
Setelah makanan datang, Rico dan yang lainnya melanjutkan perbincangan sambil menyantap makan siang mereka. Lagi-lagi perbincangan lebih didominasi oleh Rico dan Andi. Kedua wanita yang ada di sana lebih banyak fokus kepada makanannya saja, namun sesekali mereka ikut menimpali pembicaraan saat merasa ada yang menarik atau saat ditanya saja.
"Co, kapan-kapan kita double date yuk," ucap Andi memberi usul.
"Double date?"
Alina dan Rena mengalihkan pandangannya kepada kedua pria di samping dan di depan mereka.
"Iya. Kamu sama Alina, aku sama Rena. Kita liburan kemana gitu, pokoknya liburan aja. Gimana?"
"Kamu mau 'kan, Sayang?" tanya Andi kemudian kepada Rena. "Al, kamu juga mau, 'kan?" tanyanya juga kepada Alina sebelum Rena menjawab pertanyaannya.
"Liburan ke mana?" tanya Alina.
"Terserah. Luar kota atau luar negeri, kayaknya asik," ucap Andi yang masih dengan semangatnya.
"Sayang, kamu mau 'kan kita liburan bareng?" tanya Andi lagi kepada Rena.
"Em, iya, terserah kamu. Aku ikut saja," ucap Rena dengan tersenyum datar.
"Gimana Co, Al?" tanya Andi lagi kepada sepasang kekasih di hadapannya itu.
"Kamu mau?" tanya Rico kepada Alina.
"Boleh saja, tapi setelah aku wisuda saja ya. Kira-kira lima bulanan lagi kalau nggak ada halangan."
"Yasudah, berarti setelah kamu lulus saja. Sekalian kita merayakan kelulusan kamu," ucap Andi dengan cepat.
Rico dan Alina mengiyakan perkataan Andi. Sementara Rena hanya diam saja sembari kembali fokus dengan makanannya. Dia tidak tertarik mendengar pembicaraan mengenai planing liburan yang akan dilakukan bersamaan dengan perayaan hari kelulusan teman wanita pacarnya itu. Menyebalkan sekali, pikirnya.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Rena kepada Andi.
Andi menganggukkan kepalanya dan Rena segera pergi dari sana menuju toilet yang tak jauh dari posisi meja mereka berada.
Seperginya Rena, Rico meminta Alina untuk membayar tagihan makanan mereka ke meja kasir. Dia memberikan sebuah kartu berwarna gold kepada Alina dengan membisikkan pin dari kartu itu sebelum Alina pergi.
"Kenapa repot-repot sih, Co? 'Kan aku yang ngajak kalian lunch di sini," ucap Andi setelah melihat kepergian Alina.
"Jangan dipikirkan. Oh ya, Ndi. Aku perhatikan sejak tadi, sepertinya Rena masih belum bisa berdamai dengan kehadiran Alina. Apa kalian nggak papa?" tanya Rico yang sejak tadi sangat penasaran.
Sebenarnya Rico sengaja meminta Alina membayar makanan mereka ke meja kasir agar dia dapat waktu berbicara berdua bersama Andi. Dia yang sejak tadi memerhatikan tingkah Rena merasa jika wanita itu terlihat aneh karena lebih banyak diam dan terkesan seperti tak tertarik dengan lunch siang ini. Dan dari apa yang dia lihat, sepertinya Rena masih terlihat tidak suka dengan keberadaan Alina.
Andi yang mendengar perkataan Rico, seketika menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Lagi-lagi permasalahan yang sama, pikirnya.
"Dia sudah berjanji akan berusaha untuk lebih dewasa menyikapi pertemanan kami dan aku juga yakin jika Rena nggak main-main dengan janjinya. Aku sangat yakin Rena bisa berdamai dengan keadaan seiring berjalannya waktu. Apalagi 'kan sekarang Alina sudah jadi pacarmu, nggak ada alasan buat dia cemburu lagi. Namun untuk membuat dia akrab dengan Alina, sepertinya sulit dan butuh waktu."
