
~AKU BOLEH TANYA, ENGGAK?
###
"Mas...?" Amara mengibaskan tangan ke depan muka Akmal yang melamun.
"I-iya?" Akmal terkesiap, lantas terhenyak untuk beberapa saat. Lamunannya menguap dengan panggilan Amara. "Kenapa, Ra?" Bahkan, dia masih memanggil nama itu dengan suara yang khas seperti dulu.
"Hem... aku pulang, ya? Keburu sore," pamit Amara setelah melirik sekilas jam yang melingkar di tangan. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Kok, buru-buru? Emang belanjanya udah selesai?" Akmal nampak tidak rela membiarkan Amara pergi dari hadapannya. Rindunya masih belum sepenuhnya terobati. Ya... walaupun dia tahu jika saat ini rindu itu sudah terlarang baginya.
Amara mengangguk, kemudian memberi alasan. "Udah. Semua yang aku butuhin udah kebeli." Menunjukkan bungkusan belanjaannya kepada Akmal.
Sekilas Akmal melirik bag yang ada di tangan Amara. Tiba-tiba dia merasa penasaran dengan apa yang dibeli perempuan itu.
"Mainan? Boneka Barbie?" tanya Akmal, menatap bergantian antara Amara dan belanjaannya. Sebuah kotak mainan yang lumayan besar, bergambar boneka Barbie menjadi fokus Akmal.
"Hmm... ini?" Amara mengangkat, lalu membuka bag yang dibawanya.
"Iya. Itu buat siapa? Masa iya kamu masih mainan boneka?" kelakar Akmal, terkekeh kecil hingga matanya yang sipit semakin menyipit.
"Ah, ya enggaklah, Mas! Ini, tuh, buat anakku," sanggah Amara dan saat itu juga membuat Akmal menghentikan tawanya.
"Anak?" Kening Akmal mengernyit. Setahu dia, Amara baru saja menikah, dan tidak mungkin sudah memiliki anak dalam waktu yang cepat.
"Iya. Anakku."
"Serius?" Kening Akmal semakin mengerut.
"Seriuslah, Mas," balas Amara dengan senyum yang teramat manis menurut Akmal.
Ada rasa tidak rela sebenarnya. Amara memiliki anak yang Akmal sendiri belum pernah melihatnya. Akmal menggaruk alis sambil berpikir untuk bertanya lebih kepada perempuan yang hari ini memakai jumpsuit berwarna coklat susu itu.
"Kamu 'kan nikah belum lama, Ra?"
__ADS_1
Pertanyaan Akmal dirasa wajar oleh Amara, sebab lelaki itu sama sekali tidak tahu menahu soal dirinya selama ini. "Hem... dia anak angkatku, Mas."
"Anak angkat?"
Amara mengangguk.
'Amara punya anak angkat?'
"Tapi, bukan sekedar anak angkat. Dia udah aku anggep anak kandung aku," sambung Amara, membuat Akmal semakin terkesan padanya.
"Terus, sekarang di mana anak kamu? Kok, enggak ikut belanja?" Rasa penasaran di hati Akmal semakin besar. Ternyata, ada banyak hal yang dia tidak tahu tentang Amara.
"Hmm... dia lagi berobat, Mas. Di Singapura,"
"Berobat? Di Singapura? Emangnya sakit apa, Ra? Kok, sampe dibawa ke sana?" Sungguh, Akmal tak dapat menyembunyikan rasa penasaran dan antusiasnya mendengarkan cerita Amara. "Ke sini, Ra." Dia pun menuntun Amara menuju ke tempat yang tidak terlalu banyak pengunjung.
"Aduuhhh... ceritanya panjang, Mas. Kalo aku ceritain takut enggak keburu waktunya," ucap Amara yang nampak terburu-buru. Pasalnya, waktu berjalan semakin cepat. Dia harus kembali ke Apartemen tepat waktu.
"Oh, oke-oke. Aku ngerti. Memangnya kamu mau ke mana, sih? Keliatannya buru-buru amat?"
"Bay...." Akmal seketika berubah lesu. Inginnya berlama-lama dengan Amara di sini. Akan tetapi, dia lupa jika perempuan itu sudah mempunyai keluarga sendiri. "Sampai ketemu lagi, Ra...."
_
Tak membutuhkan waktu lama untuk Amara tiba di Apartemen. Begitu masuk, dia langsung meletakkan barang belanjaannya di atas meja yang berada di ruang tengah. Melangkah menuju dapur dan membuka kulkas. Tenggorokannya terasa kering, dan kepalanya lumayan pusing.
