
~SAYA MENERIMA LAMARAN BAPAK.
###
Ruangan itu mendadak hening dan membuat Amara semakin penasaran. 'A-apa ini? K-kenapa Pak Galang mengajakku ke tempat bagus seperti ini? Apa rencananya?' Dia membatin, bola matanya yang bulat memindai ke seluruh ruangan tersebut.
Di sini hanya ada mereka berdua. Amara memandang dekorasi Restoran yang tak biasa. Di meja sudah terhidang berbagai macam makanan yang sangat menggugah selera.
"Pak, ini semua Anda yang menyiapkannya?" Amara menggigit bibirnya sendiri lantaran dia merasa konyol dengan pertanyaannya barusan. Ditambah lagi dengan Galang yang terus saja memandanginya sejak tadi.
Oh, dia hampir melupakan penampilan Galang siang ini. Lelaki itu terlihat sangat tampan dan berwibawa. Kharisma Galang begitu terpancar hingga Amara secara tidak sadar memujinya dalam hati. Seperti mimpi di siang bolong, dia berhadapan dengan pria yang belakangan ini membuatnya kepikiran dan selalu berdebar.
Amara memandang Galang yang melangkah mendekat, tatapan atasannya itu sama sekali belum berpindah tempat. Masih menatap mata bulatnya. Galang seolah tenggelam dalam sorot teduh dan aroma parfum yang menyeruak ke indera penciumannya. Merayunya untuk semakin mengikis jarak.
Amara hanya menelan ludah ketika Galang mulai menyentuh anak rambutnya lalu menyelipkannya ke telinga. Aroma musk yang berasal dari tubuh Galang seketika menguar ke hidungnya. Sungguh menenangkan dan memabukkan—pikirnya. Embusan napas hangat menyapu kulit leher Amara.
"Kamu sangat cantik, Amara. Kamu benar-benar membuat saya pangling." Galang berbisik di telinga sekretarisnya yang terlihat berbeda. "Rasanya saya ingin menikahi kamu saat ini juga," imbuhnya dengan seringai penuh arti hingga mampu membuat bulu kuduk Amara berdiri dan meremang tak keruan.
Lidah Amara kelu dan mendadak dia menjadi bisu. Kedua tangannya saling mengepal erat di samping tubuh, mati-matian dia menahan gejolak yang hampir meledak di dada. Suara khas Galang begitu terdengar seksi, jika dia bergerak sedikit saja maka pipinya pasti akan bertemu dengan bibir Galang.
'Kenapa dia enggak bergerak, sih? Aku 'kan jadi bingung. Mana omongannya aneh lagi.' Amara membatin, giginya saling gemeletuk di dalam sana. Sudut matanya melirik Galang yang betah mendekatkan wajahnya.
Namun, suasana panas itu tak berlangsung lama sebab ponsel Galang tiba-tiba berdering.
'Ck! Mengganggu saja!' Berdecak lantas menarik wajahnya, lalu mengambil ponsel yang ada di saku jas. Sementara Amara bisa bernapas lega lantaran bisa terbebas dari daya tarik lelaki itu.
"Mami?" Sebelah alis Galang menukik ke atas begitu melihat nama yang meneleponnya. Amara ikut melirik ke layar ponsel Galang.
"Kenapa enggak diangkat?" tanyanya yang langsung mengalihkan pandangan Galang.
Mengangguk cepat lantas segera menggeser tombol hijau ke atas. "Halo, Mom?" sapa Galang yang mengangguk lagi lalu beralih ke panggilan video.
Di layar segi empat itu langsung terpampang wajah mami dan Kasih.
"Halo, Om!" Suara Kasih menarik perhatian Amara untuk ikut bergabung dalam panggilan video tersebut.
"Kasih," Amara menyeru senang bisa menatap wajah putrinya lagi.
"Halo, Ibu! Ibu, Kasih kangen Ibu. Kapan Ibu nyusul Kasih ke sini?" Bocah itu terlihat semringah dan tak berhenti bertanya. "Ibu lagi ada di mana? Kenapa dandanan Ibu beda? Ibu cantik banget."
__ADS_1
Amara dan Galang saling menatap sekilas. Mereka tersenyum lantas menyahut bersamaan.
"Lagi di restoran."
Mami tak mau kalah. Beliau langsung menimpali. "*Udah belum, Galang? Cepetan ngomong sama Amara. Kami yang akan jadi saksi. Iya enggak, Kasih?"
"Emang Om Galang mau ngapain, Nek*?" Di layar ponsel terlihat Kasih yang bingung dengan perkataan mami.
Mami terkekeh di seberang sana. Menatap dua wajah yang kini bersemu merah dari layar ponselnya.
"Hem, nanti kamu bakalan tahu. Makanya suruh cepetan itu om kamu. Enggak usah kelamaan."
Galang meringis dan itu tak luput dari perhatian Amara yang berdiri di sampingnya. Gadis itu seolah sedang menuntut jawaban. Dan, Galang merasa sangat malu saat ini.
"Pak? Apa maksud perkataan mami Anda? Anda mau ngomong apa sama saya?" tanya Amara dengan penuh selidik.
Mengusap tengkuk sambil menelan ludah berulang-ulang. Galang menjawab dengan terbata, "I-itu ... begini, Ra. Sa—"
Belum sempat Galang menyelesaikan ucapannya, mami langsung menyela. "Udah cepetan. Kasih udah enggak sabar mau lihat ibunya dilamar. Eh, keceplosan." Mami sontak menutup mulutnya berpura-pura merasa bersalah.
"Galang, papi juga lihat, loh, ini. Kamu jangan bikin malu." Papi tiba-tiba muncul di belakang punggung mami.
