
Karena kondisi Alina yang masih belum sepenuhnya membaik, dengan terpaksa Alfian tinggal di apartemen baru adiknya itu untuk beberapa malam hingga kondisi Alina membaik. Dia tidak mungkin membiarkan Alina tinggal sendirian dengan kondisi yang sedang seperti itu. Apalagi jika kedua orang tua mereka sampai tahu, bisa-bisa Alfian yang akan disalahkan. Namun untungnya kedua orang tua mereka tidak mengetahui jika penyakit Alina saat ini sedang kambuh.
Malam itu di kamarnya, Alina terlihat sedang melakukan panggilan video bersama Rico dan kedua orang tuanya. Alina tampak senang karena kedua orang tua Rico sangat perhatian padanya meski belum bisa datang dikarenakan hari ini mereka harus menghadiri dua acara sekaligus.
"Kamu harus banyak-banyak minum air mineral ya, Sayang. Jaga kesehatan dengan baik, lain kali jangan makan makanan manis terlalu banyak."
Alina tersenyum lebar, sejak tadi Santi tak lepas menasehatnya. Memintanya untuk selalu menjaga kesehatan. Beruntung sekali Rico bisa bertemu sosok orang tua sebaik Irfan dan Santi, pikirnya. Tapi meski begitu, kedua orang tuanya juga tak kalah baik dengan mereka.
"Terima kasih, Bibi. Alina akan lebih menjaga kesehatan setelah ini."
Tookk… tookk…
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Alina memalingkan pandangan. Dia meminta abangnya untuk masuk ke dalam tanpa harus mengalihkan layar ponselnya dari hadapannya. Saat Alfian masuk, pria itu berbicara dengan suara pelan dan mengatakan jika kedua orang tua mereka saat ini sedang menelponnya dan ingin berbicara dengan Alina. Begitu senang mengetahui jika kedua orang tuanya menghubunginya, Alina menganggukan kepalanya dan meminta izin untuk menyelesaikan percakapannya bersama orang tua Rico yang masih terhubung.
"Bibi, orang tua Alina menelpon. Apa nggak papa Alina tutup sebentar telponnya?" ucap Alina dengan tidak enak hati.
"Nggak papa, Sayang. Kalau begitu Bibi tutup ya. Jangan tidur malam-malam, segera istirahat setelah selesai menelpon."
Alina mengiyakan ucapan Santi, setelah itu mereka menutup panggilannya masing-masing.
Setelah Alina menutup panggilannya, Alfian segera mendekati sang adik dan duduk di sampingnya. Dia menghadapkan layar ponselnya di depan wajah mereka yang sedang menayangkan panggilan video bersama keluarganya. Di sana terdapat kedua orang tua Alina, kakak iparnya, beserta abang keduanya. Alina sangat excited saat melihat wajah keluarganya di sana, dia sangat merindukan keluarganya itu setelah sekian lama tak bertemu.
"Mama, Papa, Bang Morgan, Kak Ayu," seru Alina dengan excited.
"Hai, Al."
"Hei, Sayang."
"Hai, Sayang."
"Halo, Alina."
Sapaan dari keluarganya pun terdengar heboh karena diucapkan secara bersamaan.
"Mama, Papa, Alina rindu," ucap Alina dengan manjanya.
__ADS_1
"Kita semua juga rindu sama kamu, Sayang. Gimana kabar kamu di sana?" tanya mama Alina bernama Zara.
"Alina sehat, Ma. Bang Fian juga sehat," ucap Alina sembari mencubit lembut pinggang Alfian. Memberi kode agar abangnya itu tidak memberitahu keluarganya jika saat ini dia sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Mama dan yang lain gimana kabarnya, sehat?" tanya Alina balik.
"Kita semua sehat, Sayang. Oh ya, kata Abang, kamu hari ini baru pindah rumah ya?"
"Iya, Ma. Dia pindah ke apartemen pacarnya."
Bukan Alina yang menjawab, melainkan Alfian. Dia sengaja menggoda adiknya itu dengan memberitahu orang tuanya jika Alina sudah memiliki pacar. Namun bukannya Alina yang kesal, melainkan kedua orang tua mereka yang menilai perkataannya dengan pandangan yang berbeda, sehingga menimbulkan dugaan-dugaan negatif.
"Apartemen pacar kamu? Maksudnya kamu tinggal bersama pacar kamu?" tanya Zara dengan tak percaya.
"Alina, apa-apaan ini. Kenapa kamu tinggal bersama seorang pria? Alfian, kamu juga kenapa membiarkan adik kamu tinggal bersama seorang pria? Kalian berdua mau buat kita di sini jantungan hah?" ucap papa Alina yaitu, Thomas, dengan rasa kesalnya.
Dia terpancing emosi mendengar jika anak gadisnya tinggal di apartemen pacarnya. Apalagi Alfian yang tidak melarangnya, membuat papa Alina tersulut api emosi dengan seketika.
