Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
88. Andi Norak


__ADS_3

Setelah kembali dari meja kasir untuk membayar makanan mereka, Alina sangat heran saat melihat Andi yang menatapnya dengan tatapan tak biasa. Tatapan memuja yang membuatnya merasa geli sendiri.


"Nih anak kenapa?" tanya Alina heran.


"Nggak tahu. Norak dia." 


"Norak?" ucap Alina dengan heran.


"Iya, dia baru tahu kalau kamu anak Thomas Wilson, jadi norak begini."


Alina mengerlingkan matanya menatap Andi sembari mendudukan tubuhnya.


"Sumpah, aku bener-bener nggak nyangka kalau kamu ternyata anak orang kaya, Al. Selama ini kamu hidup dengan sangat sederhana, makan seadanya, pakaian pun beli di pinggir jalan. Bahkan saat di Inggris dulu kamu sering kelaparan karena ingin berhemat. Keren kamu," ucap Andi dengan memberikan kedua jempolnya kepada Alina.


Dia benar-benar terlihat bangga kepada temanmu itu yang bukan orang sembarangan, namun bisa hidup dengan begitu sederhana.


"Nggak usah norak, biasa aja kali," ucap Alina menyahut.


"Pokoknya kamu benar-benar keren, Al. Aku sangat bangga sebagai teman kamu satu-satunya," ucap Andi lagi dengan wajah bangganya. Membuat ketiga temannya hanya tersenyum geli.


"Oh ya, kata papaku kalian berdua mau nikah dua bulan lagi ya?" tanya Andi kemudian kepada Rico dan Alina.


"Ya seperti yang kamu dengar," sahut Rico.


"Sorry banget ya, Al, aku nggak bisa datang di acara peresmian perusahaan kamu. Kemarin aku keluar kota sama Rena. Dia nemenin aku bertemu klien penting dan itu benar-benar nggak bisa dibatalin gitu aja. Coba saja kamu memberitahu aku dari jauh-jauh hari, mungkin aku bisa me-reschedule pertemuannya atau meminta papaku menggantikanku."


"Aku ngerti kok," sahut Alina singkat.


"Lagian kamu juga, kenapa sih pakai merahasiakan semua ini sama kita? Kenapa nggak jujur saja dari awal? Kenapa juga harus repot-repot hidup susah dan sampai harus tinggal di lingkungan yang nggak baik?"


Alina tersenyum tipis mendengar begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Andi sekaligus. 


"Mau belajar mandiri saja, sekaligus melihat siapa yang benar-benar tulus mau berteman denganku," ucap Alina dengan alasan yang sama seperti yang dia ucapkannya kepada Rena.


"Berarti yang tulus sama kamu selama ini cuma aku dong? Secara 'kan teman kamu selama ini, sebelum bertemu mereka berdua hanya aku saja," ucap Andi lagi sembari naik turunkan alisnya.

__ADS_1


Dia kini merasa semakin bangga kepada dirinya sendiri yang seolah mendapatkan ujian dari Alina secara tidak langsung dari jawabannya itu. 


Alina, Rico dan Rena yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas. Pria itu tampak percaya diri sekali mengatakan jika dirinya tulus berteman dengan Alina. Walaupun sebenarnya memang demikian, namun rasa percaya diri Anda sangatlah tinggi dan patut untuk diacungi jempol.


"Iya deh iya. Terserah kamu," ucap Alina menyahut dengan terpaksa.


"Jadi, kapan tanggal pernikahannya? sudah ditentukan, 'kan?" tanya Andi yang kini penasaran.


"Masih rahasia. Kamu sendiri kapan mau nikahin Rena?" ucap Alina sembari bertanya. 


Dia yang melihat Rena seperti sangat ingin menikah, lantas tak segan memberikan pertanyaan tersebut kepada Andi. Dia juga sebenarnya penasaran kenapa Andi sampai sekarang belum menjadikan Rena istrinya, padahal mereka sudah menjalin hubungan cukup lama. 


Andi pun yang ditanya seperti itu tiba-tiba menjadi diam. Wajahnya terlihat seperti kebingungan atas pertanyaan Alina dan hal itu berhasil membuat ketiga orang yang ada di sana menatapnya dengan heran. Terlebih Rena yang terlihat bersedih karena merasa jika Andi belum mau menghalalkannya. Namun dia secepat mungkin mengubah ekspresi wajahnya agar suasana tidak menjadi mellow karenanya.


