Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
11. Rahasia


__ADS_3

Dua bulan kemudian…


Hari ini tepat lima minggu Rico menjalin hubungan bersama Alina. Ya, Alina si wanita cantik yang dengan sengaja diperkenalkan Andi padanya.


Setelah obrolannya bersama Andi saat di club dua bulan lalu, akhirnya Rico memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Alina. Dia sudah memikirkan hal itu dengan sangat matang karena selama beberapa hari itu, pikirannya selalu dipenuhi oleh bayang-bayang Alina. Hal ini sangat mengganggu untuk Rico karena selama dia berpacaran, Rico tidak pernah sama sekali memikirkan wanita dengan begitu intens seperti saat itu.


Saat Rico menyatakan perasaannya, Alina tentunya sangat terkejut. Perkenalan mereka yang sangat singkat membuatnya tak percaya jika Rico sudah memiliki perasaan kepadanya. Awalnya Alina meminta waktu untuk menjawab pernyataannya dan tentu saja Rico tidak mempermasalahkan itu. Setelah dua minggu berlalu, akhirnya Alina menjawab pernyataan Rico dengan kabar yang gembira untuknya. Wanita itu menerima perasaan Rico dan mau menjalin hubungan dengannya.


"Mungkin perasaanku ini belum sebesar perasaan kamu kepadaku, Co. Tapi kalau kamu mau menunggu perasaan ini tumbuh lebih besar, aku mau menerima kamu."


Menunggu bukanlah jadi masalah untuk Rico karena sudah cukup baginya jika Alina juga memiliki perasaan padanya. Untuk sebesar apa perasaan itu, Rico percaya jika seiring berjalannya waktu perasaan itu akan berubah. Entah semakin bertambah atau berkurang, biarlah waktu dan takdir yang menjawabnya.


Kedekatan Rico dan Alina itu juga ternyata berhasil membuat salah satu teman mereka yaitu, Andi, sangat terkejut. Dia terkejut karena tidak menyangka jika seorang Alina yang sulit membuka hati, tiba-tiba mau menerima perasaan Rico yang dikenalnya belum sampai tiga minggu.


Namun dengan begitu Andi sangat senang dengan kabar bahagia dari kedua sahabatnya itu. Dia yakin jika Alina dan Rico sangat cocok dengan segala perbedaannya. Dan Andi juga berharap Alina bisa menerima semua kekurangan Rico, termasuk statusnya yang sebagai anak angkat dari keluarga Renaldi. Jauh di lubuk hatinya, Andi sangat yakin jika Alina adalah wanita yang berbeda dari wanita lain kebanyakan. Wanita itu pasti tidak akan melakukan hal yang sama dengan para mantan pacar Rico yang lain, jika Rico memberitahu kebenaran itu nantinya.


Dan hari ini Rico pun memutuskan untuk memberitahu Alina tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Dia harus segera memberitahu Alina tentang siapa dia di keluarga Renaldi karena Rico tidak mau menjalin hubungan dengan begitu banyaknya informasi yang ditutupi.


Rico juga ingin melihat bagaimana reaksi dan keputusan Alina saat mengetahui jika dirinya hanyalah anak angkat di keluarga Renaldi. Jika kenyataan pahit yang harus dia terima, maka ini akan menjadi patah hati pertamanya karena dia sudah sangat mencintai wanita cantik itu. 


Rico sendiri tidak tahu kenapa perasaan ini begitu cepat datang padanya, padahal sebelum ini dia tidak pernah merasakan rasa cinta sebesar ini. Apalagi dengan waktu yang cukup singkat dalam perkenalan mereka.


Saat ini Rico sudah duduk manis di sebuah private room sebuah restoran. Dia memilih tempat yang private agar lebih leluasa berbicara dengan Alina.


Sepuluh menit menunggu akhirnya yang ditunggu pun telah tiba. Alina datang dengan senyuman manis yang alami di wajahnya. Membuat Rico seketika ikut tersenyum dan berdiri untuk menyambut kedatangannya.


"Maaf aku terlambat," ucap Alina.


"Its oke. Aku yang datang lebih awal," sahut Rico. Dia menarik Alina untuk duduk di hadapannya.


