
Setelah selesai dengan makan siangnya, Rico mengantar Alina kembali ke kampusnya. Awalnya Alina sempat menolak tawaran Rico karena mengingat lokasi kampunya yang berada cukup jauh dengan kantor pria itu. Namun karena Rico yang terus memaksa, dengan terpaksa Alina mengiyakan tawaran pria itu. Sebenarnya dia tidak enak hati jika harus merepotkan pria itu, namun mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi dan dia juga tidak mungkin turun di tengah jalan, bukan?
"Ada apa dengan Andi?" tanya Alina tiba-tiba saat tak sengaja melihat story pada sosial media milik Andi.
Rico melirik sejenak kepada Alina.
"Kenapa memangnya dia?" tanya Rico yang masih belum mengerti dengan pertanyaan Alina.
"Nggak tahu, story sosmed dia isinya quotes galau semua. Sepertinya sedang berantem dengan pacarnya," ucap Alina sembari mengedikkan bahunya.
"Bukan berantem lagi, tapi sudah putus," sahut Rico dengan santainya.
Alina yang mendengar itu seketika mengalihkan pandangannya dari ponselnya kepada Rico.
"Putus?" Rico mengiyakan. "Pasangan bucin itu ternyata bisa putus juga ya."
"Mereka putus karena Andi nggak suka Rena yang terlalu cemburu sama kamu."
Alina terkejut mendengar namanya disebut dalam permasalahan hubungan Andi dan Rena.
"Kenapa jadi aku?" tanyanya heran.
Rico mengedikkan bahunya. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas dashboard berdering. Dia raih benda pipih tersebut dan nampaklah nama kontak Andi di layar ponselnya.
"Andi nelpon," ucap Rico kepada Alina.
"Panjang umur," gumam Alina pelan.
Setelah itu Rico segera menjawab panggilan temannya itu. Tak lupa dia menekan tombol speaker agar Alina juga bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Halo, Ndi?" seru Rico ketika panggilan sudah terhubung.
"Kamu di mana, Co?" tanya Andi dengan suara yang terdengar tak bersemangat.
"Di jalan bersama Alina. Ada apa?"
"Ngapain kamu sama Alina?" tanya Andi heran.
"Habis lunch bareng. Sekarang mau nganter dia ke kampus, baru balik ke kantor."
"Aku mau ke kantor kamu sekarang, jangan lama ya."
Rico mengiyakan dan setelah itu percakapan berakhir. Dia melirik ke arah Alina sejenak.
"Kamu beneran ada kelas setelah ini?" tanya Rico.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Nggak papa. Mau ngajak kamu ke kantorku saja kalau nggak sibuk."
Alina menaikkan salah satu alisnya mendengar ucapan pria itu. Ke kantornya? RR Corps?
"Aku nggak bisa, Co. Sorry ya," tolak Alina tanpa pikir panjang.
Rico tersenyum dan mengiyakan karena dia pikir jika Alina memang tidak bisa ikut dikarenakan masih ada mata kuliah yang belum selesai. Tidak masalah, masih ada hari lain untuk kesempatan yang lebih baik.
Belum satu menit berpikir seperti itu, tiba-tiba Rico tersadar jika dirinya baru saja mengajak Alina untuk berkunjung ke kantor tempatnya bekerja.
"Astaga, kenapa aku ngajak dia ke kantor ya," gumam Rico dalam hati.
Dia terlihat bingung sendiri, karena memang sejak tadi perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari. Untung saja Alina menolak ajakannya karena jika tidak, papanya akan melihat wanita itu dan mengira jika dirinya yang baru putus dari Angel beberapa hari lalu dikarenakan pihak ketiga.
Rico memang tak memberi tahu Irfan apa alasan dia putus dari Angel karena baginya cukup dirinya saja yang menyimpan semua luka atas statusnya sebagai anak angkat di keluarga Renaldi. Dia tidak mau orang tuanya tahu dan menjadi beban pikiran mereka, terutama Santi yang sangat lembut hatinya.
*
Setelah dari mengantar Alina ke kampusnya, Rico segera kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya sekaligus menemui Andi yang saat ini sedang menunggunya. Setibanya di kantor, Rico melihat Andi yang merebahkan tubuhnya dia atas sofa panjang yang ada di dalam ruangannya. Dia mendekati pria itu dan menendang kakinya yang menjuntai.
