Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
84. Santi Sakit


__ADS_3

Di kamarnya saat itu ponsel Rico yang ada di atas meja berdering. Rico yang saat itu baru saja masuk ke dalam kamarnya dan melihat Alina menelponnya segera menjawabnya sebelum panggilan berakhir.


"Halo, ada apa, Sayang?" tanya Riko dengan tak bersemangat.


"Kamu kenapa, kayaknya nggak bersemangat gitu," ucap Alina dan heran.


"Baru saja aku membuat mama kecewa, Al."


Alina di seberang sana nggak mengernyitkan keningnya. Membuat mamanya kecewa? Apa yang pacarnya itu maksud? 


"Apa maksud kamu, Co, kenapa mama kamu kecewa? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan padanya?" tanya Alina berturut-turut.


"Aku tadi membicarakan masalah pernikahan kepada mereka dan mama salah paham dengan maksudku. Dia sangat bersedih karena mengira jika aku nggak membutuhkannya lagi."


"Sayang, aku tadi pagi juga sudah bicara dengan keluargaku mengenai ini. Mereka sebenarnya nggak masalah sama sekali, tapi papa bilang, mama kamu akan kecewa dengan keputusanmu ini."


Rico menghalang nafasnya menanggapi perkataan Alina. Begitu dekatnya papa Alina kepada mamanya, membuat Rico menyesal karena tidak bicara kepada orang tua Alina terlebih dahulu untuk meminta saran. Namun saat itu dia benar-benar tidak kepikiran sampai ke sana karena dia pikir akan lebih baik membicarakan hal ini kepada orang tuanya secara langsung daripada kepada orang lain. Sekarang apa yang Thomas katakan kepada Alina benar. Mamanya kecewa dengannya dan sampai berpikir jika dia tidak membutuhkannya lagi. 


"Aku bingung harus bagaimana, Al. Di satu sisi aku nggak mau merepotkan mereka lagi, tapi di sisi lain aku nggak bisa melihat mama bersedih seperti tadi. Aku benar-benar merasa bersalah, aku benar-benar merasa jika aku telah gagal menjadi seorang anak untuk mereka yang sudah tulus merawatku dengan tulus sejak aku kecil hingga aku dewasa seperti saat ini."


"Sayang, jangan bersedih, aku tahu maksud kalian itu sama-sama baik. Kamu ingin mandiri dan nggak mau nyusahin orang tua kamu, sementara mama kamu juga, dia sangat tulus memberikan semuanya untuk kamu karena dia sangat mencintai kamu sebagai anak kandungnya sendiri, terlepas dari siapa kamu sebenarnya. Sama seperti yang papaku katakan tadi, aku juga menyarankan kamu untuk membicarakan kembali hal ini kepada orang tuamu besok."


"Aku takut mama marah denganku, Al," ucap Rico tak percaya diri.


"Co, kamu nggak boleh bilang begitu. Mama kamu sayang banget sama kamu, dia nggak mungkin marah sana kamu. Dia hanya butuh memahami apa yang kamu maksud, itu saja. Kamu pun begitu, pahami apa yang mama kamu inginkan dan bicarakan lagi besok. Aku yakin akan ada solusinya kok," ucap Alina.


"Apa itu artinya aku harus menuruti kemauan mama?" tanya Rico meminta pendapat.


"Kamu tahu mana yang terbaik untuk mama kamu dan diri kamu sendiri, Co. Jangan terlalu memaksakan kehendak jika mama kamu adalah prioritas utama kamu."


Rico menghela nafasnya sembari membanting tubuhnya ke atas kasur. Dia memejamkan matanya sejenak sebelum mengiyakan perkataan Alina. Sepertinya besok dia harus membicarakan hal ini lagi kepada kedua orang tuanya. Jangan sampai rasa sedih mamanya berlarut lebih lama. Mungkin tak apa jika dia harus mengalah jika itu bisa membuat mamanya kembali tersenyum padanya.

__ADS_1


...**...


Pagi hari, Rico turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarganya. Saat menuruni anak tangga, dia tak melihat keberadaan kedua orang tuanya di meja makan. Makanan yang sudah tersaji sebagian membuat Rico mengira jika kedua orang tuanya masih di dalam kamar.


