Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
72. Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Saat itu Rico bersama kedua orang tuanya tiba lebih dulu di restoran. Dia segera membawa masuk kedua orang tuanya menuju ruangan VIP yang berada di balik dinding meja bar.


Pelayan yang mengikuti mereka segera menyerahkan buku menu kepada tamu VIP-nya. Santi dan Irfan mulai menyebutkan makanan yang hendak mereka pesan terlebih fahulu. Setelah Santi dan Irfan selesai dengan pesanannya, kemudian pelayan tersebut beralih kepada Rico.


Santi dan Irfan yang awalnya sibuk dengan ponselnya masing-masing kini mengalihkan pandangannya ke arah Rico dan pelayan tersebut secara bergantian. Mereka terlihat heran saat Rico menyebutkan begitu banyak makanan yang dipesannya.


"Bang, kamu banyak sekali memesan makanannya, untuk siapa?" tanya Santi dengan heran.


"Untuk kita, Ma," jawab Rico.


"Untuk kita? Mama dan Papa 'kan sudah memesan, Sayang. Apa kamu yang mau memakan semua itu?" tanya Santi lagi.


"Abang, kamu sebenarnya kenapa? Sejak kemarin aneh banget, tiba-tiba ngajakin kita dinner di luar, wajah kamu juga seperti ceria banget, terus sekarang kamu memesan banyak banget makanan. Apa ada sesuatu yang kamu tutupi dari kita?" tanya Irfan pula yang juga sangat penasaran dengan putranya itu.


Rico yang belum bisa memberitahu mamanya akan kehadiran keluarga Alina lantas hanya tersenyum. Dia hendak melayangkan suatu kebohongan untuk menutupi sedikit lagi surprise yang akan dia berikan. Setelah berpikir kebohongan apa yang akan dia utarakan, akhirnya Rico memutuskan untuk mengulur waktu dengan berpura-pura ke toilet.


"Ma, Pa, Rico ke toilet sebentar ya," ucap Rico berpamitan.


Meski membutuhkan jawaban karena putranya itu terlihat seperti sedang menghindar, namun Santi dan Irfan mengiyakannya saja.


Rico yang saat itu baru keluar dari ruangannya, segera meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Dia mencari nama kontak Alina dan segera melakukan panggilan suara. Dua kali panggilan yang Rico lakukan tak ada satupun jawaban dari Alina. Rico berpikir jika Alina sedang berada di mobil dengan kedua orang tuanya, jadi Rico memutuskan untuk mengiriminya pesan bahwa dirinya sudah berada di restoran.


Setelah pesan berhasil dikirim, Rico pun segera meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berlalu menuju toilet. Di dalam sana dia hanya mencuci tangannya sedikit lebih lama sampai Alina membalas pesannya dan mengatakan jika dia sudah hampir sampai di restoran. Saat itu Rico langsung kembali menuju ruangannya yang di mana kedua orang tuanya telah menunggu.


"Kenapa lama sekali, Bang?" tanya Santi kepada Rico.


"Maaf, Ma, toilet tadi full, jadi harus antri," ucap Rico sembari mendudukan tubuhnya di atas sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.


Beberapa menit kemudian, dering ponsel yang ada di atas meja membuat Rico segera meraihnya. Rico menatap ke arah layar ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan suara dari Alina. Bisa dia tebak jika saat ini Alina sudah sampai di sana.


"Tunggu sebentar ya, Ma, Alina menelpon," ucap Rico sembari beranjak keluar ruangan bersama dengan ponselnya.


Hampir lima menit di luar, kini pintu ruangan terbuka dan terlihat Rico kembali masuk ke dalam ruangan bersama beberapa orang yang mereka kenali sebagian.


Santi dan Irfan bangkit dari duduknya saat melihat kehadiran Alina. Tak sampai di situ rasa terkejutnya, kini mereka kembali dibuat terkejut dengan kehadiran Thomas dan Zara di sana, beserta beberapa orang lainnya. Santi maupun Irfan terdiam tak percaya. Mereka mengedipkan kedua matanya sesekali untuk memastikan apa yang saat ini mereka lihat benar-benar nyata.

__ADS_1


*


Beberapa menit lalu saat mobil yang dibawa Alfian serta Morgan telah terparkir sempurna di depan sebuah restoran, mereka segera turun dari mobil. Alina yang paling akhir turun memilih untuk menelpon Rico terlebih dahulu agar menjemputnya ke depan.


Tak butuh waktu lama untuk Rico menjawab panggilannya, kini panggilan pun telah terhubung.


"Halo, Sayang," ucap Alina lebih dulu.


"Sayang, kamu di mana? Apa masih lama?" tanya Rico.


