
~FANTASI GALANG
###
Hola! Adegan dewasa ya say.... Jangan baper dan yang ga suka boleh skip!π€£ Selamat berfantasi bersama Galang dan Amara,,π
@@@
"Hem, mungkin." Amara terkikik. Cemburu? Apa benar jika dia merasa cemburu?
"Saya cinta kamu, Amara. Saya pernah ngalamin patah hati dan itu rasanya sangat sakit. Saya enggak mau kejadian itu terulang lagi. Dikhianati dan diselingkuhi." Galang berucap seraya membuka kancing blazer Amara satu persatu. Meloloskannya perlahan-lahan, kemudian melemparnya begitu saja.
Ucapan Galang terdengar tulus di telinga Amara hingga menimbulkan getaran dan debaran aneh itu lagi. "Enggak, Mas. Mas jangan takut. Hal itu enggak akan terjadi lagi. Mas laki-laki baik. Mas pantas dicintai." Amara mulai merasakan telapak tangan Galang menelusup ke dalam blouse dan mengelus punggungnya. Hangat dan nyaman.
"Apa aku bisa mendapatkan itu darimu?" Galang mendorong pelan tubuh Amara, hingga istrinya bersandar ke tembok. Dia berhasil membuka pengait di dalam sana, lalu tersenyum miring ketika dada Amara bebas dari penutupnya.
"Mas...." Amara mendesah kala tangan nakal suaminya memainkan puncak dadanya di balik blouse. Wajahnya menengadah menatap wajah Galang dengan mata berselimut kabut gairah.
Tanpa permisi, Galang segera meraup bibir menggoda nan ranum itu. Menyesap dan merasainya atas bawah tanpa jeda. Manis. Bibir Amara terasa sangat manis saat membalas pagutannya sementara jemarinya masih bermain-main dengan puncak kenyal dan mengeras itu. Tangannya yang lain perlahan mengangkat tubuh mungil Amara, menggendongnya macam bayi koala. Punggung Amara masih bersandar di tembok, dengan posisi yang sudah berada di gendongan Galang.
Lama keduanya saling memagut mesra, kini kedua tangan Amara pun telah melingkar di pundak Galang. Bibir mereka bertaut tanpa jeda, semakin menyulut api gairah di hari menjelang malam itu. Ya, langit di luar sana mulai menggelap, pertanda malam akan segera datang.
Lantaran pasokan oksigen yang mulai menipis, Amara terpaksa melepas tautan bibirnya.
"Mas." Napasnya memburu, dadanya naik turun. "Napasku mulai abis," cicit Amara memukul pelan dada suaminya.
Galang terkekeh, lantas mengecup kening istrinya yang berantakan akibat ulahnya. "Mau kuajari gaya bercinta yang ekstrim?"
"Hah?" Amara melongo mendengar kata frontal barusan. "Mas, turunin aku dulu. Kamu pasti pegel gendong aku kayak gini."
"Enggak. Tubuhmu ini ringan. Seringan kapas." Galang meloloskan blouse dari atas kepala Amara, sang empunya melotot tak percaya, bisa-bisanya dia tidak sadar jika suaminya ini bergerak cepat.
"Mas!" pekik Amara, yang malu sebab Galang menatapnya dengan tatapan lapar. Dia refleks menyilangkan tangan ke dadanya yang sudah polos. Kini dia sudah setengah telanjang di gendongan Galang.
__ADS_1
"Enggak usah ditutupin, Ra. Ngapain malu? Toh, saya udah liat dan udah ngerasain juga," goda Galang sembari membuka tangan Amara, lalu mengangkatnya ke atas kepala. "Cantik, Ra. Saya suka." Galang mencium bergantian dada yang menggantung indah itu.
"Mas." Amara bergerak resah, di bawah sana nampaknya mulai menginginkan lebih.
Tak menunggu lama lagi, Galang mulai melancarkan aksinya, mencumbu istrinya dengan kecupan-kecupan basah dan memabukkan. Telinga, lekuk leher, dan tulang selangka tak luput dari bibirnya.
"Masss...." Amara terbuai, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan lembut yang sukses membuatnya kepayang.
Galang menghentikan sejenak kegiatannya, dia menurunkan Amara, lalu menyingkap rok span istrinya hingga sebatas pinggang. Menurunkan kain segitiga yang tersisa melewati kaki Amara yang masih mengenakan heels.
Amara hanya menurut apa yang hendak dilakukan suaminya itu. Matanya tak berkedip sedikit pun kala dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus terpampang jelas. Galang membuka kemeja dan celananya dengan gerakan menggoda.
"Buka ini, Ra." Dia menuntun tangan Amara supaya membuka kain terakhir yang melekat di pusat tubuhnya.
