
Jika biasanya Alina tidak suka melakukan kegiatan di shopping, namun hari ini dia menjadi berbeda dari dirinya yang sebelumnya. Hari ini Alina justru terlihat sangat excited untuk berbelanja kebutuhan untuk anaknya kelak. Meskipun belum tahu apa jenis kelamin anak pertamanya itu, namun hal itu tidak jadi masalah untuk Alina.
Alina dan Rico terus menelusuri seluruh tokoh bayi yang ada di dalam mall itu. Apapun yang menurutnya menarik, Alina pasti akan membelinya. Entah itu barang untuk anak laki-laki atau perempuan sekalipun. Saat ini Alina hampir mirip dengan temannya Rena yang gila belanja. Temannya itu sangat suka sekali menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang tidak penting hanya demi kenikmatan matanya, dan hari ini Alina melakukan demikian. Tak peduli berapa harganya dan apakah barang tersebut akan berguna untuk anaknya kelak, namun jika barang tersebut menarik di matanya, maka Alina tetap akan membelinya.
Rico pun yang melihat kegiatan istrinya tersebut hanya dibuat geleng kepala. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari seorang Alina yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Rico saat ini seperti sedang menemani wanita lain yang sedang berbelanja, bukan istrinya yang dia kenal sebagai sosok wanita yang tidak suka berbelanja.
"Sayang, kamu lagi nggak kesurupan, 'kan?" tanya Rico dengan heran.
Alina mengernyitkan keningnya kepada suaminya itu.
"Kesurupan? Maksud kamu apa?" tanya Alina dengan heran.
"Ya, kamu berbelanja sebanyak ini, apa kamu baik-baik saja? Bukannya selama ini kamu nggak suka belanja ya?"
Alina terdiam sejenak. Melihat begitu banyak belanjaan yang sudah dia beli sejak tadi, Alina pun tiba-tiba menjadi bingung sendiri.
"Benar juga. Ternyata banyak sekali ya yang kubeli," gumam Alina dalam hati.
Dia baru menyadari hal itu karena saking asik dengan dunianya sendiri.
*Apa semua ini aku yang membelinya?" tanyanya kepada Rico dengan polosnya.
"Menurut kamu? Apa aku yang membelinya?"
Alina mengedikkan bahunya.
"Aku 'kan nanya sama kamu, kok kamu malah nanya balik sama aku."
Rico menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Kenapa jadi dia yang salah, pikirnya.
"Ya udah, kalau begitu kita pulang saja ya, Sayang. Belanjaan kamu sudah lumayan banyak loh, ini juga udah hampir sore, nanti kita kemalaman pulangnya," ucap Rico.
Alina melirik jam tangannya. Waktu saat ini telah menunjukkan pukul 03.00 sore, dia bahkan tak sadar jika sudah selama ini berada di dalam mall.
"Sayang, aku lapar banget," ucap Alina sembari mengelus perutnya.
"Ya udah kita makan dulu saja, setelah itu baru pulang. Kamu mau makan apa?" tanya Rico.
Alina diam sejenak, seolah berpikir makanan apa yang sekiranya enak untuk dia makan saat ini.
"Tadi siang kita sudah makan nasi, mungkin sore-sore begini enak makan ice cream kali ya," ucap Alina dengan tersenyum.
"Sayang, kamu 'kan lagi lapar, kenapa malah mau makan es krim? Es krim nggak akan membuat kamu kenyang loh, cari makanan berat yang mengenyangkan saja ya," ucap Rico memberi saran.
"Tapi aku pengen banget makan es krim," ucap Alina sembari memasang wajah imutnya, membuat Rico tak bisa menolaknya dan seketika langsung mengingatkannya.
__ADS_1
Alina tersenyum senang, mereka segera melakukan pembayaran di toko terakhirnya itu, setelah itu baru pergi menuju stand es krim yang berada di dalam mall. Setelah es krim berhasil didapat, Rico mengajak Alina untuk duduk di salah satu tempat santai yang ada di sana. Mereka menikmati es krimnya di sana sembari ditemani live musik yang sedang berlangsung.
"Sayang, aku kok kangen ya menyanyi di cafe," ucap Alina pada suaminya itu.
Sudah lama dia tidak melakukan hobinya itu. Biasanya setiap minggu dia akan menyalurkan hobinya itu di sebuah cafe yang menjadi tempatnya mencari uang tambahan. Namun semenjak dia lulus kuliah, Alina sudah tidak pernah melakukan hal itu lagi, bahkan dia sempat melupakan hobinya itu karena saking sibuknya dengan kegiatannya saat ini.