__ADS_1
"**1*," umpat Andi saat kakinya yang menjuntai terjatuh.
'Ke sini cuma numpang tidur?" tanya Rico sembari mendudukkan tubuhnya di sofa samping kanan Andi.
Menyadari jika Rico telah kembali, Andi segera mendudukkan tubuhnya.
"Sepertinya sudah ada progres. Kemarin-kemarin saja selalu nolak saat mau aku kenalkan dengan Alina," ucap Andi tanpa menghiraukan ucapan Rico, kemudian dia menarik salah satu sudut bibirnya.
Dia pikir perkenalan kedua sahabatnya itu hanya sebatas saat terakhir mereka bertemu beberapa hari lalu saja, tapi siapa sangka jika Rico ternyata mau mengambil langkah lebih awal tanpa harus dia pandu. Sepertinya pesona Alina memang benar-benar tidak bisa dia ragukan lagi. Siapapun pria yang bertemu dengannya pasti akan selalu ingin lebih dekat lagi padanya dan sepertinya temannya itu pun termasuk salah satunya.
Rico pun merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa seperti ini, sementara sejak awal dia sangat menolak saat Andi ingin mengenalkannya dengan seorang wanita. Dia tidak menyangka jika sesuatu yang diawali dengan keterpaksaan bisa membuatnya berinisiatif untuk ingin mengenal Alina lebih jauh.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Rico mengalihkan topik. Dia sengaja mengalihkan topik karena ada sesuatu yang ingin dia bahas bersama Andi, selain Alina.
"Bosen di kantor," jawab Andi.
"Masih belum baikan sama Rena?" tanya Rico lagi. Namun pertanyaannya kali ini berhasil membuat Andi menatapnya heran sekaligus curiga.
"Kenapa kamu nanya gitu?"
"Pertanyaanku salah? Oh, mungkin aku harus bertanya begini … apa kalian sudah balikan?"
"Kamu tahu dari mana kalau kami putus?" tanya Andi dengan heran. Dia cukup terkejut saat Rico berkata seperti itu. Apa jangan-jangan Rena menghubungi Rico dan mengatakan sesuatu padanya?
"Dia datang ke kantorku beberapa hari lalu. Katanya kamu mutusin dia karena Alina?"
Andi menghela nafasnya. Apa semua wanita harus menceritakan setiap permasalahannya kepada orang lain? Padahal Andi sendiri belum mengatakan apapun tentang hubungannya kepada teman baiknya itu.
"Aku cuma nggak mau dia cemburu buta nggak jelas. Sifatnya itu bisa saja membuat aku suatu saat nanti benar-benar berpaling darinya. Mungkin sekarang aku masih bisa bersabar, tapi bagaimana jika kami sudah menikah nanti? Ujian pernikahan nggak seperti yang kita bayangin, Co. Aku takut dengan sifatnya itu justru akan membuat aku nenyakiti hatinya nanti," ujar Andi panjang lebar. Namun ekspresi pria itu tetaplah datar, namun juga terdapat emosi yang Rico rasakan dari perkataannya itu.
"Lalu kamu mau apa dengan memutuskan hubungan kalian?" tanya Rico.
"Aku cuma mau dia intropeksi diri dan mengurangi rasa cemburunya yang berlebihan itu. Tapi aku nggak tahu dia bisa melakukan itu atau nggak."
"Bagaimana jika dia malah melupakanmu dan menemukan pria lain yang lebih dari kamu?" tanya Rico lagi.
Menurutnya, hubungan yang telah mereka lalui selama 4 tahun tidak akan membuat Rena dengan cepat menemukan penggantinya. Apalagi Rena sangat mencintainya, sama seperti dia yang sangat mencintai wanita itu. Kecuali jika wanita itu sudah lama dekat dengan pria lain selain dirinya dan mulai menjalin hubungan di saat adanya peluang seperti saat ini. Namun Andi tidak mau berburuk sangka seperti itu, dia yakin Rena tidak sejahat itu padanya.
