Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
103. Honeymoon lll


__ADS_3

Tidak afdol jika berbulan madu tidak mengunjungi negara yang terkenal akan keromantisannya yaitu, Italy dan juga Maldives. 


Setelah puas mengelilingi kota yang ada di Swiss kurang lebih satu minggu, kini Rico dan Alina akan mengunjungi negara romantis lainnya yang tak lain adalah Italia. Sebelum mengunjungi Maldives, mereka akan berkeliling Italia terlebih dahulu untuk menikmati bulan madunya yang masih baru itu. Kedua negara ini juga menjadi salah satu dari beberapa list orang tua Rico dan Alina sebagai hadiah liburan mereka. 


Tak ingin menyia-nyiakan apa yang telah orang tua mereka berikan, Rico dan Alina sangat menikmati liburannya, bahkan selama satu bulan itu mereka tidak diberi sedikitpun celah untuk mengurus pekerjaan yang ada di kantor. Satu bulan itu mereka benar-benar menikmati liburannya dengan sangat tenang dan penuh kebahagiaan.


Hari pertama berada di Italia, Rico dan Alina memutuskan untuk menuju sebuah tempat romantis di negara itu yang terkenal akan seni dan arsitektur-nya yang bergaya Renaisansnya. Kota ini juga dikenal sebagai tujuan bulan madu teratas di Eropa karena memiliki pemandangan kota yang sangat menakjubkan.


Selain memiliki keindahan arsitektur yang tiada duanya, kota ini juga merupakan rumah bagi kebun anggur Tuscania yang terkenal di dunia. Hal ini menjadikannya salah satu tempat terbaik di Italia untuk berbulan madu. Meski tak bisa mencicipi anggur di sana, namun hal itu tak membuat Rico dan Alina merasa sia-sia karena telah memilih menetap di kota ini sebagai tujuan awal mereka berada di Italia.


Puas bermalam beberapa hari di salah satu kota yang ada di negara Italia itu, kini Rico dan Alina menuju kota lainnya yang tak kalah indahnya dari sebelumnya. Salah satu kota yang mereka datangi selanjutnya adalah kota yang bernuansa negri dongeng yang indah dan romantis. Di kota ini terdapat banyak lokasi menarik yang bisa dikunjungi, mulai dari galeri seni lokal, hingga gereja.


Bagi siapapun yang ingin mencoba hal yang menantang, maka aktivitas snorkeling dan menaiki kayak adalah pilihan yang tepat. Seperti Alina dan Rico saat ini, mereka tengah menikmati keindahan bawah laut dengan bersnorkeling.


Tak lupa setiap aktivitas yang mereka lakukan dan tempat-tempat indah yang mereka kunjungi akan didokumentasikan melalui sebuah gambar dari kamera yang mereka gunakan. Walaupun mereka bukan tipe orang yang suka ber- swafoto ataupun mengupload sesuatu di akun sosial medianya, namun Alina dan Rico pikir akan sangat disayangkan jika kegiatan bulan madunya ini tidak diabadikan dengan sebaik-baiknya. Dari semua foto-foto ini mereka akan selalu mengingat seberapa indahnya bulan madu mereka yang telah dipersiapkan oleh orang-orang yang menyayangi mereka.


Setelah puas bermain air, Rico dan Alina merebahkan tubuhnya di sisi pantai sambil menikmati matahari terbenam. Jika kebanyakan orang di sana menikmati waktu senjanya dengan segelas koktail, namun Alina dan Rico justru mengisi waktu luang mereka dengan menikmati air kelapa muda dan juga kopi yang dibersamai dengan cemilan khas Italia. 


"Kamu serius mau minum kopi  nanti nggak bisa tidur loh," ucap Alina kepada sang suami. 


"Memang itu tujuanku." 


Alina mengernyitkan keningnya mendengar perkataan suaminya itu.


"Kamu nggak…"


Alina seketika menjeda kalimatnya setelah menyadari apa maksud dari perkataan suaminya itu dari raut wajahnya yang tersenyum penuh arti. 


Astaga, suaminya itu benar-benar membuatnya gila. Hampir setiap malam mereka begadang dan suaminya itu tidak pernah puas dengan kegiatan rutin mereka. Namun tak apa, selain juga menyukainya, Alina pun ikhlas melakukannya kepada orang yang dia cintai.


