
~KAMU JANGAN MACEM-MACEM.
####
Keesokan paginya tidur Amara terusik oleh cahaya yang masuk lewat kaca jendela balkon kamar yang sengaja dibuka semalaman. Kamar Suite room honeymoon yang disewa Galang memang memiliki balkon seperti Apartemen. Kulit punggungnya yang sedikit terekspos terasa hangat lantaran terpaan sinar matahari.
Kelopak matanya yang terpejam mengerjap-ngerjap pelan, perlahan Amara membuka matanya dan sedikit terlonjak saat tahu bahwa matahari telah meninggi.
"Astaga! Aku kesiangan. Auw!" Amara memekik rasa ngilu di bawah sana sungguh terasa ketika dia hendak bangkit dari tempatnya.
Galang yang masih tertidur jelas terganggu dengan suara berisik dan kasur yang bergerak-gerak. Lelaki itu seketika membuka mata lalu menyipit lantaran merasa silau dengan cahaya matahari.
"Ada apa, Ra?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Galang bangkit, menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Dada bidangnya yang masih polos seketika terekspos bebas. Tangan kekarnya refleks menarik pinggang ramping Amara yang membelakanginya.
Perempuan itu berjengit, saat merasakan tangan kekar melilit dan menarik mundur tubuhnya.
"I--ini, Mas. A-aku kesiangan. Maaf...." Amara menjawab kikuk dan gugup, tak berani menoleh ke belakang. Baru kali ini dia bangun kesiangan, jelas-jelas statusnya kini sudah berganti menjadi seorang istri. Rasanya tidak pantas jika seorang istri bangun kesiangan—pikirnya.
Galang tersenyum, mengelus-elus lengan polos Amara kemudian mengecupinya. Istrinya ini selalu meminta maaf untuk kesalahan-kesalahan kecil yang menurutnya tidak terlalu penting. Namun, dia merasa lebih dihargai sebagai laki-laki, itu artinya Amara sangat menghormatinya sebagai seorang suami. Berbeda sekali dengan Vanila yang sangat susah untuk meminta maaf.
"Hei, lihat ke sini." Galang memutar badan Amara agar menatapnya. Sementara istrinya itu berbalik seraya memegang erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tatapan Galang langsung tertuju pada area leher dan dada Amara yang terdapat banyak sekali tanda merah bekas ulahnya tadi malam.
Merapikan rambut Amara yang menutupi sebagian wajahnya, Galang beringsut maju lantas mengecup kening perempuan yang masih betah menunduk itu.
"Kamu enggak usah merasa bersalah, Ra. Enggak masalah kamu bangun kesiangan. Saya enggak marah. Saya tahu apa yang kamu pikirkan. Tenang aja, hari pertama kamu sebagai istri kamu saya bebaskan dari tugas-tugas rumah tangga. Karena saya menikahi kamu bukan untuk melakukan pekerjaan itu." Galang memegang dagu Amara dan mengangkatnya perlahan-lahan.
Kini tatapan mereka beradu. Ternyata Amara sangat cantik jika baru bangun tidur seperti ini. Galang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibir ranum itu. Bibir yang semalaman mendesahkan namanya.
"Mas." Amara tak sempat menghindar dari serangan mendadak suaminya. "mmppttt...." Bibir Galang telah lebih dulu melahapnya dengan rakus. Memagut dan menyesapnya bergantian hingga Amara kewalahan.
__ADS_1
Puas bermain-main dengan bibir ranum Amara, Galang melepas pagutannya. "Mulai detik ini bibirmu ini cuma milikku," ucapnya mengusap bibir itu dengan ibu jari kemudian mengecupnya singkat.
Sang empunya merona dan tersipu. Galang terlihat sangat tampan dan menawan. Setiap perkataannya mengandung banyak sekali gula. Manis. Jangan sampai Amara terkena diabetes lantaran harus mendengar kalimat itu setiap hari.
"Aku mau mandi, Mas. Tapi enggak ada baju ganti. Gimana, dong?" Amara gusar sebab dia tidak memiliki baju ganti. Ada baju tetapi baju tidur seksi yang dibeli Galang. Masa iya seharian dia memakai lingerie itu?
"Saya sudah meminta Kevin untuk memesankan baju di Butik kemarin. Mungkin agak siangan lagi dia mengantarnya ke sini."
"Kapan Mas telepon Kevin?"
"Semalem. Pas kamu tidur."
Amara manggut-manggut. Dia jadi teringat sesuatu.
"Mas, gimana masalah kamu? Apa wartawan itu mau maafin kamu?" Niatnya semalam dia mau menanyakan hal ini, tetapi keasyikan bercinta membuat Amara sampai lupa. Astaga, Amara bahkan baru bisa tidur jam dua pagi, sebab Galang terus menerjangnya.
"Tenang aja. Masalahnya udah selesai." Galang menyahuti seraya memeluk tubuh Amara. Tubuh mungil Amara begitu pas di tangannya yang kokoh dan kekar.
