
Acara makan malam pada malam hari ini berjalan dengannya diiringi senyum tawa pada kedua keluarga. Tak ada lagi suasana canggung maupun sedih di antara mereka karena mereka berusaha untuk bergembira malam hari ini.
Zara sekuat tenaga berusaha untuk mengembalikan moodnya karena Santi yang tadi membicarakan Aura, anak pertamanya. Sementara Santi sendiri yang seolah menyadari jika telah terjadi sesuatu kepada anak pertama dari sahabatnya itu, berusaha untuk memendam rasa penasarannya sampai mereka memiliki waktu luang untuk bercerita lebih panjang.
Saat ini mereka hanya akan membicarakan sesuatu yang membuat mereka happy. Sekaligus menghargai niat anak-anak mereka yang sudah mempersiapkan dinner malam hari ini dengan baik.
Banyak yang mereka ceritakan, mulai daei bagaimana keseharian mereka selama ini, sampai bagaimana anak-anak mereka bisa tumbuh menjadi sosok wanita dan pria yang tampan dan juga pintar seperti sekarang. Bahkan mereka juga sempat membicarakan hubungan Alina bersama Rico yang akan membuat mereka menjadi satu keluarga nantinya.
"Baiklah, untuk masalah pernikahan Alina dan Rico nanti kita bicarakan setelah urusan perusahaan selesai saja oke," ucap Thomas dan langsung diiyakan oleh semua orang yang ada di sana.
"Pa, gimana kalau saat peresmian nanti, kita umumkan hubungan anak kita dan juga Rico di sana?" ucap Zara kepada suaminya.
Thomas pun nampak berpikir akan masukan dari istrinya tersebut. Mengumumkan hubungan Alina dan Rico di acara peresmian perusahaannya nanti sepertinya tidaklah buruk, namun mereka harus melihat persetujuan anak-anak mereka serta orang tua Rico terlebih dahulu.
"Gimana, Al, Rico? Kalian mau hubungan kalian di umumkan saat peresmian perusahaan nanti?" tanya Thomas kepada Alina dan juga Rico.
"Gimana, Santi, Irfan?" tanya Thomas pula kepada orang tua Rico.
Alina dan Rico saling tatap, mereka terlihat bingung dengan pendapat kedua orang tuanya itu. Terlebih untuk Rico yang masih merasa insecure dengan keluarga Alina, dia yang bukanlah siapa-siapa terlihat ragu untuk mengumumkan hubungan mereka di depan para pengusaha sukses yang akan menghadiri acara peresmian perusahaan keluarga Alina nanti. Rico pikir, jika hubungan mereka dipublish secara resmi di sana, itu berarti pernikahannya nanti harus digelar dengan sangat mewah dan akan dihadiri orang-orang penting lainnya.
__ADS_1
Sebelum ini, Rico sudah merencanakan sedikit pesta pernikahan impiannya dan juga Alina yang tertutup. Tertutup bukan berarti merahasiakannya, melainkan hanya ingin mengundang beberapa orang penting bagi keluarga mereka saja.
Dia tidak mau mengundang begitu banyak orang yang tidak mereka kenal karena Rico takut jika nanti tidak bisa memberikan pernikahan yang mewah untuk Alina dan menjadi bahan gunjingan orang-orang. Secara yang kita ketahui, di jaman sekarang seperti ini orang-orang akan lebih realistis dengan materi yang mereka miliki. Tidak peduli dengan dirinya sendiri, tapi Rico hanya takut jika Alina dan keluarganya yang akan menjadi omongan orang-orang karena dirinya yang tidak maksimal dalam membuat acara penting ini.
Bisa saja Rico membuat acara besar-besaran nantinya dengan semua fasilitas yang keluarganya miliki. Namun untuk dirinya sendiri, dia sudah berjanji untuk tidak akan memakai fasilitas orang tua angkatnya lebih dari cukup. Lagi pula, sebesar apapun dia membuat sebuah acara, orang-orang yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya di keluarga ini pasti akan selalu membicarakannya. Dan Rico tidak mau keluarga Alina dan keluarganya mendengar cibiran yang keluar dari mulut orang-orang itu.