**


Maldives adalah negara selanjutnya yang mereka kunjungi. Siapa yang tak kenal negara satu ini. Salah satu negara yang banyak sekali peminatnya, terlebih untuk pasangan baru yang ingin berbulan madu seperti Alina dan Rico saat ini.


Memang cukup melelahkan berkunjung ke berbagai negara dalam waktu singkat  namun bukan waktunya untuk Alina maupun Rico mengeluh karena selain menghargai pemberian dari orang tua mereka, tapi mereka juga ingin menikmati waktu liburan spesialnya dengan suasana yang berbeda daripada biasanya. 


Perjalanan panjang telah Rico dan Alina lalui, saat ini Rico dan Alina telah tiba di sebuah pulau yang hampir saja tidak berpenghuni. Hal itu dikarenakan populasi jiwa yang menetap di pulau itu hanyalah 500 jiwa pada beberapa tahun lalu. Meskipun populasi disana sangatlah sedikit, namun setiap weekend atau setiap musim liburan akan banyak sekali turis yang berbondong-bondong ke tempat ini.


Bagaimana tidak, pulau ini sangat terkenal dengan pesona alamnya yang sangat memikat. Satu-satunya sebuah fenomena alam yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan adalah adanya phytoplankton yang bersifat memancarkan cahaya cukup terang layaknya kunang-kunang. Butiran-butiran biru yang ada di pulau ini sama sekali bukanlah rekayasa hasil komputer semata, melainkan hal tersebut murni nyata yang ada di sana.


Sayang sekali fenomena alam yang indah tersebut tidak setiap hari terjadi. Hanya bagi yang beruntung sajalah yang bisa menikmati keindahan alam malam hari itu di Maldives. Dan betapa bahagianya Alina dan Rico menjadi salah satu dari sekian banyak orang beruntung yang bisa menikmati keindahan alam tersebut.


Lagi-lagi Rico dan Alina tak mau kehilangan momen Indah itu, mereka mengeluarkan kamera potretnya serta ponsel untuk mengambil gambar keindahan cahaya laut di malam hari di pulau itu. Tak lupa mereka juga melakukan foto dengan bantuan cahaya flash agar gelapnya malam tak menghalangi wajah mereka dari gambar yang mereka ambil.


"Ayo kita mendekat ke air," ajak Rico sembari meraih pergelangan tangan istrinya.


"Ngapain?" tanya Alina dengan heran. Dia terlihat takut menginjakkan kakinya lebih dekat ke arah air yang berwarna biru tersebut. 


"Kenapa takut? Jangan takut Sayang, cahaya berwarna biru ini nggak bahaya kok. Cahaya berwarna biru ini bukan buatan yang membahayakan, aman untuk kita nikmati," ucap Rico memberitahu. 


Dia kembali mengulurkan tangannya, berharap istrinya itu mau diajak untuk menyentuh air yang ada di sana dan dengan sedikit keraguan, Alina pun berusaha untuk percaya kepada suaminya. Dia meraih tangan suaminya yang terulur dan mereka pun berjalan pelan menyusuri air yang terdapat butiran berwarna biru.

__ADS_1


"Masya Allah, indah sekali ya, Sayang. Apa suatu saat kita bisa kembali ke sini lagi?" tanya Alina kepada Rico.


"Bisa saja. Nanti kita kembali ke sini bersama anak-anak ya." 


Alina pun tersenyum senang. Bersama anak-anak? Membayangkannya saja sepertinya sangat menyenangkan. Anak-anak mereka pasti akan sangat menyukai berada di tempat seindah ini.


Membayangkan hal itu juga Alina pun teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sejak dulu sangat ingin dia kunjungi.


"Sayang," ucap Alina.


"Kenapa?" tanya Rico.


"Aku mau melihat Aurora." 


Rico menatap ke arahnya dengan kening mengkerut. Aurora?


"Kamu mau melihat Aurora?" tanya Rico memastikan.


"Ya. Apa setelah dari Maldives kita bisa pergi ke Norwegia untuk melihat Aurora? Aku mendapatkan rekomendasi tempat yang pas untuk melihat Aurora di sana. Sejak dulu aku sangat ingin sekali mengunjungi negara itu, tapi karena kesedihan mama yang berlangsung lama, kita belum bisa liburan ke sana. Bahkan setelah aku lulus sekolah pun, aku harus melanjutkan kuliahku dan tinggal jauh dari orang tuaku."