"Enggak. Semalem Kevin, saya dan wartawan itu sudah membuat pernyataan di akun sosial media saya. Dan, responnya cukup baik." Galang menghirup dalam-dalam wangi rambut panjang Amara.
"Syukurlah. Itu artinya kamu enggak jadi kena hukuman 'kan?" Amara merasa lega mendengar jawaban itu.
"Semoga aja enggak. Semalem wartawan itu langsung mencabut laporannya di kepolisian. Saya juga berjanji akan bertanggung jawab sampai dia sembuh." Kini Galang menyibak rambut Amara, mengekspos punggung mulus istrinya itu. Dengan jahilnya dia menggigit kecil tengkuk leher Amara.
"Mas! Geli." Amara menggeliat, dia tidak bisa bergerak bebas lantaran tangan kokoh suaminya melilitnya sangat erat. Tak hanya menggigit gemas, kini gigitan itu berubah menjadi hisapan lembut. Seketika Amara meremang dengan sensasi yang ditimbulkan. "Mas ...." Desiran aneh itu muncul lagi, saat Galang memperdalam hisapannya.
Satu tangan Amara melingkar ke belakang, meraih kepala Galang yang bertengger di lekuk lehernya. Meremat rambut suaminya, menyalurkan gejolak yang kembali tersulut. Sementara tangannya yang lain memegangi tangan Galang yang masih melilit pinggangnya.
Hasrat dan gairah seorang laki-laki akan mudah sekali bangkit saat di pagi hari. Apalagi dengan keadaan yang mendukung kali ini. Tentunya sebagai pria yang masih normal, Galang tidak akan bisa tahan dengan godaan dari istri barunya yang terbilang sangat menggoda dan seksi.
__ADS_1
Amara begitu sempurna untuk ukuran seorang wanita. Dengan tubuhnya yang kecil, pinggangnya yang ramping, ukuran dada yang terbilang memuaskan, warna kulit yang kecokelatan, bibirnya yang ranum, lalu bentuk pinggul dan bokong yang sangat seksi. Membuat Galang selalu ingin mencicipinya lagi dan lagi.
"Kamu tahu, Ra. Kalo bercinta di pagi hari membuat imunitas tubuh kita berkali-kali lipat dari biasanya," bisik Galang di sela-sela aktivitasnya yang sedang mencumbu istrinya. "Dan, bisa mempererat hubungan suami istri," imbuhnya, kini dia menyibak selimut yang sedari tadi dipertahankan Amara agar tidak terbuka. Melemparnya ke sembarang arah.
Amara membola. "Mas." Sia-sia sudah pertahannya. Galang berhasil membuatnya tak berdaya di bawah kendalinya. Mengajaknya bergelung dengan peluh di bawah terpaan sinar matahari pagi yang memantul di jendela. Menuntunnya ke puncak nirwana tertinggi yang Amara daki semalaman bersamanya.
De-sahan, lenguhan nikmat saling bersahutan menggema di ruangan luas itu. Galang seakan tidak merasa puas dengan permainan mereka semalam. Hingga mengulanginya lagi dan lagi. Lantas, Amara bisa apa? Kenikmatan ini sangat sayang dilewatkan begitu saja. Baginya kepuasaan suaminya menjadi prioritas utamanya saat ini. Intensitas libidonya naik seiring bertambahnya usia. Galang laki-laki dewasa dan Amara paham betul akan situasi itu.
***
"Ini bajunya, Ra. Semoga cocok dengan seleramu." Galang menyodorkan paper bag berisikan empat potong baju beserta ********** kepada Amara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Amara menerima paper bag tersebut lantas bertanya, "Yang nganter Kevin?"
"Iya." Galang memindai Amara dari atas sampai bawah, istrinya ini benar-benar selalu menggoda dalam keadaan apa pun.
"Ya udah. Mas mandi dulu sana. Aku ganti baju di sini aja," ucap Amara sembari mendorong tubuh besar suaminya ke kamar mandi. Jika dibiarkan bisa-bisa Galang akan menerjangnya lagi.
"Eits!" Galang menahan tangan Amara yang hendak keluar dari kamar mandi.
"Apalagi Mas? Aku udah mandi, loh ini. Kamu jangan macem-macem." Amara menyipitkan mata, seolah dia paham apa yang dipikirkan suaminya itu.
"Enggak macem-macem." Galang menarik perlahan-lahan tangan Amara hingga perempuan itu mendekat dan berada di pelukannya. "Aku cuma minta satu macem. Sebelum mandi aku mau minta ini aja." Mencium bibir ranum Amara yang mencebik.
Namun, bukan sekadar kecupan singkat, Galang justru memagutnya intens dan lama.
"mmppttt..." Amara selalu kewalahan dibuatnya.
###
__ADS_1
bersambung....
ceileh... Galang... Modus terus!!😅