Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
125. Balas Dendam


__ADS_3

Pagi harinya setelah Rena menghubungi pihak bakery untuk memesan kue, wanita itu tiba-tiba saja merasa pusing.  wajahnya terlihat pucat sehingga membuat siapapun yang melihatnya langsung menyadari itu saat itu Alina yang masih bersama denganRena di dalam kamar lebih dulu menyadari itu dia terlihat panik dengan keadaan temannya.


"Ren, kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya Alina dengan khawatir.


"Nggak tahu, Al. Kepalaku juga tiba-tiba pusing banget nih," seru Rena yang semakin membuat Alina khawatir.


"Apa kamu sakit?" Rena menggelengkan kepalanya. "Kamu salah makan kali, Ren. Apa kamu alergi sesuatu?"


"Semalam 'kan aku makan di sini. Lagi pula aku nggak ada alergi makanan apapun kok."


"Lalu kenapa bisa seperti ini? Kita panggil dokter saja ya," ucap Alina memberi saran.


Sebenarnya Rena tidak mau menyusahkan temannya itu, namun karena dia yang sudah tidak tahan dengan rasa pusingnya ini, dengan tidak enak hati dia pun mengiyakannya.


"Yasudah, kamu istirahat saja di kamar ya. Nanti aku minta koki untuk membawa makanan kamu ke kamar," ucap Alina sembari mendudukkan temannya itu ke atas kasur.


"Tapi gimana kamu turun ke bawah? Apa kamu berani?" tanya Rena saat dia mengingat jika Alina sedang hamil dan tidak mungkin untuk menuruni anak tangga seorang diri.


"Kamu tenang saja, nanti aku panggil abangku saja. Kamu tunggulah di sini, aku ke bawah dulu ya."


Rena mengiyakan dan setelah itu Alina meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Saat dia hendak pergi dari kamarnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sebuah dering panggilan suara membuat Alina menghentikan langkahnya. Dia melihat nama kontak Rico yang menghubunginya, namun Alina tak langsung menjawab panggilan itu. Dia terdiam sejenak, lalu menatap ke arah Rena. 


"Kenapa?" tanya Rena dengan heran saat temannya itu berhenti di tengah jalan.


Sebelum menjawab pertanyaan temannya itu, Alina berjalan ke arahnya dan mendudukan tubuhnya di samping Rena sembari menunjukkan layar ponselnya kepada wanita itu.


"Rico nelpon? Jangan diangkat," ucap Rena yang membuat Alina bingung.


"Kenapa? Bukannya kamu bilang kalau aku harus mengangkat panggilannya pagi ini dan pura-pura marah?"


"Benar, tapi untuk panggilan pertama jangan diangkat dulu. Tunggu dia menelepon sampai tiga kali, baru kamu boleh mengangkatnya."


"Apa harus selama itu?" tanya Alina dengan heran.


"Tentu. Karena dengan begitu, Rico akan percaya kalau kamu benar-benar marah. Mana ada orang marah saat ditelepon langsung menjawabnya.


Alina terdiam sejenak. Setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga. Akhirnya sesuai instruksi dari Rena, Alina pun mendiamkan panggilan dari suaminya itu. Sembari menunggu Rico menelponnya kembali, Alina melakukan panggilan suara terlebih dahulu kepada Morgan untuk memintanya naik ke atas untuk membantunya turun. 


Dan baru saja panggilan dengan abangnya itu terputus, terlihat di ponselnya jika Rico menelpon kembali. Untuk panggilan kedua ini Alina juga tak menjawabnya, seperti apa yang Rena katakan, pada panggilan ketiga barulah dia menjawabnya. 


"Jangan menjawab sebelum dia memanggil nama kamu dua kali," ucap Rena dengan sangat pelan, sebelum Alina membuka suaranya. 


"Assalamualaikum, Sayang."


"Dia mengucap salam, gimana ini? Nggak mungkin aku nggak menjawab salamnya," ucap Alina dengan berbisik, sembari menjauhkan ponselnya tersebut dari mulutnya. 


