
Thomas dan Zara terlihat heran mendengar perkataan putrinya itu. Apa maksud Alina berandai-andai seperti itu?
Alfian yang mendengar perkataan adiknya itu hanya bisa mendengarkan dalam diam. Sekarang dia tahu apa yang mau dibicarakan Alina kepada kedua orang tua mereka.
"Sayang, kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Zara yang merasa aneh dengan putrinya. Padahal mereka baru saja pulang dinner bersama Rico dan orang tuanya, lalu kenapa Alina malah bertanta yang aneh-aneh begini pada mereka. Apa maksud Alina sebenarnya?
"Sayang, apa ada yang kita lewatkan tentang Rico?" tanya Thomas kemudian.
"Pa, sebenarnya Rico itu bukan anak kandung paman Irfan dan bibi Santi."
Selain Alfian, semua yang ada di ruang tamu itu menatap terkejut dengan perkataan Alina. Termasuk Morgan yang semula merasa ngantuk, kini matanya terbuka lebar mendengar perkataan adiknya itu.
Rico bukan anak kandung Irfan dan Santi? Bagaimana bisa, pikir mereka.
"Sayang apa yang kamu katakan, Riko bukan anak kandung mereka?"
"Iya, Ma. Rico hanya anak angkat paman Irfan dan bibi Santi. Dia diangkat oleh keluarga Renaldi setelah kematian orang tuanya saat usia Rico masih sekitar 3 atau 4 tahun, Alina lupa," ucap Alina.
"Astaga Mas. Kalau itu benar, berarti Irfan dan Santi nggak punya anak?" ucapnya kepada sang suami.
"Paman Irfan dan bibi Santi divonis tidak memiliki anak setelah keguguran anak pertama mereka," sahut Alina akan perkataan mamanya.
Mendengar perkataan Alina tersebut, kedua orang tua Alina serta Morgan kembali membelalakkan matanya. Terlebih untuk Thomas dan Zara, mereka sangat terkejut mendengar kabar duka tersebut. Ternyata teman mereka itu pernah mengalami keguguran sehingga tidak bisa memiliki anak lagi.
"Sayang, bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa mereka sampai keguguran, apa terjadi sesuatu dengan mereka?"
__ADS_1
"Alina nggak tahu, Pa, Rico hanya mengatakan itu saja. Mungkin Papa bisa bertanya kepada paman Irfan dan bibi Santi-nya langsung nanti."
Putusnya komunikasi di antara mereka, membuat mereka tidak tahu kabar satu sama lain sama sekali. Entah mau dikatakan egois atau tidak, Zara tidak bisa memikirkan hal itu karena di sisi lain dia benar-benar terpaksa meninggalkan Indonesia demi menghindari seseorang yang sudah menjauhkannya dari putri pertama mereka yaitu, Aura. Dia tidak bisa memberitahu Irfan dan Santi karena takut jika seseorang itu mengetahui keberadaannya dan kematian putrinya menjadi berita besar di sana.
Tanpa sadar, Zara meneteskan air matanya dan langsung dirangkul oleh Thomas. Wanita itu terlihat sangat bersedih dengan berita duka yang Alina sampaikan mengenai teman lama mereka. Bahkan dia sempat membayangkan bagaimana saat Aura dulu pergi meninggalkan mereka. Apakah kesedihan yang mereka alami saat itu sama halnya yang dialami oleh Santi dan Irfan saat mereka kehilangan calon anak, serta divonis untuk tidak bisa memiliki anak lagi?
"Mas, kenapa kita nggak tahu kabar duka ini," ucap Zara di sela isak tangisnya.
"Papa juga nggak tahu, Ma. Kita terlalu menutup diri sampai-sampai mengabaikan teman kita yang ada di sini."
Ya, mereka memang terlalu sibuk memikirkan perasaannya sampai melupakan orang lain yang bahkan ternyata juga memiliki luka.
"Apa kita terlalu jahat dengan mereka, Pa? Kita hanya kehilangan satu anak dan bisa memiliki tiga anak lainnya, sementara Irfan dan Santi? Mereka bahkan tidak diizinkan oleh Tuhan untuk memiliki anak sama sekali."
Thomas meminjamkan matanya sambil menghela nafas.
Zara menarik tubuhnya dari suaminya itu, dia menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca dan pipi yang basah karena air mata.