"Itu yang kamu yakini, tapi bagaimana jika demikian? Rena menemukan pria lain yang lebih dari kamu dan melupakan kamu," ucap Rico lagi dengan perumpamaan yang sama.
Andi menatap Rico cukup lama, kemudian dia menghela nafasnya.
"Itu berarti aku bukan yang terbaik untuknya. Jika pria itu bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan Rena, aku bisa apa?" ucap Andi yang terdengar pasrah.
"Kamu nyerah begitu saja atau kamu nggak serius dengannya?" tanya Rico memancing.
"Jika itu bisa membuatnya bahagia, mungkin menyerah adalah pilihan terbaik."
"Hah, kamu serius?" tanya Rico tak percaya. Apa segitu saja perjuangan temannya itu dalam hubungannya yang sudah dijalani selama 4 tahun.
"Aku hanya takut menyakitinya, Co, itu saja. Semua nggak akan ada yang tahu bagaimana nantinya sifat kita ke pasangan kita. Bukannya aku nggak mau memperjuangkan hubungan kami, hanya saja cintaku yang sangat besar kepadanya membuat aku takut untuk menyakiti dirinya dengan kekhilafanku atas sifatnya."
Rico menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal. Dia tidak tahu harus memberi respon seperti apa lagi atas emosi yang Andi tunjukkan karena tidak ada yang salah juga dari pendapatnya barusan.
Suara telepon yang berdering di atas meja kerjanya mengalihkan fokus Rico pada Andi. Dia beranjak dari duduknya dan menjawab panggilan yang ternyata berasal dari asisten pribadinya. Sebelumnya Rico memang sudah mengingatkan untuk asistennya itu meneleponnya jika ada sesuatu yang penting tanpa harus mengetuk pintunya.
"Baiklah, sebentar lagi saya keluar."
Rico menutup panggilannya. Dia harus segera menghadiri rapat yang akan dipimpin papanya sepuluh menit lagi. Hampir saja dia terlupa dengan pekerjaannya karena sibuk mendengar curhatan Andi yang sedang galau.
Rico meraih sesuatu yang ada dia atas meja kerjanya dan setelah itu berpamitan kepada Andi untuk pergi rapat.
"Kamu belum mau pulang?" tanya Rico.
"Kamu ngusir aku?" tanya Andi sensitif.
Rico terkekeh kecil. "Iya, pulang sana."
__ADS_1
"Nggak mau. Aku tunggu di sini, setelah ini temani aku makan. Aku belum makan siang sejak tadi."
Rico menggelengkan kepalanya dan segera pergi dari sana tanpa menghiraukan orang galau yang berpura-pura cuek itu.
*
Usai rapat, Rico keluar dari ruangan meeting bersama para rekan kerjanya yang lain. Sementara Irfan dan salah satu rekan kerja sekaligus teman jauhnya masih berada di ruang rapat.
Semua yang terlibat dalam rapat sudah membubarkan dirinya masing-masing. Saat Rico hendak kembali ke ruangannya setelah bersalaman dengan rekannya yang lain, tiba-tiba seorang wanita cantik yang menjadi rekannya saat rapat tadi memanggil namanya. Wanita itu juga adalah anak dari seorang pengusaha yang saat ini sedang bersama Irfan di ruang rapat.
Rico menoleh dan tersenyum tipis kepada wanita itu.
"Rico Renaldi," ucap wanita itu dengan raut wajah yang terlihat sinis.
"Ada apa, Ibu Calista?" tanya Rico dengan sopan.
"Nggak nyangka ya, seorang anak angkat bisa diangkat menjadi direktur oleh pak Irfan," ucap wanita bernama Calista itu yang masih dengan sinisnya.
Rico hanya tersenyum di depan wanita itu dan berusaha untuk tidak terpancing dengan perkataannya.
"Pasti kamu sangat effort sekali ya di depan orang tua kamu, makanya bisa menjabat posisi setinggi ini. Eh, sorry, maksudnya orang tua angkat," ralat Calista dengan sengaja. Dia tertawa kecil setelah mengatakan itu, seolah ada yang lucu dalam setiap perkataan yang dilontarkannya.
