
Malam hari di kediaman Renaldi, setelah menyelesaikan makan malamnya, Rico mengajak kedua orang tuanya untuk duduk di taman samping rumahnya karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Sama seperti yang Alina lakukan, Rico ingin membicarakan masalah pernikahannya kepada kedua orang tuanya itu.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Bang, kenapa seperti terlihat serius sekali," ucap Irfan kepada putranya.
"Begini, Ma, Pa…" Rico menjeda ucapannya sejenak, dia terlihat bingung ingin memulai perkataannya karena takut kedua orang tuanya itu akan salah paham dengan niatnya.
"Katakan saja, Bang. Ada apa?" ucap Santi pula kepada putranya itu.
Dia bisa melihat keraguan pada wajah Rico, sepertinya putranya itu hendak mengatakan sesuatu yang serius, namun entah apa itu.
"Sebelumnya Rico mau minta maaf sama Papa dan Mama kalau keputusan Rico ini akan membuat kalian salah paham."
Mendengar kalimat pertama yang diucapkan putranya, Santi dan Irfan Saling pandang sejenak, mereka seperti memiliki firasat yang aneh.
"Rico tahu kalau Papa dan Mama sangat menanti pernikahan Rico dan Alina. Rico tahu kalian pasti sangat senang dengan pernikahan ini, tapi bolehkah Rico meminta kepada kalian untuk menyerahkan semua keperluan pernikahan kepada Rico sendiri."
"Maksud kamu gimana, Bang? Apa maksudnya menyerahkan semua keperluan pernikahan pada kamu?" tanya Irfan dengan heran.
Rico menelan salivanya, dia benar-benar tidak tega menyampaikan niatnya ini kepada kedua orang tuanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu jika kedua orang tuanya akan kecewa dengan keputusannya ini, namun dia benar-benar tidak bisa jika harus merepotkan kedua orang tuanya lebih dari ini.
Sudah cukup semua yang diberikan kepadanya dari kedua orang tuanya itu. Kasih sayang, cinta yang tulus, keikhlasan merawatnya sejak kecil, hingga fasilitas yang diberikan kepadanya, serta status yang dia dapatkan hingga saat ini.
Bahkan dia tidak tahu bagaimana caranya akan membalas semua kebaikan kedua orang tuanya itu. Jangan sampai pernikahan yang akan dia jalan ini menambah bebannya lebih dari ini. Rico merasa semua kebaikan yang telah dia dapatkan selama ini adalah beban yang jarus dia tanggung karena tak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan yang keluarga Renaldi berikan padanya.
__ADS_1
"Pa, Ma, sebelumnya Rico mau mengucapkan terima kasih kepada Papa dan Mama yang telah membesarkan Rico hingga menjadi seperti sekarang. Rico benar-benar berterima kasih kepada Papa dan Mama karena kebaikan hati kalian membuat Rico bisa menjadi seperti saat ini. Rico nggak tahu kalau saat itu Papa dan Mama enggak mengangkat Rico sebagai seorang anak, mungkin Rico nggak akan menjadi seperti sekarang, seorang Rico yang tampan dan pintar, memiliki pekerjaan dengan jabatan tinggi, serta kehormatan dari orang-orang karena menyandang status Renaldi. Rico tahu kalau Papa dan Mama sangat menyayangi Rico seperti anak kandung kalian sendiri, tapi bolehkah Rico meminta sesuatu pada kalian?"
"Kamu mau minta apa, Sayang? Katakanlah, apapun yang kamu mau akan kami penuhi," ucap Santi dengan cepat.
Perkataan Rico saat itu sempat membuat jantungnya deg-degan. Dia sangat takut dengan apa yang ingin putranya itu inginkan.
"Ricp minta sama Mama dan Papa untuk menyerahkan semua urusan pernikahan kepada Rico dan Alina, termasuk semua biaya yang diperlukan. Jauh sebelum ini, Rico sudah memutuskan untuk membiayai seluruh pernikahan Rico dengan uang pribadi Rico sendiri, Ma, Pa."
"Apa maksud kamu membiayai semuanya sendiri, Bang? Apa kamu nggak membutuhkan kami lagi?" tanya Santi kemudian.
Dia merasa bersedih dengan perkataan putranya itu, seolah putranya itu tak lagi membutuhkan bantuannya.
"Ma, Mama jangan salah paham dulu ya, Rico bukannya nggak membutuhkan Mama dan Papa lagi, hanya saja Rico ingin mandiri dengan pernikahan ini. Sudah cukup selama ini Rico menyusahkan kalian–"
Rico yang melihat suara mamanya yang bergetar lantas tak kuasa dan segera menghampirinya. Dia takut kesalahpahaman ini membuat mamanya meneteskan air matanya.