Begitu banyak yang Rico pertimbangkan dari semua itu yang membuatnya overthinking setiap hari. Orang-orang mungkin akan mengatakan jika dirinya terlalu berlebihan karena memikirkan hal itu dan sebenarnya dia juga tidak mau berpikir seperti ini yang akan membuatnya pusing. Namun pemikiran seperti ini tak bisa Rico hindari karena semua itu datang dengan sendirinya ke otaknya.
Rico hendak mempertimbangkan lagi usulan orang tua Alina namun saat itu Santi dan Irfan ternyata lebih dulu menyetujui usulan dari kedua temannya itu.
"Boleh banget. Aku malah senang kalau hubungan Alina dan Rico segera diumumkan. Setelah itu kita bisa langsung membicarakan tanggal pernikahan mereka. Aku nggak sabar banget kita bakalan jadi menantu, Kak Thomas, Zara," ucap Santi yang terlihat sangat gembira.
Melihat wajah Santi yang tampak bahagia dengan hubungan mereka, seketika membuat Rico menjadi ragu untuk menolak usulan dari keluarganya itu. karena tidak mungkin untuk menolak, jadi dengan terpaksa dia harus mengiyakan ucapan mereka.
Alina yang melihat wajah kaku Rico, dia sangat tahu sekali perasaan pacarnya itu dengan statusnya saat ini. Meskipun dia sudah memberi pengertian kepada Rico tentang perbedaan mereka, tapi entah kenapa pacarnya itu masih saja terlihat tidak percaya diri dengan dirinya yang sekarang. Sebaiknya setelah pulang dari sini dia harus membicarakan mengenai status Rico kepada keluarganya.
Keluarga Alina memang belum mengetahui jika Rico adalah anak angkat dari temannya itu. Hubungan mereka yang terputus sebelum Santi dan Irfan menikah membuat mereka tidak tahu jika Rico sebenarnya anak angkat di keluarga itu. Alina dan Alfian juga belum sempat menceritakan hal itu kepada keluarganya karena jarak mereka selama ini yang cukup jauh. Tidak mungkin mereka membicarakan hal penting ini via telepon. Sepertinya malam ini Alina harus benar-benar menceritakan semuanya kepada keluarganya.
**
__ADS_1
Setiba di rumah, Marisa berpamitan kepada Thomas dan Zara untuk membawa Lala ke kamar karena anaknya itu sudah tertidur sejak di dalam mobil. Sementara yang lain masih duduk di ruang tamu karena Alina yang meminta. Alina ingin menceritakan sesuatu mengenai Rico kepada keluarganya, terutama orang tuanya. Dia ingin mengatakan semuanya agar orang tuanya bisa mengerti sedikit akan pernikahan mereka nantinya akan seperti apa.
"Ada apa, Al? Ini sudah malam loh, mau ngomong apa lagi?" tanya Morgan yang mulai mengantuk. Seharian ini dia sibuk mengurus perusahaan bersama Alfian dan juga rumah yang akan mereka tempati nanti.
"Kalau Abang mau tidur ya pergilah ke kamar. Aku cuma mau bicara dengan Mama dan Papa kok," ucap Alina.
"Nggak mau, Abang mau dengar juga. Abang nggak mau ketinggalan berita," sahut Morgan sehingga membuat Alfian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang random itu.
"Bicaralah, Sayang. Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" ucap Zara kemudian.
Alina menghela nafasnya sejenak. Orang tuanya adalah orang baik, mereka pasti bisa menerima Rico apa adanya tanpa memikirkan siapa pria itu sebenarnya. Dia menatap ke arah Alfian sejenak, namun abangnya itu hanya menaikkan kedua alisnya karena sebenarnya juga dia belum tahu apa yang akan Alina bicarakan.
"Ma, Pa, apa Mama dan Papa merestui hubungan aku dan Rico?" tanya Alina lebih dulu.
"Sayang, kamu bicara apa sih? Tentu saja kami merestui kalian lah, apalagi 'kan Rico sudah melamar kamu. Nggak mungkin kita nggak merestui kalian," ucap Thomas. Dia merasa heran dengan pertanyaan putrinya itu.
"Apapun yang kamu sukai, kami akan memberi dukungan penuh, Sayang." Zara pun ikut menambahi. "Lagi pula Rico sepertinya anak yang baik, sopan, tampan pula. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ma, apa Mama dan Papa masih akan merestui kami kalau seandainya Rico bukan anak dari paman Irfan dan bibi Santi?"
__ADS_1