"Al, kenapa kamu tinggal bersama pacarmu? Apa kamu sedang hamil?"
Seketika Thomas memukul kepala Morgan. Membuat Alina dan Alfian terkekeh melihatnya.
Suara gaduh terdengar ramai pada speaker ponsel milik Alfian. Namun ketika mereka mendengar perkataan Alfian berikutnya, keluarga mereka yang terutama kedua orang tuanya lantas kembali fokus pada layar ponselnya.
"Pa, Ma, Alina nggak tinggal bersama pacarnya di sini."
"Apa maksud kamu, Bang?" tanya Thomas.
"Apartemen ini disewakan oleh pacarnya untuk Alina. Soalnya lokasinya yang kebetulan sangat dekat dengan kampus Alina. Lagi pula Alfian nggak mungkin mengizinkan Alina tinggal dengan pria lain, Ma, Pa."
Mendengar penjelasan anak sulungnya, kedua orang tua mereka kini bernafas lega. Alina adalah satu-satunya anak perempuan yang masih mereka mikiki dan sangat mereka sayangi. Meski Alina sudah terbiasa hidup mandiri dengan uang hasil keringatnya sendiri, tapi sebagai orang tua, mereka pasti selalu menganggap Alina layaknya anak kecil yang butuh dijaga sepanjang waktu.
Apalagi sejak kejadian satu tahun lalu, saat penyakit lambung Alina kambuh, sejak saat itu sampai sekarang Alfian selalu mengikuti kemanapun adiknya itu pergi. Meski terkadang dia harus meninggalkan anak dan istrinya bersama kedua orang tuanya dan hanya bisa bertemu tiga atau enam bulan sekali.
__ADS_1
"Ma, Mama kapan ke sini? Alina sudah sangat rindu kalian loh," ucap Alina kemudian.
Keluarganya memang berencana akan kembali ke kota ini dan dia sudah tidak sabar menanti kedatangan mereka untuk tinggal bersama lagi.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita ke sana kok. Kita sedang menunggu Abang kamu satu ini lulus kuliah dulu," ucap papa mereka.
Menunggu Morgan lulus S3 nya? Itu berarti satu bulan setelah target wisudanya.
"Yaah, jadi kalian nggak bisa datang saat aku wisuda nanti dong," ucap Alina sambil memanyunkan bibirnya.
"Maaf ya, Sayang. Mama dan Papa sangat ingin menghadiri acara wisuda kamu, tapi mau bagaimana lagi…."
Alina menghela nafasnya, dia harus mengerti keadaan dan tak boleh memaksakan kehendak. Semua ini karena kemauannya sendiri yang ingin tinggal jauh dari orang tuanya, jadi jangan salahkan mereka jika mereka tidak bisa datang saat dia wisuda nanti.
Alina hendak kembali melanjutkan obrolannya, namun saat itu tiba-tiba saja perutnya kembali terasa mual. Karena tak ingin keluarganya di sana mengetahui jika penyakitnya kambuh, Alina dengan cepat dan tanpa pamit segera menutup panggilannya. Hal itu juga membuat Alfian terkejut. Saat melihat adiknya yang seperti ingin muntah, dengan cepat Alfian menggendong tubuh Alina ke kamar mandi. Dia membiarkan Alina mengeluarkan isi perutnya di dalam sana, sementara dia sendiri berlalu untuk mengambil air hangat di dapur.
*
Di belahan dunia lainnya, Thomas dan anggota keluarganya yang lain tampak heran saat panggilan terputus begitu saja. Mereka hendak menelpon kembali nomor ponsel putranya, namun tak ada jawaban sama sekali meskipun panggilan sudah dilakukan berulang kali. Mereka pun menghubungi nomor ponsel Alina, namun hal yang sama pun terjadi.
Hal ini sangat membuat mereka semua penasaran. Tidak biasanya putra dan putrinya itu menutup panggilan tanpa pamit, apalagi nomor mereka tak bisa dihubungi setelah panggilan itu.
Dua jam kemudian, barulah mereka bisa bernafas lega setelah Alfian mengirim pesan dan mengatakan jika ponselnya lowbat. Sementara ponsel Alina sedang rusak karena tadi pagi jatuh ke dalam air.
Alfian terpaksa berbohong karena permintaan Alina yang tidak ingin kedua orang tua mereka tahu jika dia sedang sakit. Alfian tidak bisa apa-apa selain menuruti permintaan adiknya itu. Lagi pula benar kata Alina, mereka tidak boleh membuat keluarganya di sana khawatir akan kondisi mereka di sini. Apalagi penyakit Alina akan sembuh dalam hitungan hari, selagi ada dirinya yang menjaga adiknya, itu sudah cukup. Dia akan melakukan semaksimal mungkin untuk kesehatan dan kenyamanan adiknya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.
__ADS_1