Memejamkan mata sambil membuang napas kasar,
'Astaga Mami! Ngerusak semuanya!' Galang menggerutu dalam hati.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Kevin dan Aldo masuk ke ruangan itu dengan raut muka tak terbaca.
"Kevin? Pak Aldo?" Amara semakin mengernyit. Dia sama sekali masih bingung dengan situasi ini.
"Ponselnya biar saya yang pegang, Pak." Kevin meminta ponsel dari tangan Galang.
Galang menyodorkannya. "Terima kasih."
Aldo kini sudah siap dengan ponselnya sendiri, dia ingin mengabadikan momen tersebut. "Udah buruan. Kasian Amara, dari tadi udah kebingungan," celetuknya sambil tertawa.
Amara terlihat seperti orang bodoh pasalnya hanya dia yang tidak mengetahui rencana Galang. Pupil matanya sekejap membesar sekejap mengecil, memandangi apa yang tengah dilakukan oleh Galang saat ini.
Sementara Kasih, mami dan papi masih setia menunggu adegan romantis yang sebentar lagi akan ditayangkan. Kevin mengarahkan kamera dengan pas, hingga kedua orang itu terpampang dengan jelas di layar ponsel mami.
Galang menghela napas panjang sembari membetulkan letak dasi. Telapak tangannya mulai dingin dan rasa gugup pun tak bisa dia hindari. Kakinya dia putar menghadap Amara, lantas dengan perlahan Galang menekuk satu kakinya dan bertumpu pada marmer. Kepalanya mendongak menatap wajah cantik Amara dari bawah.
__ADS_1
"Pak? A-apa yang Anda lakukan?" Amara cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Galang.
Sembari mengulas senyum yang menjadi daya tariknya selama ini, Galang merogoh saku jas sebelah kiri. Meski ini bukan yang pertama, namun tetap saja tangannya bergetar seperti baru pertama kali.
Pandangan Amara terus mengikuti ke mana arah tangan Galang bergerak. Pelan-pelan otaknya mencerna semua ini. 'A-apa dia mau melamarku? Ke-kenapa dia mengeluarkan kotak cincin?' Amara melihat kotak beludru berwarna biru, dan kini Galang sedang membukanya tepat di hadapannya.
Mereka saling memandang dengan isi pikiran yang campur aduk. Kevin dan Aldo bahkan dibuat gemas dengan tingkah Galang yang diluar dugaan. Mami dan papi senyum-senyum sendiri yang menyaksikannya, sedangkan Kasih justru terlihat serius.
'Om mau ngapain, Nek? Kok, jongkok di depan Ibu?' Itulah pertanyaan yang terdengar dari ponsel Galang.
Mami cuma tersenyum dan menyuruh Kasih untuk tetap fokus saja menonton adegan selanjutnya.
Berdeham samar guna menetralkan kegugupan yang mungkin akan mempengaruhi suaranya. Galang mulai melontarkan kalimat yang sudah tersusun rapi di otaknya sejak semalam.
"Amara, seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya. Saya mau kamu menjadi bagian dari kehidupan saya. Tak hanya menjadi seorang istri atau pendamping, tetapi menjadi partner hidup hingga akhir hayat. Jadilah sebagai obat yang menyembuhkan luka hati saya dan kamulah satu-satunya alasan yang membuat saya berani mencintai wanita lagi. Karena kamu wanita spesial yang berhasil menggetarkan hati saya di saat yang tak terduga."
Amara terdiam, menyimak kata demi kata dengan perasaan membuncah. Galang begitu tenang mengucapkan semua itu. Terlihat sekali pancaran keseriusan di manik cokelatnya. Dan, sampai pada kalimat terakhir yang akan semakin membuat jantungnya berdebar.
"Amara, Will you marry me?"
'Terima! Terima! Terima! Terima Amara! Terima!'
"Terima Ibu! Terima! Ayo terima!"
Suara mami, papi dan Kasih terdengar bersahutan dari seberang sana. Amara menoleh, menatap layar ponsel yang dipegang Kevin. Dia tersenyum melihat Kasih begitu bahagia dengan semua ini. Dukungan dari putrinya dan juga mami membuat Amara merasa sangat beruntung.
Dia pun sudah memikirkan hal ini sejak dua hari yang lalu. Keputusan yang diambil semoga membuat semuanya bisa bahagia terutama Kasih. Amara tak pernah menduga dan membayangkan semua ini. Galang akan melamarnya secara formal dan... romantis. Wanita mana yang tidak merasa tersanjung diperlakukan seistimewa ini, tak terkecuali Amara yang tergolong gadis sederhana dan biasa saja.
Amara mengalihkan pandangannya lagi pada Galang yang masih betah menekuk kakinya, dia berpikir harus segera menjawabnya. Dia takut Galang akan terserang kram kaki setelah ini.
"Saya ... saya menerima lamaran Anda, Pak. Saya mau menikah dengan Anda." Ucapan itu meluncur sempurna dari bibir Amara hingga pria yang tengah menunggunya sejak tadi seketika menarik kedua sudut bibirnya.
"Yess!" Galang menyeringai lebar sembari menyematkan cincin di jari manis Amara. "Pas. Alhamdulillah. Terima kasih, Ra." Dia mengecup punggung tangan Amara lalu berdiri.
'Yeaaay.....!!!' Suara riuh tepuk tangan mami, papi dan Kasih terdengar begitu kencang.
Aldo dan Kevin sontak melakukan TOS sambil tersenyum lega. Gambar berikutnya yang tak boleh dilewatkan oleh mereka. Galang mengecup kening Amara dengan mesra.
###
bersambung.....
__ADS_1