"Jawablah sekarang, tapi jangan sampai Rico dengar."


Alina mengernyitkan keningnya, tak lama kemudian dia menjawab salam Rico dengan posisi ponsel yang berada di bawah bantal  agar suaminya itu tak mendengar suaranya. Setelah itu Alina kembali meletakkan ponselnya ke samping telinganya.


"Sayang, apa kamu di sana?"


Alina masih belum menjawabnya.


"Halo. Sayang, kenapa kamu diam saja?"


"Em, kenapa?" tanya Alina dengan nada suara yang terdengar tak minat.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Rico dengan cemas saat mendengar suara istrinya yang terdengar tidak bersemangat. 


"Nggak. Kenapa?" tanya Alina lagi dengan singkat. 


"Sayang, kamu semalam kenapa menelpon aku sampai 10 kali? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Apa perut kamu sakit? Atau kamu nggak bisa tidur? Apa Rena nggak jadi nginep di rumah?"


Pertanyaan Rico yang beruntung tersebut membuat Alina tertawa geli. Dia juga terlihat kebingungan karena tak tahu harus menjawab yang mana lebih dulu. 

__ADS_1


"Masalahnya semalam, bukan sekarang." 


Dan akhirnya hanya empat kata tersebut yang berhasil keluar dari mulut Alina. 


"Memangnya ada apa, Sayang? Katakanlah, maaf semalam aku nggak mendengar telfon kamu."


Alina bakalan nafasnya dengan keras, dia sengaja melakukan itu agar Riko mendengarnya.


"Kamu urus saja pekerjaan kamu di sana, nggak usah menjawab teleponku lagi."


Setelah berkata seperti itu, Alina langsung menutup panggilannya tanpa berpamitan. Dia sengaja melakukan itu sesuai instruksi Rena agar suaminya percaya jika dirinya sedang marah karena panggilannya yang tidak diangkat. Setelah panggilan terputus, Alina mematikan daya ponselnya dan langsung memandang ke arah Rena dengan ragu. 


"Ren, gimana kalau Rico benar-benar khawatir? Aku takut dia nggak fokus dengan pekerjaannya dan memilih untuk pulang sebelum kerjanya selesai," ucap Alina khawatir.


"Nggak mungkinlah, Al."


*Nggak mungkin apanya?" tanya Alina dengan heran. 


"Ya mungkin Rico akan langsung pulang kalau kamu benar-benar dalam keadaan bahaya. Tapi kenyataannya 'kan kondisinya kamu hanya sedang marah saja. Dia nggak akan pulang gitu aja dan mengecewakan orang tuanya dengan meninggalkan pekerjaannya. Rico pasti akan memilih menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan segera pulang untuk meminta maaf sama kamu. Percaya deh  walaupun dia sangat cemas dengan kamu yang sedang marah, tapi dia nggak akan semudah itu meninggalkan amanat dari orang tuanya. Ya … kecuali kalau nyawa kamu benar-benar sedang di ujung tanduk," ucap Rena meyakinkan temannya itu agar tidak cemas. 


Untuk kondisi Alina yang sedang berbadan dua, Rena sangat berhati-hati untuk membuat temannya itu memikirkan sesuatu yang sangat berlebihan.


**


Dokter yang dipanggil keluarga Alina kini telah tiba di rumah itu. Dokter tersebut langsung masuk ke dalam kamar Alina dan memeriksa kondisi Rena. Tak lama pemeriksaan yang dilakukan dokter itu, dan setelah meyakinkan hasilnya, dokter tersebut pun segera memberitahu jika sebenarnya kondisi Rena yang menurun itu salah satu gejala dari kehamilannya.


Ya, Rena saat ini sedang mengandung. Dia bahkan tidak menyangka jika kandungannya saat ini diperkirakan sudah menginjak usia delapan minggu. Rena sangat senang bukan main saat mengetahui jika dirinya sedang mengandung. Akhirnya penantian yang dia nantikan setelah berbulan-bulan, kini dia dapatkan juga. Saat itu Rena hendak memberitahu suaminya akan kabar bahagia ini, namun setelah dipikir-pikir sepertinya akan menyenangkan jika dia memberikan kejutan kepada Andi setelah pria itu pulang dari dinasnya nanti sore.