Rico tersenyum sembari mengelus kedua pipi istrinya itu dengan lembut.


"Baiklah, setelah dari Maldives kita akan ke sana, tapi sebelum itu kita harus izin kepada mama dulu ya. Takutnya mereka sudah menyediakan tiket ke negara lainnya untuk kita."


Alina mengiyakan perkataan suaminya itu. Mereka memang harus meminta izin kepada orang tuanya terlebih dahulu karena mereka takut jika setelah dari Maldives ini orang tua mereka sudah menyediakan tiket menuju negara selanjutnya yang harus mereka kunjungi untuk waktu liburan terakhir mereka yang hanya tersisa delapan hari ini.


**


"Enak banget," ucap Alina kepada Rico sembari tersenyum. 


"Iya, enak banget. Kamu mau dibungkus untuk di Villa nanti?" tanya Rico. 


"Boleh. Kamu mau juga?"


"Kita pesan dua porsi ya," ucap Rico dan dijawab Alina dengan anggukan kepala.


Selain kari, terdapat pula hidangan yang populer di sana yaitu, Garudhiya Baiy. Hidangan tradisional ini berupa sup ikan tuna yang dihidangkan dengan nasi dan ikan bakar beserta bumbu-bumbu lainnya, seperti bawang dan cabai.


**


Malam terakhir di Maldives, Rico dan Alina memilih sebuah hotel yang berada di sebuah pulau yang menghadirkan suasana tak terlupakan untuk mereka cobai saat berada di sana. Hotel yang memiliki pemandangan bawah laut Maldives ini terletak di Rangali Island. Dengan berlapiskan kaca dan terletak 4.9 meter di bawah laut, mereka dapat menyaksikan keindahan dan kehidupan bawah laut.


"Sayang apa kita akan bermalam di sini?" tanya Alina.


"Ya, kita akan bermalam di sini. Apa kamu menyukainya?"


Bukannya tersenyum bahagia, Alina justru terlihat mengusap leher belakangnya. Dia terlihat ragu untuk mengiyakan pertanyaan suaminya itu karena jujur saja, dia sedikit takut jika harus tinggal di tempat seperti ini.


Memang indah jika untuk dijadikan tempat berkunjung karena alam bawah laut yang terlihat sangat indah dan mungkin jarang mereka lihat secara langsung seperti ini. Namun untuk digunakan bermalam Alina tidak yakin jika dia bisa tenang berada di sana. Walaupun dinding kaca itu sangatlah tebal, namun tak menutup kemungkinan untuk sebuah insiden terjadi.


Bukan bermaksud ingin berburuk sangka, namun pikiran-pikiran buruk yang ada di kepala Alina muncul begitu saja sehingga membuatnya tidak tenang. 

__ADS_1


"Kamu takut?" tanya Rico yang saat itu Alina tak menjawab pertanyaannya.


"Aku hanya merasa nggak tenang saja kalau harus tidur di sini. Kamu lihat, begitu banyak ikan kecil hingga hiu yang berada di sini, bagaimana jika mereka mendobrak kaca ini hingga retak?" 


Rico tersenyum menanggapi kekhawatiran istrinya itu."


"Tenang saja, kacanya tebal kok. Mereka nggak akan bisa memecahkan kaca ini dengan mudah. Semua sudah diperhitungkan oleh pemilik hotel, kamu tenang saja kita hanya akan menikmati keindahan bawah laut hingga esok pagi."


"Menikmati? Aku bahkan nggak yakin bisa menikmati keindahan laut dari bawah sini semalaman penuh. Kalau untuk sekedar melihat-lihat saja aku nggak masalah  tapi kalau untuk menginap, sepertinya kita mencari hotel lain saja deh," ucap Alina. 


"Apa kamu serius Sayang ingin mencari hotel lain?"


Alina menganggukan kepalanya dengan sangat yakin. Dia benar-benar tidak akan sanggup jika harus bermalam di sana. Daripada semalaman jantungnya terus berdegup kencang dengan pikiran yang mulai berkecamuk, lebih baik dia menghindarinya dan mengajak Rico untuk mencari tempat lain untuk menginap.


