
Hari ini Rico berniat mengajak Alina untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Jika biasanya Rico pergi sendiri setiap bulannya untuk mendoakan kedua orang tuanya, namun hari ini untuk pertama kalinya dia mengajak Alina untuk memperkenalkan kedua orang tua kandungnya kepada calon istrinya itu.
Kini Rico telah tiba di depan ZW Corps, dia langsung menghubungi Alina dan memintanya untuk segera turun. Lima menit menunggu, kini Rico tersenyum saat melihat Alina menghampirinya. Senyumnya semakin merekah begitu Alina masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu sudah makan?" tanya Rico setelah Alina mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Belum. Kita makan setelah dari makam saja," ucap Alina.
"Baiklah. Berhubung kamu belum makan, jadi kita nggak akan lama di makam orang tuaku."
Alina mengiyakan, kemudian mereka segera melanjukan mobilnya menuju sebuah pemakaman yang tidak terlalu jauh dari kantor Alina berada. Hanya memerlukan sekitar setengah jam untuk tiba di sana, jika jalanan tidak padat. Setelah mereka tiba di pemakaman, Rico segera mengajak Alina untuk menuju makam orang tuanya.
Makam itu terlihat bersih karena Rico selalu meminta pengurus makam di sana untuk rutin membersihkan makam orang tuanya. Saat melihat setangkai mawar merah tergeletak di atas makam, Rico tersenyum tipis. Dia tahu jika bunga mawar tersebut pemberian dari Santi dan Irfan.
Santi dan Irfan memang sering mengunjungi makam kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan Rico, namun dia mengetahui itu karena penjaga makam di sana yang memberitahunya. Dan kini bunga mawar merah yang ditinggalkan kedua orang tua angkatnya di sana menjadi pertanda akan kedatangan Santi dan Irfan tanpa harus dia bertanya lagi kepada penjaga makam.
"Apa ada kerabatmu yang datang?" tanya Alina saat melihat bunga mawar tersebut.
"Ini dari mama dan papa. Mereka kalau datang ke sini pasti meninggalkan bunga mawar merah."
"Mama Santi sering berkunjung ke sini?" tanya Alina.
"Ya. Kalau nggak sibuk mereka akan ke sini," jawab Rico.
"Mereka sangat menyayangi kamu, Co. Bahkan mereka selalu ingat dengan kedua orang tua kandung kamu."
Rico tersenyum mendengar perkataan Alina. Ya, dia mengakui itu jika Santi dan Irfan sangat menyayanginya sebagai seorang anak. Mereka sangat baik kepadanya, sampai Rico sendiri tidak tahu bagaimana jika dirinya tanpa mereka dulu.
Rico juga tidak tahu harus membalas kebaikan kedua orang tua angkatnya itu seperti apa lagi. Jika membalas kebaikan mereka dengan materi, maka dia tidak akan bisa karena kedua orang tua angkatnya itu sudah memiliki materi yang sangat melimpah yang mungkin tidak akan pernah bisa dia dapatkan dengan mudah.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini atas kebaikan mereka hanyalah berbakti dan menuruti segala keinginannya. Tidak sulit menuruti kemauan kedua orang tua angkatnya itu karena mereka juga melakukan semuanya untuk kebaikan dirinya.
"Ma, Pa, Rico sebentar lagi akan menikah. Hari ini Rico membawa calon istri Rico, namanya Alina. Dia berasal dari keluarga baik-baik dan dia juga sangat cantik."
"Ma, Pa, restui hubungan kami ya. Rico sangat merasa beruntung mendapatkan wanita seperti Alina. Rico yakin mama dan papa di sana pasti akan senang jika Rico bahagia bersama Alina sampai tua nanti. Ma, Pa, Rico juga mau mengatakan, kalau mama Santi dan papa Irfan akan menanggung semua biaya pernikahan Rico. Rico sangat beruntung mendapatkan mereka, Ma, Pa. Rico bahkan sampai nggak tahu bagaimana caranya ingin membalas semua kebaikan mereka selain menyayangi mereka dengan tulus."
"Ma, Pa, Rico harap kalian nggak cemburu ya jika Rico menganggap mereka sebagai orang tua kandung Rico sendiri. Rico harap mama dan papa mengerti maksud Rico melakukan semua ini."
Alina pun yang mendengar perkataan Rico tersebut lantas menyentuh pundaknya. Membuat pria itu menghentikan perkataannya dan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Mama dan papa kamu di sana nggak akan cemburu, Co. Justru mereka pasti bangga dengan apa yang sudah kamu lakukan."
Rico mengganggukan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Aku juga berharap begitu," ucapnya kemudian.
"Kamu mau bicara dengan orang tuaku?" tanya Rico kepada Alina.
Alina tersenyum geli mendengar pertanyaan pacarnya itu. Rico bertanya seolah orang tuanya bisa mendengar suaranya dan diajak berbicara. Namun meski begitu Alina mengiyakannya dan mulai memperkenalkan diri seolah orang tua Rico memang ada di sana dan mendengar setiap perkataannya.
"Bibi, Paman, perkenalkan aku Alina. Aku calon istri putra kalian. Terima kasih sudah melahirkan sosok Rico di dunia ini."
