GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 74~


__ADS_3

~KEMARAHAN TANIA.


###


bruakk!!


Suara pintu yang dibuka paksa dari luar, jelas mengagetkan Galang dan Amara di ruangan tersebut. Pelukan mereka pun terpaksa harus terlepas saat sosok di balik pintu itu masuk tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


"Pak! Saya mau bicara! Penting!" Tania menerobos begitu saja dan langsung mendekat. Gadis itu terlihat begitu marah dan kesal.


"Tania!" Kevin tiba-tiba muncul di belakang punggung Tania dengan raut yang sama, tetapi dalam konteks yang berbeda. Pemuda itu tidak menyangka sama sekali jika Tania berani membantah perintahnya.


Dan, yang lebih mengejutkan lagi ialah tanpa permisi main asal masuk ke ruangan Galang. Sungguh memalukan!


Sementara di tempatnya, kedua pasangan suami istri tersebut sontak berdiri. Kekacauan yang terjadi benar-benar mengejutkan mereka. Manik Galang menatap Tania sebentar yang berdiri di hadapannya, lalu beralih menatap Kevin yang menampilkan raut bersalah.


Di sisi Galang, Amara cuma menggelengkan kepala seraya menatap sinis Tania. Tak lupa, melemparkan senyum mengejek kepada gadis berpenampilan seksi itu. Dia bisa menebak, jika Tania pasti ingin komplain masalah pemecatan. Ya, Amara sangat yakin itu.


"Maaf, Pak. Sudah menggangu ketenangan Anda." Kevin membuka suara terlebih dahulu, sebelum sang atasan melontarkan pertanyaan kepadanya. Karena tanpa Galang bertanya pun, dia sudah bisa membacanya dari sorot mata lelaki berusia 35tahun tersebut.


Tania maju satu langkah, menoleh ke belakang sesaat, untuk menatap Kevin dengan tatapan tak suka. Sejurus kemudian, dia kembali menghadap Galang dan menyemburkan kekesalannya.


"Pak, apa benar saya dipecat? Memangnya ada masalah apa? Saya 'kan belum ada sehari kerja di sini? Kenapa dia bilang, saya—" Tania membalik badan untuk menunjuk Kevin, tetapi belum sempat dia melanjutkan rentetan pertanyaannya, Galang terlebih dulu memotong ucapannya.


"Iya. Kamu memang dipecat," ucap Galang tegas. Menyorot Tania dengan tatapan datar.


Bola mata Tania seketika itu juga melebar.


"Loh? Kenapa, Pak? Bukannya —"

__ADS_1


"Saya enggak bisa nerima kamu. Maaf," sela Galang yang lagi-lagi memotong perkataan Tania. "Nanti, biar Kevin yang jelasin ke kamu. Terus, kamu jangan khawatir, saya akan kasih kamu kompensasi," putus Galang yang enggan menjelaskannya sendiri.


Dia pun mengalihkan pandangannya ke Kevin.


"Kev, silakan kamu urus dia. Beri dia kompensasi yang tadi sudah saya katakan."


"Pak, enggak bisa gitu, dong?" Tania masih belum terima jika Galang memecatnya secara tiba-tiba dan sepihak. Dia pun melirik Amara dengan sinis. 'Sial! Ini pasti gara-gara istrinya yang ngelarang Pak Galang buat nerima aku.' Tania mengumpat Amara dalam hati.


Padahal, dia sudah menyusun rencana untuk menggoda bos-nya itu. Namun, belum sempat rencana itu terealisasikan, Galang lebih dulu memecatnya. Ck!


"Tania, ayo! Kita keluar," seru Kevin yang kini sudah memegang sikut gadis itu.


"Enggak!" Tania menghempaskan tangan Kevin dengan kasar. "Saya enggak terima!" Memicing tajam ke Kevin, lalu ganti ke Galang.


Tingkah Tania dan penolakannya, membuat Kevin harus mengumpulkan kesabaran. Dia menghela panjang seraya melirik Galang yang mengangguk samar. Seolah faham dengan anggukan kepala itu, Kevin sedikit melunakkan suaranya.


"Kamu mau keluar dari sini sendiri atau saya suruh sekuriti buat ngusir kamu," ancam Kevin, meski suaranya terdengar pelan, tetapi mampu membuat Tania semakin menggeram.


