GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS

GODAAN RANJANG SANG SEKRETARIS
Bab 71~


__ADS_3

~KABAR DARI MAMI.


###


"... rasanya sesak. Terus ada sesuatu yang mengganjal. Enggak enak pokoknya. Rasanya, aku tadi pengen marah terus jambak rambutnya Tania, pas aku tahu kalo dia lagi berusaha ngegoda kamu," sambungnya lagi masih memegang tangan Galang yang tengah merasakan debaran jantungnya yang semakin menggila.


Sorot keduanya saling mengunci satu sama lain. Galang tersenyum, mendengarkan setiap untaian perkataan sang istri yang sangatlah polos ini.


Bagaimana mungkin, ada seseorang yang tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri?


Sekali lagi, lelaki berjas abu-abu itu tak dapat menahan diri untuk tidak melabuhkan kecupan di kening wanitanya. Kecupan itu lantas turun di kedua kelopak mata Amara yang terpejam, lalu bergeser ke dua pipinya yang terasa memanas. Terakhir mendarat di bibir yang sedikit terbuka.


Perlahan Amara membuka kedua kelopak mata, debarannya kini tak sekencang tadi. Namun, ada binar lain di manik kecokelatannya. Binar kebahagiaan dan cinta untuk suaminya yang tersenyum hangat kepadanya.


"Kamu sadar dengan apa yang baru aja kamu katakan?" tanya Galang, merangkum wajah kecil Amara dengan telapak tangan kanannya, sementara telapak kirinya meraih tangan Amara untuk dia beri kecupan berulang-ulang.


"Aku sadar, Mas. Aku hampir gila, membayangkan Tania, seandainya dia jadi sekretaris kamu. Aku enggak bisa terima itu." Amara semakin mengutarakan ketidaksukaannya terhadap Tania, sekaligus apa yang dirasakan beberapa saat yang lalu.


Galang pun semakin melebarkan senyumnya, ucapan Amara membuat hatinya berbunga-bunga.


"Itu tandanya kamu mulai ada rasa kepadaku, Ra. Kamu mulai menyukaiku, karena itu kamu merasa cemburu pada Tania," ucapnya menjawab semua pertanyaan istrinya yang menatap tanpa berkedip sedikit pun.


"Mungkin iya, Mas. Aku sudah jatuh cinta sama kamu. Entah kapan perasaan itu hadir di sini. Yang jelas, setiap kali kita berdekatan seperti ini, aku selalu berdebar. Aku pun bingung, kapan aku mulai menyadari itu semua," balas Amara yang meletakkan tangannya di punggung tangan Galang yang masih menempel di sisi wajahnya.


Ada kelegaan di sudut hatinya, usai mengungkapkan perasaannya. Mungkin memang benar, dengan saling bicara, maka beban di hati akan terasa ringan.


Semua yang terjadi dan yang dia rasakan saat ini tidaklah secara tiba-tiba dan instan. Amara butuh waktu berhari-hari demi menelaah setiap getaran dan debaran yang mulai mengusik. Belum genap satu Minggu, dia dan Galang merajut kebersamaan sebagai pasangan suami istri. Namun, lelaki itu telah berhasil mencuri hati dan separuh jiwanya.


Sikap, sifat, dan perlakuan Galanglah yang meyakinkannya. Untuk pertama kalinya dia mengenal cinta, dan untuk pertama kalinya juga Amara menjatuhkan pilihannya kepada sosok penyayang ini.


Hening sesaat.


Setelah pengakuan Amara, Galang mendadak linglung. Dia bingung, nyaris tak bisa berkata-kata. Bukankah ini yang dia tunggu-tunggu? Mendengar ungkapan cinta dari bibir Amara.


Kemudian, lantaran terlalu larut dalam suasana ini, Galang ingin sekali memagut bibir merah itu. Merasai dan mencumbunya sampai puas. Lalu, perlahan-lahan Galang menarik dagu Amara supaya mendekat, mengikis jarak yang ada. Napas mereka saling bertemu saat jarak kian menipis. Namun, pada saat bibir keduanya hampir menempel, suara dering ponsel bergema di ruangan itu.


Refleks, Amara menarik wajahnya menjauh.

__ADS_1


"Hape kamu, Mas. Bunyi." Memusatkan perhatiannya ke layar ponsel Galang yang ada di meja. Sekejap menyala dan bergetar.


"Ck! Ganggu aja!" Galang berdecak nyaring, sebab ada yang menggangu urusannya. Beranjak dari duduknya, dia pun berjalan ke meja dan mengambil ponselnya.


Di sofa Amara hanya melipat bibirnya seraya menahan senyum. Kekesalan suaminya malah terlihat lucu di matanya.


"Mami?" seru Galang setelah melihat nama yang tertera di ponselnya. Mami Sarahlah yang meneleponnya.


Amara sontak menoleh ke arah Galang yang berjalan menghampiri. "Yang telepon Mami?" tanyanya.


Galang mengangguk, lalu kembali duduk di sisi Amara.


