
~AKMAL.
###
Sepanjang perjalanan kembali dari pengadilan, Amara betah terdiam di dalam mobil, tak berminat untuk mengawali perbincangan atau pun percakapan dengan sang suami. Suasana hatinya masih memanas. Bayangan Vanila ketika memeluk Galang terus saja berkelebat di ingatan, seakan enggan untuk enyah dari pikiran.
"Hfuuh ...." Membuang napas panjang guna mengurangi rasa sesak yang melanda. Pandangan Amara terus menatap ke jendela mobil yang sengaja dia buka sedikit bagian atasnya. Angin siang ini cukup menyejukkan hatinya yang terasa panas. Namun, tak mampu menjawab pertanyaannya sendiri.
'Aku kenapa? Kenapa aku ngerasa enggak seneng ngeliat Vanila meluk Mas Galang tadi. Ada apa ini? Kenapa di sini rasanya sangat sakit dan terasa panas?' Sembari membatin Amara mengusap dadanya yang berdenyut.
Perempuan itu terlalu polos sampai-sampai tak bisa mengartikan perasaan yang kini menggelayutinya.
Merasa ada yang aneh dengan sikap Amara, Galang terus memerhatikan perubahan raut istrinya itu. Sejak dari pengadilan sampai masuk ke dalam mobil, Amara tak bersuara sedikit pun. Dia jadi merasa cemas apabila ucapan Vanila kembali mempengaruhi dan menyakiti hati Amara.
Galang sempat merasa senang ketika Amara berhasil melawan Vanila dan mengklaim bahwa dirinya adalah suaminya.
"Yang tadi itu keren banget, Ra. Saya enggak nyangka kalau kamu bisa bersikap tegas dan berani. Kalau boleh jujur, saya merasa sangat senang karena kamu mengklaim saya sebagai suamimu." Berkata demikian, Galang tak bisa menahan senyuman, pertanda jika hatinya sedang dalam kondisi sangat bahagia.
"Kan memang Mas suami aku?" Amara melirik sekilas tak berminat menoleh. Nada suaranya terdengar sumbang, seperti ada sesuatu yang dia tahan dan coba tutupi. Lalu, mengigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya meremat ujung rok span sebatas lutut itu.
Tetiba hawa panas kembali terasa. Ingin rasanya dia berteriak tadi, memaki dan mengatai Vanila. Namun, tak terealisasikan. Selama ini Amara memiliki pengendalian diri yang cukup bagus. Dia jarang marah kepada orang lain. Akan tetapi, saat melihat Galang disentuh oleh wanita lain, nalurinya sebagai istri seketika itu muncul.
Ya, mungkin cuma naluriku sebagai istri.
'Apa mungkin aku cemburu? Aku cemburu melihat Mas Galang dideketin sama mantan istrinya?'
"Suami? Jadi cuma karena itu alesannya? Enggak ada alesan lainnya?" Galang sengaja memancing Amara. Dia gemas sekali dengan istrinya yang polos ini. Dugaannya, mungkin Amara belum menyadari perasaannya. Jelas-jelas Galang tadi bisa melihat api cemburu dari sorot mata Amara.
'Amara sangat lucu. Aku suka caranya tadi.'
"I-iya." Amara menelan ludah susah payah, pertanyaan Galang membuatnya gugup, hingga semakin erat meremat kain rok-nya.
Galang menoleh sekilas. "Kenapa dari tadi liatnya ke jendela melulu, Ra?"
"Hah? Eng ...." Amara bergerak gelisah dan duduk dengan tidak nyaman. Kepalanya menoleh perlahan ke samping. "A-aku gerah, Mas. Iya, gerah. Jadi aku liat jendela. Nih, kacanya aku buka sedikit biar ada angin masuk." Kembali menatap jendela, lalu membuang napas panjang, lantas mengatupkan bibir.
'Dia sama sekali enggak pinter berbohong.'
Bibir Galang terlipat seraya kepalanya manggut-manggut. Pertanda dia cukup mengiyakan saja alasan Amara. Gerah? Pendingin mobilnya bahkan masih berfungsi dengan bagus, malah suhu di dalam sini terasa sangat sejuk.
Konyol.
*
Galang berbelok masuk ke pelataran Restoran untuk mengajak Amara makan siang.
"Kenapa ke sini, Mas?" tanya Amara tanpa menatap sang suami. Niatnya ingin langsung kembali ke kantor, agar bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu, Ra. Ini udah waktunya makan siang." Galang beringsut maju setelah melepas sabuk pengaman yang melingkar di pinggangnya.
Amara terkesiap dan berjengit lantaran tiba-tiba Galang mendekatinya.
"Eh, Mas mau ngapain?" Pandangannya turun menatap tangan Galang yang sibuk membuka pengait sabuk pengaman. Amara tersenyum setelah tahu apa yang akan dilakukan suaminya. "Makasih, Mas."
"Sama-sama." Mengusak puncak kepala Amara, lantas Galang menempelkan telapak tangannya ke pipi istrinya. "Ayo turun, kita makan dulu," ucapnya yang terdengar sangat khas di telinga Amara dan dia sangat suka itu.