"Kamu nggak lupa dengan orang tua kandung kamu 'kan, Rico? Yang seorang pembantu dan supir itu loh," ucap Calista lagi dengan wajah yang dibuat polos. Benar-benar menguji kesabaran Rico, namun untungnya dia sudah terbiasa dengan mulut pedas sejenis Calista ini.
"Maaf Ibu Calista, kalau sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya pamit dulu. Teman saya menunggu di ruangan," ucap Rico berpamitan.
Dia masih berusaha mengontrol emosinya dan menghormati Calista yang saat ini merupakan anak dari rekan kerja papanya. Namun belum dua langkah dia melangkah, tiba-tiba Calista kembali memanggilnya dan membuat Rico terpaksa kembali menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Ibu Calista?"
Calista berjalan mendekati Rico dan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Mentang-mentang sudah ada di posisi ini, kamu sudah berani sombong denganku ya, Co. Kamu nggak ingat dulu, saat kamu belum menjadi apa-apa? Saat itu kamu memohon padaku untuk tidak memutuskanmu. Dan sekarang … baru menjabat sebagai direktur saja sudah berani sombong."
Calista semakin mendekatkan tubuhnya. Bahkan jarak mereka saat ini sangatlah dekat.
"Ingat, Co, kamu itu bukan anak kandung pak Irfan. Suatu saat bisa saja mereka membuangmu begitu saja. Jadi jangan sombong … apalagi denganku."
Calista hendak menyentuh wajah Rico dengan jari lentiknya, namun Rico dengan cepat menahannya dan menjauhkan tangan Calista dari wajahnya secara perlahan. Dia juga melangkahkan kakinya satu langkah ke belakang.
"Kamu nggak perlu repot-repot mengingatkan apa posisiku di sini, karena aku nggak akan pernah lupa siapa diriku sesungguhnya. Dan maaf, tolong jangan ingatkan aku lagi dengan kejadian lima tahun lalu. Aku justru sangat bersyukur karena kamu memutuskanku saat itu. Dengan begitu, aku bisa tahu siapa yang pantas untuk aku pertahankan hingga akhir. Dan yang pasti itu bukan kamu."
Calina yang mendengar itu tiba-tiba merasa panas akan telinganya. Emosinya terpancing dan hendak melayangkan sumpah serapahnya kepada Rico. Namun baru saja hendak berucap, Rico sudah lebih dulu meninggalkannya dan masuk ke dalam lift untuk menuju ruangannya.
"Anak angkat si4lan. Kamu nggak akan bisa mendapatkan kekayaan pak Irfan, Rico. Suatu saat kamu akan didepak dari jabatan kamu ini dan dibuang begitu saja."
Teriakan Calista yang kencang itu masih bisa didengar Rico yang sudah berada di dalam lift karena pintu lift belum tertutup sepenuhnya. Dia masih memasang wajah datarnya, meski hatinya sangat hancur saat mendengar perkataan terakhir Calista.
Sebenarnya Rico memang sudah mempersiapkan diri untuk hal mengerikan jika suatu saat nanti semua mimpi indah ini lenyap. Namun perkataan Calista barusan berhasil membuat perasaannya tercabik-cabik.
Bukan masalah jika dia harus kehilangan materi, namun yang mengerikan adalah, saat harus berpisah dari kedua orang tuanya. Rasanya Rico tak bisa rela jika harus kehilangan orang tua sebaik Irfan dan Santi. Yang mau mengasuh anak dari seorang pembantu dan menyayanginya sepenuh hati layaknya anak kandung mereka sendiri.
*
Sebagian karyawan yang menyaksikan perkataan Calista di sana hanya bisa saling pandang satu sama lain. Beberapa ada yang sudah mengetahui status Rico dan mereka berusaha untuk tetap diam. Sementara yang belum mengetahuinya hanya bisa saling berbisik dan bertanya-tanya, apa maksud dari ucapan Calista yang ditujukan kepada atasan mereka.
Gosip hangat pun mulai terbentuk, namun sebagian orang yang mengetahui status Rico di sana dengan cepat melerai rekan kerjanya itu. Mereka yang mengetahui betapa baiknya Irfan dan juga Rico tentu saja tak mau ada gosip yang menjelekkan atasan mereka.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.
__ADS_1