Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
73. Pertanyaan Santi


__ADS_3

"Kak Thomas, Zara?" ucap Santi yang lebih dulu bersuara.


"Thomas?" Kini Irfan pun ikut bersuara dengan tatapan tak percayanya.


"Astaga, Santi, Irfan?" Thomas dan Zara tak kalah terkejutnya dengan kehadiran orang tua Rico itu yang tak lain adalah teman lama mereka.


Mereka berjalan saling mendekat, dan kemudian saling peluk antara Thomas dan Irfan, serta Santi dan Zara. Cukup lama mereka dengan pelukannya untuk melepas rasa rindu yang telah lama tak berjumpa ataupun berkabar. Hingga hampir dua menit pelukan itu, kini mereka melepas pelukannya. Saat itu bergantian Santi memeluk Thomas, kakak angkatnya yang sangat berjasa selama dia bersekolah dulu. Sementara Irfan dan Zara hanya berjabat tangan saja karena memang mereka berdua canggung untuk berpelukan.


"Kak Thomas," gumam Santi dalam pelukannya.


Thomas melepas pelukannya dari Santi, dia tersenyum menatap wajah wanita yang pernah menjadi adik angkatnya itu. Wajahnya kini masih tetap cantik seperti saat dulu pertama mereka bertemu, hanya saja usia dan kerutan di wajah yang membuat wanita itu terlihat lebih tua.


"Kamu menangis?" tanya Thomas saat melihat ujung mata Santi yang sedikit basah.


Santi pun menggelengkan kepalanya sembari mengusap sudut matanya.


"Kakak selama ini ke mana? Kenapa nggak ada kabar sama sekali?" tanya Santi.


"Maaf sudah pergi tanpa memberi kabar," ucap Thomas dengan bersalah.


Saat kejadian beberapa tahun lalu, di mana keluarga kecil mereka mengalami musibah yang menyebabkan anak pertama mereka meninggal dunia, Zara dan Thomas langsung memutuskan untuk meninggalkan negara kelahirannya ini menuju London. Mereka pergi tanpa pamit kepada semua orang yang dikenalnya, termasuk Santi dan Irfan. Mereka merahasiakan semua kehidupannya di London dan menyimpan masalahnya selama di sini dengan rapat-rapat. Tak ada yang tahu masalah serta kehidupan mereka di London kecuali keluarga terdekat. Semua itu mereka lakukan agar seseorang yang menyebabkan masalah tersebut tidak mengetahui keberadaan mereka. Sudah cukup kehilangan seorang anak membuat mereka terpuruk, terlebih untuk Zara yang sempat trauma untuk kembali ke kota ini.


Santi dan Irfan yang belum mengetahui permasalahan mereka jelas saja sangat kebingungan dengan perginya mereka tanpa pamit. Hingga saat ini mereka masih bertanya-tanya kenapa temannya itu pergi meninggalkan mereka bahkan tanpa kabar sedikitpun selama lebih dari dua puluh tahun.

__ADS_1


"Ma, kita duduk dulu yuk. Kasihan bibi Zara dan yang lain berdiri terus," ucap Rico kepada sang mama.


Santi pun tersadar akan situasi di ruangan itu. Dia memutar pandangannya kepada empat orang dewasa yang tak dia kenali kecuali Alfian, dan juga gadis kecil dalam gendongannya. Sebelum mempertanyakan siapa gadis kecil itu, mata Santi tertuju pada seorang wanita cantik yang berdiri di samping Alfian. Dia tersenyum ke arahnya dan mendekatinya.


"Apa ini Aura?" tanya Santi sembari melirik ke arah Thomas dan Zara.


Semua yang ada di sana menatap Santi dengan tatapan yang berbeda-beda. Irfan juga mempertanyakan hal yang sama, sementara yang lainnya seperti terlihat bersedih akan pertanyaannya.


"Ini Marisa, bibi. Istri Alfian," ucap Alfian membuka suara.


Santi yang mendengar perkataan Alfian hanya mengutarakan maafnya sembari tersenyum.


"Oh. Ini anak kalian?" Alfian mengiyakan. "Menggemaskan sekali."


"Apa ini anak kak Thomas juga?" tanya Santi sambil mendekati Morgan.