Rico mendudukkan tubuhnya di meja makan, sampai semua makanan terhidang pun kedua orang tuanya belum juga keluar dari kamar. Hal itu membuat Rico heran karena tak biasanya mama dan papanya terlambat datang ke meja makan.


Saat melihat seorang pembantu rumah tangga di sana, Rico memanggilnya dan memintanya untuk memanggil kedua orang tuanya.


"Maaf, Mas, Bapak tadi pesan, katanya Mas Rico makan duluan saja, soalnya Ibu lagi sakit," ucapnya yang berhasil membuat Rico terkejut.


Mamanya sakit?


"Mama sakit? Kenapa nggak ada yangkasih tau aku, Bi," ucap Rico dengan heran. Dia sudah hampir sepuluh menit di meja makan, namun tak ada satu pun pekerja di sana yang memberitahunya akan hal itu.


"Maaf, Mas, kita kira Mas Rico sudah tahu."


Rico menghela nafasnya mendengar jawaban pekerjanya itu.


"Sekarang mama dan papa di mana?" tanya Rico.


Rico menganggukkan kepalanya, kemudian dia beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar kedua orang tuanya.


Tookk… tookk…


"Ma, Pa," ucap Rico di sela ketukan pintu yang dilakukannya.


"Masuk, Bang," sahut suara seorang pria yang tak lain adalah Irfan.


Mendapat izin dari papanya, Rico pun membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam kamar. Di ujung kamar, dia melihat mamanya terbaring di atas kasur bersama sang papa yang setia menemaninya duduk di pinggir kasur. Rico mendekati kedua orang tuanya, dia merasa bersedih melihat mamanya yang terlihat lemah di atas kasur.


"Pa, Mama kenapa?" tanya Rico.

__ADS_1


Irfan menghela nafasnya dengan tersenyum tipis.


"Hanya banyak pikiran saja, Bang. Kamu sudah sarapan?" tanya Irfan pula.


"Apa Mama memikirkan perkataan Rico semalam, Pa?" tanya Rico dengan menebak dan menghiraukan pertanyaan papanya. Dia sangat takut jika mamanya jatuh sakit karena terlalu memikirkan obrolan singkat mereka semalam. Jika hal itu benar yang menyebabkan mamanya sakit, maka dia akan sangat merasa bersalah akan hal itu.


"Mama seperti itu karena dia sayang sama kamu, Bang."


Mendengar perkataan papanya, Rico pun sudah bisa menebak jika dugaannya ternyata benar. Mamanya jatuh sakit karena terlalu memikirkan perkataannya semalam. Kini Rico jadi sangat merasa bersalah dengan semua yang telah dia lakukan.


Rico mendekati mamanya, mendudukkan tubuhnya di pinggi kasur, disamping sang mama. Rico genggam tangan lembut mamanya itu, yang membuat Santi seketika menatap ke arahnya.


"Mama kenapa bisa sakit seperti ini, em?" ucap Rico dengan suara lembutnya.


"Mama nggak seharusnya memikirkan apa yang Rico katakan semalam, Ma. Maafin Rico ya karena sudah membuat Mama jadi seperti ini."


Santi meneteskan air matanya saat mendengar perkataan maaf dari Rico. 


"Maafin Mama, Bang."


Rico menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Santi.


"Mama nggak salah. Mama jangan minta maaf ya. Mama tenang saja, Rico akan menuruti semua perkataan Mama kok, asalkan Mama kembali sehat. Apapun yang membuat Mama bahagia, Rico pasti akan melakukannya." 


"Mama sayang sama, Abang. Mama hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Abang, apalagi untuk pernikahan Abang."


Rico tersenyum lembut kepada Santi. Tentu saja dia tahu jika mamanya akan melakukan yang terbaik untuknya sekalipun dia bukanlah darah dagingnya.


"Rico ngerti, Ma. Maafin Rico ya sudah membuat Mama berpikir berlebihan."


Santi kembali tersenyum dengan lemahnya.

__ADS_1


"Kamu anak baik, Bang. Maafin Mama ya."


"Ma, jangan minta maaf lagi ya. Kalau Mama minta maaf seperti ini, Rico jadi sedih loh," ucap Rico yang mencoba mengingatkan. Dia benar-benar tidak bisa jika melihat mamanya meminta maaf padanya seperti ini.


__ADS_2