
~AMARA VS VANILA.
####
"Kamu cantik, Ra, pakai baju ini." Galang memuji Amara yang menurutnya terlihat sangat cantik dengan pakaian yang baru saja dibelikannya kemarin sore. Blouse berwarna putih tulang dengan dilapisi blazer berlengan panjang berwarna senada, untuk bawahannya rok span pendek sebatas lutut menjadi penyempurna tampilan Amara.
"Menurutku ini berlebihan, Mas. Aku enggak biasa pakai beginian." Amara merasa sedikit canggung lantaran baru pertama kali memakai pakaian mahal dan bermerek. Dia juga merasa jika ini sangat berlebihan untuk ukuran seorang sekretaris.
"Siapa bilang? Kamu cocok, Ra. Aku suka," sergah Galang menampik pemikiran istrinya yang polos ini. Lalu, perlahan dirinya memutar tubuh Amara supaya menghadap ke cermin. "Tuh, cantik 'kan?" imbuhnya lagi sambil menatap pantulan dirinya dan Amara di cermin.
"Tapi, Mas. Aku enggak biasa pakai baju kayak gini." Amara masih saja cemas. Memang tak ada yang aneh dengan baju yang dia pakai, hanya saja menatap dirinya sendiri di cermin rasanya sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang dulu.
Tatapan keduanya bertemu di cermin. Masih seperti biasa, Galang menatapnya dengan tatapan memuja. Penampilan mereka sungguh sangat serasi, Galang dengan jas berwarna Navy nampak lebih muda dari usianya.
"Percayalah. Kamu sangat cantik, Amara. Andai saja hari ini enggak banyak kerjaan, saya akan lebih memilih mengurungmu di kamar ini, ketimbang berkeliaran di luaran sana. Membiarkan paras cantikmu dinikmati oleh banyak pria. Saya benar-benar enggak rela, Ra." Galang mengecupi pipi Amara berulang-ulang.
Dia terpaksa membolehkan Amara untuk bekerja dan membantunya di kantor, sebab belum menemukan pengganti yang cocok. Alasan lainnya adalah agar dia bisa bersama terus dengan Amara.
Dengan lembut, Amara mengelus lengan Galang yang mengungkungnya dari belakang. Setiap perkataan yang diucapkan lelaki ini selalu mampu membuat Amara merasa besar kepala lantaran terlalu dipuja. Perlakuannya, sikapnya, perhatiannya. Galang tak pernah sedetik pun tidak memujinya.
Lantas, apa yang sudah dia berikan untuk suaminya ini? Sementara hatinya masih berusaha meraba-raba dan menelaah setiap debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan suaminya.
"Ya udah, ayo berangkat, Mas. Ini udah siang. Kita langsung ke pengadilan 'kan?" Amara tak ingin larut dalam percikan gairah yang sengaja disulut oleh suaminya ini.
Galang mendesah berat, sejak di ruangan makan tadi hasratnya sudah membara di bawah sana. Namun, karena tuntutan pekerjaan, dia tidak bisa menyalurkan itu semua untuk saat ini.
"Kamu tahu, Ra. Nahan ereksi itu rasanya sangat sakit," bisiknya sebelum dia melepaskan tubuh Amara dari kungkungannya. Raut wajahnya masam dan itu sukses mengundang tawa bagi Amara.
__ADS_1
"Kan kita lagi buru-buru, Mas. Itunya bisa ditunda dulu 'kan, ya? Sabar Mas. Delapan jam bukan waktu yang lama." Amara cekikikan, berusaha menghibur lelakinya ini yang sudah terlihat seperti macan kelaparan.
"Ck!" Decakan meluncur dari mulut Galang, kesal lantaran harus menunggu selama itu hanya untuk menyalurkan hasratnya. "Ayo."
Pada akhirnya Galang memilih bersabar saja dan cepat-cepat menuju pengadilan. Pasalnya, hari ini adalah jadwal sidang terakhir perceraiannya dengan Vanila. Mereka keluar dari kamar dengan bergandengan tangan, menuruni tangga satu persatu, lalu menuju pintu utama.
_
_
Sidang perceraian Galang dan Vanila akhirnya telah berakhir. Keduanya kini telah resmi bercerai. Vanila yang tak banyak menuntut ini itu mempermudah jalan sidang. Kompensasi yang diberikan mantan suaminya sudah melebihi dari cukup. Rumah, mobil, dan tunjangan setiap bulannya sudah terpenuhi.