"Gimana kalau kita buat mereka akrab?"
Andi mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Rico. Membuat mereka akrab?
"Kamu nggak lagi ngigo 'kan, Co?" tanya Andi dengan tak percaya. "Mau akrab gimana, ngobrol basa-basi saja rasanya mustahil."
"Coba dulu saja. Kalau mereka terus begini, kasihan dengan Rena. Dia akan terus merasa nggak nyaman kalau kita sedang bersama seperti saat ini. Kecuali kalau kamu mau kita nggak berteman atau bertemu lagi."
Andi tampak mempertimbangkan perkataan Rico. Ada benarnya yang dikatakan temannya itu. Bukan hanya Rena yang akan merasa tidak nyaman dengan pertemuan ini, meski terlihat biasa saja tapi, lama kelamaan Alina juga pasti akan merasa tidak nyaman jika Rena terus berdiam diri seperti ini.
Jikapun mereka tidak membawa Alina maupun Rena dalam pertemuan mereka, namun itu tidak akan berlangsung lama, bukan. Suatu saat jika berjodoh mereka akan menikah. Dan jika Rena masih dengan dirinya yang seperti ini, maka sampai kapanpun tidak akan ada planning double date di antara mereka. Padahal double date bersama sahabat adalah hal yang sangat menyenangkan. Sepertinya dia harus mencoba apa yang Rico katakan. Bagaimana hasilnya nanti, biarla itu jadi urusan belakangan. Tapi dia juga berharap jika apa yang Rico rencanakan bisa berhasil.
"Boleh. Kamu punya rencana apa?" tanya Andi penasaran. Dia menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi, seolah tertarik dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.
"Biar Alina yang memulai. Nanti aku bicara dengannya."
Ya, Rico akan meminta untuk Alina memulai pendekatan dengan Rena. Jika tidak seperti itu, akan sulit untuk Rena bisa menerima Alina sebagai sahabat dari pacarnya.
__ADS_1
Rico yakin, dengan kedewasaan Alina, pacarnya itu pasti bisa membuat Rena mengerti dengan situasi yang ada. Dia juga melakukan semua ini bukan hanya karena Rena saja, melainkan untuk kebaikan mereka berempat.
Tak lama dari perbincangan itu, Alina dan Rena kembali ke meja mereka secara bergantian. Setelah makanan di atas meja mereka habis, mereka segera pergi dari restoran itu dengan terpisah. Andi yang harus mengantar Rena menuju Java group terlebih dahulu sebelum dia kembali ke kantornya, karena mereka berdua masih harus menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Sementara Rico pun harus mengantar Alina pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum dia kembali ke kantornya yang juga untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang," panggil Rico kepada Alina.
Saat itu mereka dalam perjalanan untuk mengantar Alina pulang ke kontrakannya.
Mendengar namanya dipanggil, Alina yang saat itu sedang menatap ponselnya lantas menoleh kepada pacarnya.
"Kenapa?"
"Em, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Rico dengan sedikit ragu.
"Ada apa, Co? Katakan saja."
Kini Alina dibuat penasaran dengan apa yang ingin Rico katakan saat melihat keraguan diwajahnya.
"Em, apa kamu keberatan kalau aku minta kamu untuk berteman dengan Rena?"
Alina mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Rico. Berteman dengan Rena? Dia tersenyum geli karena merasa aneh dengan pertanyaan sekaligus permintaan pacarnya itu.
"Maksud kamu berteman yang bagaimana?" tanya Alina.
"Saat kita makan siang tadi, aku perhatikan kamu dan Rena nggak saling ngobrol. Kalian lebih banyak diam dan terkesan nggak nyaman."
"Aku ngerti maksud kamu, Co. Tapi, apa Rena mau berteman denganku? Selama ini dia selalu menghindar dariku, Co. Saat aku bersama Andi saja dia selalu curiga denganku."
