
"Apa ini?" Galang menerima hasil laporan tersebut dengan kerutan yang semakin tercetak jelas di kening. Maniknya menatap bergantian antara kertas yang ada di tangannya, lalu manik Amara yang berkaca-kaca.
"Baca aja, Mas. Itu... hasil laporan dari dokter Obgyn tadi siang."
Galang lebih dulu menjulurkan tangan, meraih belakang kepala Amara untuk dia bawa maju perlahan ke arahnya. Mendaratkan kecupan mesra dengan durasi yang cukup lama, seolah waktu terasa begitu sangat singkat, sampai-sampai dia tidak rela menarik diri dari wajah ayu istrinya.
"Mas percaya, Sayang. Mas gak perlu baca ini." Galang menaruh amplop putih itu ke meja kaca yang ada di sampingnya. Baginya pengakuan dari Amara saja sudah cukup.
"Tapi, Mas—" Amara hendak protes tetapi dia urungkan karena Galang terlebih dulu menangkup wajahnya dengan telapak tangannya yang besar.
"Udah. Kalo kamu yang ngomong langsung aku pasti percaya," sela Galang agar Amara tidak kembali mendebat dirinya. "Aku bingung sampe gak bisa ngomong apa-apa lagi ke kamu. Kabar ini terlalu bikin aku bahagia, Sayang."
Dengan kebahagiaan yang tentu membuncah, tubuh mungil Amara, Galang rengkuh dengan erat. Menghujani wajah istrinya itu dengan kecupan-kecupan mesra tanpa ada yang terlewat.
Akhirnya, dia akan mempunyai seorang anak. Sesuatu yang dia tunggu-tunggu selama ini.
***
haii...aku bawa kabar baru nih! Mampir yuk ke novelku yang baru aja netes😅
Blurb~
Kerasnya hidup membuat Suci— siswi kelas 12 terpaksa harus bekerja paruh waktu di sebuah kelab malam demi membiayai sekolahnya sendiri. Dihina dan dicaci sudah menjadi makanan sehari-harinya di sekolah. Cemoohan atas dirinya pun tak bisa dia elakkan saat teman-temannya berpikir dia gadis kotor. Ya, Suci memang hina dan kotor, tetapi itu adalah urusannya dengan Tuhannya.
Namun, masalah itu saja seolah belum cukup. Suci harus kehilangan kesuciannya di tangan teman sekolahnya sendiri yang pernah menolongnya secara tidak sengaja. Evan Mikola—cucu dari pemilik sekolah sekaligus cowok paling berpengaruh di tempat tersebut. Siapa Suci yang berani meminta pertanggungjawaban atas kesalahan yang tak sengaja mereka lakukan? Hingga pada akhirnya, Suci memilih pergi menjauh dari kehidupan Evan dengan membawa kenangan terindah dari cowok itu.
__ADS_1
Akankah takdir membawa Suci kembali pada Evan, cowok pertama sekaligus cinta pertamanya?
***