
Ditengah rasa terkejutnya, Santi dan Irfan tersenyum lega saat sudah mengatakan niatnya itu. Bahkan mereka tak memedulikan raut terkejut di wajah putranya saat mereka tak sengaja bertemu pandang.
"Bagi kalian semua yang yang sudah mengetahui rahasia keluarga kami, di sini kami hanya mau menegaskan jika tidak ada yang namanya anak angkat ataupun orang tua angkat di keluarga kami. Yang itu artinya, Rico adalah anak kandung kami, terlepas dari siapa yang melahirkan dia. Meski kami menganggap Rico sebagai anak kandung kami, tapi kami tidak akan melupakan siapa yang telah melahirkan Rico ke dunia ini."
Perkataan Irfan yang belum selesai sungguh membuat tamu undangan yang belum mengetahui kenyataan itu kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Perkataan Irfan menyatakan jika Rico bukanlah anak kandung mereka.
Mereka tak menyangka jika selama ini Irfan dan Santi tidak memiliki keturunan. Berbagai pertanyaan pun mulai bermunculan di kepala orang-orang yang ada di sana, mereka sangat penasaran siapa orang tua kandung Rico.
Jika dilihat dari wajahnya yang tampan dan juga kepintarannya dalam berbisnis, mereka menebak jika Rico adalah anak dari seorang pebisnis yang telah meninggal dunia. Dan mereka akan sangat terkejut jika mengetahui bahwa kepintaran dan ketampanan Rico berasal dari anak seorang sopir dan juga pembantu yang pernah bekerja pada keluarga Renaldi.
Irfan maupun Santi tak ada niatan untuk menanggapi kasak-kusuk para tamu di depan sana. Mereka mengabaikannya dan terus melanjutkan perkataannya.
"Bagi kalian yang mengira jika Rico telah melupakan siapa yang telah melahirkannya demi kami ataupun kekuasaan keluarga Renaldi, maka kalian salah besar. Rico anak yang hebat, anak yang sangat baik hatinya, meskipun tahu jika kami yang memberinya semua dunia ini padanya, tapi dia tidak pernah melupakan dari mana dia berasal."
"Kami sengaja mengumumkan semua ini di sini semata bukan karena ingin merendahkan putra kami, melainkan kami ingin kalian tahu secara langsung dari kami daripada mendengar rumor tidak jelas di luar sana. Kami juga memohon pada kalian untuk tidak memandang Rico rendah karena bagi kami, Rico tetaplah putra tunggal keluarga Renaldi."
"Baiklah, sepertinya sudah cukup untuk kami bertutur panjang lebar. Kami harap apa yang telah kami sampaikan bisa diterima oleh kalian semua. Sekian dari saya dan istri saya, terima kasih untuk rekan kerja dan para tamu undangan atas waktunya pada siang hari ini."
__ADS_1
Setelah berkata panjang lebar, Irfan dan Santi meninggalkan panggung untuk mengajak anak-anaknya pergi meninggalkan gedung. Para awak media yang diundang pun mulai mendekati keluarga mereka, terlebih Rico yang diserang habis-habisan oleh berbagai pertanyaan. Untungnya pengawal yang telah disiapkan oleh keluarga kedua mempelai sigap menjaga atasan mereka sehingga mereka aman sampai masuk ke dalam mobil.
...**...
Setiba di kediaman Thomas Wilson, ternyata awak media pun beberapa juga sudah ada di sana. Berita yang sangat cepat menyebar membuat para teman-teman media tak ingin sedikitpun ketinggalan informasi mengenai keluarga Renaldi dan juga Wilson.
Thomas sekeluarga sudah diamankan di dalam rumah, begitupun dengan pengantin baru yang juga ada di sana. Irfan serta Santi pun tak tertinggal ikut ke rumah besannya itu karena mereka tahu jika anak-anak mereka butuh penjelasan akan pengumumannya beberapa menit lalu.
"Pa, Ma, semuanya apa maksudnya? Kenapa Papa dan Mama bicara seperti itu di depan umum?" tanya Rico.
Saat ini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga, mengabaikan para teman-teman media yang masih menunggu di luar sana.
"Rico tahu itu, Pa. Papa dan Mama sudah berulang kali mengatakan itu di depan Rico, tapi yang membuat Rico nggak ngerti, kenapa Papa dan Mama mengatakan kalau ingin pensiun dan menyerahkan semuanya kepada Rico? Rico nggak masalah jika Papa mengumumkan siapa Rico sebenarnya di depan umum, namun untuk…."
Perkataan Rico terhenti, dia tak bisa melanjutkan perkataannya. Dia benar-benar bingung dengan orang tuanya yang mengambil keputusan tanpa berunding lagi padanya.
