Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
57. Pulang


__ADS_3

Empat hari sudah kebersamaan mereka di kota yang terkenal akan keindahan alamnya itu. Kini Alina dan ketiga temannya bersiap akan melakukan check-out dari hotel yang mereka tempati saat ini. Hari ini mereka akan pulang ke kota asalnya karena hari libur pun telah usai.


Bukan liburan jika pulang tak membawa oleh-oleh. Seperti saat ini, mereka sedang berada di pusat oleh-oleh untuk membeli sesuatu yang khas dari kota itu untuk dibawa pulang. Tentunya di sana yang paling heboh dengan kegiatan belanjanya tak lain adalah Rena. Di mana wanita itu terlihat excited untuk membeli semua yang dia sentuh.


"Bagus," gumam Rena saat memegang sebuah gantungan kunci berbentuk angsa. Kemudian dia langsung memasukkannya ke dalam keranjang.


"Lucu banget," ucapnya lagi sembari menatap kacamata hitam yang memiliki telinga seperti kelinci berwarna pink. Wajahnya mungkin akan terlihat norak bagi teman-temannya hanya karena kacamata saja.


Baik Andi ataupun Rico yang tak sengaja melihat kelakuan random Rena hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian mereka melanjutkan berkeliling dan mengabaikan wanita itu dengan kesenangannya. Tak lama dari itu, terlihat Alina berjalan di samping Rena. Dia melihat Rena memasukkan hampir semua jenis barang yang ada di semua rak yang ada di sana ke dalam keranjangnya.


Melihat itu Alina langsung mendekati Rena dan dia melihat keranjang wanita itu yang sudah mulai terisi penuh. Alina yakin jika semua jenis barang yang ada di toko itu sudah berada di dalam keranjangnya. Wanita itu pasti tidak mau ketinggalan satu barangpun yang menarik perhatiannya untuk di beli. Dan kenyataan yang ada, semua yang dilihat Rena pasti menarik perhatiannya.


"Astaga nih anak," gumam Alina pelan.


Merasa terusik akan kelakuan Rena, Alina pun menegurnya.


"Kamu yakin mau membeli itu semua, Ren?" tanya Alina.


"Eh, Al," ucapnya tersadar akan kedatangan Alina. "Iyalah. Semua ini lucu-lucu banget tahu."


"Lucu doang? Tapi 'kan kamu nggak membutuhkan semua itu, Ren. Mubazir tahu nggak," ucap Alina berusaha menasehati.


"I know. Bisa disumbangkan ke panti kok nanti, biar nggak mubazir," sahut Rena sambil menyengir. Kemudian dia kembali fokus pada beberapa barang yang ada di depannya.


Alina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan temannya itu. Kemudian dia meninggalkan Rena dan melanjutkan kembali belanjanya. Biarkan sajalah wanita itu dengan kehebohannya, pikirnya.

__ADS_1


...*...


Setelah selesai berbelanja yang menghabiskan waktu hampir tiga jam lamanya di pusat perbelanjaan, akhirnya mereka mengistirahatkan tubuhnya di salah satu restoran. Mereka memilih restoran yang tak jauh dari bandara karena setelah dari sini mereka akan langsung menuju bandara untuk pulang ke kota asalnya.


"Aah lapar sekali perutku," seru Rena dengan wajah kesal dan lemahnya.


Dia yang paling bersemangat membeli oleh-oleh kini menjadi yang paling merasa lelah. Bagaimana tidak, sejak tiga jam lalu, Rena lah yang lebih banyak menghabiskan tenaganya untuk berkeliling pusat perbelanjaan demi lima kantong belanjaan. Sementara yang lainnya hanya memantau wanita itu dengan dua kantong belanjaan di tangan. Mereka masih di Indo dan yang akan mereka beri juga tidaklah banyak, jadi entah untuk apa Rena membeli oleh-oleh sebanyak itu, pikirnya.