Masih dengan suasana yang sama seperti orang pacaran pada umumnya. Mereka menikmati hidangan makan malam dengan suasana ruangan yang terlihat romantis dan juga obrolan ringan yang membuat suasana tampak lebih hidup. Canda tawa pun sesekali terdengar saat Rico ataupun Alina mengeluarkan perkataan yang cukup lucu bagi mereka. Tak ada kata jaim di antara mereka karena mereka memang bersikap apa adanya satu sama lain. Bahkan hubungan yang saat ini mereka jalani pun tak jauh berbeda dengan saat sebelum mereka berpacaran. Hanya saja saat ini mereka bisa lebih intens dalam mengungkapkan perasaannya satu sama lain.


Setelah makanan di atas meja habis tak bersisa, Rico mulai bersiap untuk mengatakan apa yang seharusnya dia katakan kepada Alina. Sebelum itu dia berdoa dalam hati agar Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita yang dia cintai. Jikapun ini bukanlah waktunya untuk menjalin hubungan, maka dia hanya bisa berharap untuk diberikan kelapangan hati. Semoga saja rasa sakit akan menolakan dari Alina tidak membuatnya jadi gila nantinya, tapi dia lebih berharap, bukanlah penolakan yang dia dapatkan.


"Al."


Alina meletakkan gelas yang dia pegang. 


"Kenapa, Co?"


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengamu."


Suara Rico yang tiba-tiba terdengar serius membuat Alina terheran dan mengernyitkan alisnya.


"Bicaralah, serius banget sih," ucap Alina. Dia masih bersikap santai dengan ucapannya.


Rico diam beberapa saat sembari memerhatikan wajah wanita cantik yang ada di hadapannya. Pertanyaan bagaimana jika Alina menolaknya terus berputar-putar di kepalanya. Baru kali ini dia terlihat ragu untuk mengatakan kebenaran ini. Itu mungkin karena rasa cinta yang telah tumbuh begitu cepat dan juga rasa takut akan kehilangan wanita yang dicintainya. Namun menyimpan rahasia dalam waktu yang cukup lama juga tidak aman membuat hubungan mereka jadi lebih baik.


Alina yang melihat pacarnya itu tak juga berbicara lantas terlihat bingung. Sepertinya Rico memang ingin mengatakan hal yang serius padanya.


Alina menjentikkan jarinya di depan Rico dan seketika pria itu tersadar dari lamunannya.


"Kenapa melamun? Katanya mau bicara, apa seserius itu?" tanya Alina dengan penasaran.


"Al, apa kamu akan menolak aku jika sebenarnya aku ini bukan orang kaya?"

__ADS_1


Alina mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Rico yang terdengar aneh di telinganya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Co?" tanya Alina dengan heran.


"Aku hanya ingin tahu, Al. Selama ini hubungan percintaanku selalu gagal karena sebenarnya aku bukanlah orang kaya."


Alina terdiam mendengar perkataan Rico. Tak ada ekspresi pada wajah wanita itu dan Rico pun terlihat pesimis dengan reaksi Alina akan perkataannya. Dia benar-benar sudah kehilangan harapan akan wanita cantik di depannya itu. Rico mengira jika Alina sama seperti mantan pacarnya yang sebelumnya, hang tidak bisa menerima kekurangannya.


Namun karena sudah terlanjur dengan pengakuannya, akhirnya Rico memutuskan untuk melanjutkan perkataannya. Pers3tan dengan penolakan yang sudah sering dia dapatkan, dan kini Rico harus siap jika dia benar-benar harus kehilangan wanita yang dia cintai untuk pertama kalinya.


"Al, sebenarnya aku bukanlah anak kandung dari keluarga Renaldi. Aku hanyalah anak seorang pembantu dan supir di keluarga itu yang meninggal karena kecelakaan. Papa Irfan dan mama Santi mengadopsiku saat itu juga karena yang aku tahu, mereka sangat menyayangiku."


"Mereka sangat tulus menyayangiku, Al. Aku bisa merasakan itu hingga saat ini. Tapi yang namanya anak angkat, sesayang apapun mereka denganku, suatu saat aku akan tetap pergi dari sana dan meninggalkan kekayaan yang aku dapatkan saat ini."