**


Beberapa menit sebelum makan siang dimulai, kue ulang tahun pesanan Rena akhirnya datang juga. Kue itu masih terlihat fresh karena memang baru saja dibuat saat Rena menelpon tadi pagi. Untuk pelanggan VVIP seperti Rena, tidak ada yang tidak mungkin jika wanita itu menginginkan sesuatu, seperti yang dilakukannya saat ini. Memang tidak heran lagi jika kekuatan uang sangatlah luar biasa.


"Kuenya diletakan di mana? Apa di masukkan dalam kulkas saja?" tanya Alina pada Rena dan juga keluarganya.


Alina juga meminta orang tuanya dan Morgan untuk bekerja sama mengerjai Rico. Tak ada yang menolak ajakan kerjasama wanita hamil itu, karena mereka juga sangat menyukai permainan seperti ini, terlebih Morgan.


"Masuk kulkas juga nggak apa-apa, nanti kita halangi saja dia kalau mau buka kulkas," ucap Thomas menyarankan.


"Sepertinya kita masukan ke dalam kamar saja, Paman. Biar nanti kejutannya di dalam kamar," ucap Rena pun yang memberi saran.


"Lah, nanti kalau dia masuk kamar gimana?" tanya Morgan kemudian.


"Sselum Rico pulang, seharusnya ada satu atau dua orang yang menjaga di bawah sini untuk mencegah dia masuk ke dalam kamar. Bagaimanapun caranya nanti, jangan biarkan Rico masuk ke dalam kamar sebelum semuanya ready."


*Sampai kapan kita mau menunggu di sini? Kita saja nggak tahu kapan dia pulang," ucap Morgan.


"Kalau gitu kamu saja yang menghubungi dia. Tanyakan padanya kapan dia pulang, bilang saja kalau Alina lagi bad mood." 


Rena memang memiliki banyak sekali rencana yang sangat matang. Semua orang terlihat kagum dengan apa yang Rena katakan. Sepertinya untuk urusan kejutan, Rena sudah menjadi ahlinya.


Karena setuju dengan saran dari Rena, akhirnya mereka menuruti perkataan wanita itu. Morgan menghubungi Rico untuk menanyakan kepulangannya, sementara pelayan membawa kue ulang tahun ke dalam kamar Alina.


Setelah mengetahui jika Rico akan pulang sekitar dua jam lagi, mereka menikmati makan siangnya terlebih dahulu ketika para koki telah menyelesaikan masakannya. Di tengah makan siang mereka, terlihat Irfan, Santi, dan juga Alfian yang baru saja tiba di rumah itu. Mereka sengaja datang karena akan ikut untuk mengerjai Rico, seperti apa yang pria itu lakukan padanya beberapa minggu lalu.


Baru saja menyelesaikan makan siangnya, penjaga rumah yang berjaga di depan tiba-tiba menghubungi telepon rumah. Saat itu pelayan yang mendengarnya segera menjawab panggilan tersebut. Setelah mendapatkan pesan dari penjaga rumah, pelayan tersebut pun langsung memberitahukannya kepada Thomas dan yang lainnya.


"Tuan, Nyonya, maaf, penjaga di depan bilang katanya mas Rico sudah pulang."


Semua yang mendengar perkataan pelayan itu sangat terkejut. Rico sudah pulang? Apa mereka tidak salah dengar? Kenapa pria itu cepat sekali pulangnya, bukankah Morgan bilang jika dia akan pulang sekitar satu jam lagi dari sekarang? 


Karena tak mau memikirkan lebih jauh dan membuat rencana mereka gagal, Santi dan Irfan pun bergegas menuju lantai dua menuju kamar Alina. Mereka akan ikut memberi kejutan dari kamar menantunya itu bersama Alina yang akan menyusul nantinya.