"Gimana nggak lapar, orang kamu aja semangat banget mondar mandir di pusat perbelanjaan tadi," ucap Alina dan dibalas Rena dengan senyum lebar yang tidak memiliki semangat.


"Lagian mau kamu apakan semua barang-barang itu sih, Ren? Kamu nggak mungkin 'kan menjadikan kamar kamu sebagai gudang penyimpanan? Orang tua kamu juga mana mungkin mau menyimpan boneka dan gantungan kunci warna pink seperti itu," ucap Rico kemudian.


"Buat dia mainin mungkin," sahut Andi akan perkataan Rico dengan terkekeh.


Rena yang merasa jika pacarnya itu membela Rico lantas memasang wajah datarnya pada pria itu. Membuat Andi menyengir dan langsung mengusap lembut punggung tangannya.


Rena memutar bola matanya malas dan memilih untuk mengabaikan pacarnya itu.


Begitu makanan yang mereka pesan telah datang, mereka mulai menyantap makanannya dalam hening, karena fokus mereka hanya ada pada makanan yang tersedia di atas meja. Sama halnya seperti berbelanja tadi, kini Rena yang paling bersemangat di antara yang lainnya memakan makanannya. Dia bahkan menghabiskan dua piring makanan beserta dua gelas minuman dengan cepat yang alhasil  membuat wanita itu kekenyangan hingga kantuk pun datang.


"Ngantuk banget," ucap Rena sambil mengoam. Membuat ketiga temannya yang ada di sana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa penerbangannya nggak bisa diundur ya? Kita tidur sebentar yuk, cari hotel dulu," saran Rena yang tentu saja tidak disetujui oleh ketiga temannya.


"Nggak!" sahut ketiga orang di sana secara bersamaan.

__ADS_1


"Nggak usah aneh-aneh ya Ren, dua jam lagi kita sudah harus berangkat. Nggak ada reschedule seperti sebelumnya," ucap Rico.


Rena menghela nafasnya. Dia benar-benar sangat mengantuk karena terlalu kenyang. Namun karena tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan teman-temannya, akhirnya Rena berusaha untuk menahankan kantuknya sampai mereka berada di pesawat. Dan beberapa jam kemudian saat pesawat sudah berada di atas awan, Rena pun langsung memejamkan matanya. Bahkan kurang dari 1 menit wanita itu sudah tak sadarkan diri. 


Sepanjang Rena tidur, saat itu seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun terlihat berjalan menghampiri kursi Rena. Anak kecil tersebut tampak memegang sebuah spidol dan hendak menyoretkannya di wajah Rena. Namun Alina yang saat itu duduk di samping Rena lantas menghentikan aksi anak kecil tersebut. Dia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ramah sehingga membuat anak kecil tersebut menundukkan kepalanya dan hendak pergi dari sana.


Andi yang tak sengaja melihat kejadian tersebut lantas mendekati anak kecil tersebut. Entah apa yang dikatakannya kepada anak kecil itu, tak lama kemudian mereka berdua berjalan mendekati kursi Rena dan tanpa Alina duga Andi membiarkan anak kecil tersebut menyoret wajah Rena dengan spidol miliknya. 


"Andi, kamu gila ya? Gimana kalau dia bangun?" ucap Alina sambil melototkan matanya kepada Andi.


"It's okay. Dia nggak akan bangun," ucap Andi dengan santai.


"Apa tintanya bisa dihilangkan?" tanya Alina dengan khawatir. Dia takut jika tinta spidol yang dibawa anak kecil tersebut ternyata permanen. Namun saat di cek oleh Andi, ternyata spidol tersebut bisa dihapus dan Alina pun cukup tenang. Dia pun akhirnya membiarkan Andi beserta anak kecil itu mempermainkan wajah Rena yang sedang tertidur, sementara dirinya memilih untuk beristirahat sebelum mereka tiba di bandara kota tujuan.


Tak lupa dia meminta Andi untuk membersihkan wajah Rena sebelum wanita itu terbangun.


"Oke, sahut Andi.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.

__ADS_1


.


__ADS_2