GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 42~


__ADS_3

~PANGGIL SAYA, MAS.


###


Galang sontak berdiri dan mendekati Amara. "Berdirilah," titahnya seraya menuntun tangan Amara untuk berdiri dari tempatnya.


Amara jelas merasa bingung tiba-tiba Galang menyuruhnya untuk berdiri. "A-apa, Pak? Ke-kena—" Belum sempat dia bertanya, Galang telah lebih dulu menarik tubuh kecilnya ke pelukan lelaki itu.


Tentu Amara terkejut bukan main. "Pak ...." Tubuhnya menegang dengan kelopak mata yang mengerjap pelan, Galang memeluknya begitu erat. Tangannya terkepal di sisi tubuh, Amara enggan dan ragu membalas pelukan itu sebab masih terlalu bingung.


Sementara Galang nampak meresapi setiap hangatnya pelukan ini. Dia memejamkan mata seraya menghirup dalam aroma wangi rambut Amara. Tak peduli jika gadis itu tengah merutuki dirinya lantaran memeluk tanpa ijin.


Bukan tanpa alasan Galang memeluk Amara seperti ini, dia sungguh sangat bersyukur bisa menemukan perempuan sebaik dan sepeduli Amara. Perkataan Amara dan alasannya yang sudah tidak memikirkan pernikahan seakan menyentuh lebih dalam relung hati Galang.


"Sebenarnya terbuat dari apa hati kamu, Amara? Kamu sangat menyayangi Kasih bahkan rela enggak nikah demi Kasih yang jelas-jelas bukan anak kandung kamu. Saya betul-betul enggak abis pikir, di dunia ini masih ada wanita sebaik kamu. Saya beruntung Kasih mendapatkan ibu seperti kamu. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan kita di waktu yang tepat."


Galang berujar tanpa melepas pelukan. Rasanya sangat nyaman, dia bahkan hampir lupa, kapan terakhir kali dia merasa senyaman ini. Memeluk seorang wanita yang dicintainya selain Vanila, baru kali ini dia lakukan.


Amara tersenyum di balik dada bidang Galang, alasan atasannya ini memeluk sungguh berlebihan. Dia pun hendak melepaskan diri dari pelukan lelaki ini, namun Galang mencegahnya.


"Biarkan seperti ini dulu, Ra. Saya merasa sangat nyaman memeluk kamu. Ini pertama kalinya saya meluk wanita lain selain Vanila dan rasanya sungguh berbeda."


"Pak, Anda berlebihan. Saya enggak sebaik itu. Saya cuma manusia biasa. Saya cuma menjaga apa yang Tuhan titipkan pada saya." Amara berkata masih dalam posisi di pelukan Galang. "Asal Anda tahu, ini juga pelukan pertama saya bersama laki-laki. Rasanya sangat canggung, tapi Anda jangan khawatir, saya akan mulai membiasakan diri seperti ini. Saya akan buat Anda merasa lebih nyaman lagi." Kendati Amara merasa malu dan jantungnya kini tengah berdebar-debar, namun tak urung tangannya terangkat perlahan guna dilingkarkan ke pinggang Galang.


"Terima kasih, Amara. Terima kasih." Galang tersenyum lebar masih dengan mata terpejam seolah dia enggan melepas pelukan ini untuk selamanya.


***


Galang dan Amara meninggalkan Restoran saat hari telah menjelang sore. Keduanya kini sudah berada di dalam mobil sedang menuju pulang. Namun tampaknya, mereka tengah berdebat kecil perihal keputusan Amara yang ingin pulang ke rumah lamanya saja. Gadis itu kekeh mau pergi dari rumah Galang lantaran merasa tidak enak dengan orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


Amara tidak mau mengundang spekulasi negatif hanya karena dirinya kini akan menikah dengan atasannya itu. Menjaga nama baik keluarga Pratama adalah tanggung jawabnya saat ini, meski dia dan Galang belum resmi menjadi pasangan suami istri.


"Tolong Bapak ngertiin saya. Saya memutuskan ini juga demi kebaikan keluarga Bapak. Bayangkan, jika orang-orang berkata buruk mengenai keluarga besar Anda. Pasti Nyonya dan Tuan Hendra akan sedih. Kali ini Anda bersabar, satu Minggu bukanlah waktu yang lama untuk Anda menunggu. Jadi, untuk itu biar kita berjauhan sementara waktu. Bukankah itu akan lebih baik?" Amara menjelaskan maksudnya pelan-pelan dan mencoba memberi pengertian kepada calon suami tak sabarannya ini.


Galang berdecak sebal dengan keputusan Amara yang meminta untuk tidak bertemu selama satu Minggu. Yah, pernikahan mereka akan dilaksanakan sekitar satu Minggu lagi, itu pun dengan usaha Amara yang membujuk supaya Galang tidak melaksanakannya dua hari lagi.


Kemudian, Amara pun sempat berpikir, apakah semua laki-laki akan tidak sabaran seperti ini jika sudah berurusan dengan pernikahan? Seperti lelaki di sampingnya ini. Sejak tadi Galang hanya berdecak dan memberengut. Aneh dan lucu.


