Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
100. Tiket Liburan


__ADS_3

Pagi itu Santi tampak senang sekali saat melihat meja makan yang biasanya diduduki oleh tiga orang, kini bertambah satu menjadi empat orang. Terbiasa dengan jumlah orang yang sedikit membuatnya sangat bahagia saat ada yang bergabung dalam keluarganya.


Jika saja saat itu dia tidak divonis oleh dokter untuk tidak memiliki anak lagi, mungkin saat ini rumahnya akan ramai dengan anak-anaknya yang menemaninya sarapan ataupun makan malam. Namun takdir tak membuatnya sampai ke sana, dan dia pun tidak mungkin menyesali apa yang telah terjadi. 


"Bagaimana Alina, apa makanannya enak?" tanya Santi di sela makannya. 


Alina yang ditanya pun meletakkan peralatan makannya ke atas piring dan menatap ke arah mertuanya itu dengan tersenyum.


"Enak, Ma. Oh ya, boleh nggak kapan-kapan Alina memasak di sini?" tanya Alina meminta izin.


"Memasak? Kamu bisa memasak, Sayang 


?" tanya Santi. Setahunya Alina pernah mengatakan jika dirinya tidak bisa memasak.


"Maksudnya, Alina mau belajar memasak dengan pelayan di sini, Ma. Alina dan Rico 'kan nggak akan lama tinggal di sini, saat kami mempunyai rumah sendiri, nggak mungkin Rico terus-terusan memakan makanan di luar. Jadi Alina berinisiatif untuk memasak untuk sarapan ataupun makan malam kita."


"Kenapa kamu tiba-tiba berpikir seperti itu, Sayang? Bukankah kalian cukup mempekerjakan seorang juru masak saja. Kamu dan Rico 'kan sama-sama sibuk bekerja, apa nggak repot kalau kamu harus memasak juga di rumah?" tanya Santi. 


Alina merupakan seorang wanita karir dan Santi tahu betapa rumitnya menjadi pekerja dan ibu rumah tangga sekaligus. Dia takut Alina akan keteteran dengan pekerjaan rumah atau kantornya yang akan membuatnya kerepotan sendiri.


"Untuk saat ini mungkin Alina akan mempekerjakan beberapa pelayanan di rumah, Ma. Tapi setelah Alina memiliki satu orang anak, Alina sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Alina ingin fokus mengurus anak-anak Alina saja, Ma, karena Alina nggak mau menyewa pekerja untuk mengurus anak Alina. Alina ingin merasakan serunya mengurus anak."


Alina menatap ke arah Rico dan tersenyum kepadanya. Mereka memang sudah membicarakan ini sebelumnya, Alina memang akan terus bekerja sampai dia memiliki anak dan saat dia sudah memiliki anak, dia akan memutuskan untuk berhenti bekerja.


Rico pun tidak masalah dengan hal itu, dia tidak mau membebankan istrinya dengan begitu banyak pekerjaan di kantor ataupun di rumah. Dia akan mendukung bagaimanapun keputusan istrinya, selagi itu tidak membuat istrinya terlalu lelah. 


"Iya, Ma, kita sudah membicarakan hal ini dengan matang. Rico nggak masalah dengan keputusan Alina selagi itu nggak memberatkannya."


Mendengar perkataan anak dan menantunya, Santi dan Irfan pun tersenyum mengiyakan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, nanti kita atur waktu saja ya. Kalau Alina nggak sibuk, kita bisa mulai belajar memasak di sini. Sepertinya Mama juga mau belajar memasak deh." 


Irfan terlihat kaget mendengar perkataan istrinya. Apa dia tidak salah dengar? Istrinya mau belajar memasak? 


"Mama mau belajar memasak?" tanya Irfan dengan tak percaya.


"Ya. Selama ini Papa nggak pernah memakan masakan mama, jadi apa salahnya kalau Mama ingin memasak untuk Papa."


"Wah, kalau begitu Papa sudah nggak sabar mau mencicipi masakan Mama."


"Jangan kaget ya dengan rasanya kalau nggak enak," ucap Santi dengan tersenyum geli.


"Tenang saja, apapun yang Mama masak akan Papa makan, meski warnanya hitam sekalipun," ucap Irfan dengan diakhiri kekehan.


Mereka yang ada di meja makan pun ikut terkekeh mendengar itu.


