GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 43~


__ADS_3

~TIDAK SABAR.


###


Amara tengah sibuk berkutat di dapur dengan dibantu bi Ratna. Rencananya dia hendak membuatkan makan malam khusus untuk Galang yang baru saja pulih dari sakitnya. Bi Ratna yang tak tahu menahu soal menu khusus itu pun meminta Amara untuk membuatnya sendiri saja, wanita paruh baya itu takut jika salah dalam menyajikannya.


Sebelumnya, Amara sempat bertanya kepada Aldo selaku dokter yang merawat dan paling tahu soal kondisi Galang. Tak ingin lalai, Amara sebisa mungkin menjaga pola makan sang calon suaminya itu dengan baik dan benar. Ah, mendengar kata calon suami rasanya sangat aneh sekali. Tidak lama lagi dia akan berganti status menjadi istri dari atasannya itu. Apakah ini mimpi?


"Mbak, ini mau diapain ayamnya yang udah bibi cuci." Bi Ratna menghampiri Amara yang sedang sibuk mengupas wortel dan kentang. Beliau meletakkan daging ayam yang baru saja dicuci bersih ke wadah lalu menyodorkannya ke Amara.


"Bibi tolong potong dadu aja. Kecil-kecil, ya, Bi. Terus abis itu langsung di tumis bareng bumbu yang udah aku ulek tadi." Amara menunjuk cobek yang berada di sebelah kompor kepada bi Ratna.


Bi Ratna mengiyakan perintah Amara, melakukan semua interupsi dari perempuan itu. Amara nampak luwes dan tidak sungkan melakukan semuanya. Berbeda sekali dengan mantan istri Galang—Vanila.


Sup dada ayam tanpa lemak menjadi menu pilihannya malam ini. Aldo mengatakan jika daging ayam tanpa lemak sangat baik untuk menurunkan asam lambung.


"Bi, ada jahe enggak?" tanya Amara begitu selesai dengan sayuran yang baru saja dia cuci. Dia memasukkan itu semua ke dalam panci yang sudah diberi air sebelumnya.


"Ada, Mbak. Di kulkas ada stok jahe. Mbak Amara mau bikin apa?" jawab bi Ratna sekaligus bertanya. Beliau sibuk mengaduk bahan-bahan yang telah tercampur itu pelan-pelan.


Amara membuka kulkas dan mengambil jahe berukuran sedang, lalu gula merah dan madu. Menutupnya kembali, lantas mengupas jahe tersebut. "Saya mau bikin wedang jahe buat Pak Galang, Bi. Kata Pak Aldo wedang jahe bagus buat pemulihan."


Bi Ratna menggeleng heran, Amara sangat perhatian dan mau repot-repot melakukannya. Hingga mulutnya tak sadar berucap, "Wah ... Mbak Amara keren, loh. Perhatian sama Pak Galang. Andai aja istrinya Pak Galang itu Mbak Amara. Pasti Nyonya enggak ngomel-ngomel melulu sama Pak Galang."


Amara sontak menoleh kepada bi Ratna, lalu menggelengkan kepala. Ucapan bi Ratna barusan membuatnya malu sendiri. Semoga saja Galang tidak mendengarnya. Namun, suara khas itu tiba-tiba terdengar dari balik punggungnya.


"Bibi tenang aja. Doa Bi Ratna udah terjawab, kok. Sebentar lagi Amara bakal jadi istri saya." Entah dari mana lelaki itu datang. Tiba-tiba saja masuk dan menghampiri Amara yang mendadak kikuk. Sementara bi Ratna terlihat senang dan tidak percaya dengan yang didengarnya.

__ADS_1


"Lah? Terus Nyonya Vanila gimana, Tuan? Kan—" Bi Ratna panik, khawatir jika Galang akan berpoligami.


Galang buru-buru menampik. "Tenang aja, Bi. Saya udah pisah, kok, sama istri saya. Jadi buang jauh-jauh pikiran Bibi." Dia tersenyum seraya melirik Amara yang sibuk dengan jahenya.


"Syukur, deh, kalo Tuan udah pisah sama Nyonya Vanila. Saya kira tadi ...." Bi Ratna memilih tidak melanjutkan ucapannya, merasa tidak enak sekaligus sungkan kepada Amara. Beliau lantas melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Lagi bikin apa, Ra?" Galang yang sejak tadi berusaha menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya menghampiri dan memindai Amara yang tengah mengaduk wedang jahe yang telah siap.


"Saya bikin wedang jahe, Pak." Amara menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari wedang jahe itu.