"Aku nggak akan izinin kamu untuk menyanyi di cafe. Jangan macam-macam ya, Sayang," ucap Rico yang memberi warning kepada istrinya itu lebih dulu. Dia sangat takut jika istrinya mengatakan hal itu semata memberinya kode untuk kembali ke cafe yang pernah menjadi tempatnya bekerja dulu.
"Siapa juga yang mau kembali ke sana," ucap Alina mengelak.
"Lalu kenapa kamu bilang begitu?" tanya Rico penasaran.
"Aku mau nyanyi di sana, boleh nggak?" tanya Alina sembari menunjuk panggung live music yang tak jauh di depan mereka.
Rico yang mendengar permintaan istrinya tersebut mengernyitkan keningnya. Alina mau bernyanyi di sana? Yang benar saja, di sini sangat ramai sekali pengunjung, tidak mungkin dia mengizinkan istrinya untuk bernyanyi di hadapan orang ramai. Terlebih suara Alina begitu merdu didengar, dia tidak akan rela jika harus berbagi keindahan dari salah satu sisi terbaik istrinya itu.
"Nggak boleh. Aku nggak mau orang-orang mendengar suara indah kamu itu. Nanti aku buatkan ruangan live music di rumah, kamu bisa bernyanyi sepuasnya untukku di sana," ucap Rico posesif.
"Ih, kamu apaan sih. Aku 'kan cuma mau menyumbang satu lagu doang. Please, boleh ya. Aku rindu banget menyanyi live musik seperti di cafe dulu, please," ucap Alina dengan memohon. Dia bahkan sampai meletakkan es krimnya di atas meja dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memohon kepada suaminya itu.
"Sayang, jangan macam-macam. Pokoknya aku nggak akan izin kamu untuk bernyanyi di sana, titik."
Rico yang tetap dengan pendiriannya membuat Alina memanyunkan bibirnya dengan kesal. Wajahnya ditekuk begitu dalam sehingga membuat Rico pada akhirnya merasa tak tega. Alina benar-benar bisa membuatnya berubah pikiran dalam hitungan detik. Seperti saat ini, dia yang tak tega melihat istrinya itu merajuk lantas mengiyakan permintaannya.
Saat MC live music di depan sana memberi kesempatan untuk pengunjung mall yang ingin menyumbangkan suaranya, Alina dengan bersemangat berdiri dan melambaikan tangannya ke atas. Rico mengelola nafasnya dengan kelakuan istrinya itu. Dia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini tingkah istrinya itu sangat aneh sekali. Apa pengaruh dari kehamilan istrinya itu yang membuatnya menjadi seperti ini?
**
Alina yang melihat suaminya cemburu tak jelas hanya tersenyum geli. Dia mencoba untuk merayu suaminya agar tak merajuk lagi, namun hal itu tak membuat Rico kembali melebarkan senyumnya. Suaminya itu benar-benar cemburu buta atas kelakuannya yang tak biasa itu.
"Ayolah Sayang, kenapa kamu jadi merajuk seperti ini. Aku 'kan hanya sebentar tadi.
"Kamu kenapa aneh banget sih, Sayang. Semenjak memasuki trimester kedua ini, kamu terlihat beda banget."
"Bedanya gimana?" tanya Alina dengan heran.
"Ya beda. Kamu terlihat lebih percaya diri dan lebih terbuka di tempat umum, nggak seperti Alina yang pertama kali aku kenal, yang lebih pendiam."
"Jadi kamu nggak suka dengan aku yang seperti ini? Kamu sudah nggak cinta lagi sama aku, gara-gara aku nggak pendiam lagi?" tanya Alina yang seolah menyalahkan.
Kini situasi seketika berubah dengan drastis. Alina berbalik merajuk kepada suaminya, sementara Rico terlihat merasa bersalah atas perkataannya yang membuat istrinya itu salah paham.
Hingga malam hari pun, rasa kesal Alina masih belum reda juga. Dia masih mendiamkan suaminya itu karena terlihat kesal akan perkataannya sore tadi. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, tiba-tiba senang dan tiba-tiba marah dalam waktu singkat.
Saat mereka hendak mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur, Rico kembali berusaha untuk membujuk istrinya agar tidak marah lagi padanya. Berbagai cara telah dia lakukan agar Alina kembali tersenyum padanya, namun ternyata sulit sekali untuk membujuk istrinya itu yang sedang merajuk.
