
~**KEMBALI MELEBUR.
Masih adegan dewasa ya genk's ๐ Biar tambah semangat ngasih dukungannya buat aku, hiks**...
###
Setelah cukup lama bergelung dan meleburkan raga, Galang dan Amara akhirnya melenguh panjang bersamaan, seiring sesuatu yang tumpah di dalam lembah basah itu. Galang ambruk di atas tubuh Amara dengan kedua tangannya yang bertumpu di sisi ranjang. Napas mereka saling bersahutan, peluh membasahi seluruh tubuh polos Galang dan Amara.
Telapak tangan Galang terjulur ke dahi istrinya yang sedang mengatur napasnya, mengusap peluh yang membasahi kemudian mengecupnya dengan penuh cinta. Pelepasan yang baru saja diraihnya merupakan sesuatu yang sungguh luar biasa nikmat. Tak pernah terbayangkan jika dia akan bercinta dengan perempuan ini.
"Saya cinta kamu, Amara. Terima kasih karena kamu telah memercayai saya," ucap Galang disertai kecupan di seluruh wajah Amara tanpa ada yang terlewat. Mulai detik ini Amara hanyalah miliknya seorang.
Amara mengulas senyum, dicintai sebesar ini tak pernah ada dalam angannya. Keputusan untuk menerima Galang sebagai suaminya bukanlah keputusan yang dia ambil semata-mata hanya ingin menyenangkan hati lelaki ini. Tidak. Amara telah memikirkan segalanya dengan matang dan yakin. Kesungguhan Galanglah yang membuat Amara pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada duda baru ini.
Jemari lentik Amara menyisir rambut Galang yang masih setengah basah, mengagumi ketampanan dan pesona suaminya tanpa malu. Amara akui jika hatinya mulai merasakan debaran itu, setiap Galang mengucapkan namanya disela-sela percintaan mereka barusan, dirinya merasa sangat begitu dipuja.
"Cuma ini yang bisa aku lakukan, Mas. Maaf, sampai detik ini aku belum bisa membalas perasaanmu. Tapi, aku janji, mulai di detik Mas mengucap ijab qobul siang tadi, aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk, Mas. Pelan-pelan aku juga akan belajar mencintai kamu. Aku harap Mas enggak akan bosan menunggu dan menuntunku untuk menuju ke hatimu. Karena pada saat itu terjadi aku mau Mas jadi orang pertama yang tahu. Terima kasih atas curahan cinta yang kamu berikan malam ini," ujar Amara menjabarkan seluruh isi hatinya kepada lelaki yang baru saja mendapatkan kesucian darinya.
Bisa dibilang Galang sangat terkesan dengan kejujuran Amara yang selalu bicara apa adanya. Tak pernah menutup-nutupi apa pun tentang perasaannya. Galang sama sekali tidak keberatan jika dia harus menunggu lama untuk mendengar ungkapan isi hati istrinya.
Merapikan rambut Amara yang sedikit berantakan, Galang lantas berkata, "Saya akan selalu menunggu waktu itu tiba, Ra. Saya akan berusaha keras membuat kamu jatuh cinta secepatnya sama saya."
Amara menelusuri setiap inchi wajah Galang, mulai dari mata, hidung, dan telunjuknya berhenti tepat di bibir seksi suaminya. Dia merona kala mengigat ciuman pertamanya sesaat tadi.
Galang meraih telunjuk Amara, kemudian mengecupnya. "Ayo aku akan membantumu bersih-bersih." Dia lantas mencabut miliknya yang masih menyatu dengan milik Amara. Beranjak dari ranjang, lalu menyelipkan tangan di balik lutut kaki dan punggung polos Amara.
Tubuh Amara yang seringan kapas dengan mudah diangkat Galang. Amara refleks mengalungkan tangannya ke leher Galang, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. Sejurus kemudian, Galang berjalan menuju kamar mandi.
"Duduklah di sini dulu." Galang mendudukkan Amara di atas kloset setibanya di kamar mandi. Mengisi bak mandi dengan air hangat dan meneteskan beberapa tetes aromaterapi.
