Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
41. Sederhana Namun Berkesan


__ADS_3

Mereka menuju ke studio foto dengan mobilnya masing-masing. Setiba di lokasi, mereka masih harus menunggu giliran untuk berfoto dari yang lain.


Alfian baru menghubungi pihak studio saat di perjalanan, jadi posisi antrian mereka tidak terlalu jauh saat tiba di sana. Sembari menunggu sesi foto tiba, Rico kembali meminta maaf kepada Alina atas keterlambatannya. Dia juga me jelaskan alasan kenapa dia bisa sampai terlambat lebih dari dua jam.


Dia menjelaskan jika saat dalam perjalanan menuju kampus tadi, dia tak sengaja melihat seorang pria paruh baya yang berdiri di sisi jalan untuk menghentikan kendaraan. Keadaan pria itu tampak memprihatinkan dengan pakaian lusuh daj juga wajah paniknya. Karena merasa tidak tega, Rico pun menghampiri pria paruh baya itu. Saat mengetahui jika istri dari wanita itu hendak melahirkan dan mereka tidak memiliki uang untuk nenghentikan taksi, dengan gerakan hatinya Rico membawa sepasang suami istri itu ke klinik terdekat.


Sebenarnya tidak sampai satu jam perjalanan menuju klinik, namun jalanan menuju kampus yang tiba-tiba menjadi padat membuatnya harus menghabiskan waktu di dalam mobil lebih lama. Dan akibatnya, dia sangat terlambat untuk tiba di kampus dan tidak bisa menemani Alina sepanjang acara.


Untungnya Alina dan Alfian sangat bijak dalam menanggapi sesuatu. Mereka tidak marah karena apa yang dilakukan Rico sangat mulia. Namun mereka juga sangat kesal karena Rico yang tidak memberi kabar kepada mereka sehingga harus membuat mereka menunggu tanpa kejelasan.


"Sekali lagi maafin aku ya, Al. Bang Fian. Maafin aku karena sudah membuat kalian menunggu lama," ucap Rico lagi untuk kesekian kalinya.


"Sudahlah. Lain kali kalau ada janji sama orang lain selalu kasih kabar, bagaimanapun situasinya. Itu gunanya ponsel," ucap Alfian.


Rico mengiyakan. Dia mengaku salah karena tidak memberi kabar kepada Alina maupun Alfian. Bahkan dia tidak sempat hanya sekedar menjawab panggilan Alina karena ponselnya yang dalam mode silent. Tadi pagi dia tidak sengaja menekan tombol silent dan baru menyadarinya saat tiba di lokasi acara wisuda Alina tadi.


Hampir satu jam menunggu, kini giliran Alina tiba untuk sesi foto wisudanya. Selain foto seorang diri dan bersama abangnya. Alina juga mengajak Rico dalam foto bahagianya itu. Mereka mengambil foto berdua terlebih dahulu, setelah itu barulah mereka berfoto bertiga dengan Alina yang berada di antara kedua pria tampan itu.


Hanya beberapa menit proses pemotretan dan kini mereka bergegas untuk pergi dari sana. Untuk hasil foto, Alina sengaja akan mengambilnya di lain waktu karena antrian yang sangat panjang membuat mereka tak mau menunggu lebih lama lagi.


Mereka kembali menaiki mobilnya masing-masing dan kali ini Alina meminta kepada abangnya untuk ikut bersama di mobil Rico. Alfian mengizinkan dan tidak mempermasalahkan hal itu. Setelah itu mereka segera pergi menuju salah satu restoran untuk menikmati makan siang yang telah tiba.


Di dalam mobil yang dikendarai Rico, pria itu sangat dibuat heran dengan kelakuan Alina yang tidak seperti biasanya. Wanita itu sejak tadi memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya di sana. Perasaannya jadi tidak menentu melihat Alina yang seperti ini. Antara takut dan juga senang menjadi satu, dia tidak tahu apa maksud dari perlakuan sweet Alina siang ini.


"Sayang," seru Rico dan Alina hanya menjawab panggilannya dengan sebuah deheman.


"Sayang, kenapa kamu aneh banget hari ini?" tanya Rico kemudian.


