Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
47. Rencana Liburan?


__ADS_3

Setelah selesai dengan makan siangnya dan sejenak mengistirahatkan perutnya, barulah Rico mengajak Alina untuk segera pulang. Dia juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan kantor karena satu jam lagi ada meeting.


"Makasih banyak ya, Bibi, atas makan siangnya. Alina senang banget sudah diundang ke sini," ucap Alina kepada Santi.


Mereka kini sedang berjalan keluar rumah untuk mengantar Alina dan Rico yang akan pergi.


"Sama-sama, Sayang. Oh ya, Bibi baru ingat. abang kamu masih di sini 'kan, Al?" tanya Santi yang saat itu tiba-tiba saja teringat akan abang Alina yang ditemuinya di apartemen beberapa bulan lalu.


"Masih, Bi."


"Kenapa tadi nggak diajak lunch bareng aja, Al?"


"Em, bang Fian lagi sibuk, Bi. Nanti kapan-kapan Alina ajak deh."


"Baiklah, Sayang. Yasudah, kalian hati-hati di jalan ya," ucap Santai saat mereka sudah berada di teras rumah.


"Bang, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya. Hati-hati saja asal selamat," ucapnya kemudian kepada sang putra.


Rico mengiyakan perkataan mamanya. Setelah berpamitan, Rico segera mengajak Alina masuk kedalam mobil dan dia langsung melajukan mobilnya keluar dari kediaman keluarganya itu.


...**...


Malam hari setelah pulang dari restoran, Alina tampak berbaring diatas kasur empuknya sembari menikmati kesegaran dari masker wajah yang tengah dipakainya. Dengan ditemani suara musik klasik yang diputar, hampir saja Alina terlelap jika saja dering panggilan suara tidak masuk ke ponselnya.


Alina membuka matanya dengan malas, saat melihat nama Rena yang tertera pada layar ponselnya, dia segera menjawab panggilan wanita itu.


"Ya, Ren?" seru Alina tanpa mengubah posisi nyamannya.


"Kamu sudah tidur?" tanya Rena di seberang sana. Mendengar suara Alina yang tak bersemangat, membuatnya mengira jika dia telah mengganggu waktu tidur Alina.


"Belum kok. Ada apa?"


"Al, besok kita shopping yuk. Kita 'kan minggu depan akan liburan, jadi kita harus mempersiapkannya dari sekarang."


"Boleh deh. Nanti kabari lagi saja ya besok."


"Oke. Sampai bertemu besok."

__ADS_1


Setelah menyahuti ucapan terakhir Rena, Alina segera menutup panggilannya. Dia hendak memejamkan kembali matanya, namun otaknya memaksa untuk segera beranjak dari sana dan membersihkan mukanya dari masker yang sedang dipakai sebelum tidur.


...*...


Siang hari Alina sudah bersiap untuk pergi shopping bersama Rena. Sejak satu jam lalu Rena mengatakan jika dia akan segera menjemputnya, namun sampai saat ini wanita itu belum juga ada kabarnya.


Alina yang sudah bosan menunggu lantas segera menghubungi Rena, namun sayangnya wanita itu tak menjawab panggilannya. Alina merebahkan tubuhnya di atas sofa dan saat itu juga ponselnya berdering. Sebuah panggilan suara dari Rena dia dapatkan dan langsung Alina jawab sembari bangkit dari rebahannya. Dia pikir Rena sudah ada di bawah, namun ternyata tidak.


"Maaf banget ya, Al, aku lupa kalau siang ini ada meeting bersama klien dari luar kota. Gimana kalau nanti sore saja? Setelah pulang kerja aku langsung ke apartemen kamu deh, oke?"


Alina menghela nafasnya, sudah jenuh menunggu tapi ternyata tidak jadi. Namun dia juga tidak bisa apa-apa selain mengiyakannya dan kembali menunggu untuk sore hari nanti.


Karena tidak memiliki kegiatan apapun, Alina mengganti pakaiannya dan menyisakan tanktop dan celana pendek di tubuhnya. Dia yang sudah mulai mengantuk memilih untuk tidur daripada memikirkan kekesalannya atas Rena yang membatalkan janji dengan dadakan seperti ini.


Tiga jam kemudian…


Alina terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ponselnya yang berdering dengan sangat nyaring. Dia meraih benda pipih tersebut dan saat melihat nama Rena yang tertera pada layar ponselnya, Alina segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Ren?"


"Al, kamu baru bangun tidur ya?" tanya Rena di seberang sana saat mendengar suara serak khas bangun tidur itu.


"Kita mau shopping, Al. Kamu nggak lupa, 'kan?"