Aroma jahe seketika menguar di hidung Galang. "Pantesan wangi banget. Kayaknya juga enak," celetuknya yang kemudian mengambil gelas itu dari tangan Amara.


"Pelan-pelan, Pak. Ini masih panas," ucap Amara yang menyodorkan gelas itu ke tangan Galang.


"Iya. Makasih, ya." Galang lantas pergi dari dapur dengan membawa wedang jahe tersebut.


Mereka berdua tidak sadar jika sejak tadi ada bi Ratna yang memperhatikan. Beliau pura-pura tidak melihat interaksi Amara dan Galang yang menurutnya tidak biasa. Apalagi jika diamati dari bahasa tubuh tuannya itu yang amat kentara sekali. Turut senang lantaran anak dari majikannya akan segera mendapat istri yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


***


Amara menuruti perintah Galang dan memilih mengalah saja. Lalu perempuan itu melarang Galang untuk mengantarnya pulang dan meminta sopir saja yang melakukannya. Awalnya Galang menolak tetapi Amara tetap menyuruhnya untuk tinggal di rumah saja dan tidak boleh terlalu lelah.


Amara pulang dengan diantar sopir pribadi Galang. Tidak membutuhkan waktu lama dia tiba di rumah lamanya itu. Sang sopir berpamitan kepada Amara dan melesat dari sana.


"Akhirnya, aku pulang." Amara berujar senang dengan raut berseri. Dia sudah sangat merindukan rumahnya. "Ah, malah kangen sama Kasih." Tiba-tiba bayangan Kasih yang selalu menyambut kepulangannya berkelebat di ingatan.


Suara canda tawa Kasih terngiang di telinga Amara. Panggilannya yang khas begitu tertanam jelas di hatinya. Saat Kasih berlari menghampiri dan merengek tak pernah Amara lupakan. Kerinduannya kepada putri kecilnya itu harus dia tahan hingga saat kepulangan Kasih. Amara melangkah masuk ke dalam dengan semangat yang berkurang.

__ADS_1


"Assalamualaikum...."


***


"Kalau bisa minta sidangnya dipercepat, Vin. Seminggu lagi saya akan menikah dengan Amara. Surat perceraian saya harus sudah keluar dari pengadilan," ucap Galang yang sedang menghubungi Kevin, membahas perceraiannya dengan Vanila supaya dipercepat.


"Tiga hari lagi sidangnya, Pak. Hakim meminta Bapak dan Nyonya Vanila hadir di persidangan terakhir." Kevin mengatakan apa yang dia dapat dari hasil sidang kemarin.


"Baik. Saya pasti datang. Kamu juga tolong ingatkan Vanila sekali lagi supaya datang."


"Siap, Pak. Setelah ini saya akan menghubungi Nyonya Vanila."


"Bagus. Ah, iya, saya hampir lupa, kamu bisa tolong buka lamaran pekerjaan. Cari sekretaris baru untuk menggantikan Amara. Karena setelah dia menikah, saya enggak mau dia bekerja lagi. Cari yang seperti Anggi atau Amara. Tidak perlu berpendidikan tinggi asal bertanggung jawab dan mau bekerja keras. Kamu aturlah pokoknya. Saya serahkan semuanya sama kamu. Nanti kalau kamu masih belum paham bisa kamu tanyakan lagi ke saya."


"Baik-baik, Pak. Saya akan carikan yang sesuai kriteria Bapak. Tapi, saya mau bertanya dulu sama Mbak Amara."


"Mau tanya apa kamu sama dia?" Galang mengerutkan keningnya.


"Saya cuma mau minta jadwal Anda, Pak. Saya lupa menanyakannya tadi. Karena sebagian Mbak Amara yang pegang dokumen klien baru Bapak."


"Ah, begitu rupanya. Ya sudah, kamu boleh tanya sama dia asal jangan singgung dulu masalah saya yang meminta kamu buat cari sekretaris baru. Masalah itu biar saya yang bilang ke dia."


"Siap, Pak, siap."


"Oke. Saya tutup dulu. Terima kasih, selamat malam, selamat beristirahat." Galang memutus sambungan telepon itu, lalu meletakkan ponselnya ke meja kerja. "Heuhh...." Menghela panjang seraya mengusap wajahnya berulang.


Ada banyak sekali rencana yang telah dia susun. Rasanya Galang sudah tidak sabar ingin menikahi Amara dan membawanya menyusul Kasih ke Singapura.

__ADS_1


###


bersambung....


__ADS_2