Namun, yang membuat wanita itu kesal ialah mengapa Amara harus ikut hadir ke persidangan perceraiannya. Dadanya terasa panas tiap kali melihat mantan suaminya memperlakukan Amara seperti ratu. Ada rasa iri terselip di hatinya saat ini, harusnya dialah yang berada di posisi Amara, tetapi malah justru sebaliknya.
'Perempuan itu bener-bener bikin aku kesel! Mas Galang kayaknya udah tergila-gila sama dia. Cih!'
"Mas." Tanpa tahu malu dia memeluk Galang di depan Amara. "Aku enggak pernah menyangka kalo kita bakal berpisah dan bercerai. Aku masih sayang kamu, Mas." Vanila berujar dengan mimik muka dibuat-buat dan sesekali melirik sinis ke arah Amara yang menatapnya.
'Huh! Rasain! Emang kamu aja yang bisa mana-manasin aku?' Vanila terlihat puas melihat Amara seperti tengah menahan cemburu.
Merasa ada yang janggal, Galang dengan cepat menjauhkan tubuh Vanila. "Van. Cukup," ucapnya seraya melirik Amara yang tak bergeming di sisinya. "simpen air mata kamu itu. Aku udah enggak peduli sama kamu. Ingat! Jangan ganggu lagi kehidupanku, karena aku udah kasih semua yang kamu mau." Ucapan Galang terdengar begitu tegas, sorot mata yang dulu penuh cinta telah berubah menjadi rasa benci.
Semua sifat Vanila dia sudah hapal di luar kepala. Karena itu dia sengaja mengajak Amara untuk menemaninya, agar mantan istrinya itu tahu jika dia bisa mendapatkan yang lebih baik.
Tawa sumbang lolos dari mulut Vanila. Memandang remeh Amara, lantas berkata, "Selamat! Karena kamu udah berhasil merebut suami saya! Jangan kamu pikir kamu udah menang!" Telunjuknya mengacung tepat di muka Amara. Melampiaskan kekesalannya terhadap Galang kepada Amara.
"Maaf... Anda bilang apa? Saya? Saya merebut suami Anda?" Amara menyingkirkan telunjuk Vanila dari hadapannya. Sorot matanya begitu tajam, Galang bahkan tak percaya jika Amara bisa bersikap demikian. "Asal Anda tahu, semua orang di sini pun tahu, kalau Anda yang sudah berkhianat! Anda selingkuh di belakang Mas Galang. Jadi, Anda sekarang menyalahkan saya karena suami Anda lebih memilih saya? Iya? Heuh! Apa Anda berpikir dua kali saat Anda memutuskan untuk menghianati suami Anda? Enggak 'kan?" Dengan penuh percaya diri Amara mengamit lengan Galang. Seolah dia ingin Vanila tahu jika sekarang Galang adalah miliknya.
__ADS_1
"... saya tegaskan! Sekarang saya adalah istri sah dari Mas Galang. Sedangkan Anda hanya mantan istri. Jadi, jaga batasan Anda, jangan asal main peluk suami orang. Ngerti?" Amara seolah melampiaskan kecemburuannya pada saat dia melihat Vanila memeluk suaminya.
Perempuan yang dikenal lemah lembut itu seketika berubah menjadi kucing liar yang tak terima melihat miliknya di sentuh kucing jalanan macam Vanila. Ck!
Amara cemburu?
"Kamu! Kurang ajar!" Vanila hampir melayangkan tangannya ke pipi Amara, tetapi Galang terlebih dahulu menahannya. "Mas! Dia udah ngehina aku!" Jelas Vanila terkejut, Galang tak membelanya sama sekali.
"Cukup, Van!" bentak Galang, menghempaskan tangan Vanila dengan kasar. "Kamu yang mulai! Kamu yang duluan merendahkan Amara! Kamu yang seharusnya diam! Dia istriku. Dia juga jauh lebih baik dibandingin kamu. Jadi, sebelum semuanya semakin memburuk, lebih baik kamu pergi dari sini. Kamu enggak malu semua orang ngeliatin kamu?"
Vanila mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan benar saja dirinya kini tengah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.
"Heuh!"
Lalu, dia pun memilih untuk pergi dari sana, ketimbang harus jadi bahan gunjingan semua orang. Kesempatan untuk merebut hati Galang dirasa sudah tidak mungkin. Vanila benci Amara.
###
bersambung....
***
Masih sepi...kalian belum pada mampir ya🤧
Makasih yg udah mampir 🙏🤗
__ADS_1