
~DIKERJAI ALDO.
###
Dengan sangat hati-hati, Galang menggeser posisi duduknya, merebahkan tubuh Amara di sofa panjang yang didukuki beberapa saat yang lalu. Setelah tangisannya mereda, Amara ternyata tertidur. Sepertinya, istrinya itu kelelahan sebab jadwal tidurnya yang berubah drastis semenjak menikah. Belum lagi akitivitas di malam hari yang banyak menguras tenaganya.
Melepas jas yang dikenakan, lantas Galang menggelarnya di atas tubuh Amara yang nampak pulas. Bibirnya mengulum senyum, memindai wajah sang istri, apabila dalam keadaan tidur seperti ini terlihat semakin cantik.
Telapak tangannya terangkat perlahan, mengusap dahi Amara seraya mendekatkan wajahnya. Dikecupnya kening itu dengan penuh cinta dan sangat dalam. Namun, beberapa detik kemudian Galang terperanjat saat merasakan kulit kening Amara yang terasa panas.
"Astaga, Amara demam?" Galang mendesah cemas, mendapati Amara ternyata demam. Dia juga baru ingat, jika sang istri tadi pagi belum sempat sarapan. "Aku telepon Aldo."
Melangkah tergesa, Galang meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Sembari menghubungi Aldo, dia tidak lepas menggenggam tangan Amara yang juga terasa hangat.
'Halo, Lang?' Suara Aldo menyapa dari ujung sana.
"Halo, Al. Bisa ke kantor sekarang, enggak?" Galang langsung meminta Aldo untuk segera datang.
'Bisa-bisa. Ini kebetulan saya lagi di jalan arah kantor kamu. Sekitar sepuluh menit sampe.'
"Oke. Makasih. Cepetan, ya?"
"Iya. Tunggu bentar."
Galang segera memutus panggilan, meletakkan lagi ponselnya ke atas meja. Kemudian, dia memandang Amara yang nampak gelisah di tidurnya. Keringat dingin mulai muncul di sekitar dahi dan pelipis. Wajahnya agak memerah, lalu Galang pun berinisiatif menyeka keringat tersebut dengan tisu. Raut kecemasan begitu kentara di wajahnya yang tampan.
"Ra ... Sayang?" Galang menepuk pelan pipi Amara yang memerah lantaran demam. "Amara ...." Kecemasannya semakin menjadi saat Amara hanya menyahutnya dengan gumaman tanpa membuka mata.
"Hemm." Perempuan itu masih memejamkan mata, dengan kondisi yang membuat Galang jadi semakin khawatir. "Hemm."
"Amara, hei...." Galang masih berusaha membangunkan Amara yang belum meresponnya sama sekali. Dia lantas, menyentuh sekali lagi kening Amara dengan punggung tangan. "Kamu panas banget, Ra," ucapnya seraya mengusap dahi berkeringat itu, menyingkirkan helaian rambut dari wajah Amara.
"ck! Aldo lama banget!" Decakan lolos dari bibirnya, ketika melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir sepuluh menit, tetapi Aldo tak kunjung tiba. Galang semakin cemas dan bingung. "Apa aku bawa ke rumah sakit aja?" Dia melirik Amara yang kondisinya mengkhawatirkan.
Keringat dingin terus bermunculan, bahkan nyaris membuat seluruh wajahnya basah. Amara mengigau tidak jelas. Mulutnya bergumam lirih, memanggil-manggil nama Kasih.
__ADS_1
"Kasih ... Kasih ...."
Galang mengeratkan genggamannya. Menyentuh kening Amara, lalu mengelusnya lembut.
"Ra ... Amara ... please ... jangan bikin aku khawatir begini," ucapnya yang merasa sedih melihat kondisi Amara. Padahal, tadi istrinya ini baik-baik saja. Lalu, tiba-tiba saja mendadak demam seperti ini.
Suara ketukan pintu, memecah fokus Galang.
"Masuk!" serunya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Amara.
Sementara itu Aldo muncul saat pintu tersebut terbuka lebar. "Sorry, lama," ucapnya sembari melangkah masuk dan segera menghampiri Galang. "Amara kenapa, Lang?" Aldo terkejut saat mendapati istri dari sahabatnya terbaring di sofa.
"Kayanya demam, Al," sahut Galang, lalu berdiri. "Coba kamu periksa, Al. Saya takut kalo dia kenapa-napa," pintanya yang segera mendapat anggukan dari Aldo.
Aldo pun mengeluarkan alat bernama Stetoskop dari tas berwarna hitam yang dia bawa. "Biar saya periksa dulu." Aldo menarik salah satu kursi untuk dia duduki di sisi sofa Amara.
"Tolong, Al. Cepetan diperiksa. Saya takut." Galang berkata lagi sebab rasa khawatir tak kunjung pergi bila dia belum memastikan kondisi Amara dalam keadaan baik-baik saja.
Memilih berdiri di samping Aldo yang saat ini mulai melakukan tugas. Memerhatikan setiap tindakan yang dilakukan oleh pria berkaca mata itu. Dari mulai memegang pergelangan tangan, mengecek denyut nadi, lalu menempelkan Stetoskop di dada Amara. Semua itu tak luput dari penglihatan Galang.
"Gimana, Al? Istriku kenapa?" tanyanya saat Aldo telah selesai dengan tugasnya.