"Rena itu sejak kecil selalu dimanja oleh keluarganya. Sulit untuk dia berpikir dewasa dengan lingkungan yang seperti itu. Aku ingin kamu yang lebih dulu mendekatinya, Sayang. Apa kamu keberatan?"
Alina diam sejenak, berpikir tentang apa yang Rico katakan. Kemudian dia menghela nafasnya.
"Okelah. Nanti kalau ada waktu aku sempatkan untuk menemuinya."
Dia merasa jika Alina adalah paket komplit dari Tuhan yang khusus dikirimkan hanya untuknya. Rico berharap, semoga saja kedepannya nanti perasaan ini akan terus seperti ini, bahkan jauh bertambah besar seiring berjalannnya waktu. Dan semoga saja Alina merasa demikian padanya.
Setiba di depan kontrakan Alina, Rico menghentikan kendaraannya, namun tak sampai mematikan mesin mobilnya karena dia harus segera kembali ke kantor.
"Hati-hati ya," ucap Alina setelah dia turun dari mobil.
Belum sempat Rico mengiyakan ucapan pacarnya itu, sebuah mobil denga jenis yang sama berwarna putih terlihat berhenti di belakang mobilnya. Rico yang awalnya hendak mengabaikan mobil itu, seketika terlihat curiga karena Alina menatap ke arah mobil itu dengan cukup lama.
"Siapa, Sayang?" tanya Rico yang langsung membuat Alina kembali menatap ke arahnya.
"Itu saudaraku," jawab Alina.
"Mau ngapain saudara kamu ke sini?"
Alina tertawa geli mendengar pertanyaan bodoh Rico.
"Ya mengunjungi saudaranya lah, memangnya apa lagi?" ucap Alina masih dengan tawanya.
Rico sebenarnya ingin menemui pria itu dan melihat wajahnya. Dia juga ingin memastikan apa benar jika pria itu adalah saudara Alina, namun karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya Rico memilih untuk pergi dari sana. Masih ada banyak waktu untuk dia berkenalan dan bertanya lebih jauh kepada Alina mengenai saudaranya itu.
Bukan maksud Rico untuk tidak memercayai Alina, hanya saja dia ingin lebih mengenal Alina jika benar bahwa pria yang dimaksud Alina tersebut memang benar saudaranya.
*
Sore harinya Alina pergi ke toko buku dengan seorang diri. Dia ingin mencari buku yang sekiranya bisa dibaca untuk waktu luang. Selain memiliki suara yang indah, Alina juga sangat menyukai membaca. Bacaan jenis apapaun itu dia akan menyukainya, tak heran jika wanita itu memiliki otak yang pintar dan wawasan yang luas.
Hampir setengah jam memilih buku yang akan dia beli, akhirnya Alina segera keluar dari toko buku itu dengan pilihan buku jenis novel fantasy. Alina mengutak-atik ponselnya untuk memesan ojek onlie, namun sayang saldo yang dia punya tidak cukup untuk memesan ojek online. Alina hendak melakukan transfer dari mbanking miliknya, namun sialnya mbanking miliknya tiba-tiba saja eror. Padahal belum lima menit dia melakukan pembayaran menggunakan aplikasi itu.
"Astaga, kenapa bisa begini sih."
__ADS_1
Alina merogo dompet yang ada di dalam tas selempangnya. Saat menyadari jika dia salah membawa dompet, Alina hanya bisa menghela nafas. Bisa dia tebak jika di dalam dompet itu tidak terdapat uang cash.
Dan benar saja, saat dompet dibuka, hanya ada uang tunai berjumlah sepuluh ribu dan itu tidak akan cukup untuknya memesan ojek online sampai ke rumahnya.
"Kenapa juga aku salah bawa dompet," gumamnya sembari menghela nafas kesal.
Karena hari yang sudah semakin sore, akhirnya Alina memutuskan untuk mencari angkutan umum di pinggir jalan. Hal yang sangat dia hindari karena angkutan umum hanya bisa berhenti di pinggir jalan raya. Sementara rumahnya harus masuk ke dalam gang lagi yang jaraknya sekitar 30 meter.