"Salah satu orang cegah Rico untuk masuk selama beberapa menit. Jangan sampai dia melihat orang tuanya ada di sini," ucap Rena kemudian yang tertuju kepada Morgan.


Karena merasa jika Rena sengaja memberi kode padanya, akhirnya Morgan pun dengan sadar diri bergegas keluar rumah untuk mencegah adik iparnya itu masuk ke dalam rumah sebelum rencana yang dibuat oleh teman adiknya itu siap.

__ADS_1


Setelah orang tua Rico yang sudah tidak terlihat lagi dan piring bekas makan mereka juga telah dibersihkan, Alina, Rena, beserta kedua orang tuanya kembali mendudukkan tubuhnya di meja makan. Mereka berpura-pura baru saja menyelesaikan makanya, sementara saat itu Morgan dan Rico masuk ke dalam rumah.


Mereka mendudukkan tubuhnya di meja makan untuk bergabung bersama yang lain. Setelah memberi salam kepada kedua mertuanya dan juga Alfian, Rico pun beralih kepada Alina. Melihat wajah istrinya yang terlihat tidak ramah, membuat Rico berpikir jika istrinya itu masih marah padanya gara-gara teleponnya yang tidak diangkat semalam. 


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rico lebih dulu.


Alina hanya menggerakkan kepalanya menanggapi pertanyaan suaminya itu. 


Dan Rico yang melihat hal itu pun merasa tidak enak hati dengan mertuanya. Karena tidak mungkin membicarakan kejadian semalam di depan orang tuanya, Rico pun memilih untuk mengajak Alina masuk ke dalam kamar, untuk membicarakan kesalahpahaman ini secara pribadi. 


"Sayang, apa kamu sudah selesai makan? Temannya aku ke kamar yuk," ajak Rico. 


Alina yang saat itu berada di tengah-tengah antara Rico dan juga Rena melirik ke samping kanannya, saat temannya itu mencoleknya. Melihat kode dari Rena, Alina pun langsung mengiyakan ajakan Rico. Namun sebelum mereka benar-benar pergi dari sana, Thomas lebih dulu mengangkat bicara.


"Alina, pergilah dulu ke dalam kamar. Papa ingin bicara dengan Rico dulu." 


"Rena, tolong bantu Alina ke kamarnya " ucapnya kemudian kepada Rena.


Rena pun langsung mengiyakan karena memang ini adalah bagian dari rencana mereka untuk menahan Rico sejenak sebelum mereka mempersiapkan kejutan di kamar Alina nanti. 


Seperginya Alina dan Rena, Thomas dan Alfian langsung menatap ke arah Rico dengan tatapannya tak biasa. Mereka memasang tatapan tajam seolah sedang menghakimi pria yang baru saja tiba dari dinas luar kotanya. 


Rico yang melihat itu sangat heran dibuatnya, namun dia tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi karena pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh istrinya yang sedang merajuk padanya. 


"Rico, Papa tahu kalau kamu sedang melakukan pekerjaan penting di luar kota. Tapi apa kamu sesibuk itu sampai kamu nggak bisa menjawab panggilan telepon dari istri kamu?"


Rico yang langsung mendapat pertanyaan seperti itu lantas menyadari jika orang tua Alina kini telah mengetahui dirinya yang tidak menjawab panggilan Alina semalam. Rico bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa Alina memberitahu orang tuanya tentang kesalahpahaman ini? Sebelumnya mereka telah berjanji untuk tidak membicarakan permasalahan mereka berdua kepada orang tua masing-masing, namun kenapa Alina melakukannya? Apakah semalam terjadi sesuatu dengan istrinya sampai orang tuanya harus mengetahui kesalahpahaman ini?


"Maaf, Pa, bukannya Rico sengaja nggak mengangkat telepon Alina. Semalam Alina menelpon Rico jam dua belas malam dan saat itu Rico sudah tidur. Rico juga nggak nyangka kalau di tengah malam seperti itu Alina akan menelpon Rico, karena sebelumnya dia nggak pernah melakukan itu," ucap Rico menjelaskan. Berharap mertuanya itu mengerti kondisinya.