Rico kembali menjeda kalimatnya. Dia ingin melihat reaksi Alina akan pengakuannnya yang cukup singkat itu, namun sayang wanita itu masih setia dengan diamnya. Tak menunjukkan reaksi apapun terhadap apa yang dia kataka. Hal itu tentu saja membuat Rico sangat heran karena dia tidak bisa membaca apa yang akan Alina putuskan akan kelanjutan hubungan mereka.


"Al, aku mengatakan semua ini padamu karena aku nggak mau menyimpan rahasia di antara kita. Aku mengatakan semua ini karena aku berniat untuk serius denganmu, Al. Bagaimanapun juga, kamu pasti akan mengetahui kebenaran ini dan aku nggak mau kamu mengetahui semua ini dari orang lain."


Melihat Alina yang masih tak bereaksi, Rico merasa pupus harapannya.


"Al, aku sangat mencintaimu. Tapi jika kamu nggak bisa menerima semua kebenaran ini, aku nggak akan maksa kamu untuk terus melanjutkan hubungan kita. Aku nggak–"


"Apa menurut kamu perasaan ini hanya sebatas materi, Co?" ucap Alina dengan menyela perkataan Rico.


Rico cukup terkesiap mendengar ucapan Alina. Apa maksud dari ucapan wanita itu? Rico cukup bisa menilai apa maksud dari perkataan Alina, namun sentakan yang dia dapatkan membuatnya seolah tak mengerti apa yang Alina katakan.


"Apa menurutmu, aku menerima perasaan kamu ini karena kamu adalah anak dari seorang pengusaha sukses Irfan Renaldi? Apa aku serendah itu di mata kamu, Co?"


"Al, bukan begitu maksudku. Aku memberitahu kamu tentang semua ini karena aku berniat ingin serius dengan kamu, Al. Aku ingin terbuka dengan kamu tentang siapa aku yang sebenarnya. Aku ingin kamu tahu semua tentangku karena bagiku, keterbukaan adalah langkah awal untuk kita menjalin hubungan yang lebih baik untuk kedepannya nanti."


Alina dia sejenak sebelum berucap kembali yang membuat Rico sedikit terkejut.


"Co, aku sudah tahu siapa kamu di keluarga Renaldi."


"Kamu…? Kamu tahu dari mana? Andi?" tanya dan tebak Rico dengan sendirinya.


Alina menggelengkan kepalanya, menandakan jika tebakan Rico tidak benar.


"Lalu dari mana kamu tahu itu, Al? Tidak ada yang tahu statusku ini selain semua mantan pacarku, Andi, dan beberapa teman dekat papa. Renata saja belum tahu siapa aku," ucap Rico dengan heran.


"Aku tahu dari sumber yang terpercaya. Aku sudah tahu ini dari beberapa bulan lalu. Jadi, jangan kamu kira aku menerima kamu hanya karena kamu anak dari tuan Renaldi," ucap Alina dengan kalimat penegasan di akhir kalimatnya.


Di sini Rico cukup senang mendengar jika Alina menerimanya bukan karena alasan yang dia takutkan. Namun di sisi lain, Rico juga sangat penasaran dari siapa Alina mengetahui informasi yang dirahasiakan keluarga Renaldi selama ini jika bukan dari Andi?


Sumber terpercaya? Rico benar-benar memutar otaknya memikirkan perkataan Alina.


"Apa yang kamu pikirkan, Co? Apa kamu berharap aku menolak kamu atas pengakuanmu ini?"


Pertanyaaan dari Alina berhasil membuat Rico tersadar dari lamunannya dan dengan cepat membuatnya menggelengkan kepala.


"Nggak Al, bukan begitu. Aku senang, aku sangat senang mendengar jika kamu menerima aku bukan karena materi," ucap Rico dengan sedikit bersemangat.


"Tapi aku hanya penasaran, dari mana kamu mengetahui rahasia yang tidak semua orang tahu, jika bukan dari Andi. Nggak mungkin kamu berteman dengan salah satu mantan pacarku, 'kan?" tanya Rico dengan curiga.