"Angkat, dong, Mas. Siapa tahu penting," pinta Amara tak sabaran. Bukannya menjawab, suaminya ini malah bengong. "Mas!"


"Iya." Galang segera mengusap tombol berwarna hijau ke atas, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Halo, Mom?"


"Losspeaker- nya, Mas." Amara meminta Galang untuk mengaktifkan pengeras suara, agar dia bisa ikut mendengarkan mami.


Menuruti perintah sang istri, Galang pun mengaktifkan pengeras suara di ponselnya.


"Assalamualaikum, Nak..." Suara mami mengucap salam dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam, Mom."


"Mami apa kabar? Sehat 'kan?" tanya Amara terlebih dulu.


"Mami sehat, Nak. Kalo kalian gimana? Sehat 'kan?"


"Syukurlah. Kami di sini sehat, Mom," balas Amara lagi.


"Wah ... kalian ya harus sehat, dong? Kan pengantin baru?" goda mami yang disertai kikikan.


Seketika itu juga pipi Amara terasa memanas, mungkin sekarang sudah semerah tomat. Sedangkan, Galang ikut terkekeh, sambil menjawil gemas dagu Amara.


"Kabar Kasih gimana, Mom?" Giliran Galang yang menanyakan Kasih.


"Kasih lusa operasi. Alhamdulillah tulang sumsum Maya cocok."

__ADS_1


"Alhamdulillah..." Amara dan Galang saling pandang sambil mengucap syukur bersamaan.


"Kalian bisa ke sini' kan? Kasih rewel. Dia minta ibunya yang nemenin. Makanya ini mami telepon kalian." Mami mengungkap perihal permintaan Kasih yang ingin ditemani Amara saat menjalani operasi.


"Gimana, Mas?" Amara bertanya pada suaminya, dia jelas gelisah dan cemas. Putrinya hendak melakukan operasi besar, tentu dia ingin berada di saat-saat penting itu.


"Kamu bisa berangkat duluan, Ra. Nanti aku nyusul," ucap Galang memberi saran. Karena memang jadwal sidangnya sedang banyak-banyaknya. Tidak mungkin dia meninggalkan semua pekerjaannya di sini.


"Mom, besok Amara yang ke sana duluan. Lusa Galang kemungkinan nyusul," kata Galang menjawab pertanyaan mami setelah berunding sebentar tadi.


"Oke-oke enggak masalah. Asal salah satu kalian ada di sini lebih dulu. Kasian Kasih. Dia nangis minta Amara cepet-cepet ke sini."


"Terus, sekarang mana Kasih, Mom?" tanya Amara, yang sedari tadi belum mendengar suara putrinya. Biasanya, Kasih yang paling antusias saat menelepon.


"Kasih lagi di ajak jalan-jalan sama papi. Itu aja kami susah payah bujuknya."


Helaan lega berembus dari hidung Amara. Pikirannya tidak akan bisa tenang ketika mendengar Kasih rewel atau pun bersedih. Namun, Kasih bukanlah tipe anak yang betah berlama-lama merajuk. Dibujuk sedikit saja, bocah itu pasti akan menurut dan cepat lupa.


"Syukurlah, Mom. Entar kalo udah pulang sampein salam Amara buat Kasih. Bilang ke dia kalo ibunya besok nyusul ke sana, jadi jangan sedih lagi. Bilang sama Kasih, kalo dia enggak boleh cengeng dan harus nurut kalo mau cepet sembuh." Amara berpesan panjang lebar, bola matanya yang bulat sudah memanas sejak tadi. Kabar ini terlalu menggembirakan baginya.


"Iya, Nak. Kamu tenang aja. Mami bakal sampein ke dia. Ya udah, teleponnya udahan dulu. Daa... Assalamualaikum...."


"Wa'alaikumsalam."


Mami memutus panggilan terlebih dulu, baru kemudian Galang meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Ra, kamu nangis?" Galang terkesiap saat melihat sang istri sudah terisak di sampingnya. Buru-buru dia merengkuh tubuh bergetar itu, mengusap-ngusap lembut punggung Amara. "Ssstt... udah."


"Akhirnya, Mas. Akhirnya Kasih bisa operasi sumsum tulang belakang," ucap Amara disela isakannya. Dia tak bisa membendung tangisan bahagia ini.


Masih mengusap lembut punggung Amara, Galang pun menanggapi. "Iya. Ini semua berkat doa kamu, Ra. Tuhan akhirnya menjawab doa-doamu." Tangannya yang menganggur menarik tisu yang selalu tersedia di meja dari wadahnya.


"... udah. Enggak usah nangis lagi." Dia pun menyeka lelehan air mata yang berjatuhan di pipi Amara dengan tisu tersebut. Merapikan rambut Amara yang sedikit berantakan, lalu mencium keningnya.


Hati Amara begitu sensitif, hanya mendengar kabar ini saja dia menangis. Keinginannya yang ingin melihat Kasih sembuh sebentar lagi akan terwujud.


###

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2