"Walaupun Alina nggak pernah menelpon kamu di jam seperti itu, tapi setidaknya kamu harus waspada. Apalagi saat ini istri kamu sedang hamil tua dan berada jauh dari kamu. Kalau semalam nggak ada Rena ataupun kami, bagaimana dengan Alina? Kamu pasti akan sangat menyesal karena sudah melakukan kelalaian yang kamu anggap kecil ini."


"Memangnya ada apa dengan Alina semalam, Pa? Rico bener-bener nggak tahu tadi, soalnya tadi pagi saat Rico nelpon Alina, dia nggak mau bicara dengan Rico, Pa."


"Ya jelas aja dia nggak mau bicara sama kamu. Dia sangat marah karena kamu mengabaikan panggilannya."


Rico seketika menghela nafasnya mendengar kalimat tersebut yang dilontarkan oleh Alfian. Dia semakin bertanya-tanya apakah semalam telah terjadi sesuatu pada istrinya itu sehingga pagi ini dia harus menerima kemarahannya dan juga keluarganya?


"Sudahlah, lebih baik kamu minta maaf yang tulus dengan Alina dan tanyakan langsung padanya apa yang telah terjadi semalam," ucap Thomas kemudian setelah mendapat kode dari Morgan jika Alina dan yang lain di atas sudah siap untuk memberikan kejutan kepada Rico.


**


Di depan pintu kamarnya, Rico terdiam sejenak. Dia mencoba untuk mempersiapkan kesabarannya apapun yang terjadi nantinya, meskipun Alina akan memarahinya. Rico mengetuk pintu kamarnya, dia sengaja melakukan itu karena tahu jika Rena ada di dalam sana. Dia takut jika langsung masuk nanti ternyata teman istrinya itu sedang tidak siap. 


Dua kali mengetuk, teriakan yang sangat kencang dari Alina dari dalam kamar membuat Rico sangat terkejut dan khawatir. Tanpa berpikir panjang lagi, Rico segera membuka pintu kamarnya dengan cepat. Saat pintu terbuka, Rico sangat terkejut saat melihat istrinya yang tengah memegang kue ulang tahun dengan lilin kecil di atasnya beserta Rena dan juga kedua orang tuanya. 


Rico membuka mulutnya tak percaya jika orang tuanya ada di sini bersama istrinya yang tengah memberi kejutan ulang tahun untuknya. 


"Aku ulang tahun?" tanya Rico yang entah kepada siapa.


"Kamu nggak ingat tanggal ulang tahun kamu sendiri?" tanya Alina dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Nggak," jawab Rico singkat. 


Dia memang tidak mengingat tanggal lahirnya karena kesibukannya akhir-akhir ini. 


"Saat ulang tahun aku saja kamu ingat, kenapa ulang tahun sendiri nggak ingat?" tanya Alina dengan heran. 


"Entahlah. Mungkin karena aku lebih suka mengingat segala tentang kamu daripada tentang diriku sendiri," ucap Rico yang membuat Alina tersipu malu karena pandangan mertuanya. 


Saat itu kedua orang tua Alima bersama Morgan dan Alfian pun masuk ke dalam kamar Alina. Rico yang melihat itu pun merasa sedikit lega karena ternyata mertuanya itu tidak benar-benar marah badannya. Padahal jantungnya tadi hampir saja melompat dari tempatnya karena ini adalah kali kedua orang tua Alina marah padanya. Jika hal itu sampai terjadi, Rico menebak jika sebentar lagi dia akan masuk ke dalam buku hitam keluarga Wilson, karena telah mengecewakan mereka. 


Semua orang mengucapkan selamat dan juga menyelipkan sedikit doa kepada pria itu. Rico sangat senang sekali saat semua orang mengingat hari lahirnya, meskipun sebelum ini dia harus dibuat senam jantung karena keusilan istrinya itu.


Rico kembali memeluk istrinya sembari membenamkan kecupan ringan pada keningnya.

__ADS_1


"Jadi ceritanya kamu mau balas dendam sama aku?" bisik Rico kemudian.


__ADS_2