Sepanjang Alina berbicara, Rico hanya tersenyum menatap wanitanya itu. Meski apa yang mereka lakukan saat ini tak tahu benar atau salah, tapi bagi Rico, dengan begini dia bisa lebih dekat dengan orang tuanya yang tidak pernah dia temui setelah usianya tiga tahun.
Setelah puas berada di makan orang tua Rico, mereka segera beranjak dari sana untuk mengisi perutnya yang mulai lapar. Mereka akan menuju restoran yang ada di pinggir jalan saat dalam perjalanan mengantar Alina ke kantornya.
"Sayang," panggil Rico di sela fokus berkendaranya.
"Ya?"
"Aku sudah menghubungi pemilik rumah yang dekat dengan rumah kamu kemarin. Dia bilang dua hari ini dia ada waktu untuk menemani kita melihat rumah itu."
"Boleh. Nanti sore aku jemput ke kantor ya."
"Oke," sahut Alina.
**
Sekitar pukul empat, Alina bergegas keluar dari ruangannya untuk menemui Rico yang sudah menunggunya di bawah. Dia sengaja tidak meminta Rico untuk turun dari mobilnya karena tidak mau membuang waktu.
Begitu hendak memasuki lift, Alina tak sengaja bertemu dengan Morgan yang baru saja menuju lift bersama asisten pribadinya. Alina menekan salah tombol yang akan menghentikan lift tersebut untuk bergerak karena akan menunggu abangnya itu.
"Kamu mau ke mana? Buru-buru banget," ucap Morgan setiba mereka di dalam lift.
"Mau cek rumah."
"Rumah yang di dekat rumah kita?" tanya Morgan dan langsung diiyakan Alina.
"Abang sendiri mau ke mana?" tanya Alina. Setahunya, Morgan saat ini sudah tidak memiliki kesibukan lagi, itu kenapa hari ini dia bisa pulang lebih cepat.
__ADS_1
"Bertemu seseorang," jawabnya.
"Siapa?" tanya Alina penasaran.
"Kepo banget sih, mau tahu semua urusan abangnya."
"Dih. Abang pasti mau bertemu seorang wanita, 'kan?" tebak Alina.
"Sembarangan. Mana mungkin abang bertemu seorang wanita bersama Fadil," ucapnya sembari melirik asistennya.
Alina terkekeh mendengarnya. Fadil adalah pria yang cukup religius, benar saja jika tidak mungkin pria itu mengikuti abangnya untuk bertemu seorang wanita dengan sifatnya itu.
"Dil, sepertinya kamu harus lama deh bekerja dengan bang Morgan. Karena dengan adanya kamu di sisi dia, bang Morgan nggak akan berani macem-macem sama klien wanitanya," ucap Alina kepada Fadil.
Fadil hanya tersenyum geli mendengar ucapan Alina. Dia yang baru beberapa minggu bekerja bersama mereka tak berani menyahuti candaan Alina, apalagi Morgan.
Sementara Morgan sendiri, dia tidak terlalu memikirkan perkataan adiknya. Dia cukup profesional dalam bekerja. Walaupun dia seorang player, namun dia tidak pernah mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan kesenangannya pada para wanita. Lagi pula meski dia sering disebut sebagai player, tapi dia tidak pernah berbuat sesuatu diluar batas seperti, merusak harga diri seorang wanita. Dia cukup tahu diri untuk itu karena dia tidak mau jika adik perempuannya diperlakukan tidak baik oleh pria brengsek diluar sana.
Saat lift sudah berada di lantai dasar, Alina keluar lebih dulu. Sementara Morgan tetap berada di sana karena tujuannya yaitu menuju basement.
Saat melihat mobil Rico, Alina langsung menghampirinya dan masuk ke dalam mobil. Mereka segera melajukan mobilnya menuju komplek perumahan yang sama dengan Alina tinggal saat ini.
Setiba di sana, mereka langsung disambut oleh orang yang sudah memiliki janji temu dengan Rico. Mereka langsung dibawa masuk untuk melihat-lihat isi rumah tersebut.
Jika dilihat dari luar, rumah tersebut terlihat mewah dengan size yang tidak terlalu besar. Ukuran yang cukup sempurna untuk keluarga kecil mereka tempati sebelum rumah pribadi Rico selesai dibangun.
Saat pintu terbuka, mata Alina langsung dibuat terpesona dengan konsep desain ruang tamu di sana. Unik, namuna masih ada gaya moderenisasi-nya. Alina merasa jika rumah tersebut sangat cocok untuk mereka nikmati sementara waktu.
"Gimana, Sayang?" tanya Rico meminta pendapat setelah mereka puas berkeliling.
"Em, aku sih suka, tapi…"
"Tapi kenapa?" tanya Rico.
"Em, kita bicarakan dirumah saja ya," ucap Alina dengan suara pelan agar pengurus rumah tersebut tak tersinggung dengan perkataannya.
Ya, orang yang Rico hubungai tersebut bukan pemiliknya, melainkan tangan kanan dari pemilik rumah itu.
Rico sangat penasaran dengan alasan Alina yang tak langsung mengiyakan pertanyaannya, namun dia pikir Alina memiliki alasan kuat akan pendapatnya yang di mana mereka tidak boleh membahasnya di sana.
__ADS_1