"Kita sudah di depan, kamu bisa jemput ke sini?"


"Baiklah, ini aku sudah berjalan ke depan."


Setelah Alina mengiyakan, mereka segera menutup panggilannya. Saat itu Morgan membuka pintu mobil dan memanggil adiknya yang masih berada di dalam sana.


"Kamu ngapain di dalam, Al? Nggak mau masuk?" tanya Morgan saat pintu berhasil di buka.


"Ah, iya ini sudah mau turun, Bang. Ayo," ucap Alina sembari beranjak dari duduknya untuk segera turun.


"Rico?" ucap Alfian yang terkejut akan kehadiran pria itu di sana.


Keluarganya yang lain pun tak kalah terkejutnya. Mereka terlihat heran dengan adanya Rico di sana, apalagi saat Rico menghampiri mereka dengan senyum merekah di wajahnya. Tidak mungkin jika ini hanya kebetulan saja, bukan.


"Selamat malam, Paman, Bibi," ucap Rico kepada kedua orang tua Alina. Dia menyalami sepasang paruh baya itu dan kemudian berpaling ke arah Alfian, Marissa dan juga Morgan.


"Malam, Bang," ucapnya kepada Alfian lebih dulu. Disusul dengan senyum ramah sebagai sapaan kepada Marissa dan juga jabat tangan kepada Morgan.


"Kamu di sini juga, Rico?" tanya Thomas pada Rico.


"Iya, Paman."


"Bisa kebetulan sekali ya. Kamu sendirian di sini?" tanya Thomas lagi.


"Rico bersama Mama dan Papa, Paman," jawab Rico.

__ADS_1


Mendengar jawaban Rico, Morgan pun tertawa kencang. Membuat keluarganya menoleh ke arahnya dengan heran.


"Fix banget, ini sih bukan kebetulan, tapi memang rencana Alina untuk dinner bersama pacarnya."


Semua orang kini menatap ke arah Alina yang berada di belakang mereka. Tak bisa dibantah lagi, mereka sudah curiga sejak awal saat melihat Alina yang sangat prepare dengan pakaiannya yang tak biasa.


"Al, apa benar kalau kamu sengaja ngajak Rico dan orang tuanya untuk makan malam bersama kita?" tanya Thomas kepada putrinya yang sejak tadi hanya diam.


"Em, iya, Pa," jawab Alina singkat.


"Tuh 'kan benar tebakanku. Kamu sengaja berdandan seperti ini karena ingin bertemu dengan pacar kamu. Dasar–"


Belum sempat Morgan menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah lebih dulu di tutup oleh Alfian dengan telapak tangannya.


"Kalau kamu cuma mau mengganggu Alina, lebih baik tunggu di mobil saja."


Morgan berontak dari tangan abangnya, kemudian dia memasang wajah cemberut.


"Iya, sorry. Aku 'kan hanya bercanda, serius banget sih, Bang," ucapnya pelan.


"Makanya cari pacar sana, biar nggak norak." Kini Thomas yang ikut menambahi perkataan Alfian untuk Morgan.


"Papa," seru Zara yang mendelikkan matanya agar suaminya itu tidak ikut-ikut.


"Maaf, Ma," ucap Thomas kepada istrinya.


"Yasudah, ayo kita masuk. Nggak enak orang tua Rico sudah menunggu di dalam."


Mendengar perkataan Alfian, mereka kini mulai masuk ke dalam restoran dengan Rico dan Alina yang memimpin jalan.


Baik Thomas, istri, serta kedua anak lelakinya bersikap normal saat mengetahui orang tua Rico ada di dalam. Mereka pikir Alina hanya ingin memperkenalkan mereka kepada orang tua pacarnya saja karena hubungannya bersama Rico yang sudah menginginkan sebuah keseriusan. Apalagi putrinya itu sudah dilamar oleh Rico, mungkin Rico ingin segera mempertemukan kedua keluarga mereka untuk berkenalan lebih dekat agar proses hubungan lebih lanjut bisa segera terlaksana.


Saat Rico membuka pintu ruangan, semua masih terlihat normal. Hanya kedua orang tua Rico saja di dalam sana yang terkejut melihat kedatangan Alina yang saat itu berada di sampingnya.


Namun saat Thomas dan Zara mulai masuk ke dalam ruangan, baik orang tua Rico maupun Alina terdiam satu sama lain. Mereka seperti terkejut dengan apa yang saat ini matanya lihat.

__ADS_1


Hal tersebut berhasil membuat anak-anak mereka menjadi heran, kecuali Marissa, Rico dan Alina yang tersenyum melihat pemandangan itu.


__ADS_2