Rico mendudukkan tubuhnya di samping mamanya, lalu dia genggam kedua tangan wanita paruh baya itu.
"Ma, Mama jangan salah paham dengan maksud Rico ya. Rico hanya ingin membuat acara pernikahan Rico dengan uang hasil kerja keras Rico selama ini. Coba Mama bayangkan, gimana bahagianya saat kita menggunakan uang hasil kerja keras kita sendiri untuk sesuatu yang berkesan seperti pernikahan. Rasanya akan sangat luar biasa, bukan? Meskipun acara yang digelar hanya sederhana, tapi itu akan sangat berkesan daripada acara mewah yang difasilitasi oleh orang tua. Rasanya akan sangat berbeda, Ma. Rico yakin Mama pasti mengerti maksud Rico. Jangan bersedih ya, Rico bukannya nggak butuh Mama lagi, Rico sangat butuh dengan Mama, benar-benar sangat butuh, tapi untuk yang satu ini Rico mohon Mama mengerti maksud Rico."
Santi menatap sedih kepada putranya itu.
Ya, dia mengerti maksud Rico, namun kenapa rasanya sakit sekali saat putranya itu berpikir dewasa untuk mandiri. Santi tidak tahu harus bagaimana menanggapi keputusan putranya itu, jadi dia memutuskan untuk pergi dari sana dan berlalu menuju kamarnya. Dia belum bisa mengiyakan keputusan putranya itu, namun dia juga tidak bisa menolak keinginan putranya itu.
__ADS_1
"Ma," panggil Rico yang tak mendapat respon dari Santi. Wanita itu terus berjalan masuk ke dalam rumah dan hilang di balik tembok.
"Bang."
Suara berat dari sang papa membuat Rico menoleh ke arahnya.
"Papa jangan salah paham dengan maksud Rico. Rico nggak maksud untuk menyakiti hati kalian dengan keputusan Rico ini."
"Papa mengerti, Bang," ucap Irfan menyahut. "Papa mengerti maksud kamu karena saat muda dulu Papa juga melakukan hal yang sama. Tapi coba kamu pikirkan sekali lagi tentang keputusan kamu ini ya. Kamu tahu 'kan bagaimana rasa cinta mama kamu selama ini ke kamu. Sangat besar, Bang. Meskipun kamu bukan darah dagingnya, tapi rasa cinta mama kamu kepada kamu selama ini tidak main-main. Kami sudah menganggap kamu seperti anak kandung kami sendiri, bahkan sejak sebelum orang tua kamu mengalami musibah itu. Kamu tahu kalau hanya kamu satu-satunya putra yang kami miliki. Jika bukan karena kamu, lalu untuk apa kami bekerja keras siang dan malam selama ini. Semua ini demi kamu, Bang."
Rico hanya bisa diam mendengar perkataan Papanya. Sebesar itukah rasa cinta kedua orang tua angkatnya kepadanya selama ini? Lagi-lagi dia berpikir kenapa dirinya sangat beruntung sekali.
"Lalu Rico harus bagaimana, Pa? Rico merasa jika kehadiran Rico selama ini sudah menyusahkan kalian. Selain ingin mandiri, Rico juga nggak mau menyusahkan kalian lebih dari itu."
"Siapa yang bilang menyusahkan, Bang? Kamu nggak ada menyusahkan sama sekali bagi kami. Seperti kata mamamu tadi, kehadiran kamu di sisi kami adalah semua anugerah dari Tuhan. Di saat dokter memvonis mama kamu untuk nggak memiliki anak lagi, Tuhan memberikan kamu kepada kami."
Rico menundukkan kepalanya, benar-benar dibuat bingung dengan perkataan papanya kala itu.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Minta petunjuk sama Tuhan dan setelah itu kita bicarakan lagi semuanya besok. Kembalilah ke kamar, ini sudah malam. Papa juga harus menghampiri Mama kamu dan menjelaskan semuanya. Papa harap besok kita sudah menemukan jalan keluarnya untuk semua ini."
Tanpa menunggu sahutan dari putranya itu, Irfan segera bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya untuk menyusul istrinya yang dia yakini sedang bersedih di dalam kamar.
Rico pun hanya bisa menatap kepergian papanya dengan wajah tanpa ekspresi. Dia jadi merasa bersalah atas semua keputusannya ini. Sepertinya mamanya juga sangat kecewa pada dirinya yang sudah salah mengambil keputusan ini.
__ADS_1