
Acara pernikahan Alina dan Rico berjalan sangat lancar. Kebahagiaan nampak dirasakan oleh semua orang yang hadir di sana. Tak ada duka sedikitpun, hanya rasa bahagia yang mengisi seluruh ruangan itu, sehingga kehangatan tercipta satu sama lain.
Sebelum acara benar-benar berakhir, semua tamu undangan yang masih berada di sana diminta untuk menetap. Akan ada pengumuman penting yang harus disampaikan oleh keluarga Renaldi di sana.
Semua orang tampak menunggu dengan tidak sabar. Banyak yang berasumsi Irfan akan mengumumkan kerjasama dua keluarga itu. Ada juga yang menebak jika Irfan akan membuat suatu bisnis baru bersama Thomas. Tak ada yang tahu pengumuman apa yang akan Irfan berikan, namun berbagai asumsi lain tak henti di pemikiran orang-orang yang ada di sana.
Irfan dan Santi menghampiri Thomas dan Zara yang sedang duduk bersama anak-anaknya. Sementara Rico dan Alina yang baru saja menghampiri kedua orang tuanya itu diminta untuk menghampiri tamu undangan yang lain. Mereka mengusir pengantin baru itu seolah ada sesuatu yang harus dirahasiakan dari mereka berdua.
Alina dan Rico tak menolak, mereka pun pergi dari sana dan untuk menghampiri Rena dan Andi. Mereka berdua sudah menghampiri temannya yang lain dan sepertinya mereka akan menetap di bangku Rena saja untuk mengobrol ringan sambil menunggu orang tua mereka.
"Kalian diusir?" tanya Andi dengan bercanda kepada temannya.
"Entahlah. Sepertinya mereka mau memberi kejutan untuk kita," ucap Rico yang penuh percaya diri namun terkesan bercanda bagi Andi.
"Percaya diri sekali. Mungkin kalian nggak penting dalam pembicaraannya, jadi nggak diikutsertakan," sahut Andi lagi.
"Kalau ngomong jangan suka sembarangan, nanti beneran kejadian gimana loh?" ucap Rena kemudian yang menyela diantara obrolan kedua pria itu.
Andi yang masih segan dengan pacarnya itu hanya bisa terdiam mendengar perkataan Rena. Hari ini dia tak bisa berkutik karena dia sadar jika dirinya memanglah tak tegas dalam mengambil keputusan. Dia juga sadar jika secara tidak langsung sudah mempermainkan hati Rena dengan tidak memberi kepastian pada hubungannya.
__ADS_1
Rico dan Alina hanya tertawa melihat Andi dengan ekspresinya, mereka masih tak menyadari jika sepasang kekasih itu tengah tak akur. Sampai Rena tak sengaja membentak Andi karena pria itu yang terus jahil kepada temannya, barulah Rico dan Alina tercengang dengan herannya.
"Kalian berantem?" tanya Alina.
Rena tak menjawab pertanyaan Alina, dia terlihat malas membahas hubungannya kepada orang lain, meskipun teman mereka sekalipun. Sementara Andi lagi-lagi hanya terdiam karena tak mau terlibat pertengkaran bersama pacarnya, apalagi didepan umum.
"Ndi, Ren, please ya, ini hari bahagia kita, kenapa kalian jadi bertengkar," ucap Rico kemudian. Dia bahkan menatap tajam ke arah Andi sehingga membuat pria itu menelan salivanya.
"Kita nggak bertengkar, hanya salah paham saja. Sebaiknya lupakan, kita akan urus ini secara pribadi," ucap Andi kemudian. Dia menatap ke arah Rena, memegang punggung tangannya dengan tersenyum tipis.
Rena pun yang tak ingin mengacaukan acara bahagia temannya, akhirnya menghela nafas. Sekali ini saja dia tidak mau egois dengan perasaannya.
"Jangan dipikirkan, aku hanya badmood saja sama dia. Maaf sudah membuat kalian nggak nyaman," ucap Rena dengan berusaha tersenyum.