Rico pun sepertinya tak masalah dengan permintaan mendadak istrinya itu. Lagipula apa yang membuat istrinya tidak nyaman, maka dia akan menghindarinya seperti menginap di hotel ini.


Saat itu juga Rico dan Alina segera mengurus kepindahannya menuju hotel lain yang menjadi rekomendasi tangan kanan orang tua mereka yang selama ini mengikuti mereka. Orang tua mereka sengaja menghadirkan satu orang pria dan juga wanita untuk menemani perjalanan mereka sekaligus untuk membantu setiap keperluan mereka agar mereka tidak begitu kesulitan melakukan aktivitas apapun. Semua itu orang tua mereka lakukan agar Rico dan Alina bisa lebih menikmati waktu liburannya tanpa harus memikirkan hal yang memberatkan.


**


Sore hari Rico adalah Alina sudah berada di sebuah Villa yang tak jauh dari lokasi terakhir mereka berada. Salah satu yang membuat Alina menyetujui untuk tinggal di villa itu selain karena adanya kolam air panas pribadi, di sana juga terdapat mini air terjun yang bisa mereka nikmati di pagi hari. 


Karena saat ini hari mulai malam, kini Alina dan Rico memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum melaksanakan ibadah mereka. 


*


Di pagi hari Alina dan Rico beranjak menuju mini air terjun yang ada di sekitar Villa. Mereka sengaja belum mandi karena akan menikmati kesegaran air dari mini air terjun tersebut. 


"Sayang, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu?" tanya Rico saat melihat Alina hanya memakai tanktop dan juga celana pendek ketat di balik handuk yang dia kenakan.


"Memangnya kenapa? Kita 'kan mau menuju air terjun."


,Tapi terlalu terbuka, Sayang. Tubuh kamu terlalu terekspos loh, aku nggak suka kalau orang lain sampai melihat tubuh kamu nantinya," ucap Rico dengan mode posesif.


"Orang lain? Di sini cuma ada kita Sayang, yang lain pada belum bangun, mungkin masih tidur di kamarnya."


"Pengunjung lain ya memang masih berada di kamarnya, tapi bagaimana dengan pengurus Villa dan juga dua orang itu?" ucap Rico yang tertuju pada kedua orang suruhan kedua orang tua mereka.


"Astaga Sayang, lalu aku harus pakai baju? Apa nggak mungkin pakai baju panjang untuk mandi, 'kan?" 


Rico mendekati istrinya itu dan merapikan sisi-sisi rambut yang berantakan.


"Tapi aku nggak suka kalau orang lain melihat keindahan tubuh kamu."


Alina menghela nafasnya. "Apa kita urungkan saja ke air terjunnya? Kita bisa menikmati kolam air panas di kamar berdua saja," ucapnya kemudian memberi saran. 


Rico ndak mengiyakan ajakan istrinya itu, namun melihat mini air terjun yang sepertinya sangat romantis jika mereka berdua mandi di sana, membuatnya menjadi bingung. Di satu sisi dia tidak menyukai jika ada orang yang melihat keindahan tubuh istrinya, namun di sisi lain dia ingin sekali menikmati romansa di bawah air terjun mini itu bersama istrinya tercinta.


Kenapa juga orang yang memiliki Villa ini tidak membuat air terjun ini di sisi kamar, pikir Rico. Mungkin setelah pulang dari sini dia harus memberi instruksi tambahan pada arsitektur yang menangani rumahnya saat ini untuk membuat sebuah mini air terjun di taman belakang rumahnya kelak.


Kebingungan Rico membuatnya berpikir cukup lama untuk memilih harus mandi di mana dan karena lebih menyayangkan jika tubuh istrinya terekspos begitu banyak yang mungkin nantinya akan dinikmati orang-orang sekitar, Rico terpaksa harus mengabaikan mini air terjun di sana dan mengajak istrinya untuk mandi berdua di kolam air panas yang berada di kamar mereka. 

__ADS_1


Sepertinya dia benar-benar harus membuat mini air terjun di kediamannya kelak untuk membayar kegagalan hari ini karena tak bisa menikmati momen yang sejujurnya sangat dia inginkan itu.


__ADS_2