
Setelah selesai menghabiskan makan siangnya yang sangat terlambat, kedua pasangan yang sedang berlibur itu kini bergegas menuju pantai yang tak jauh dari hotel yang mereka tempati. Hanya butuh berjalan kaki sekitar lima menit, mereka telah tiba di pantai yang sangat indah.
Setiba di pantai, mata mereka langsung disuguhi pemandangan alam yang sangat mengagumkan. Di mana salah satunya terdapat dua perbukitan yang membentang luas mengapit pantai ini.
Bagaikan seorang anak kecil yang tidak pernah pergi ke pantai, Alina dan Rena berlari mendekati bibir pantai. Mereka terlihat sangat senang dengan senyum dan tawa yang sangat natural. Sambil berjalan menghampiri kedua wanita itu, Rico meraih ponselnya dan memotret pemandangan sekitar. Tak lupa pemandangan paling indah pun dia potret yaitu, Alina.
"She is so pretty and beautiful."
Ya, Alina adalah pemandangan paling indah dari semua pemandangan yang pernah dia lihat.
"Sayang, ayo sini."
Teriakan Rena saat itu membuat Andi mengajak Rico untuk menghampiri kedua wanita itu. Wajah kedua pria itu tak lepas dari senyumannya melihat kebahagiaan sederhana pada pacarnya masing-masing.
"Ayo foto," ajak Rena saat kedua pria itu telah tiba di hadapan mereka.
Andi dan Rico mengiyakan dan mereka segera mengambil posisi untuk berfoto dengan Rena yang berada di depan sebagai pemegang kamera. Setelah puas berselfie, Rena meminta Alina untuk memotret dirinya bersama Andi. Kemudian bergantian dengan Rena yang memotret temannya itu bersama pacarnya.
Pemandangan dan juga objek foto yang sama cantiknya, membuat hasil foto mereka semua terlihat sempurna walaupun ada beberapa jepretan yang dilakukan saat mereka belum siap.
Karena tak ingin membuang waktu yang sangat singkat itu, Rico dan Andi mengajak pacarnya untuk berjalan menuju perbukitan kecil yang berada di atas restoran sambil bergandengan tangan pada pasangan masing-masing. Di atas sana mereka bisa menikmati keindahan pantai yang sangat cantik. Apalagi keindahan pasir putih dan pemandangan pulau kecil yang terhampar, menambah kesan eksotik pantai ini. Belum lagi pemandangan sunset-nya yang sangat indah, tentunya membuat mereka yang terutama Alina dan Rena sangat betah berlama-lama di sana.
Tak ingin kehilangan momen, Rena kembali mengajak ketiga orang itu ber swafoto bersama pemandangan yang sulit untuk ditemukan itu. Dia juga meminta untuk di fotokan seorang diri dengan gaya bak model papan atas.
"Al, mau aku fotoin nggak?" tawar Rena.
__ADS_1
"Boleh."
Alina pun mulai mengambil posisi dan bergaya dengan sangat lincah. Bahkan gayanya tak kalah keren dari Rena, sehingga membuat wanita itu ingin melakukan foto ulang karena ingin bergaya seperti yang Alina lakukan saat ini.
Setelah cukup puas menikmati keindahan pantai di sana, mereka segera turun dari bukit dan bergegas kembali ke hotel karena saat ini langit sudah mulai menggelap. Lagi-lagi mereka saling menautkan tangannya pada pasangan masing-masing. Raut bahagia jelas terlihat pada wajah keempat orang itu.
"Are u happy?" tanya Rico pada Alina.
"Tentu. Makasih ya," ucap Alina dengan sorot mata yang terlihat sangat bahagia. Dan tentunya bahagia wanita itu membuat Rico jauh lebih bahagia.
...*...
Malam hari setelah membersihkan tubuhnya, mereka berempat keluar dari kamar untuk pergi ke salah satu pusat wisata kuliner yang terkenal di kota itu. Selain untuk mengisi perutnya yang sudah kosong kembali, di sana mereka juga bisa menikmati keindahan malam dengan ditemani deburan angin laut yang tak jauh dari sana.