"Kalo kamu mau saya ajak nikah lusa pasti enggak perlu ada drama jauh-jauhan begini, Ra. Kamu 'kan tahu saya masih sakit dan perlu perhatian ekstra. Nanti kalo kamu enggak ada di rumah, terus siapa yang rawat saya?" Galang masih saja mencoba untuk merayu Amara agar mau dinikahi dengan segera, meski dia harus memakai alasan sakit.


ck! Alasan yang sungguh membuat orang tertawa.


"Tahu gitu kenapa Anda meminta pulang cepet? Kan masih sakit?" Amara mulai merasa ada yang tidak beres. Dia memindai raut muka Galang yang mendadak pucat. "Tuh, muka Bapak aja masih pucet. Mending kita ke rumah sakit lagi aja." Usulan Amara langsung ditolak cepat oleh Galang.


"Enggak! Enggak perlu." Galang melirik Amara yang masih menatapnya. "Kenapa? Kenapa liatin saya kayak begitu?"


Galang tersenyum melihat Amara yang salah tingkah. "Kamu mulai suka, ya, sama saya?" celetuknya asal. Pria berusia 35 tahun itu sangat percaya diri sampai-sampai dia hampir tak mengenali dirinya sendiri. Semenjak dia menyatakan perasaannya kepada Amara, Galang tetiba berubah seperti remaja yang kembali jatuh cinta. Sungguh menggelikan. Padahal dulu dia sama sekali tidak pernah bertingkah seperti ini.


Amara sontak menoleh, kemudian menyahut, "Bapak aneh! Kenapa berubah jadi aneh begini, sih, Pak?" Alisnya menaut dengan kening berlipat-lipat sangat dalam. Tuh, kan jangan sampai laki-laki ini berubah jadi lebay. Amara 'kan jadi takut. Takut tidak bisa mengontrol diri. eh?


"Yang buat saya begini itu kamu, Ra. Kamu enggak nyadar apa?"


eh? Tunggu! Kok malah jadi Amara yang disalahin?


"Pak, saya 'kan enggak pernah suruh Bapak buat suka sama saya. Lagian Bapak 'kan yang maksa saya nikah. Jadi, ya udah, deh, saya akhirnya mau." Amara tertawa dan itu menular pada Galang.


"Kamu ini! Bisa-bisanya ngomong gitu." Galang mengusak puncak kepala Amara dan kembali tertawa. "Abis kamu kalo enggak dipaksa enggak akan mau. Jadinya saya harus maksa dulu baru kamu mau."


"Hem, itu, sih, kayaknya cuma trik Bapak, deh. Biar saya mau. Iya 'kan?" Amara tertawa lagi, bercanda dengan Galang rupanya menyenangkan.

__ADS_1


"Hei, kamu pikir saya tukang paksa? Begitu?" Galang yang kembali fokus menyetir langsung menoleh dan merasa tidak terima dengan ejekan Amara yang berpikir dia sudah memaksanya.


Amara tertawa lantas segera menimpali, "Ya, enggaklah, Pak. Saya cuma bercanda. Masa iya saya berani punya pikiran gitu."


"Bagus." Galang mengusak puncak kepala Amara lagi. "Bisa enggak, kamu manggil saya jangan pakek embel-embel Bapak. Rasanya saya tuh tua banget."


"Kalo bukan Bapak terus apa dong?"


Galang nampak berpikir sejenak, "Hem, gimana kalo panggil Mas aja."


Amara melongo. "Mas?"


Galang mengangguk lantas menoleh sekilas. "Iya, Mas. Kenapa? Enggak mau?" tanyanya sambil fokus menyetir lagi, dia memutar kemudi berbelok masuk ke area Perumahan.


"Hem ..." Amara menggigit bibirnya sendiri sambil menimbang-nimbang permintaan Galang. Mas? Dia harus panggil atasannya ini dengan sebutan Mas? Bukankah itu terdengar sangat tidak sopan? "Kayaknya enggak sopan, deh, Pak. Masa saya panggil Anda, Mas? Nanti orang-orang kantor pada curiga."


Galang menatap sekilas Amara yang meringis kikuk. "Enggak apa-apa. Kan kita sebentar lagi nikah, Ra." Mobil pun berhenti di pelataran rumahnya.


"Loh, kok, berhenti di sini? Kan saya mau pulang ke rumah saya?" Amara memindai keadaan luar yang ternyata berada di halaman rumah mami. Dia terkejut, kenapa Galang membawanya ke sini dan bukan ke rumahnya. "Pak?" Amara menyipitkan matanya seakan meminta jawaban dari Galang.


"Iya, nanti saya antar kamu pulang. Tinggal di sini sebentar aja, Ra. Please ...." Galang menggenggam tangan Amara lalu mengecupnya.


Amara tersenyum lantas mengangguk pelan. "Baiklah." Dia bisa apa jika Galang sudah memohon seperti itu dengan tatapan mata yang sangat menggoda imannya. Haisshhh.... sadar Amara sadar!


Galang mngusap pipi Amara lalu berkata, "Makasih, ya." Sementara Amara hanya tersenyum menanggapi.


####


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2