__ADS_1
"Sayang, please maafkan aku. Aku benar-benar nggak bermaksud berkata seperti itu loh. Aku hanya merasa heran saja dengan perubahan sikap kamu yang drastis itu. Tapi asal kamu tahu, jika pun sifat kamu berubah 360 derajat, aku akan tetap mencintai kamu kok. Karena cintaku nggak akan pernah berkurang sedikitpun sama kamu. Sayang, please, percaya padaku ya. Aku nggak mungkin mengurangi rasa cintaku padamu hanya karena kamu yang nggak diam lagi. Justru aku sangat senang kalau kamu bisa lebih ekspresif seperti ini."
Setelah sekian lama berdiam, akhirnya Alina menghela nafasnya dengan panjang. Dia juga sebenarnya tidak betah berlama-lama mendiamkan suaminya itu, terlebih saat ini dia sedang menginginkan sesuatu yang hanya suaminya saja yang bisa menuruti kemauannya.
"Baiklah, aku akan memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat," ucap Alina dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
"Syarat? Apa itu?" tanya Rico.
"Aku mau bakso," ucapnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Ya, sejak satu jam lalu Alina sudah sangat menginginkan bakso yang biasa dia beli di depan rumah mamanya. Namun karena aksi merajuknya itu yang belum selesai, Alina terpaksa menahan rasa inginnya itu karena malu untuk mengucapkan permintaannya kepada Rico. Dan saat ini, dia harus mengambil kesempatan untuk meminta apa yang dia inginkan kepada suaminya itu.
"Bakso? Kamu mau bakso? Baiklah kalau gitu, aku akan memberikannya untukmu," ucap Rico bersemangat. Hanya bakso, tak jadi nasalah, pikirnya.
Rico segera turun dari kasur untuk pergi membeli bakso permintaan istirnya, namun belum sempat memegang kunci mobil, perkataan Alina saat itu berhasil membuatnya terhenti.
"Tapi aku mau bakso yang dijual di depan rumah mama."
"Di depan rumah mama?" ucap Rico dengan heran.
"Ya. Bakso mang Ujang, yang biasa kita beli kalau menginap di sana," ucap Alina.
"Sayang, tapi ini sudah jam berapa loh. Apa mang Ujang masih berjualan di jam segini?" tanya Rico dengan ragu.
Alina mengedikkan bahunya.
"Kamu cari rumahnya saja kalau dia sudah pulang. Pokoknya aku hanya mau bakso mang Ujang saja, nggak mau yang lain."
Rico menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal. Permintaan istrinya itu kenapa aneh sekali. Selama hamil hampir lima bulan ini, Alina tidak pernah meminta sesuatu yang aneh padanya, namun hari ini dia benar-benar dibuat pusing oleh sifat istrinya yang tak biasa itu.
Namun karena tidak mau membuat Alina kecewa, Rico pun akhirnya mengiyakan permintaannya. Dia beranjak untuk segera pergi ke komplek perumahan mertuanya untuk mencari bakso mang Ujang yang biasa mereka beli jika menginap di sana.
**
Satu jam kemudian, Rico terlihat kembali dengan satu kantong plastik berisi bakso bulat pesanan istrinya. Dia terlihat lega karena sudah mendapatkan apa yang istrinya mau, meskipun dia harus menunggu mang Ujang memanaskan bakso yang ada di rumahnya. Karena memang saat Rico tiba di sana, pria paruh baya itu sudah mau pulang, sehingga membuat Rico sedikit memaksanya untuk memberikan satu kantong bakso.
Rico tersenyum senang saat membawa sebungkus bakso itu ke dalam kamarnya. Namun saat pintu kamar terbuka, senyumnya yang lebar itu kini jadi memudar lantaran melihat sang istri telah tertidur lelap. Rico makan nafasnya dan berjalan menghampiri sang istri.
"Ya ampun, Sayang, kenapa kamu tidur? Padahal aku sudah nggak sabar mau melihat kamu tersenyum setelah beberapa jam melihat kamu merajuk padaku."
Rico tersenyum tipis, dia mengusap kepala istrinya itu dengan lembut, kemudian mendaratkan kecupan singkat pada keningnya.
"Tidur yang nyenyak ya."
Kemudian Rico mengarahkan pandangannya kepada perut buncit Alina.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak ya, Sayangnya Papa. Jangan mengganggu tidur nyenyak Mama kamu malam ini oke," gumamnya sembari mengelus lembut perut istrinya.
Karena istrinya tak bisa memakan bakso yang telah dia beli, Rico pun segera membawa bakso itu ke dapur dan meletakkannya ke dalam kulkas. Dia harus menyimpannya di sana karena siapa tahu saja Alina tiba-tiba mengingatkannya saat bangun nanti, pikirnya.