GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
82~


__ADS_3

~APA PUN....


###


"Ibu!" seru Kasih saat melihat sosok yang beberapa hari terakhir dia rindukan tiba-tiba muncul di hadapan. Gadis kecil itu merangsek ke pelukan Amara yang berdiri di samping ranjang pasien. "Kasih kangen Ibu ...." lirihnya dengan derai air mata yang tak terbendung lagi.


Kasih sangat merindukan pelukan ibunya. Di saat seperti sekarang dia membutuhkan sosok Amara yang selalu menjaga dan melindungi. Hari ini dia akan melakukan proses lanjutan untuk pelaksanaan operasi besok.


Amara menahan air matanya sebisa mungkin agar tidak luruh. Sesak di dadanya dihalau dengan perasaan bahagia yang tak terhingga lantaran bisa memeluk putrinya lagi.


"Ibu juga kangen Kasih. Ibu kangen...." Dielusnya sayang rambut Kasih yang ternyata sudah dipotong pendek. Tenggorokan Amara semakin tercekat saat helaian demi helaian ikut tertarik di telapak tangannya. "I--ini?" Maniknya yang sembab menuntut jawaban dari mami Sarah yang sedari tadi hanya diam di seberang sana.


Mami melangkah mendekat, beliau mengerti meski hanya melihat tatapan mata Amara. "Dokter yang menyuruh untuk memotong rambut Kasih. Harusnya rambut Kasih dipotong semua. Tapi—"


"Maksudnya, dibotak?" Galang yang berada di sisi Amara menyela. Lelaki itu sama terkejutnya dan meras syok. Bagaimana mungkin, Kasih mau dibotak? Jelas saja gadis kecil itu menolak.


Mami mengangguk lemah. "I-iya. Tapi Kasih enggak mau. Jadi, suster cuma memotongnya pendek," tukasnya, kemudian menatap Amara. "Ra, ada yang mami mau omongin sama kamu dan Galang. Bisa ikut mami sebentar?"


Mendengar mami yang bicara sangat serius, perasaan Amara mendadak tidak enak. Menoleh ke samping untuk menatap suaminya yang juga menatapnya.


"Tapi Kasih?" Amara seakan berat pergi dari ruangan itu.


Galang tahu jika Amara enggan meninggalkan Kasih, tetapi ada hal yang mungkin lebih penting yang hendak disampaikan mami. "Sayang, nanti kita ke sini lagi. Ada Papi yang bakal nungguin Kasih," ucap Galang. "Kak Maya ke mana, Mom?" tanya Galang yang sedari tadi tidak melihat keberadaan kakaknya.


"Hmm... kakakmu ada di ruangan lain," jawab mami, lalu menatap Amara. "Ayo, Ra...." ajaknya yang lebih dulu keluar dari kamar rawat inap Kasih.


Merasa bila sang ibu hendak pergi, Kasih merengek meminta ikut. "Ibu, Kasih ikut...." Tangannya menahan tangan Amara yang menjadi serba salah.


"Mas, gimana ini? Kasih enggak mau aku tinggal." Amara bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Papi lalu mendekat, merangkul pundak Kasih. "Kasih... ibu mau keluar sebentar aja, kok. Nanti ibu ke sini lagi. Kasih tunggu aja di sini, ya?" bujuknya dengan lembut.


Kasih hanya menggeleng. "Kasih mau sama Ibu...." Lelehan air mata jatuh di pipi tirus Kasih.


Kesedihan Kasih tentu saja membuat Amara menjadi tidak tega. "Mas, gimana kalo kamu aja yang nemuin Mami. Aku tunggu di sini," pintanya pada sang suami yang sebenarnya juga tidak tega.


Galang mengangguk, menjulurkan tangan mengelus kepala Kasih dan istrinya. "Baiklah. Kamu tunggu di sini," ucapnya, kemudian beralih menatap papi. "Pi, aku keluar dulu sebentar."


Papi mengangguk, beliau tidak bisa memaksa Kasih untuk membiarkan Amara pergi. Jadi, biar Galang yang bicara pada maminya.


Galang pun keluar dari kamar rawat Kasih. Sementara papi kembali duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Lalu, Amara mendudukkan diri di pinggir ranjang pasien.


Sejenak dia memindai wajah Kasih yang nampak pucat. Entah mengapa Amara merasa jika kondisi Kasih malah semakin parah. Tubuhnya yang kurus juga semakin kurus. Rambutnya yang panjang sudah tidak ada lagi.