"Bagus." Kevin menyeringai sambil melirik Galang yang juga tersenyum tipis ke arahnya. Mengangguk sekilas, lantas segera menggiring Tania untuk keluar dari ruangan itu.


Sebelum pergi, Tania melempar tatapan tajam ke Amara dengan kedua tangan yang saling mengepal erat di sisi tubuh. Dia mendengus seraya memutar tubuh dan berjalan ke arah pintu. Untuk saat ini dia harus menerima kekalahannya. Dan, suatu saat Tania yakin pasti bisa membalas penghinaan ini.


"Saya permisi, Pak, Bu...." pamit Kevin pada Galang dan Amara. Dia melangkah mundur, baru kemudian berbalik dan menuju pintu. Kevin keluar dari ruangan tersebut setelah Tania mendahuluinya.


Pintu pun tertutup, Galang langsung memutar tubuh dan memegang lengan Amara.


"Maaf, ya, istirahat kamu malah jadi keganggu," ucap Galang, merasa bersalah lantaran waktu istirahat sang istri jadi terganggu dengan inside kecil barusan.


Amara menoleh, mendongakkan kepala sebab tingginya dan tinggi Galang jauh berbeda. Bibirnya mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Mas," sahut Amara membalas pegangan tangan Galang yang ada di lengannya. "Justru, aku yang minta maaf. Gara-gara ideku, kamu jadi dicap sebagai atasan yang enggak konsisten dan berpendirian." Karena semua ini tidak akan terjadi, bila saja dia setuju mempekerjakan Tania di kantor.


"Kamu ngomong apa, sih?" Galang menampiknya, merasa tidak setuju dengan perkataan sang istri. "sebelum kamu minta pun, aku udah mempertimbangkannya. Jadi, jangan salahin diri kamu lagi. Aku enggak suka. Faham?" Satu kecupan mesra dilabuhkan ke kening Amara.


Galang berkata yang sebenarnya. Sebelum Kevin bicara soal Amara yang merasa keberatan dan tidak suka dengan Tania. Dirinya telah lebih dulu memikirkan hal ini. Akibat terlalu tergesa dalam mengambil keputusan, Galang hampir melupakan persyaratan yang dulu pernah dia terapkan. Jika ingin melamar menjadi sekertarisnya, harus berpakaian sopan dan tidak berlebihan.


Peraturan itu sudah ada, bahkan sebelum Anggi bekerja di sana.



Jarum jam sudah menunjukkan di angka lima, tetapi Amara belum melihat tanda-tanda kedatangan suaminya. Sudah satu jam yang lalu dia menatap pintu besi yang tertutup rapat itu. Berharap, Galang muncul dari balik pintu.


"Hfuuhh...." Amara menghela panjang, menghempaskan punggung di sandaran sofa. "Mas Galang mana, sih? Jam segini belum dateng juga. Padahal, tadi dia bilang cuma sebentar," gerutunya dengan tampang lesu.


Sudah tiga jam lebih dari waktu yang Galang beri, dia berjanji akan kembali sebelum jam lima. Akan tetapi, lelaki itu belum juga menampakkan diri. Amara yang tadinya ingin ikut pun tidak diperbolehkan, alasannya karena kondisinya yang masih belum sehat betul.


"Tahu gitu, tadi aku ikut aja!" Amara masih betah menggerutu. Inginnya menemani sang suami di persidangan, tetapi Galang tidak mengizinkan. Alhasil, dia menunggu lama di ruangan ini dengan bosan dan jenuh.


Jadwal persidangan yang harusnya dilaksanakan tadi pagi pukul sembilan, terpaksa harus diundur dua jam berikutnya. Persidangan susulan, melanjutkan kasus perebutan hak asuh anak.


Agar tak terlalu bosan dan ada kegiatan, Amara memilih mengirim pesan pada Galang. Menanyakan sudah ada di mana lelaki itu saat ini.


[Mas, sampe mana? Sidangnya udah selesai belum?]


Pesan singkat itu langsung terkirim dan centang dua. Amara menunggu centang tersebut berubah menjadi biru. Namun, sudah lebih dari satu menit, Galang tak kunjung membacanya.


"Ish! Kok, enggak dibaca? Masa iya, sidangnya belum selesai?" Amara menatap nanar layar ponselnya sambil terus menggerutu.


###

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2