Begitu sarapan selesai, Irfan dan Santi mengajak kedua anaknya itu untuk duduk di ruang keluarga. Hal itu membuat Rico dan Alina bingung karena menurut Rico, kedua orang tuanya itu hendak mengajaknya pergi, namun sampai pukul 07.30 pun mereka masih berada di rumah.


"Siapa yang mau pergi?" tanya Santi.


"Kemarin Papa bilang sebelum pukul tujuh kita sudah harus bersiap, tapi sekarang sudah jam tujuh lewat loh dan kita masih di rumah."


Irfan dan Santi tersenyum penuh arti, membuat Alina dan Rico heran menatapnya.


"Sayang, kita menyuruh kalian bersiap sebelum jam 07.00 bukan karena ingin mengajak kalian pergi, tapi ada sesuatu yang ingin kami berikan kepada kalian."


Rico mengernyitkan keningnya.


"Apa itu, Pa?" tanya Rico penasaran.

__ADS_1


Saat itu seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan sebuah amplop berwarna putih kepada Irfan. Dan saat itu Irfan pun memberikan amplop tersebut kepada putranya tanpa mengatakan apapun.


Rico menerima amplop itu dengan penasaran, apa yang disiapkan oleh kedua orang tuanya itu, pikirnya.


"Bukalah," ucap Irfan saat melihat putranya itu hanya memegang amplop tersebut.


Rico dan Alina saling tatap sejenak sebelum amplop itu dibuka. Dan saat amplop berhasil dibuka, mereka sangat terkejut saat melihat tiket pesawat yang ada di dalamnya.


"Tiket pesawat?" ucap Rico dengan heran. Dia menatap ke arah kedua orang tuanya dengan tak mengerti. 


"Papa sudah mengurus cuti kalian berdua selama satu bulan. Jangan pikirkan pekerjaan dan fokuslah kepada honeymoon kalian. Mama mau saat kalian pulang ke sini, kalian memberi kabar gembira untuk kami semua."


Rico dan Alina yang masih tak percaya dengan hal itu lantas saling tatap. Honeymoon selama 1 bulan? Yang benar saja. Satu bulan adalah waktu yang cukup lama, sementara mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan dengan waktu yang cukup lama tersebut. 


Sebelum ini mereka juga sudah memutuskan akan honeymoon selama 2 minggu, namun siapa sangka jika kedua orang tua mereka telah memberikan hadiah liburan dengan waktu dua kali lipat untuk mereka menikmati waktu liburan pernikahannya. 


"Ma, Pa, kenapa satu bulan? Bukan itu terlalu lama?" tanya Alina dengan heran. 


"Untuk kali ini Mama minta jangan protes ya, Sayang. Terima dan nikmati apa yang telah kami persiapkan. Untuk urusan pekerjaan, semua sudah ada yang menghandlenya. Kalian nggak perlu khawatir."


"Ma, Pa, terima kasih atas semua yang telah kalian berikan kepada kami. Rico benar-benar nggak tahu harus bagaimana lagi untuk membalas semua ini."


Perkataan Rico tersebut membuat semua yang ada di sana terkejut. Ini untuk pertama kalinya saat Rico mendapatkan kejutan dan pria itu tak memprotesnya. Dia terlihat menerima dengan raut bahagia dan hal itu sangat berbanding terbalik dari ekspresinya saat mendapatkan hadiah besar dari kedua orang tua angkatnya itu yang berupa warisan keluarga Renaldi ataupun kejutan lainnya yang berusaha dia tolak. 


Santi dan Irfan pun sangat senang melihat putranya yang tidak menolak pemberiannya, terkhusus Santi, dia sangat bahagia karena Rico mau menerima apa yang telah dia berikan. 


Ternyata memang benar jika kita memberikan sesuatu untuk seseorang dan seseorang itu menerimanya dengan merawat bahagia, maka kebahagiaan itu akan sampai kepada yang memberi, bahkan jauh berkali-kali lipat rasa bahagianya. Kini Santi merasakan hal itu, bahagia berkali-kali lipat dari apa yang Rico rasakan.


"Sebaiknya kalian segera bersiap. Pesawat kalian akan berangkat tiga jam lagi."

__ADS_1


Mendengar perkataan Irfan tersebut, Alina dan Rico pun sangat terkejut dibuatnya. Tiga jam lagi?


__ADS_2