"Sayang." Kini Santi ikut membuka suara. "Mama tahu kamu pasti terkejut dengan kabar ini, tapi Mama harap kamu bisa mengerti maksud kami. Mama sudah sering kali bilang sama kamu kalau semua yang Mama dan Papa lakukan selama ini tak lain hanya untuk kamu saja, Bang, jadi saat kami merasa cukup dan kamu sudah bisa dipercaya menghandle pekerjaan ini, Papa memutuskan untuk beristirahat dan menjadikan kamu pengurus perusahaan. Menjadi penerus dari keluarga Renaldi."
__ADS_1
"Tapi Ma, apa nggak berlebihan? Rico mendapatkan fasilitas yang mewah dan dianggap sebagai anak di keluarga terhormat ini saja sudah sangat bersyukur sekali. Tapi untuk semua ini, Rico rasa Rico nggak pantas mendapatkannya, Ma."
"Sayang, Mama dan Papa nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Sejak dulu, Papa bekerja keras hingga bisa berada di titik ini yang dengan bantuan kamu. Saat Papa tua nanti, perusahaan dan semua aset keluarga ini akan jatuh kepada seorang anak. Seorang anaklah yang akan menjadi penerus dari apa yang dimiliki orang tuanya. Kamu tahu sendiri 'kan kalau kami hanya memiliki kamu seorang, Bang. Kalau bukan untuk kamu, untuk siapa lagi?"
Santi yang berada tepat di sebelah Rico menggenggam kedua tangan putranya itu. Dia tertunduk sejenak sembari menghela nafasnya, kemudian menatap lembut sang putra.
"Abang, Mama nggak bermaksud egois kepada kamu. Kita melakukan semua ini karena kita sayang sama kamu, Bang. Mama ingin kamu bisa membahagiakan keluarga kamu dengan semua yang telah yang kita punya ini. Mama tahu jika kamu bisa menghidupi keluarga kamu nanti dengan usahamu sendiri, tapi tolong… tolong terima pemberian dari kita."
Rico hendak menyahuti perkataan mamanya. Dia masih tidak mengerti dengan keputusan kedua orang tuanya yang semudah itu memberikan semua hartanya untuk dirinya.
"Rico, Paman tahu perasaan kamu seperti apa." Thomas kini ikut bersuara. "Memang nggak mudah menerima sesuatu yang sangat besar dengan keadaan kamu yang seperti saat ini. Paman paham meskipun Paman nggak merasakan berada di posisi kamu sekarang tapi kamu juga harus paham bagaimana perasaan kedua orang tua kamu. Mereka sejak awal divonis untuk tidak bisa memiliki anak lagi dan kini kamu satu-satunya putra yang mereka miliki. Harapan untuk kebahagiaan mereka. Untuk seorang pebisnis, sudah seharusnya mereka mewariskan apa yang mereka jalani kepada pewarisnya, dan posisi kamu di sini sudah jelas yang akan menjadi pewaris dari keluarga Renaldi. Kamu nggak bisa membantah itu, anggap saja semua ini takdir yang sudah di tetapkan oleh Allah untuk kamu dan kedua orang tua kamu sekarang."
"Benar, Co. Anggap semua ini takdir yang sudah Allah tetapkan untuk kamu. Kita nggak bisa memilih dari siapa kita lahir atau pun tumbuh, yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Nggak mudah untuk berada di posisi kamu yang sekarang, Co. Banyak orang-orang yang kurang beruntung di luar sana menginginkan berada di posisi kamu ini, jadi seharusnya kamu mensyukuri itu," ucap Alfian pula yang ikut membenarkan perkataan papanya.
"Co, kenapa kamu bingung? Seharusnya kamu senang karena yang kamu dapatkan saat ini adalah sebuah kekayaan, bukan kemiskinan."
Perkataan yang berasal dari Morgan tersebut hendak membuat Alfian menegurnya, namun karena apa yang dikatakan adiknya itu benar dan semata untuk menyadarkan Rico dari ketidakenakannya, jadi Alfian kali ini membiarkan adiknya yang usil itu untuk mengungkapkan pendapatnya.
__ADS_1
Rico pun yang sejak tadi diberi nasehat oleh orang tua, mertua, serta iparnya, lantas hanya bisa menghela napas. Dia tidak tahu harus apa karena menurutnya semua ini sangat berat, meskipun apa yang dikatakan sama orang di sana memanglah benar. Seharusnya dia mensyukuri apa yang telah dia dapatkan, namun dia juga tidak bisa begitu saja melawan perasaannya yang masih ragu itu.