Setiba di sana, Alina yang lebih banyak membeli makanan. Sementara tiga orang lainnya hanya membeli dua macam makanan dan segelas minuman.
Alina hanya tersenyum lebar mendengar pertanyaan Andi. Sejak tidak memiliki kesibukan lagi, entah kenapa dia jadi sangat suka makan. Bahkan dia bisa makan setiap tiga jam sekali yang di mana artinya satu hari Alina akan makan sebanyak lima atau enam kali.
Namun yang anehnya dari kebiasaan barunya itu, tubuh Alina justru tak terlihat menggemuk sama sekali. Mungkin berat badannya hanya naik sekitar satu atau dua kilo, namun tak ada yang menyadari itu karena memang tidak terlihat adanya perubahan bentuk tubuh pada Alina.
Saat sedang asik memakan makanannya, tiba-tiba suara dering pada ponsel milik Rico berdering. Saat itu ponsel Rico yang diletakkan di atas meja yang tepatnya di antara dirinya dan Alina, membuat wanita itu bisa melihat dengan jelas siapa yang menghubungi Rico. Saat melihat nama kontak 'spesial' pada layar ponsel Rico, Alina lantas mengernyitkan keningnya. Namun belum sempat dia bertanya, Rico sudah lebih dulu meraih ponselnya dan beranjak dari duduknya. Pria itu terlihat berjalan menjauh sembari menjawab panggilan masuk tersebut.
Kepergian Rico dan juga nama kontak yang terlihat aneh, membuat Alina mulai overthinking. Spesial? Apakah mamanya yang menelpon? Namun jika itu benar, lantas kenapa Rico menjauhi mereka saat menjawabnya? Begitu banyak pertanyaan di kepala Alina akan keanehan tersebut.
Alina memutuskan untuk bertanya kepada Andi, namun sayangnya pria itu tidak mengetahuinya. Hal ini membuat Alina benar-benar terganggu, apalagi saat Rico kembali dan tersenyum padanya sambil menghela nafas, membuat Alina semakin curiga jika ada yang sedang terjadi pada Rico.
__ADS_1
Wisata kuliner mereka malam ini benar-benar tidak membuat Alina merasakan kenikmatannya. Pikirannya sejak saat itu terganggu. Bahkan rencana mereka yang ingin berkeliling dengan sepeda motor pun diurungkan karena Alina beralasan jika dirinya sedang kelelahan akibat kekenyangan.
Saat mereka kembali ke hotel, Alina mengajak Rico berbicara terlebih dahulu di samping jendela lobi. Sementara Rena dan Andi sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
"Kenapa, Sayang? Katanya kamu mau istirahat," ucap Rico dengan lembut.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Alina dengan ragu.
Sebelumnya Alina tidak pernah bertanya tentang hal pribadi Rico yang menurutnya tidak perlu dia ketahui, namun entah kenapa malam ini dia sangat ingin tahu siapa yang menelpon pacarnya saat di pasar kuliner tadi. Bahkan sebelumnya Alina tidak pernah securiga ini kepada Rico meskipun pria itu pergi bersama klien wanitanya.
"Tanyakan saja, kenapa kamu seperti ragu?" tanya Rico.
"Em, yang menelpon kamu saat di pasar kuliner tadi siapa?"
"Ah?" Rico terlihat memasang wajah bingung akan pertanyaan Alina.
"Aku tadi nggak sengaja lihat layar ponsel kamu. Kamu menamakan 'spesial' untuk nomor yang menelpon kamu tadi. Siapa dia, Co?" Kini wajah Alina terlihat sangat ingin tahu.
Rico pun tersenyum, dia merangkul bahu Alina dan mengajaknya berjalan menuju kamar mereka. Alina hanya mengikuti langkah kaki pria itu sembari matanya menatap wajah Rico untuk menanti jawaban yang sangat ingin dia ketahui.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
__ADS_1
.
.