Membola seraya menelan ludah. "I--ini? A-aku buka ini?" tanya Amara, lututnya terasa lemas seiring tubuhnya yang menggigil saat tangannya membuka kain itu. Dia tidak berani melihat ke bawah sana, di mana pusat tubuh suaminya berdiri tegak sempurna.
Galang tersenyum miring, sikap Amara membuatnya gemas dan tak tahan ingin segera mengungkungnya.
"Mas!" Amara memekik, Galang menggendongnya lagi seperti tadi. "K-kamu ... mmpptttβ"
Sang empunya mendesah nikmat kala dengan lihai Galang mengobrak-ngabrik kewarasannya lewat sentuhan lembut itu.
"Lepasin, Ra... Lepasin." Galang tahu jika istrinya hampir tiba, dia semakin mempercepat gerakan jarinya di antara sela-sela paha Amara yang melingkar di pinggangnya.
"Eugh ...Mas...." Tubuh Amara menggelinjang seiring sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya, hangat dan nikmat. Tenaganya seketika terkuras, lemas dan terengah-engah. Pelepasan pertama yang rasanya sungguh luar biasa. "Kamu gila, Mas. Kamu selalu bikin aku ketagihan."
"Benarkah?" Galang tersenyum bangga, dipuji oleh istrinya. "Mau lagi, hem?"
"Mas, aku capek. Punggungku juga sakit."
"Kita pindah." Galang menggendong Amara yang terlihat seperti bayi koala. Membawanya masuk ke kamar mandi.
Amara diam dan pasrah dengan perlakuan suaminya yang kini menyalakan kran shower hingga membuat tubuh mereka basah.
__ADS_1
"Mas, mau ngapain lagi?" tanya Amara kepada Galang yang terlihat sangat tampan di bawah kucuran air shower. "Kamu ganteng, Mas," celetuknya yang langsung disambut sebuah ciuman.
"Kamu juga cantik, Ra."
Pelan-pelan Galang menurunkan tubuh Amara dari gendongan, mencium sekilas bibir menggigil itu. Lantas, menekuk kakinya, berjongkok di bawah perut rata Amara seraya meloloskan rok span yang tersisa dan melepas heels Amara.
"Mas, mau ngapain?" Kucuran air shower menenggelamkan suara Amara. Dia menatap suaminya yang mendongak sambil tersenyum tipis.
"Nanti kamu juga tahu. Cukup diam dan nikmati."
Galang mengangkat satu kaki Amara, menaruhnya di atas pundak, lalu memosisikan wajahnya tepat di tengah-tengah antara pangkal paha istrinya. Mencerukkan wajahnya semakin mendekat, kemudian menyapu lembut kelopak merekah itu dengan lidahnya. Amara membeliak, antara terkejut sekaligus terperangah. Posisi Galang saat ini menurutnya melebihi ekspektasi. Liar dan nakal, tetapi dia sangat menyukai ini.
Lidah Galang membelai dan memainkan putik kemerahan miliknya dengan rakus, sesekali dia menghisap dan mencerupnya dalam-dalam.
"Mas ... euhhh .... Mas ...." Jemari Amara refleks menjambak rambut Galang, rasa nikmat yang diciptakan suaminya seketika membuat kepalanya pening. Wajahnya menengadah, kucuran air shower menyambutnya, kian menambah kenikmatan yang terus dipersembahkan Galang di bawah sana.
"Eugh ... Mas ...." Amara sungguh tak bisa berkata-kata, gaya bercinta seperti ini tak pernah terlintas di benaknya. Fantasi Galang membuat Amara berpikir jika suaminya benar-benar lihai memanjakan dirinya. "Eughh ...." Lenguhan panjang lolos dari bibir Amara seketika itu juga, dia meraih pelepasan untuk kedua kalinya.
Galang berdiri, lalu menatap wajah Amara yang masih menikmati sisa-sisa pelepasannya.
"Suka?"
"Hem." Amara tersipu, tak dipungkiri jika yang barusan itu luar biasa nikmat. "Apa yang bisa aku lakuin buat bales kamu, Mas? Kamu nakal!" Tangannya membelai dada bidang Galang, mengusapnya lembut, lalu mengecupnya.
"Terserah kamu, Ra." Galang tersenyum saat Amara mulai berani menyusuri rahangnya dengan telunjuk. Kecantikan Amara berkali-kali lipat di bawah kucuran shower.
"Bisa bantu aku? Aku belum paham, Mas, bagaimana cara menyenangkan pasangan."
"Tentu. Saya akan membimbingmu sampai kamu pintar dan lihai." Diraihnya tangan Amara yang bermain-main di dadanya, lalu pelan-pelan menuntunnya supaya memegang pusat tubuhnya yang sejak tadi menegang. "Dia udah enggak sabar pengen dipuasin," bisiknya sensual, membuat Amara seketika menelan ludah.
###
bersambung ...
__ADS_1
Kaboooorrr ππΌββοΈππΌββοΈππΌββοΈππΌββοΈ