"Sebaiknya jangan dipikirkan karena rahasia kamu akan selalu aman, Co. Lagi pula, aku penasaran deh, kenapa kamu menyembunyikan kebenaran ini, tapi justru menceritakannya pada semua pacarmu?"

__ADS_1


"Aku nggak berniat menyembunyikannya dari siapapun, Al, tapi papa dan mama. Terlebih mama yang ingin menutupinya. Dia akan sangat sedih saat merasa akan ada banyak orang yang membullyku jika mereka tahu bahwa aku ini hanyalah anak dari seorang pembantu yang diangkat sebagai anak oleh keluarga Renaldi. Aku sangat menyayangi mama, Al. Aku nggak mau buat dia sedih."


"Tapi, apa kamu nggak malu saat semua mantan pacarmu mengetahui statusmu ini?"


"Kenapa harus malu? Justru aku bersyukur karena dengan penolakan mereka, aku bisa tahu bahwa mereka nggak baik untukku. Meski pernah merasa kecewa dengan penolakan itu, tapi rasa syukurku ternyata jauh lebih besar."


"Lalu bagaimana jika aku juga menolakmu?"


Rico terdiam sejenak.


"Jika itu terjadi, mungkin bukan hanya kecewa yang aku dapatkan. Aku juga akan merasakan patah hati untuk pertama kalinya, Al. Kamu tahu, ini pertama kalinya aku jatuh cinta sedalam ini dengan seorang wanita dan aku nggak tahu harus bagaimana jika kamu menolakku."


Rico kembali diam sembari memandang wajah Alina yang tersenyum manis kepadanya.


"Apa kamu menolakku, Al?" tanya Rico.


"Kamu tahu, Co. Saat pertama kamu menyatakan perasaanmu padaku, hal yang paling aku tunggu darimu hanyalah pengakuanmu ini. Aku pikir kamu akan merahasiakannya lebih lama, tapi ternyata nggak. Aku senang kamu mau berkata jujur."


"Apa itu artinya kamu…?"


"Tentu saja, Sayang. Cintaku nggak serendah itu untuk dibandingkan dengan materi yang tuan Renaldi miliki."


Rico terkesiap mendengar kata 'sayang' yang keluar dari mulut wanita di depannya itu. Dia membelalakkan matanya tak percaya karena selama mereka berpacaran, tak ada panggilan khusus dari mereka satu sama lain dan hari ini Alina memanngilnya dengan sebutan sayang. Hati Rico terasa berbunga, senyumnya nampak begitu saja sesuai dengan isi hatinya.


"Al, kamu manggil aku apa?" tanya Rico masih dengan rasa terkejutnya.


"Apa nggak boleh?" tanya Alina menaikkan kedua alisnya.


"Tentu boleh." Rico semakin menampilkan senyum manisnya. "Aku senang mendengarnya, Sayang."


Alina pun ikut tersenyum ketika Rico memanggilnya dengan panggilan khusus yang sama dengannya sebelumnya. Namun tak lama kemudian, raut wajah Alina yang tadinya tersenyum manis kini berubah menjadi mode serius.


"Co, aku punya satu rahasia yang belum semua orang ketahui, termasuk kamu."


Rico mengernyitkan keningnya. "Rahasia?"


"Tapi maaf, aku belum bisa memberitahu kamu untuk saat ini."


"Kenapa, Al?" tanya Rico dengan heran.


"Percayalah, jika waktunya sudah tiba nanti, kamu adalah orang pertama yang akan aku beritahu, Co."


Rico kini dibuat penasaran dengan perkataan Alina. Sebesar dan serahasia apa sehingga Alina belum bisa memberitahunya? Apa ini sangat serius sehingga dia menutupinya dari semua orang?


Rico sangat ingin mengetahui hal yang membuatnya penasaran itu, namun sebaiknya tidak sekarang. Dia harus menghargai keputusan Alina. Mungkin ada alasAn penting yang membuatnya belum bisa bercerita kepadanya. Lagi pula Alina sudah berjanji untuk menjadikan dia orang pertama yang akan mengetahui rahasia itu. Baiklah, dia akan menunggu hari itu tiba.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2