Alina tidak punya pilihan lain, hanya itu yang ada di pikirannya saat ini, dia bahkan tidak terpikir untuk memesan ojek online dan membayarnya saat tiba di rumah nanti.
*
Di dalam mobil yang dikendarainya seorang diri, Irfan Renaldi yang saat itu sedang terjebak di lampu merah tak sengaja melihat sosok wanita yang tak asing sedang berdiri di pinggir jalan. Setelah cucup lama memasati wanita itu, Irfan akhirnya menyadari jika wanita itu adalah Alina, pacar dari putranya.
Irfan yang saat itu sedang berkomunikasi dengan istrinya lantas memberitahu istrinya itu jika dia melihat keberadaan Alina.
"Sayang, aku melihat Alina di pinggir jalan."
"Oh ya? Dengan siapa dia, Pa?"
"Sendirian. Sepertinya sedang menunggu sesuatu."
"Apa dia sedang menunggu Rico, Pa?"
"Papa nggak tahu, Ma. Nanti Papa coba tanyakan saja ya."
Tak lama dari Santi mengiyakan perkataan suaminya, lampu lalu lintas di depannya kini sudah berubah menjadi hijau. Irfan segera melajukan mobilnya ke arah di mana Alina berada. Kemudian dia menghentikan mobilnya tepat di depan Alina.
Melihat sebuah mobil tak dikenal berhenti di depannya, Alina menggeser posisi berdirinya sedikit ke kiri. Dan saat itu mobil yang Irfan kendarai pun memajukan sidikit mobilnya hingga posisi pintu bagian depan mobilnya tepat berada di depan Alina seperti sebelumnya.
Baru saja Alina akan kembali bergeser, tiba-tiba suara Irfan yang memanggil namanya dengan diiringi turunnya kaca mobil tersebut membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk bergeser. Dia cukup terkejut saat melihat sosok Irfan Renaldi, seorang pebisnis hebat sekaligus orang tua dari pacarnya berada di depannya.
"Paman Irfan," gumam Alina pelan.
"Alina, sedang apa kamu di pinggir jalan? Apa kamu sedang menunggu Rico?" tanya Irfan.
Alina maju dua langkah mendekati jendela mobil.
"Alina sedang menunggu angkutan umum, Paman."
"Angkutan umum? Mau ke mana?" tanya Irfan lagi.
"Mau pulang. Alina baru saja dari toko buku," ucapnya sembari sedikit melirik ke arah toko buku yang tak jauh di belakangnya.
Santi yang masih terhubung dengan suaminya itu dan mendengar percakapan kedua orang itu lantas meminta suaminya untuk mengantar Alina pulang. Dia yang memiliki kasih sayang yang luar biasa kepada putranya, tak ingin jika pacar putranya yang dia sukai itu harus menaiki angkutan umum di sore hari seperti ini.
Tingkat keamanan menaiki angkutan umum di sore hari, apalagi untuk seorang wanita cantik seperti Alina sangatlah rendah. Dia tidak mau Alina sampai kenapa-napa jika hal buruk terjadi kepada wanita itu. Selain memikirkan bagaimana putranya nanti, Santi juga sudah sangat menyukai Alina meski mereka baru satu kali bertemu.
Irfan menyetujui ucapan istrinya dan segera mengajak Alina untuk ikut dengannya. Awalnya Alina menolak karena dia tidak enak jika harus satu mobil dengan Irfan. Rasanya tidak sopan saja jika dia harus meminta pria paruh baya itu mengantarnya pulang. Apalagi Irfan adalah seorang pengusaha sukses ternama. Dia merasa sangat tidak pantas jika harus merepotkan Irfan.
Namun karena Irfan memaksa dan mengatakan jika Santi yang memintanya untuk mengantarnya pulang, akhirnya Alina mengiyakan ajakan orang tua pacarnya itu.
"Terima kasih, Paman, Bibi. Maaf kalau Alina merepotkan," ucap Alina setelah dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Irfan.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.
__ADS_1