"Mama merasa bersalah dengan mereka, Pa. Apa mereka marah dengan kita karena nggak–"
Belum sempat melanjutkan perkataannya, Thomas sudah menyela lebih dulu. perkataannya itu.
"Ma, jangan berpikir seperti itu. Papa tahu kalau semua yang kita lakukan ini salah, tapi Papa yakin Santi dan Irfan pasti bisa memakluminya. Mereka orang yang sangat baik, mereka nggak mungkin marah hanya karena kita nggak ada di samping mereka saat itu. Apalagi kondisi kita juga sedang nggak baik-baik saja saat itu, 'kan."
"Mama harus minta maaf dengan mereka, Pa. Mama benar-benar nggak enak."
__ADS_1
Thomas mengelus kepala istrinya.
"Kita akan minta maaf nanti. Sekarang Mama jangan menangis lagi ya, semua akan baik-baik saja kok."
Disisa air matanya, Thomas membantu istrinya itu untuk mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangannya. Ketiga anaknya yang menyaksikan itu hanya bisa diam. Terlebih Alina yang merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu yang seharusnya dia tahu jika itu akan membangkitkan kesedihan orang tuanya.
"Maafin Alina, Ma, karena sudah membuat Mama menangis," ucap Alina kemudian.
Suaranya yang mengisi kekosongan membuat kedua orang tuanya serta kedua abangnya menoleh ke arahnya.
"Sayang, jangan minta maaf. Kamu nggak salah. Maafkan kami karena terlalu terbawa suasana sampai mengabaikan kalian bertiga," ucap Zara kemudian kepada ketiga anaknya.
"Yasudah, semua sudah berlalu, seharusnya kita berdamai dengan masa lalu."
Kini Alfian pun menambahkan agar mamanya tak lagi merasa bersalah dan bersedih. Sementara Morgan, pria itu yang biasanya sangat berisik kini hanya diam menyaksikan itu semua. Dia memang yang paling berisik di rumah ini, tapi jika sebuah kesedihan tengah tercipta di tengah-tengah keluarganya, maka dia akan menjadi satu-satunya orang yang paling pendiam. Tidak akan mengeluarkan suara satu kata pun sampai kesedihan itu berakhir. Bahkan dia bisa saja pergi dengan alasan random hanya agar bisa menghindar dari air mata keluarganya jatuh di depan matanya.
Zara mengiyakan perkataan putra sulungnya itu, dia mencoba untuk tersenyum kembali agar anak-anaknya tidak khawatir padanya. Kemudian dia menatap ke arah Alina yang memulai pembicaraan pada malam itu.
"Sayang, Rico adalah pria yang baik. Ketulusannya dapat Mama rasakan meski baru pertama kali melihatnya. Apalagi Abang kamu sudah lebih dulu mengenal Rico dan menyetujui hubungan kalian. Jadi, bagaimanapun status Rico saat ini selagi kalian saling mencintai dan dia bisa membuat kamu bahagia, maka Mama akan selalu merestuti hubungan kalian. Benar 'kan, Sayang?" tanya Zara kemudian kepada Thomas.
"Benar, Sayang. Nggak peduli berasal dari mana Rico, selagi dia baik untuk kamu dan kamu pun mencintainya, maka kami pasti akan merestui kalian."
Mendengar perkataan kedua orang tuanya, Alina pun merasa terharu. Meskipun dia yang awalnya sudah bisa menebak jika kedua orang tuanya itu tidak akan mempersalahkan status Rico di keluarga Renaldi, namun tetap saja respon kedua orang tuanya tentang kenyataan akan siapa Rico mampu membuatnya berkaca-kaca.
Karena situasi yang sudah mulai kembali nornal lagi, kini Morgan pun kembali membuka suara agar Alina tidak membuat suasana melow yang hendak berakhir itu kembali menguras air mata. Bukannya tidak menghargai perasaan adiknya, hanya saja Morgan bukan tipe orang yang suka melihat air mata apalagi pada keluarganya sendiri. Meski itu adalah air mata bahagia sekalipun, Morgan tetap tidak menyukainya karena menurutnya pribadi, kebahagiaan tidak akan menyenangkan dengan jatuhnya air mata dan tertawa adalah bukti jika memang mereka benar-benar bahagia.
__ADS_1
Entah mendapatkan petuah dari mana, namun itulah yang Morgan yakini di hatinya untuk saat ini.