"Iya." Amara mengangguk dengan mata berbinar, menatap punggung lebar sang suami yang keluar lebih dulu dari mobil. Galang mengitari badan mobil, kemudian membukakan pintu untuknya.
"Ayo, Ra." Tangan Galang terulur di depan Amara dan dibalas cepat oleh sang pujaan hati.
*
"Duduklah," pinta Galang yang terlebih dulu menarik kursi untuk Amara, begitu tiba di dalam Restoran.
"Makasih, Mas." Amara duduk dengan nyaman, mengedarkan pandangan ke sekeliling Restoran yang cukup ramai. "Restorannya bagus."
"Iya. Di sini makanannya enak-enak, Ra. Saya biasa mampir sama Kevin ke sini kalo habis dari pengadilan," cicit Galang, sangat semangat. Sengaja mengajak Amara ke tempat ini untuk menghiburnya.
"Pantesan tadi orang itu kayaknya apal banget sama Mas." Yang dimaksud Amara pelayan yang berdiri di balik pintu masuk Restoran.
Galang tersenyum menanggapi. "Kamu pesen apa, Ra? Di sini yang terkenal steiknya," tawarnya.
"Aku enggak begitu suka steik, Mas," sahut Amara, lalu agak menyondongkan badan dan berbisik. "enggak bikin kenyang." Amara terkikik setelahnya seraya beringsut mundur.
Tawa Amara menular ke Galang. "Nasi? Kamu mau nasi?"
"Baiklah, saya pesen nasi Kebuli aja kalo gitu yang ada daging kambingnya. Kan biar kuat." Galang terkekeh bermaksud untuk menggoda sang istri.
"Hush! Mas ngomongnya jangan kenceng-kenceng. Malu didenger orang."
Astaga... suaminya ini selalu frontal dan asal bicara. Bola mata Amara melirik ke sisi kanan dan kiri meja yang ramai pengunjung. Dia benar-benar malu jika sampai mereka mendengar ucapan Galang barusan.
"Kamu kalo lagi malu lucu, Ra. Mukamu merah."
"Ish! Mas sekarang gitu, ya. Udah tahu aku lagi kesel malah dibikin tambah kesel." Amara melengos, memberengut lucu seraya menyilangkan tangan di dada.
Bisakah Galang tidak menggodanya untuk saat ini? Suasana hatinya sedang tidak karu-karuan.
Beringsut maju supaya bisa menatap lebih jelas wajah sang istri yang masam.
"Kamu kesel? Kenapa? Kenapa tiba-tiba kesel? Apa gara-gara insiden di pengadilan tadi? Iya?" tanya Galang yang sengaja ingin mengusik hati Amara. Sudut bibirnya tak henti tertarik ke samping.
"Apa? Enggak! Bukan gara-gara tadi, kok," kilah Amara masih tak mau mengakui.
"Hmm ... ya udah, kalo gitu jangan ngambek kayak gitu." Lebih baik pura-pura tidak mengerti saja. "Minumnya mau pesen apa, Ra?" tawar Galang lagi, beralih menatap buku menu yang masih ada di tangannya.
__ADS_1
"Jus melon aja, Mas."
"Oke."
_
Beberapa saat berlalu, Galang dan Amara selesai mengisi perut. Saat hendak menuju pintu keluar tiba-tiba Galang terdesak dengan urusan buang air kecil.
"Ra, kamu tunggu bentar, ya. Saya mau ke toilet dulu."
"Iya, Mas. Aku tunggu di sini aja."
"Bentar, kok."
Galang kembali masuk ke Restoran dengan sedikit tergesa-gesa meninggalkan Amara tepat di depan pintu Restoran.
Sembari menunggu suaminya kembali dari toilet, Amara berniat mengecek ponselnya, tetapi pada saat yang bersamaan ada suara dari arah berlawanan memanggilnya.
"Amara!"
Pandangan Amara tertuju pada sosok yang sedang berjalan menghampirinya. Alisnya bertaut seraya menyipitkan mata. Wajah yang tidak asing baginya, namun dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.
"Hai ... Amara 'kan?" sapa pria itu begitu berada di depan Amara.
"I-iya. Saya Amara. Anda ... siapa, ya? Saya kayaknya enggak asing sama wajah Anda." Amara menelisik wajah pria tampan itu, senyumannya sangat khas.
"Kamu lupa siapa saya?" Pria itu tersenyum menampakkan gigi gingsulnya.
Menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal, Amara memasang raut polos, lantas berkata, "Iya, saya beneran lupa. Maaf."
"Enggak masalah," ucap pria itu. "kalo gitu kenalan lagi aja. Perkenalkan saya Akmal." Pria bernama Akmal itu mengulurkan tangan.
"Akmal? Mas Akmal yang dulu pernah jadi donatur di sekolah saya 'kan?"
Akmal mengangguk. "Nah, itu inget."
"Ah, maaf. Aku lupa, Mas." Amara segera membalas uluran tangan Akmal setelah berhasil mengingat.
"Enggak masalah. Gimana kabar kamu?"
"Baik-baik, Mas. Mas sendiri?"
"Saya baik."
###
bersambung....
__ADS_1
Awas loh ntar ada yang cemburu, hihiii...