"Aneh gimana?" tanya Alina tanpa mengubah posisi nyamannya.


"Aneh saja. Nggak biasanya kamu meluk aku gini."

__ADS_1


Dua detik terdiam, setelah itu Alina melepas pelukannya dan menatap ke arah Rico.


"Kamu nggak suka? Maaf," ucap Alina dengan menundukkan kepalanya. Membuat Rico salah tingkah dan merasa bersalah.


"Bukan begitu, Sayang." Rico menarik dagu Alina untuk menatap ke arahnya dengan tangan kirinya. "Suka. Aku suka banget, tapi 'kan kita nggak pernah kontak fisik secara intens seperti ini loh. Aku hanya heran saja."


Alina menghela nafasnya, dia menggigit bibir bawahnya sebelum berucap.


"Aku…"


Rico menaikkan salah satu alisnya sambil sesekali menatap ke arah Alina. Kemudian Alina kembali menghela nafasnya.


"Aku semalam sudah bicara dengan keluargaku mengenai keputusan kamu yang ingin melamarku."


Alina menjeda kalimatnya sejenak untuk melihat reaksi Rico.


Rico yang mendengar itu pun lantas seperti merasakan ada sengatan pada telinganya. Dia menatap ke arah Alina dengan sangat penasaran.


"Mereka semua mendukung apapun keputusanku, tapi…"


Rico kembali menatap Alina dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Tapi kenapa?" tanyanya penasaran.


Alina menatap kesana kemari, mencari kata-kata yang sekiranya tepat untuk dikatakan kepada Rico. Setelah sekian detik, kemudian Alina menggelengkan kepalanya dengan tersenyum rapat.


"Nggak kenapa-kenapa. Aku hanya nggak mau dilamar dengan mewah. Sederhana namun berkesan. Dan juga…," Alina menggigit bibir bawahnya dengan ragu, "aku nggak mau terlalu lama."


Rico tersenyum geli melihat tingkah Alina yang seperti malu-malu.


"Terlalu lama apanya?" tanya Rico berusaha menggoda.

__ADS_1


"Em…"


"Kamu nggak mau aku terlalu lama melamarnya atau nggak mau terlalu lama dari waktu lamaran sampai hari pernikahan?" tanya Rico lagi tanpa menunggu Alina menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.


Alina yang mendengar itu pun seketika menatap pada Rico dengan terkejut. Bagaimana bisa Rico…? Kini wajah Alina memerah menahan malu. Bisa-bisanya dia termakan oleh perkataannya sendiri yang tak selesai diucapkan.


"Kamu tenang saja. Setelah orang tua kamu ke sini, aku akan segera meminta izin mereka untuk menikahimu. Dan setelah mendapat izin, aku akan dengan segera mengurus pernikahan kita," ucap Rico kemudian dengan suara yang terdengar sangat yakin.


"Secepat itu?" tanya Alian tak percaya.


"Apa terlalu cepat?" tanya Rico balik.


"Em, apa kamu sudah yakin ingin menikahiku, Co?"


Saat itu mereka telah tiba di sebuah restoran yang akan menjadi tempat makan siang mereka. Rico menghentikan mobilnya setelah berhasil parkir pada tempat yang tepat. Sebelum keluar dari mobilnya, Rico menatap ke arah Alina dengan tatapan serius dan menggenggam tangannya.


"Aku nggak pernah seyakin ini dalam menjalin hubungan, Al. Mungkin aku bukan sosok pria sempurna bagi kamu, tapi aku berjanji … aku berjanji akan membuat hari-hari kamu merasa sempurna dengan kehadiranku."


Tanpa menyahuti perkataan Rico, Alina langsung berhambur dalam pelukan pria itu. Dia tahu jika Rico sangat serius dengan perkataannya dan dia juga yakin jika Rico tidak akan mengecewakannya.


Jika Alfian dan keluarganya yang lain saja bisa percaya kepada Rico yang bahkan belum mereka temui, lalu kenapa dia masih ragu? Mungkin dia harus benar-benar melupakan masa lalu yang membuat hidupnya hampa. Dia harus mempercayai perasaannya yang mengatakan jika dia harus percaya kepada Rico.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2