"Buat apa, Mas?" Amara bertanya lantaran dia masih belum tahu apa yang dilakukan Galang dengan air hangat dan aromaterapi itu. Amara meneguk ludahnya susah payah saat memerhatikan tubuh polos suaminya di bawah cahaya lampu kamar mandi yang cukup terang.
'Mas Galang bertato? Inisial V? Apakah itu Vanila?' Dia membatin perihal tato yang terukir di punggung lebar Galang. Entah mengapa hatinya merasa sedikit tercubit setelah mengetahui satu fakta lain. Itu artinya memang benar, suaminya dulu sangat mencintai mantan istrinya. Hingga rela mengukir namanya di sana.
"Hei. Ngelamun apa? Ayo." Galang mengangkat tubuh Amara lagi.
__ADS_1
Amara tersenyum lantas menggeleng samar. "Enggak. Enggak ada apa-apa." Bibirnya berkilah menutupi kegundahan hati yang melanda. "Kita mau ngapain, Mas?" tanyanya kemudian seraya menatap bergantian Galang dan bak mandi yang sudah terisi penuh dengan busa.
"Saya mau bantu menghilangkan rasa nyeri di area sensitifmu," sahut Galang yang kemudian menurunkan Amara pelan-pelan ke dalam bak mandi. "Gimana? Perih 'kan?" Galang nampak mencemaskan istrinya ini, dia teringat waktu pertama kali dia dan Vanila melakukannya. Saat itu Vanila merengek jika bagian sensitifnya terasa nyeri dan perih.
Menggigit bibir bawahnya seraya mengangguk malu-malu. "Se-sedikit, Mas. Tapi ini udah lumayan, kok. Enggak seperih tadi. Makasih, Mas," ucap Amara sesekali dia meringis sebab bagian bawahnya agak terasa perih saat terendam air hangat. Namun, berkat Galang juga rasa nyeri dan perih itu berangsur menghilang.
"Syukurlah." Galang mengecup kening Amara, lalu membantunya membasuh punggung mulus itu. "Sini aku bantu membersihkan ini. Setelah ini tubuhmu akan kembali pulih, Ra. Besok pagi waktu bangun tidur pasti rasanya rileks." Dengan penuh perhatian Galang menggosok pelan punggung Amara yang sudah diberi sabun.
"Mas tahu semuanya. Mas pasti dulu melakukannya sama mantan istri, Mas?"
"Dari situlah saya belajar, Ra. Kata orang, perempuan yang baru pertama kali melakukannya pasti akan merasakan nyeri dan perih. Dulu, Vanila bahkan sampai menangis." Galang menceritakan sembari mengingat kejadian kala itu, sambil tangannya terus membasuh punggung Amara.
"Mas begitu perhatian, baik, dan pengertian. Memperlakukan wanita seperti seorang ratu." Amara tak bisa menahan diri untuk memuji suaminya.
"Tapi semua itu enggak cukup baginya, Ra. Entah apa yang kurang dari saya sampai-sampai dia membalasnya dengan berkhianat."
Merasa jika perkataannya telah membuat suaminya bersedih, Amara sontak berbalik badan menghadap Galang yang duduk di pinggir bak mandi.
"Mas." Amara mendongak, menatap wajah Galang yang saat ini menyorotinya dengan penuh luka. "Maaf. Aku enggak ada maksud mengingatkan kamu soal mantan istrimu," ucapnya memegang tangan Galang, lalu meletakkannya ke pipi. Amara berusaha mengembalikan mood Galang yang mungkin terganggu dengan perkataannya.
"Enggak apa-apa, Ra. Saya udah baik-baik aja semenjak kamu hadir di hidup saya. Jadi, kamu enggak usah cemas." Galang tersentuh, Amara mencemaskan dirinya yang dia pikir bersedih karena mengingat Vanila.
"Beneran?" Amara mengerutkan kening.
"Beneran. Sekarang 'kan udah ada kamu. Vanila cuma bagian dari masa lalu saya. Saat ini cuma kamu yang ada di pikiran saya, masa sekarang dan masa depan saya," ungkap Galang yang tak pernah bosan mengumbar perasaannya. Lalu, mengecup berulang punggung tangan Amara.
"Kamu enggak mau ikut masuk ke sini?" Amara memberanikan diri bertanya demikian, dia hanya ingin menghibur suaminya dan menebus rasa bersalahnya.