Santi kembali tersenyum, dia kemudian seperti mencari seseorang di sana.Seseorang yang seharusnya berada di sana yang tak lain adalah anak pertama Thomas yaitu, Aura.


Aura kecil yang berusia satu tahun saat terakhir mereka bertemu sekitar beberapa puluh tahun lalu.


"Di mana Aura, Kak Thomas?"


Cukup lama Santi menunggu jawaban orang-orang di sana akan pertanyaannya. Semua masih terdiam dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak. Bahkan wajah sedih Zara yang sejak pertama Santi mengira jika Marisa adalah Aura tak disadari oleh Santi. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sampai tak menyadari hal kecil di wajah orang-orang di sana.

__ADS_1


Irfan yang awalnya tak menyadari itu, saat melihat suasana hening akan pertanyaan istrinya lantas mulai curiga jika pertanyaan Santi telah menyinggung teman lamanya. Dia hendak mencairkan suasana dengan mengalihkan pembahasan, namun sudah didahului oleh Rico.


"Ma, ngobrolnya sambil duduk saja ya. Kasihan tamu kita, pasti masih lelah karena baru tiba."


Santi yang terlihat bingung dengan suasana yang tiba-tiba hening itu mengiyakan perkataan putranya. Kini mereka mengambil posisi duduk di sofa sesuai kemauannya masing-masing. Di mana Santi dan Irfan memilih duduk bersebelahan dengan Thomas dan Zara. Dan diikuti anak-anak mereka di hadapannya.


Suasana masih tampak canggung bagi keluarga Alina. Membuat Irfan semakin curiga jika telah terjadi sesuatu dari pertanyaan istrinya tadi. Dan Santi pun juga sepertinya mulai curiga karena melihat wajah Zara yang tampak murung.


"Ada apa ini, Zara?" tanya Santi heran. "Kak Thomas, ada apa ini sebenarnya?"


Saat itu makanan pesanan mereka telah datang, membuat pertanyaan Santi tenggelam akan kedatangan pelayan di sana.


"Mama, lebih baik kita makan saja dulu ya. Nanti makanannya dingin jadi nggak enak loh."


Kini Alina membuka suaranya, mencoba untuk mengurai keadaan yang tiba-tiba canggung itu. Ini adalah pertemuan pertama keluarga mereka, sekaligus pertemuan pertama para orang tua mereka setelah puluhan tahun tak bertemu. Jangan sampai di pertemuan pertama mereka ini hanya air mata kesedihan yang tertumpah. Dia dan Rico merencanakan pertemuan malam ini untuk bergembira dan bertemu kangen untuk orang tuanya, bukan untuk bersedih. Alina juga meminta bantuan kedua abang, kakak ipar, serta Rico untuk memgembalikan suasana.


"Iya, Ma. Bibi, Paman, ayo kita makan dulu. Nanti makanannya nggak enak lagi kalau sudah dingin," ucap Rico pula merespon perkataan Alina.


"Heh, kalian berdua ini gimana?" Semua menatap kepada Morgan yang juga ikut membuka suara. "Kenapa Alina memanggil orang tua Rico dengan sebutan Mama, sementara Rico masih memanggil Bibi. Curang sekali."


Semua tertawa mendengar perkataan Morgan yang selalu terdengar lucu itu, kecuali Zara yang masih menyisakan kesedihan dan kerinduan akan putri pertamanya, Aura.


"Kamu harus kuat, Sayang. Aku ngerti perasaan kamu, tapi jangan sampai membuat kecewa anak kita dengan menghancurkan acaranya yang sudah dipersiapkan dengan baik ini," bisik Thomas kepada istrinya di sela tawa anak-anak serta teman mereka.

__ADS_1


Zara terdiam sejenak memikirkan perkataan suaminya. Benar, dia tidak boleh menghancurkan acara yang sudah dipersiapkan anaknya dan pacarnya malam ini karena perasaannya sendiri. Dia tahu jika anak-anaknya juga pasti memiliki kesedihan yang sama, jadi dia tidak boleh egois sendiri karena tidak mau memikirkan perasaan orang lain di sana.


Zara menghela nafasnya berulang untuk mengatur emosinya yang belum stabil. Setelah dirasa cukup, dia pun berusaha untuk menerbitkan kembali senyumamnya agar suasana kembali hidup.


__ADS_2