"Kasih udah makan?" tanya Amara, mengelus kepala Kasih yang berada di pelukan. Tangannya meraba hamparan kulit pucat putrinya.


"Kasih enggak laper. Mulut Kasih rasanya pait, Bu. Kasih enggak enak makan." Kasih menjawab lirih, memejamkan mata yang terasa sangat berat. Dia merasa sangat lelah. "Badan Kasih rasanya sakit semua, Bu...." keluhnya, lalu kembali terisak di dekapan Amara.


Papi yang semula sudah duduk kembali, lantas bangkit dan menghampiri cucu dan menantunya. Hati beliau pun sama sesaknya kala mendengar cucunya menangis dan mengeluh sakit.


"Ra...." Papi memegang pundak Amara. Di sana beliau bisa melihat manik Amara yang memerah dan berkabut. "Saat ini yang dibutuhkan Kasih support dari kamu. Dari orang-orang terdekatnya," kata papi memberi sedikit nasihat yang Amara sendiri tidak mengerti apa maksudnya.


"Maksud Papi?" Kening Amara mengernyit.


"Kasih—"


"Ibu.... sakit, Bu ... sakit...." Ucapan papi terpotong dengan rengekan Kasih yang terus mengeluh kesakitan.


Tangisan Kasih yang semakin kencang bergema di seluruh ruangan tersebut, Amara menjadi tambah panik dan kebingungan. "I-iya, Nak. Yang sakit yang mana?" Amara mengurai pelukan, lalu memegang kedua lengan Kasih dan memindai seluruh tubuh ringkih berbalut baju pasien itu.

__ADS_1


Papi ikutan panik, beliau yang mengetahui kondisi cucunya saat ini sudah tidak dapat membendung air matanya lagi. "Yang sakit mana, Nak... Bilang sama kakek sama ibu." Papi mengusap lembut punggung Kasih agar tangisannya mereda.


"Kepala Kasih sakit, Kek, Bu... Sakit ...." Kasih sesenggukan sambil memegangi dan meremas rambutnya. "Sakit, Ibu ...." Tangisnya pecah kala denyutan di kepalanya semakin menjadi.


"Pi, i--ini gimana? Apa yang sebenarnya terjadi sama Kasih? Di-dia kenapa jadi begini?" Tangisan Amara pun pecah detik itu juga. Sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat anaknya kesakitan seperti ini. "Kasih... tahan bentar, ya, Nak...."


"Kasih!" Galang yang mendengar tangisan Kasih dari luar langsung kembali masuk. "Kasih kenapa, Ra?" Dia terkejut ketika melihat Kasih menangis sesenggukan.


"Kasih!" Mami menyusul masuk, dan diikuti oleh dua orang perawat di belakangnya.


Salah satu dari perawat perempuan itu membawa semacam obat dan alat suntik di tangan. Mereka meminta agar diberikan sedikit ruang untuk menangani Kasih dengan menggunakan bahasa Inggris.


Papi dan mami mundur beberapa langkah, lalu Galang membantu Amara turun dari ranjang pasien.


"Ibu jangan pergi... Ibu temenin Kasih. Ibu...." Rengekan Kasih membuat hati semua orang yang berada di ruangan tersebut merasa teriris. Dengan erat dia menggenggam tangan Amara agar tetap berada di sisinya.


"I-iya, Nak. Ibu ada di sini. Ibu nemenin Kasih." Amara setia berdiri di samping Kasih yang sedang ditangani oleh dua perawat tadi. Sedangkan Galang merangkul punggung Amara dari belakang.


Tubuh Kasih kini sudah berbaring kembali, isak tangisnya memenuhi seluruh ruangan. Dia menjerit saat salah satu dari perawat menyuntikkan obat melalui injectin Site.


"Ibu...." Kasih semakin tersedu-sedu, begitu obat yang disuntikkan masuk di sela-sela pembuluh darahnya. Rasanya tidak bisa dijabarkan melalui kata-kata. Ini terlalu menyakitkan baginya.


Wajah Amara berurai air mata, andai saja dia bisa menggantikan posisi Kasih saat ini. Dengan senang hati dia akan mengambil posisi itu. Biar Amara yang menanggung semua rasa sakit yang diderita Kasih. Amara rela menukar kehidupannya untuk Kasih, asal putrinya dapat kembali sehat dan sembuh.


Apa pun akan Amara lakukan demi Kasih. Apa pun....


###


bersambung....

__ADS_1


Injectin Site merupakan alat penghubung selang infus yang terbuat dari karet. Biasa digunakan untuk tempat menyuntikkan obat intra Vena atau bolus.


__ADS_2