Alina terdiam sejenak mendengar perkataan Rena. Oke, dia baru ingat jika sore ini mereka akan belanja untuk prepare liburan minggu depan. Karena kesadaran Alina belum terkumpul sepenuhnya, jadi dia hanya mengiyakan dengan santai ucapan Rena. Dia pikir juga Rena masih di kantor atau baru jalan, jadi dia santai saja. Namun saat Rena mengatakan jika dirinya sudah stay di bawah sejak lima menit lalu, saat itu juga Alina melebarkan matanya dengan terkejut.  Cepat sekali, pikirnya.


"Em, sorry banget, Ren. Aku lupa menyetel alarm. Kamu naik dulu ya, aku mandi sebentar oke."


Setelah Rena mengiyakan, Alina segera menutup panggilannya. Begitu melihat waktu telah menunjukkan pukul lima lewat, dia langsung menghela nafasnya.


"Aisshh, ini mah bukan dia yang terlalu cepat datangnya, tapi aku yang keenakan tidur," gumamnya sembari melempar ponsel ke atas kasur, kemudian berlari ke kamar mandi.


Di bawah sana, Rena yang mengetahui jika Alina baru saja hendak mandi lantas memarkirkan mobilnya. Dia naik ke lantai 10 di mana lantai apartemen Alina berada. Setiba di sana, Rena langsung masuk dengan pin yang sudah diberitahu Alina sebelumnya. Dia masuk ke dalam dan mendudukkan tubuhnya di sofa depan tv. Sambil menunggu Alina, Rena menyalakan tv untuk mengisi kekosongannya.


Baru saja menikmati tayangan tv yang berupa film kartun, suara bel pada pintu masuk berbunyi. Karena hanya ada dia di ruang tamu itu, Rena segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Namun sebelum membuka pintu, dia mengintip terlebih dahulu melalui lubang kecil yang ada di tengah-tengah pintu tersebut. Saat melihat sosok Alfian yang datang, Rena langsung membuka pintu dan mempersilahkannya masuk.


"Alina mana?" tanya Alfian saat Rena sudah menutup pintu.

__ADS_1


"Lagi mandi."


"Kalian mau keluar?" tanya Alfian lagi. Dia mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan diikuti dengan Rena yang juga mendudukkan tubuhnya di ujung sofa.


"Kita mau belanja untuk persiapan liburan nanti."


"Liburan?" tanya Alfian dengan menatap ke arah Rena.


"Iya, liburan," ucap Rena dengan raut bingung. Dia bingung karena melihat reaksi Alfian yang seperti terkejut itu. Apa jangan-jangan Alina belum memberitahu abangnya mengenai rencana liburan mereka?


"Kapan dan siapa saja?" tanya Alfian.


"Minggu depan bersama Rico dan Andi. Memangnya Abang belum tahu?" tanya Rena dengan penasaran.


"Saya sudah dua hari nggak kesini, mungkin Alina juga lupa memberitahu."


Mendengar ucapan Alfian, Rena langsung menganggukkan kepalanya. Lagi pula mereka baru memutuskan untuk berlibur di minggu depan sekitar dua hari lalu, jadi wajar saja jika Alina belum memberitahu abangnya itu.


Tak lama dari itu Alina terlihat menuruni anak tangga. Dia tidak terkejut lagi melihat Rena yang ada di ruang tamunya, namun untuk Alfian … dia cukup terkejut karena abangnya itu tidak memberi kabar jika akan berkunjung.


"Abang kenapa nggak nelpon dulu kalau mau kesini? Alina baru saja mau keluar sama Rena," ucap Alina setiba di hadapan abangnya dan juga Rena.


"Abang dari kantor, jadi sekalian saja mampir untuk melihat keadaan kamu. Kalian sudah mau pergi?" tanya Alfian dan langsung diiyakan Alina.


"Yasudah, ayo bareng-bareng ke bawah. Abang juga mau pulang."


Sebenarnya Alfian ingin menanyakan kepada Alina langsung tentang rencana liburan adiknya itu. Dia cukup terkejut mendengar jika Alina akan pergi berlibur dengan seorang pria. Meski tak hanya berdua, tapi mereka seolah sedang melakukan double date pada acaranya tersebut. Dia hanya penasaran kenapa Alina tidak memberitahunya akan hal ini.


Namun karena tak enak menanyakannya di depan Rena, jadi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya sekarang. Sebaiknya nanti malam saja dia menelpon Alina atau menemuinya besok. Mungkin saja Alina benar-benar hanya lupa dan tak ada niatan untuk menutupi rencana liburannya ini darinya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2