Setelah beberapa saat berbicara dengan keluarganya dan juga besannya, Irfan beserta Santi naik ke atas panggung. Mereka berdehem sejenak untuk mengambil perhatian para tamu undangan yang masih berada di sana. Setelah semua mata tertuju pada mereka berdua, barulah mereka memberi pembukaan untuk pengumuman yang akan mereka sampaikan.
"Maaf jika sudah mengambil waktu kalian lebih lama. Saya dan istri saya nggak akan banyak bicara, kami hanya akan menyampaikan beberapa informasi yang mungkin cukup penting untuk keluarga kami dan juga kerjasama kita yang sedang ataupun akan berlangsung," ucap Irfan.
"Saya pribadi di sini ingin menyampaikan jika saya akan melakukan pensiun pada satu atau dua tahun mendatang."
__ADS_1
Semua orang tampak terkejut mendengar perkataan Irfan. Pensiun? Pria paruh baya itu hendak melakukan pensiun di usianya yang baru saja memasuki lima puluh tahun?
Mereka seolah salah dengar akan penyataan pria paruh baya tersebut karena saking tidak percayanya. Kasak kusuk mulai terdengar dan semua orang pun terlihat mempertanyakan alasan dibalik keputusan Irfan yang tiba-tiba itu. Namun Irfan dan Santi yang sudah bisa menebak akan hal ini tak merasa terganggu, bahkan mereka sudah bisa menebak bagaimana respon orang-orang di sana akan apa yang hendak mereka ucapkan selanjutnya.
"Kami berdua sudah memikirkan matang-matang akan keputusan ini. Kami juga akan mewariskan seluruh harta yang kami miliki selama ini untuk anak semata wayang kami yaitu, Rico Renaldi."
Keterkejutan semakin menjadi di antara semua yang ada di dalam ruangan itu. Rata-rata yang terkejut di sana adalah mereka yang mengetahui status Rico yang sesungguhnya di keluarga Renaldi. Bagi yang belum mengetahui itu, tak perlu terkejut karena menurut mereka apa yang dilakukan Irfan dan Santi adalah hal biasa yang akan dilakukan orang tua kepada anaknya.
Di meja Rico pun, mereka berempat sangat terkejut akan keputusan Irfan. Rico bahkan sampai terdiam tak percaya akan apa yang baru saja dia dengar. Benar-benar tak percaya karena hal ini sangat tiba-tiba baginya.
"Tidak, tidak mungkin," batinnya.
Rico masih terdiam, pandangannya kosong dengan pikiran yang tak bisa diajak bekerjasama. Beribu pertanyaan mulai bermunculan diotaknya akan alasan orang tuanya itu memutuskan hal yang sangat besar ini. Tanpa kompromi ataupun pemberitahuan singkat padanya.
Rico menatap ke arah Alina denga tatapan yang masih penuh rasa terkejut.
"Al, katakan kalau semua ini nggak benar," ucap Rico yang berusaha untuk tidak mempercayai semua yang telah dia dengar.
"Kamu nggak salah dengar, Co. Papa Irfan dan Mama Santi sudah memikirkan semua ini dengan matang, seperti apa kata mereka tadi."
__ADS_1
Alina meskipun juga sama terkejutnya dengan Rico, namun dia tetap meyakinkan Rico jika semua yang telah dia dengar memanglah benar. Alina jadi semakin yakin jika kasih sayang Santi dan Irfan terhadap Rico sangatlah besar dan tulus. Mereka bahkan rela memberikan seluruh hartanya kepada seorang anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Yang di mana hampir tak ada tua angkat yang akan melakukan hal yang sama dengan mereka.
Alina sangat bangga sekaligus merasa sangat beruntung sudah mendapatkan sosok pria dengan keluarga terpandang yang sangat baik seperti Irfan dan Santi. Apakah semua akan berakhir indah seperti film romantis yang pernah dia tonton? Atau justu ini barulah awal dari kisah mereka yang mungkin bisa saja akan ada ujian berat yang akan menimpa hubungan mereka?