Aldo menoleh ke arah Galang lalu menyahut, "Istrimu kelelahan, Lang. Demamnya tinggi banget." Aldo berdiri untuk meminta penjelasan kepada Galang. Matanya menyipit seolah sedang menuntut jawaban.
"Ngapain liatin saya kaya begitu? Memang ada yang salah, ya?" sungut Galang yang merasa tak terima apabila Aldo menatapnya demikian.
"Ck!" Aldo berdecak seraya menggeleng. "Dari hari pertama nikah sampe sekarang udah berapa kali kalian berhubungan?" tanyanya sambil menajamkan tatapannya ke arah Galang yang kini menganga tak percaya.
"Ma-maksudnya?" Alis dan keningnya saling menyatu saat bertanya demikian, Galang belum paham dengan pertanyaan absurd dari Aldo.
"Saya ngerti kalian ini pengantin baru. Tapi, kalo bisa dikondisikan. Jangan terlalu keseringan juga," ucap Aldo yang lantas membuat Galang mulai faham dengan arah pembicaraan ini.
"Hem, emangnya kenapa?" Galang menaikkan alis sebelah kiri, seraya melirik bergantian Aldo dan Amara. Dia penasaran, apa hubungannya kondisi Amara dengan statusnya yang pengantin baru.
Menurut Galang, sah-sah saja, bukan? Jika pengantin baru menikmati momen bulan madu. Ck!
__ADS_1
Aldo menghela panjang, seraya menggeleng sekali lagi. Temannya ini pura-pura bodoh atau memang bodoh? Pembicaraan seperti ini, masa harus diperjelas?
"Gini, ya." Aldo memegang pundak Galang, lalu mencoba menjelaskannya pelan-pelan. "Saya tahu kamu ini berpengalaman dalam urusan ranjang. Tapi itu berbeda sama istri kamu yang baru aja nikah. Ibaratnya, Amara itu masih orisinil dan baru sedangkan kamu? Haisshhh... ngomong apa saya ini?" lantas merasa aneh dengan omongannya sendiri, Aldo memilih mempersingkatnya.
"... intinya, Istrimu kelelahan, kecapekan, kurang tidur, dan kurang asupan. Lihat!" Aldo menunjuk Amara yang masih belum sadar. "Mukanya pucet, kuyu, masa kamu enggak perhatiin?" Lantas berdecak nyaring, seraya menjauhi Galang yang hanya mematung.
Lelaki itu masih belum sepenuhnya mengerti apa yang dikatakan Aldo. Namun, meskipun begitu, pikirannya menerawang ke belakang. Mengingat semua yang sudah dia lakukan pada Amara selama hampir satu Minggu ini. Dalam kurun waktu tersebut, dia dan Amara sama sekali tidak menjeda aktivitas bercinta mereka. Di manapun, kapan pun Galang mau, Amara selalu siap melayani.
Entah itu di ranjang, kamar, ruang tamu, bahkan mereka sering melakukannya di kamar mandi saat malam hari.
"Ahh..." Galang meraup kasar wajahnya. Tak pernah sekali pun dia memikirkan hal itu. Mungkin karena saking senang dan bahagia bisa memiliki istri baru, dia jadi keasyikan.
Mendengar de-sahan gusar yang meluncur dari mulut Galang, Aldo yang semula tengah menulis resep sontak menatapnya.
"Kenapa? Baru inget? Kalo semua ini karena ulah kamu?" sindirnya disertai decakan. Lalu, menyerahkan selembar kertas yang tertera resep di sana. "Ini, nanti kamu tebus obat sama vitamin ini." Sudut bibirnya terangkat tinggi, merasa puas karena sudah mengerjai Galang.
Dalam hati, Aldo tertawa. Semua diagnosis yang dia katakan tidak sepenuhnya benar. Amara memang demam, tetapi bukan karena kecapekan akibat sering bercinta. Amara mengalami demam biasa dan benar-benar harus banyak istirahat. Namun, masih dalam konteks yang aman.
"Nanti biar aku suruh Kevin buat beli ini semua," ucap Galang yang sebelumnya membaca resep tersebut terlebih dulu. "Makasih, ya. Aku bakal ngurangin aktivitas itu," katanya lagi, yang belum sadar jika Aldo tengah mengerjainya.
"Sip! Jangan berlebihan. Enggak baik. Entar yang ada Amara enggak bisa jalan gara-gara ulah kamu," timpal Aldo dengan senyum tertahan di bibir. "Kalo gitu saya permisi dulu. Udah, jangan tegang. Bentar lagi Amara bangun, kok. Tuh!" Mengedikkan dagu ke bawah sana, di mana Amara kini perlahan membuka mata.
"Ra!" Galang langsung menghampiri Amara, duduk di samping perempuan itu. "kamu ....?"
"Mas?" Amara menyela ucapan Galang. "Aku kenapa? Kok, ada Pak Aldo?" tanya Amara ketika melihat Aldo yang berdiri di belakang suaminya.
####
bersambung....
wkwkwkwk 🤣 ckckck Aldo! Bilang aja kamu iri 😆
So... semoga kalian makin menghargai karya receh ini genk's! Karena aku liat makin ke sini makin anyep! ga ada komentar, hadiah atau apapun.🤧Mengsedih, huhuuuðŸ˜kasih kek kopi atau kalo ga, nonton iklan di sini 😌
Oh iya! pliss... Jangan nimbun bab ya, kalo bisa langsung baca aja jangan boom like juga karena bakal bikin jelek kwalitas karya aku😪
__ADS_1