GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Novel baru


__ADS_3

Blurb~


**Velove Queen Vexia gadis cantik berusia delapan belas tahun yang sejak lama menaruh hati pada pemuda bernama Samudra yang usianya tiga tahun di atasnya. Seringnya bersama, membuat Queen sapaan gadis berkulit putih dan bermata bulat itu lambat laun menginginkan hubungan tak sekadar abang dan adik. 


Queen terus berusaha untuk menarik perhatian Samudra yang kebetulan ditugaskan oleh sang Daddy Alex untuk menjaganya. Hingga pada suatu malam, Queen pun nekad memberikan ciuman pertamanya kepada Samudra agar pemuda itu tak lagi menganggapnya gadis kecil lagi. 


Lantas, apakah Queen berhasil meluluhkan hati Samudra? Ataukah, justru mendapat penolakan dari pemuda itu? Sementara Queen harus menerima kenyataan jika Samudera akan menikah dengan Jannet—kekasihnya.


Hal itulah yang membuat rasa suka Queen berubah menjadi sebuah obsesi, sehingga gadis itu pun bertekad akan merebut Samudra dari calon istrinya.


☘️☘️☘️


"Bang Sam dapet telepon dari siapa, sih? Kok, senyum-senyum gitu?" Queen bertanya-tanya sendiri seraya mengintip dari balik batang pohon palm yang sangat tinggi. Telinganya samar-samar mendengar Samudera mengucapkan kata-kata sayang dalam bahasa Inggris. "Jangan-jangan si bule kecentilan itu? Hish, ngeselin! Mereka ternyata udah jadian."


Sepasang kaki telanjang Queen menghentak di atas tanah plesteran itu, dengan bibirnya yang tiada henti menggerutu. Dia seolah-olah merasa tidak terima jika Samudera mempunyai pacar.


"Dia tau, gak, sih, kalo aku, tuh, suka sama dia? Aku pikir dia bakal ngerti, tapi mana? Dia malah pacaran sama si Jamet!"


"Namanya Jannet bukan Jammet," ucap Samudera yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Queen.


Queen sontak memukul pundak Samudera yang tingginya melebihi dirinya. "Bang Sam! Nggak lucu, ih! Ngagetin tauk!" bibirnya semakin mengerucut dengan pipi yang seketika merona merah. Queen sangat yakin jika Samudera pasti sudah mendengar semuanya.


Itu bagus, bukan? Itu yang dia mau. Samudera tahu perasaannya yang tak hanya sekadar teman. Queen sudah sejak lama menyukai pemuda berkulit sawo matang itu. Hampir mirip Raka, padahal mereka tidak sedarah.

__ADS_1


"Kamu sendiri ngapain nguping?" Samudera melipat tangannya di bawah dada. Matanya menyipit pada Queen yang langsung bungkam. "Gak baik nguping pembicaraan orang. Ngerti??" Dia sengaja menarik telinga Queen sampai gadis itu mengaduh.


"Aw! Sakit, sakit!" Queen semakin merengut sambil mengusap daun telinga sebelah kanan yang memanas karena ditarik Samudera dengan seenaknya. "Kejam, ih! Udah nolak main kekerasan pula!" Cibirnya yang lantas menyipitkan matanya. "Bang Sam jadian, ya, sama si Jammet? Bang Sam anggep aku apa?"


Pertanyaan Queen cukup membuat Samudera terdiam sesaat. "Memang kamu ngarepinnya apa? Kita 'kan dari kecil udah kayak adik kakak, Queen. Ya... Aku anggep kamu adiklah, memang apa lagi?" sahut Samudera dengan entengnya dan itu cukup membuat dada Queen sesak.


"Itu doang? Kamu anggep aku cuma sebatas adik? Gak lebih gitu? Kamu gak tertarik sama aku sedikit pun?" Queen sudah tidak bisa menahan diri lagi. Perasaannya kepada Samudera semakin bertambah setiap detiknya.


Pemuda di hadapannya ini tak pernah menganggapnya sebagai gadis dewasa. "Queen, kamu udah tau 'kan jawabannya? Kenapa mesti kamu ulang lagi pertanyaannya?"


Samudera harus membangun tinggi-tinggi tembok di antara dia dan Queen karena kalau tidak akan ada banyak masalah ke depannya. Lagi pula, bohong sekali jika dia menjawab tidak tertarik. Hanya pria bodoh yang berkata seperti itu termasuk dirinya. Jelas-jelas Queen itu sangat cantik bahkan lebih cantik dari Jannet.


Gadis itu tumbuh dengan sempurna. Samudera baru menyadari hal itu saat Queen berulang tahun ke tujuh belas. Namun, Samudera tak memiliki keberanian untuk mengatakannya secara terang-terangan, mengingat statusnya yang hanya anak angkat dari papinya—Raka.


Kaki Samudera mundur selangkah karena Queen semakin mempersempit jarak mereka. "Queen, kamu gak boleh kayak gini. Kita ini udah kayak kakak adik. Aku—"


"Apa setelah ini Bang Sam masih anggep aku adik?" Queen tiba-tiba melingkarkan lengannya ke leher Samudera, dengan berjinjit dia mendongak menatap pemuda pujaannya.


Otomatis pergerakan Samudera jadi terhenti. "Kamu mau ngapain, Queen? Kamu jangan gila! Awas, aku mau masuk!" Samudera mendorong Queen dengan tidak terlalu kasar, tetapi gadis itu malah semakin merapat, sampai-sampai napasnya yang hangat menerpa kulit leher Samudera.


"Bo-do a-matt!" Tekadnya sudah bulat, Samudera harus tahu kalau Queen bukan lagi anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


"Queen!" sentak Samudera, yang tidak ingin orang-orang di dalam mengetahui apa yang terjadi saat ini. Bisa-bisa papinya akan salah paham. "Minggir, gak?"

__ADS_1


"Gak!"


"Minggir!"


"Gak mau!"


"Queen!"


"Apa?"


"Minggir!"


"Gak mau!" Queen berjinjit dan dengan berani dia menempelkan bibirnya di atas bibir Samudera.


Masa bodo setelah ini Samudera akan membencinya. Yang jelas Queen merasa puas karena berhasil memberikan ciuman pertamanya untuk laki-laki yang dia suka.


"Queen..."


***


bersambung**....


__ADS_1



__ADS_2