"Kenapa, kamu nggak mau nikah sama Rena ya?" tanya Rico kemudian yang berhasil mengundang tatapan terkejut Andi.


"Dia memang nggak mau nikah sama aku, Co. Biar saja, biar nanti aku dinikahi sama pria lain, baru tahu rasa dia," ucap Rena memanasi sekaligus meluapkan sedikit rasa kesalnya kepada pacarnya itu.


"Sayang, bukan begitu. Kamu tahu sendiri 'kan kalau papa baru saja memberi tanggung jawab yang besar sama aku. Aku harus menyelesaikan satu-satu dulu, baru setelah itu menikah," ucap Andi yang berusaha untuk membela diri.


"Sayang, jangan gitu dong. Aku janji nggak akan lama lagi kok. Ya paling lama tahun depan deh."


"Nggak usah sok kasih janji. Lagi pula tahun depan kelamaan, Andi. Yakali Alina sudah punya satu anak kita baru mau nikah, kamu yang benar saja. Padahal kita pacarannya lebih dulu loh dari mereka," ucap Rena sembari memutar bola matanya jengah.


"Ya tapi 'kan–"


"Tapi apa? Sudah ah, kamu tuh janjinya nggak jelas tahu nggak." 


Perdebatan antara Andi dan Rena membuat Alina dan Rico tertawa geli. Mereka saling pandang sejenak dengan tertawa kecil, kemudian mengalihkan kembali pandangannya kepada dua orang temannya di depan sana. Karena tak ingin mencampuri perdebatan sepasang kekasih itu, akhirnya mereka memilih untuk menikmati saja drama singkat yang temannya itu ciptakan.


...**...


Dalam perjalanan pulang, Alina meminta Rico untuk mampir ke salah satu toko kue yang mereka lewati. Dia ingin membelikan makanan manis itu untuk keluarganya. Keponakannya yang kecil pun sangat menyukai kue green tea. Dia akan membelikan kue green tea khusus untuk keponakannya itu dan kue coklat untuk keluarganya yang lain. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Alina segera kembali ke dalam mobil dengan Rico yang sudah menunggunya di sana. Rico sengaja tidak keluar karena Alina memintanya untuk menunggu di dalam mobil.


"Banyak banget, Al. Kamu beli untuk siapa aja?" tanya Rico heran saat melihat tiga kantung kue di tangannya.

__ADS_1


"Dua untuk keluargaku dan satu untuk orang tua kamu," ucap Alina.


"Kamu beli untuk mama papaku?" tanya Rico dan langsung diiyakan oleh Alina. 


"Kue coklat ini makanan kesukaanku, jadi orang tua kamu harus mencicipinya." 


"Kamu nggak beliin untuk aku?" tanya Rico yang berhasil membuat Alina menatapnya dengan tak percaya.


"Kamu 'kan bisa berbagi sama orang tua kamu, Co. Apa harus aku belikan yang berbeda?" tanya Alina.


Apa Rico serius ingin kue sendiri, sementata satu box kue cokelat ini bisa untuk empat orang.


Rico pun terkekeh geli, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Nggak kok, aku cuma bercanda."


"Serius, nih?" tanya Alina memastikan.


"Iya, Sayang, aku cuma bercanda. Ayo kita pulang," ucapnya kemudian sembari menyalakan mesin mobilnya.


Alina mengedikkan bahunya, percaya saja jika pria itu hanya mengisinya.


"Oh ya, Sayang, besok aku ada meeting di kantor kamu. kamu mau pergi barengan aku nggak?" tanya Rico menawarkan.


"Meeting? Kok aku nggak tahu kalau kamu ada meeting di kantor besok."


Rico hanya tersenyum mendengar pertanyaan Alina.


"Jadi mau ikut nggak?" tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaannya.


"Boleh banget."


"Oke, nanti aku jemput besok pagi ya."


Alina menganggukan kepalanya mengiyakan. Sudah lama dia tidak dijemput oleh Rico karena dia sudah tidak pergi kuliah lagi dan kerja pun dia pergi bersama Alfian ataupun Morgan.

__ADS_1


__ADS_2