Sorot mata keduanya kembali sayu dan mengartikan sesuatu yang kembali hadir. Rasa ingin mengulanginya lagi.
Sinyal dari Amara dengan mudah tertangkap oleh Galang. "Kayaknya ada yang lagi ngasih kode, nih?" godanya yang tak urung ikut masuk ke dalam bak mandi, membuat wajah Amara bersemu.
Tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, Galang kembali meraih tubuh Amara supaya mendekat. Sesuatu di bawah sana menginginkan sentuhan dari Amara. Secepat kilat, Galang memposisikan Amara di pangkuannya.
"Mas." Amara memekik saat tangan Galang mulai merajai seluruh tubuhnya lagi. Meremas apa pun yang ada di hadapannya. Pinggul, bokong, mau pun dada Amara yang membusung indah. Menggoda lelaki itu untuk menenggelamkan wajahnya di antara kedua benda sintal itu.
__ADS_1
"Eugh..." Lenguhan sensual lolos dari bibir Amara kala bibir Galang yang nakal kembali beraksi, menjilat, lalu mencerup bergantian tanpa permisi. "Mas... pelan-pelan." Telapak tangan Amara meremat rambut Galang menyalurkan kenikmatan yang tiada tara. Dirinya lagi-lagi tenggelam dalam kubangan gairah dan hasrat duda baru ini.
Galang memperlakukannya dengan lembut, mencumbunya tiada henti, menimbulkan sensasi yang membuat Amara merasa ketagihan dan ingin merasakannya sekali lagi. Sentuhan Galang seakan menjadi candu.
"Kamu indah, Amara. Sangat. Aku menyukai ini dan ini." Galang tak segan memuji ukuran dada Amara yang menurutnya sangat pas di telapak tangannya yang besar. "Dan ini." Mengusap milik Amara di bawah sana seraya mengulum bibir manis yang seketika mendesah nikmat.
"Sshhh...." Kewarasan Amara kembali terombang-ambing dengan permainan jari Galang di bawah sana. "Mas... sshhh..." Tubuhnya melengkung indah ketika gelombang kenikmatan kembali menggulungnya tanpa ampun. Amara lemas setelah mencapai pelepasannya untuk yang kesekian kali. Dia menopangkan dagunya di pundak kokoh Galang yang tersenyum puas.
"Amara...." Galang mengelus punggung basah Amara. "Giliran kamu," bisiknya parau.
"Apa?" Amara menarik wajahnya menjauh guna menatap Galang. Alisnya menaut tak mengerti.
"Nanti saya akan menuntunmu. Sebentar." Galang mengangkat pinggul Amara, dan mengarahkan miliknya masuk ke milik Amara.
"Sshh...Mas." Seketika Amara mendesis, milik Galang tenggelam ke dalam miliknya yang berdenyut di bawah sana.
Ini gila! Sungguh! Amara tak pernah membayangkan akan bercinta di dalam bak mandi seperti ini di tengah malam bersama lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya. Galang menuntunnya bergerak perlahan naik turun, sesekali tangannya yang nakal bermain-main di dada Amara.
"Amara... sshh...." Galang melenguh, mencumbu bibir Amara yang sibuk bergerak naik turun di atas pahanya. Air di dalam bak mandi bahkan ikut bergerak dan meluber ke lantai. "Ra..."
Telinga Amara sangat suka saat Galang menyebut namanya dengan suaranya yang khas. Amara terus bergerak mengikuti sesuai arahan Galang. Gairahnya seketika kembali bangkit, dan secara naluriah dia menciumi rahang tegas Galang yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Mas... aku... sshh...."
"Ayo, Ra. Kamu pasti bisa." Galang berbisik lirih, menjilat dan mengulum telinga Amara yang kini semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
"Sshhh...."
"Amara.... ayo, Ra."
"Mas....sshh...."
Suara-suara ******* menggema di seluruh ruangan kamar mandi. Dan menjadi saksi bagi kedua insan itu kembali melebur menjadi satu di dalam bak mandi. Galang dan Amara sama-sama mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.
###
__ADS_1
bersambung...
Panas woi! Panas!๐๐