Hari ini cukup melelahkan, banyak kejadian yang tak terduga menimpanya. Pertemuannya dengan Vanila sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia harapkan. Apalagi, ketika mengingat sifat dan sikap mantan istri suaminya itu.
"Fiuh..." Membuang napas lelah, lalu menarik kursi di meja makan. Segelas air dingin sudah berada di tangannya, dan Amara langsung meminumnya perlahan.
Dinginnya air seketika membuat tenggorokannya basah dan hatinya yang sempat terasa panas menjadi adem.
"Jam setengah tiga lebih." Amara melirik pada jam digital yang menempel di dinding dapurnya. Selang beberapa saat pandangannya beralih pada bunyi passcode unit yang ditekan.
Pintu itu terbuka lebar dan muncullah Galang dari sana dengan senyum khasnya. Dengan cepat Amara segera menghampiri sang suami yang sangat ingin dipeluknya. Menumpahkan segalanya pada lelaki itu.
__ADS_1
"Mas...." Suara manja Amara yang memeluk tubuh menjulang dan gagah tersebut, sontak membuat senyum Galang semakin lebar.
"Hei...." Galang merengkuh tubuh kecil itu agar lebih merapat di tubuhnya. Wangi parfum Amara menggelitik dan menggodanya. Dan, lantaran tak tahan, Galang menghujani kecupan di puncak kepala Amara. "Kenapa? Kangen, ya?"
Cukup dengan pelukan seperti ini saja, mampu membuat hati Amara tenang dan merasa nyaman. Apalagi, kecupan yang diberikan Galang seolah obat yang paling mujarab. Suaranya, perlakuannya, sifatnya, telah berhasil menarik Amara lebih jauh lagi pada pesona Galang.
"Iya...."
Ah, mendengar suara Amara yang manja, seketika membangkitkan sesuatu di bawah sana. Galang menggeram pelan untuk menetralkan hasrat yang tiba-tiba muncul. Mencoba menahan diri untuk tidak menerjang istrinya saat ini juga. Di sini, di depan pintu.
Peringatan dari Aldo, rupanya masih dia ingat. Tak mau membuat Amara kelelahan, karena kondisinya yang masih belum pulih.
"Kamu baru pulang, ya?" tanya Galang dan dijawab anggukan dari Amara yang masih berada di pelukan. "Ya udah. Istirahat sebentar. Nanti jam lima kita berangkat ke bandara."
"Mas enggak ikut sekalian?" Amara menjauhkan wajahnya untuk mendongak dan menatap Galang dari bawah. Kenapa suaminya ini mempunyai badan yang sangat tinggi. Amara jadi harus terus berjinjit apabila ingin menciumnya.
Menurunkan pandangan, untuk mempertemukan maniknya dan manik Amara. Galang mengecup singkat bibir ranum itu. "Ikut. Mas ikut sekalian."
Bibir Amara menyeringai lebar. "Serius?" Dia nampak senang dengan jawaban Galang. Akhirnya, dia bisa berangkat bersama ke Singapura.
Telapak tangan Galang terulur, mengelus pipi Amara dengan sayang. "Serius, dong... Masa aku tega, sih, biarin istriku yang paling cantik ini berangkat sendirian? Entar kalo diculik aku yang kelabakan." Sekali lagi dia mengecup bibir Amara, lalu memagutnya sebentar.
"Hem... mulai deh gombalnya." Tangan Amara terasa gatal untuk tidak ikut-ikutan menyentuh. Jemari lentiknya menjelajahi setiap pahatan rahang tegas Galang. Dari jarak dekat seperti ini, dia bisa menatap sepuasnya wajah tampan suaminya.
Mulai dari mata, turun ke hidung, kemudian bibir tipis yang selalu melontarkan kata manis. Apa yang ada pada diri Galang seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi lelaki ini. Tatapannya yang sayu, senyumnya yang memesona.
"Mas, aku boleh tanya, enggak?" ucap Amara disela kesibukannya mengagumi ketampanan Galang. Maniknya seolah tak pernah bosan memandangi wajah rupawan itu.
"Boleh...." Galang pun masih melingkarkan tangannya di pinggang Amara. Sesekali dia mencium gemas hidung Amara.
Kelopak mata Amara mengerjap sesaat, sambil berpikir untuk melontarkan pertanyaan yang pas.
"Hmm... kenapa kamu sama mantan istrimu belum punya anak?
###
__ADS_1
bersambung...